
Pintu kamar terbuka, dan dengan langkah pelan dia masuk kedalam kamar yang terlihat sunyi. Senyuman membingkai diwajahnya, saat dia duduk diatas ranjang. Membaringkan diri disana, dengan pandangan menerawang Ariana menatap langit-langit kamarnya. Larut dalam lamunan, dengan kegelisahan yang kembali menyelimuti, saat dirinya teringat kembali apa yang dikatakan Celine tadi.
"Kenapa perasaanku, jadi tidak enak begini? apakah Bibi Celine, dan Clara tengah merencanakan sesuatu, agar aku benar-benar berpisah dengan suamiku," Gumamnya, dengan keresahan yang begitu menyelimuti.
Ariana terus larut dalam lamunannya, dan tangannya perlahan menyentuh perutnya yang masih rata.
"JIka kau berada didalam rahimku saat ini, setidaknya aku tidak akan sendiri lagi. Jika mereka benar-benar, membuat keluar dari rumah ini. karena akan ada menemaniku, dan hanya dia saja yang aku punya."
larut dalam lamunannya sesaat, dan memutuskan untuk keruang ganti. Membuka lemari pakaiannya, dan tatapan matanya tertuju pada lipatan pakaian, dan perlahan tangannya menggapai sesuatu, yang tersimpan dibawah susunan pakaian.
Senyuman kecil membingkai diwajah Ariana, dan tangannya Membuka kotak kecil, yang begitu berharga untuknya.
"Dimanakah, aku bisa bertemu dengan anda Tuan? agar aku bisa mengembalikan liontin ini, dan mengucapkan kata terima kasih." Dan larut, dalam pemikirannya sesaat.
Apakah aku harus meminta bantuan Suamiku, bukankah dia sangat berkuasa, tapi, bukankah dia sangat pembencemburu, dan pasti dia akan berpikir yang tidak-tidak, tentangku." Gumamnya, dengan kembali menyisipkan kotak kecil itu, dibawah tumpukan lipatan pakaian.
Ariana larut dalam lamunannya, hingga suara telepone mengejutkan lamunan wanita berkacama mata itu.
Meraih ponsel dari saku roknya, dan melihat nama Bella disana.
"Aku belum juga lama sampai dirumah, tapi dia sudah menghubungiku. Dan dia begitu, terobsesi dengan Adam." Dengan raut wajah cemberut, dan memutuskan untuk menerima telepone itu.
"Hall Bella, ada apa?"Dengan nada malas, dan berpura-pura bertanya.
"Araa, apakah kau sudah melakukan tes kehamilan, untuk memastikan, kau sedang hamil, atau tidak?"
Menghembuskan napas kasar, dan dia tahu itu hanya alasan sahabatnya saja, agar dapat menanyakan padanya, sudah mendapatkan nomor ponsel sekretaris suaminya, atau tidak.
"Aku tau Bella, itu hanya alasanmu saja untuk menelponeku. Padahal sebenarnya tujuanmu menghubungiku, adalah ingin menanyakan aku sudah mendapatkan nomor HP Adam, atau belum."
__ADS_1
Tawa keras seketika terdengar diseberang sana, saat mendengar apa yang disampaikan Araa.
"Ha..., ha..., ha..., salahsatunya itu juga. Dan apakah kau, sudah mendapatkan nomor ponselnya?"
"Ya. Aku sudah mendapatkan nomor Hpnya, dan aku akan mengirimkan padamu sekaerang juga. Bagaimana, kau puas?!" Dengan, nada kesal.
"Terima kasih, teman. Dan kirimkaan nomor HP sekretaris suamimu itu, padaku sekarang juga. Dan aku doakan, semoga hasilnya benar-benar posistif, Ariana!" Dengan langsung, mengakhiri percakapan teleponenya.
Ariana mendecak kesal, saat Bella mengakhiri sambungan teleponenya begitu saja.
"Dasar!! dia menelponeku, ternyata hanya karena ada maunya."
****
Sebuah mobll perlahan memasuki, kedalam area restorant mewah. Pintu mobil terbuka, dan nampaklah seorang wanita parubaya, yang masih terlihat cantik diusianya, yang sudah menginjak setengah abad.
"Maaf Clara, Bibi sedikit terlambat. Sebab baru saja, membaca pesanmu."
"Tidak apa-apa, Bibi? aku juga, baru saja datang."
"katakan pada Bibi, kenapa tiba-tiba saja kau mengajakku bertemu? apakah ada sesuatu, yang penting?" Dengan tatapan penasaran, menatap Clara.
Tawa kecil membingkai diwajahnya, saat mendengarkan apa yang ditanyakan Celine padanya.
Meraih gelas yang berisi minuman hangat, dan meneguknya sekali, guna menghangatkan diri, ditengah dinginnya udara malam.
"Bibi.., Bibi..., apakah karena kau terlalu memikirkan putrimu yang hilang itu, hingga kau melupakan rencana kita memisahkan keponakanmu, dengan anak pungut itu,"
Menghela napas dalam, dengan menyandarkan pundaknya pada sandaran kursi.
__ADS_1
"Maafkan Bibi. Memang Bibi, begitu merindukannya. Bahkan sangat, merindukannya. Aku tidak tau , dimana dia berada sekarang. Tapi informasi yang Bibi dapat, kalau putri Bibi masih berada dikota ini."
"Benarkah? aku jadi penasaran, seperti apa rupah anakmu itu, Bibi. Apakah dia sama jahatnya, seperti dirimu?" Dengan senyuman kecil, menatap Celine.
"Apa yang kau bicarakan, Clara? dan jangan bertele-tele. katakan saja ada apa, kau mengajak Bibi bertemu diluar."
Menegakkan kembali duduknya, dan dengan intens Clara menatap Celine.
"Begini Bibi, aku sudah mendapatkan siapa laki-laki, yang akan kita jebak bersama Ariana."
Seketika tatapan matanya dengan intens menatap Clara, saat mendengar apa yang disampaikan gadis itu.
"Memang siapa, laki-laki itu? apakah kau menyawa sahabatmu, atau.." Dengan menghentikan kalimatnya, saat Clara menyela ucapannya.
"Bukan Bibi, tebakanmu salah. Dan pasti kau tidak percaya, saat aku mengatakan kalau laki-laki itu, adalah Piter."
Celine sedikit kaget, saat mendengar nama pria yang disebutkan Clara. Karena nama itu, sangatlah tidak asing untuknya.
"Piter? apakah yang dimaksudmu dengan Piter ini, adalah rekan bisnis dari Zain?" Bertanya, dengan mencoba untuk menebak.
"Iya benar sekali. Karena menurutku, Zain akan merasa lebih terluka, saat menangkap basah Ariana, dan rekan bisnisnya sendiri."
"Tunggu dulu. Tapi yang menjadi pertanyaannya, apakah dia menyetujui rencanamu ini?"
"Aku sangat yakin, bahkan sangat yakin kalau dia mau memenuhi permintaanku ini. Karena seperti yang kita tau, dia begitu membenci Zain, karena keberhasilanya. Dan kita akan memanfaatkan, rasa bencinya ini. Bagaimana, menurutmu Bibi?"
Senyuman kecil terlihat diwajah wanita paruhbaya itu, saat mendengar apa yang disampaikan gadis itu.
"Kau sangat pintar, CLara? pasti Zain akan jauh lebih hancur, saat melihat istrinya berselingkuh, dengan rekan bisnisnya sendiri. Dan Bibi sangat yakin, tanpa menunggu lama lagi, Zain pasti akan menceraikan wanita itu." Dengan senyuman, yang penuh keyakinan.
__ADS_1