
Sinar matahari pagi telah menampilkan senyuman kembali, saat gelapnya malam telah memudar dengan datangnya hari yang baru. Dua setelah pernikahannya, dan Ariana Zain memutuskan untuk sementara waktu dirinya, dan sang istri akan menempati kamar yang berada dilantai bawah, demi keamanan sang istri yang tengah mengandung. Dan hari ini Zain memutuskan untuk tidak masuk kantor, karena akan memindahkan barang-barang Ariana kekamar yang akan mereka tempati.
"Daddy apa ini?" Stefanie memegang salahsatu bra milik Ibunya, dengan menunjukkan benda itu pada Zain.
Segera menggapai barang bra itu, dan menyisipkan kedalam tas.
"Nanti kalau kau sudah dewasa, kau akan mengetahuinya sendiri,"
"Baiklah kalau sudah dewasa nanti, Daddy belikan buatku."
"Bukan Daddy yang membelikan buatmu, tapi Mommy!" Zain berucap cepat pada anak perempuannya itu.
"Karena memang Daddy sangat pelit, membeli tempat susu saja tidak bisa." Dengan wajah juteknya.
"Tempat susu?" Zain menatap dengan heran, pada anak perempuannya.
"Iya Daddy, Bibi Rani mengatakan kalau itu tempat untuk menyimpan dua buah susu." Stefanie berucap dengan santainya, saat memasukkan barang-barang Ibunya kedalam tas.
"Dua buah susu?"
"Hemm, Bibi Rani mengatakan kalau benda itu tenpat untuk menyimpan dua buah susu." Dengan nada tegas.
"Dasar brengsek kau Rani! apa yang sudah kau ajarkan pada anakku!" Zain membathin dengan wajah kesalnya.
"Baiklah, ayo kita turun membawa sekarang," Pinta Zain, saat dirinya sudah mengumpulkan barang-barang istrinya.
"Daddy, apakah meja rias milik Mommy ini juga kita perlu dibawah?"
"Tidak! Mommymu tidak membutuhkan itu. Mommymu akan berdandan, jika Daddy yang memintanya. Dan ayo kita turun!"
"Baik Daddy," Dengan anggukan, dan melangkah beriringan bersama ayahnya menuju lantai bawah.
Pasangan ayah, dan anak itu bahu membahu membawa barang-barang milik Ariana kelantai bawah. Langkah kaki yang tengah mengayun seketika terhenti, saat secara tak sengaja dirinya melemparkan pandangannya kearah tangga, dan Ariana mendapati anak, dan juga suaminya tengah membawa barang-barang miliknya.
"Zain! Stefanie! apa yang kalian berdua lakukan dengan barang-barang milik Mommy?" Raut wajah cantik Ariana terlihat begitu penasaran, dengan tatapan intens pada anak, dan juga suaminya.
"Aku, dan Daddy memutuskan untuk mengusirmu dari rumah ini Mommy! sebab aku ingin mengganti Mommy, dengan Mommy yang baru." Stefanie berucap dengan nada berapi-api, agar dapat membuat Ibunya percaya dengan kebohongannya .
Tatapan mata itu seketika berubah merah, dengan tatapan tajamnya yang dia lemparkan pada Zain dengan raut waja sudah berubah.
"Tidak Sayang! tidak. Jangan percayakan apa yang dikatakan putri kita dia berbohong." Zain berucap dengan berusaha meyakinkan Ariana, yang sudah menatapnya dengan murka.
"Kau berbohong Zain! terus kenapa kau, dan putrimu membawa barang-barang milikku keluar dari kamar, kalau bukan mengusirku!" Dengan nada kesal.
__ADS_1
"Itu karena..." Belum selesai pengusaha itu menyelesaikan kalimatnya, Ariana sudah menangis dan melangkah menuju pintu utama.
Araa! kau kemana Sayang? kau mau kemana?" Tanya Zain panik, dan mengayunkan langkah kaki dengan cepat saat dia meletakkan begitu saja barang-barang milik istrinya.
"Tentu saja aku akan pergi, kalau kau sudah tidak mencintaiku lagi, kenapa kau menikahiku Zain," Dengan nada kesal, dan terus mengayunkan kaki tanpa berbalik pada Zain yang tengah mengejarnya.
Tangan kekar itu segera meraih tangan Ariana, saat sudah berada dengan jarak yang dekat.
"Lepaskan aku Zain! lepaskan aku..!" Ariana masih saja menangis, dengan berusaha melepaskan genggaman tangan suaminya.
"Kau jangan percaya pada Stefanie, dia berbohong Araa! mana sanggup aku berpisah denganmu, kalau aku begitu mencintaimu," Kedua mata itu menatap dengan tatapan memohon, pada Ariana.
"Mommy, apakah kau benar-benar akan pergi?" Stefanie seketika menyela, saat kedua kakinya melangkah menghampiri pada kedua orangtuanya.
