
Kedatangan Ariana kali ini, menjadi trending topik dinegara asalnya. Baik itu media masa, media online, ataupun media elektronik yang meliput kedatangan perancang kenamaan, yang namanya sudah mendunia.
Dan hal itu tentu tak luput dari perbincangan orang-orang yang mengenal siapa Ariana dulu, sebelum menjadi seperti sekarang. Seorang gadis cupu, dan juga polos yang bertransformasi menjadi perancang terkenal, dan hal itu membuat mereka sulit untuk mempercayainya. Seperti yang terlihat Siang ini, dikediaman milik Zain Pratama.
Semuanya nampak sibuk dengan kegiatan mereka masing-masing. Seperti salahsatu pelayan muda, yang tak lain adalah Paula yang sedang menikmati waktu senggang dengan menikmati cemilan, usai menjalankan tugasnya sebagai salahsatu pelayan keluarga Mahesa. Wanita yang berusia sekitar duapuluh tahunan itu, bergumam sendiri setelah pagi ini, dia sempat membaca berita dimedia online pada ponselnya, kalau negaranya secara khusus mengundang perancang busana kenamaan. Dan dia akan tiba hari ini diIndonesia. Dan dari berita yang dia baca, kalau perancang busana itu bernama Ariana Mahesa dan itu membuat dia penasaran sebab memiliki nama yang sama dengan mantan istri Tuanmudanya.
"Aku jadi penasaran dengan nama perancang busana itu. Bukankah namanya, sama dengan nama Nona Ariana Mahesa, mantan istri dari Tuan Zain. Tapi apakah mungkin itu Nona Ariana?" Dia bergumam sendiri dengan mencoba untuk menerka, tapi kata hatinya mengatakan tidak mungkin itu mantan istrinya Tuanmudanya. Bukankah didunia ini, banyak nama yang sama.
"TIdak mungkin itu Nona Ariana. Bukankah didunia ini banyak orang yang memiliki nama yang sama. Tapi hari ini, adalah hari kedatangan perancang busana itu. Pasti setiap stasiun televisi meliput kedatangannya." Paula bergumam sendiri dengan rasa penasarannya, seraya jemari meraih remot yang tersimpan ditas meja kaca.
Duduk bersandar pada salahsatu sofa tunggal, dimana ruang nonton itu khusus disiapkan Zain untuk para pelayannya dalam menikmati waktu senggang mereka.
Dari pada dia mati penasaran dengan rupa perancang busana terkenal itu, yang memiliki nama yang sama dengan nama mantan istri Tuanmudanya, lebih baik dia menonton televisi, mungkin saja ada salahsatu stasiun televisi yang memberitakan kedatangannya.
Berpindah-pindah channel, saat belum mendapati channel yang menayangkan berita gosip disiang itu.
Hingga jemari itu berhenti pada salahsatu channel televisi, yang menayangkan tentang gosip para selebritis.
"Untung saja channel ini masih menayangkan gosip para artis. Aku jadi penasaran dengan rupa perancang busana yang memiliki nama yang sama dengan Nona Ariana itu. Mungkinkah dia mantan istri Tuanmuda kami?" Paula bergumam sendiri dengan rasa penasarannya, akan rupa perancang kenamaan itu.
Tatapannya seketika begitu intens, saat para wartawan menayangkan berita akan kedatangan perancang busana terkenal Ariana Mahesa.
"Kenapa dia memakai kacamata hitam? aku jadi tidak bisa melihat apakah dia benar-benar Nona Ariana, atau bukan. Tapi sekilas mereka nampak mirip."
Tatapan Paula seketika begitu fokus pada layar datar itu, saat akan diwawancarai Ariana membuka kacamatanya. Kedua bolamata sang pelayan nyaris menyeruak dari tempatnya. Dia menggosok matanya berkali-kali, untuk memastikan kalau dia tidak salah melihat.
"Ja..jadi betul, perancang busana terkenal itu Nona Ariana? Nona Ariana Mahesa, mantan istri Tuan muda Zain??
ini sangat sulit dipercaya? ternyata selama ini, Nona Ariana berdomisili diAmerika, dan melanjutkan kuliahnya disana. Dan sekarang dia menjadi perancang hebat..?" Paula bergumam sendiri, seolah tidak percaya dengan apa yang dia lihat yang menurutnya sangat mustahi.
Seketika beranjak dari duduknya, saat teringat kembali akan Celine Ibu kandung Ariana, yang selama ini sering sakit-sakitan akibat memikirkan putrinya.
"Aku harus memberitahukan kabar bahagia ini, pada Nyonya Celine. Sebab bagaimanapun, Nona Ariana adalah anaknya. Dan dia pasti akan sangat terkejut, melihat anaknya jadi wanita hebat sekarang." Gumamnya dengan langkah kaki yang begitu tergesa-gesa, saat akan menuju lantai dua.
Tubuhnya semakin terlihat kurus, dari hari kehari. Duduk diatas ranjang, dengan jemari memegang sebuah piring menikmati makan siangnya, dengan ditemani sang kepala pelayan Ani.
__ADS_1
Sesekali airmata menetes dari kedua sudut matanya, dan mencoba untuk tersenyum ditengah luka akibat kerinduan pada putri semata wayangnya Ariana.
"Apa yang anda pikirkan Nyonya? ayo habiskan makannya. Tinggal sedikit lagi, sudah makanannya habis. Setelah itu, minum obatnya." Ani membujuk Celine, kala wanita itu berhenti mengayuh sendoknya.