"Bukankah tadi kau bilang, kau dan Daddymu akan mencari Mommy yang baru!"
"Maafkan aku Mommy, aku hanya berbohong," Stefanie berucap dengan senyum tanpa dosanya.
"Terus kenapa kau dan Daddymu, membawa pakaian-pakaian Mommy keluar dari kamar?"
"Untuk sementara waktu kita berdua akan tidur dikamar bawah. Kau sedang mengandung, aku tidak mau ada apa-apa dengan kandunganmu Araa,"
"Benarkah itu Stefanie?" Kedua mata Ariana teralih pada putrinya, mencari kebenaran dari apa yang dikatakan suaminya.
"Tidak. Aku tidak mau menempati kamar yang dibawah." Ariana berucap dengan tegas.
Zain seketika menatap heran pada istrinya, yang menolak permintaannya.
"Kenapa tudak mau Araa?"
"Mana mungkin aku mau tidur dikamar yang ada hantunya Zain,"
"Kamar itu sama sekali tidak ada hantunya Mommy! Daddy dan aku.." Belum selesai Stefanie menyelesaikan kalimatmya, dengan cepat Zain membekap mulut putrinya.
Daddy!" Stefanie terus saja merontah-rontah, agar ayahnya melepaskan bekapan itu.
Ariana memicingkan kedua matanya, menatap dengan penasaran pada suami, dan anaknya.
"Kalian berdua kenapa? apakah ada yang kalian sembunyikan dariku Zain?" Sorot mata Ariana menatap dengan penuh selidik pada suaminya.
"Tidak Sayang, kami tidak menyembunyikan apa-apa darimu," Zain tersenyum kikuk dengan wajah pucat pasih.
"Tdak Mommy! aku dan Daddy.." Dan lagi-lagi Stefanie belum menyelesaikan kalimatnya, sekali lagi Zain mencegah. Dengan cepat lelaki berkumis itu menggendong putrinya, dan melangkah menjauhi dari istrinya agar kebusukan keduanya tidak terbongkar.
__ADS_1
"Daddy turunkan aku Daddy..! turunkan aku..!" Stefanie terus saja merontah-rontah dalam gendongan ayahnya.
"Kenapa kau begitu bodoh Stefanie! apakah kau mau Mommymu marah pada kita berdua, dan pergi dari rumah ini? apakah kau lupa, kalau dalam perut Mommymu ada adik-adikbayimu,"
"Bukankah Daddy bilang, kalau berbohong itu tidak baik," Keduanya berucap dengan berbisik, agar tidak terdengar oleh Ariana yang terus saja menatap penasaran pada keduanya.
"Sekali-sekali berbohong tidak apa-apa Stefanie! karena agar kita tidak kehilangan adikbayi."
"Baiklah Daddy, demi adikbayi."
"Itu baru namanya anak Daddy," Dengan senyuman, seraya mengacak-ngacak rambut putrinya.
Akibat penasaran melihat gelagat aneh antara anak, dan juga suaminya membuat Ariana memutuskan untuk menghampiri pada keduanya.
"Zain, apakah kau dan putrimu sedang menyembunyikan sesuatu dariku?" Memicingkan mata kedua mata,saat melemparkan tatapan matanya pada Zain, dan juga putrinya
"Tidak Mommy, kami tidak menyembunyikan apa-apa."
"Baiklah. Tapi awas saja jika kau, dan Daddymu menyembunyikan sesuatu dari Mommy."
Zain menghampiri pada istrinya, dengan merangkul penuh pinggangnya yang sudah mulai melebar.
"Kau maukan kita pindah kamar Araa?"
"Tapi Zain aku takut, bukankah dikamar itu ada hantunya," Ariana memelas saat berbicara, pada suaminya.
"Aku akan membunuh hantu itu, jika dia berani mengganggu istriku."
"Yang benar saja kau akan membunuh hantu Zain, malah hantu yang akan membunuhmu balik,"
Meraih kedua tangan Ariana, dengan tatapan penuh harap.
"Aku mohon, tolong ikut kemauanku kali ini. Biarkan aku menjadi suami yang baik untukmu. Tidak baik bagimu menuruni tangga setiap hari, aku tidak mau ada apa-apa denganmu selama kau melewati masa kehamilan Araa,"
"Apakah kau janji tidak akan ada hantu lagi Zain,"
"Aku janji Sayang, aku janji tidak akan ada hantu lagi."
"Tentu Mommy, hantu itu pasti tidak akan datang lagi. Karena itu hanya hantu jadi-jadian."
"Jadi-jadian," Dengan tatapan penasaran yang dia lemparkan pada Zain.
Meraih pundak Ariana , dan membawanya jauh dari putri mereka.
__ADS_1
"Sudahlah, ayo kita rapikan barang-barangmu, jangan dengarkan Stefanie dia hanya mengacoh saja."