Sekilas dia mengusap airmata, memaksakan diri untuk tersenyum disela airmata yang terus menetes.
"Ini sudah lima tahun Ani, tapi aku belum mengetahui dimana Ariana berada. Bahkan Zain sendiri, sudah menghentikan pencaharian pada mantan istrinya. Karena hasilnya selalu saja nihil."
Hembusan napas berat, dengan senyuman palsu dia menatap Celine yang tak berhenti berharap dapat bertemu dengan putrinya kembali.
"Percayalah Nyonya. Pasti Nyonya, dan Nona Ariana akan kembali bertemu." Dengan berusaha menenangkan wanita paruhbaya itu.
Celine tersenyum getir, dan dia tahu Ani tengah berusaha untuk menghibur dirinya.
"Berhenti menghiburku Ani? aku hanya berharap sebelum aku mati, aku dapat bertemu dengannya." Gumam dengan wajah sendunya, seeraya menunduk saat buliran itu kembali mengalir.
"BRAAKK" Pintu terbuka lebar dengan sedikit keras, hingga membuat kedua wanita paruhbaya itu tersentak kaget.
"Kau kenapa Paula?! apakah kau tidak bisa mengetuk pintu dulu, sebelum masuk?!" Dengan raut wajah tertekuk kesal, hingga keriputan itu semakin bertambah diwajah Ani.
"Nanti saja marahnya Bibi? Nyonya Celine maafkan saya. Tapi anda harus lihat ini." Napas yan terlihat memburu, saat jemarinya meraih remot dan mengarahkan pada layar televisi.
"Ada yang perlu dilihat pada layar televisi itu?!" " Raut wajah bingung Celine, saat Paula menyalahkan televisi dengan ukuran tigapuluh dua inci itu.
Paula berdiri didepan televisi, dan menunjukkan seorang wanita cantik yang tengah berjalan dengan menggendong seorang anak kecil.
"Nyonya! lihat ini. Putri anda Nona Ariana, dan cucumu." Dengan menunjukkan jari telunjuknya mengarah pada layar televisi.
Ani, dan Celine seketika beranjak dari duduknya, mendengar apa yang dikatakan gadis muda itu. Kedua pasang mata itu begitu intens pada layar televisi.
"Nyonya.. ini Nona Ariana.. Nyonya..? ini Nyonya Ariana, dan gadis kecil ini, pasti cucu anda." Ani berkata dengan raut wajah sumringahnya, saat melihat Ariana dalam layar televisi, dengan menggendong seorang gadis kecil.
"Bibi Ani, Nyonya Celine, asal kalian tahu. Nona Ariana bukan wanita sembarangan. Dia adalah perancang ternama Dunia. Dan pasti Bibi sudah mendengar kabar, kalau negara kita akan kedatangan perancang busana ternama, dan dia adalah Nona Ariana. Mantan istri dari Tuanmuda kita." Nada berapi-api, saat kalimat itu terucap dari bibir mungil Paula.
'"Apakah itu benar Paula? perancang busana itu, adalah Ariana anakku ..??" Celine bertanya, memastikan apa yang dikatakan pelayan rumahnya.
__ADS_1
"Iya Nyonya? Nona Ariana kita sangat hebat bisa bertanformasi menjadi perancang busana ternama."
Celine membingkai senyuman kecil, dengan deraian airmata yang terus mengalir akibat bahagia.
"Mama sungguh bangga memiliki putri sepertimu Ariana? kau sangat hebat, sangat hebat anakku.." Membathin seraya mengusap airmata yang terus mengalir karena dapat melihat kembali putrinya.
"Nyonya wajah putri dari Nona Ariana, sangat mirip dengan Tuan Zain?"
"Iya Ani. Dia seperti Zain versi mini, dalam bentuk perempuan." Dengan anggukan kecil, menatap cucunya dalam layar televisi.
****
Kendaraan roda empat itu melaju ditengah keramaiaqn lalulintas kota Jakarta disiang hari. Jemari lentiknya menurunkan sedikit kaca jendela mobil, guna menatap keindahan kota metropolitan, yang sudah enam tahun dia tinggalkan.
"Mommy.." Tubuh mungil itu mengeliat dalam pangkuannya, dengan tatapan mata setengah terpejam.
Senyuman kecil membingkai diwajah cantik Ariana, seraya jemari membenahi beberapa helaian rambut yang menutupi sebagian alis gadis kecil itu.
"Tidurlah sebentar, sedikit lagi kita sudah tiba diapartemen Bibi Rani."
Memejamkan kembali kedua mata lelahnya, seraya menyembunyikan wajah pada perut Ibunya.
"Juli..." Panggil Ariana tiba-tiba pada asistennya.
"Iya Nona.."
"Apa kegiatan pertamaku hari ini diJakarta."
Jemari Juli meraih sebuah tas, yang berada tepat disampingnya. Tangannya menyelinap kedalam, meraih sebuah buku didalamnya. Membuka helain kertas, dan membaca jadwal pertama Nonamudanya saat berada diJakarta.
"Malam ini anda ada makan malam bersama Tuan Loard. Untuk membahas kerjasama anda, dan dia. Beliau sengaja ingin lebih dulu bertemu dengan anda, karena ternyata putrinya, sangat menyukai hasil-hasil rancangan anda Nona?"
"Baiklah. Jam berapa makan malamnya. Dan siapa nama putrinya."
"Yang saya dengar, nama putrinya Cintya. Dan makan malamnya jam delapan malam Nona?"
__ADS_1