
Raut wajah memerah, dan terus mengumpat saat kedua kaki itu membawa Ariana pada Juli, yang tengah berdiri bersama Adam.
Wajah Adam seketika berubah pucat, dan perlahan genggaman yang sedari tadi mencengkram kuat mulai melonggar, dan juga terlepas dengan sendirinya, saat melihat tatapan tajam dari Ariana bak binatang buas yang siap menerkam mangsanya.
"Maafkan saya Nona? saya hanya menjalankan perintah, kalau tidak bisa-bisa saya dipecat Tuan oleh Tuan Zain." Dia tersenyum kikuk, seraya menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
"Kau selalu saja membela Tuanmudamu yang brengsek itu!! ayo Juli kita pergi dari sini." Dengan kedua kaki melangkah menuju mobilnya yang terparkir.
Zain melangkah pelan menghampiri Adam, setelah kendaraan yang membawa Ariana, sudah berlalu dari halaman restorant.
"Ternyata selama ini, dia berada diAmerika. Dan aku yakin, dia pasti akan semakin menjauh dariku, setelah tau aku telah bersama Cintya."
"Terus apa yang akan anda lakukan Tuan? apakah anda akan kembali pada Nona Ariana? terus bagaimana hubungan dengan Nona Cintya."
"Aku rasa akan berakhir dalam waktu dekat ini. Dan suka, atau tidak suka Ariana pasti akan kembali bersamaku."
"Dan aku rasa jawabannya pasti tidak suka. Sebab seperti yang kulihat, Nona Ariana nampak sudah melupakan anda. Bahkan tadi saat melihat anda bersama dengan Nona Cintya saja, Nona Ariana nampak biasa-biasa saja. Dan tidak cemburu sedikitpun."
Zain begitu meradang, mendengar apan yang dikatakan sekretarinya itu.
"Kau..!!" Disertai tatapan tajamnya, sebab merasa harga dirinya begitu terinjak dengan apa yang dfikatakan Adam barusan.
'Maafkan saya Tuan, saya hanya mengatakan yang sebenarnya. Bukankah anda juga melihatnya, kalau Nona Ariaana nampak santai saja, padahal daritadi didalam restorant tadi Nona cintya terus menempel kaya perangko." Jawabnya tersenyum.
****
Lelah pada wajah cantik itu, mewakili kekesalan akan sikap mantan suaminya yang berlaku seenaknya pada dirinya. Jemari lentiknya menari pada angka yang menempel pada badan pintu apartemen, saat sudah berada didepan apartemen milik Rani.
Suasana nampak begitu sunyi, saat sudah berada didalam. Terdengar suara langkah kaki dari dapur, yang begitu mengejutkan Ariana, saat Rani tiba-tiba menyentuh pundaknya.
"Kak Rani?! kau mengejutkanku.." Dengan menyentuh dadanya, yang terasa berpacu lebih cepat.
"Apakah kamu mengirah aku maling?"
"Ntahlah..." Jawabnya tersenyum.
"Oh.. iya. Bagaimana makan malam, dan pembicaraan masalah kerjasamanya. Apakah Tuan Loard tertarik dengan rancanganmu?"
__ADS_1
"Semuanya berjalan lancar Kak? dan aku bertemu dengannya dimakan malam tadi. Dan ternyata dia tengah menjalin hubungan dengan anak dari Tuan Loard. Namanya Cintya."
Semburan air seketika keluar dari mulut Rani, akibat terkejut dengan apa yang dikatakan Araa barusan.
"A..apa kamu bilang tadi Araa??"
Senyuman palsu membingkai penuh diwajah Ariana, mendengar apa yang ditanyakan Rani.
"Aku tadi bertemu dengan Zain, dan ternyata anak dari Tuan Loard adalah kekasihnya."
Rani nampak memikirkan apa yang baru saja dikatakan Ariana. Hingga memorynya teringat kembali akan ucapan salahsatu temannya, yang mengatakan kalau Zain Pratama dengan menjalin hubungan dengan seorang wanita. Dan ternyata yang dikatakan temannya itu betul.
"Jadi benar apa yang dikatakan Sofi itu benar? kalau Zain ternyata sudah memiliki kekasih." Rani bergumam pelan.
"Aku akan istirahat sekarang. Sebab besok, aku ada wawancara dengan salahsatu stasiun televisi." Pamitnya, dengan menaiki tangga menuju lantai dua.
Pintu kamar terbuka lebar. Senyum seketika mengembang diwajah cantik Ariana, melihat Stefanie putrinya, tidur dengan begitu nyenyak. Melangkah pelan menuju ranjang, dan melabuhkan kecupan singkat pada pipi gembul itu. Tatapannya nanar, dengan senyum palsu diwajahnya.
"Mommy membohongi Deddymu, kalau kau tidak membutuhkan dia. Padahal kenyataannya, selama ini kau selalu menanyakan diamana Daddymu. Dan maafkan Mommy, Stefanie?" Ucapnya sendu.
Kedua bolamata itu teralih pada sebuah buku panjang, yang tersimpan diatas meja. Perlahan jemarinya menjangkau buku itu, membuka, dan menarik lembaran yang terselip didalamnya.
"Semoga saja, dia tidak membuang barang-barangku milikku. Sebab ada benda berharga, yang dapat membuatku bertemu dengan lelaki itu. Aku sangat ingin sekali bertemu dengan pria itu, dan mengucapkan kata terima kasih. Tapi apakah mungkin bisa? dan apakah aku harus menyebarkannya disosial media, atau televisi nanti. Kalau aku ingin sekali bertemu dengan pria, pemilik liontin ini."
Tiba-tiba saja pintu terbuka lebar, dan menampilkan Rani disana.
"Kamu belum tidur?" Dengan kedua kaki melangkah kedalam kamar
"Aku belum ngantuk Kak?"
Rani tertawa kecil, mendengar apa yang dikatakan Ariana. Tak sengaja tatapan matanya, menangkap lembaran yang berada dalam genggaman Ariana.
"Apa itu?"
"ini hanya sebuah gambar."
Rani seketika tertarik pada gambar itu, dan meminta untuk melihatnya.
__ADS_1
"Bolehkan aku melihatnya?"
"Tentu saja boleh.'" Dengan mengulurkan tangannya pada Rani.
Jemari Rani meraihnya. Tatapannya begitu intens, saat kedua bolamata itu sudah berhadapan pada lembaran kertas itu.
"Siapa yang memintamu mendesain ini?"
"Aku hanya mendesainnya. Dan aku sudah mencari tau, ternyata liontin itu adalah edisi terbatas. Dan diciptakan pada tahun sembilan puluan."
Rani terus menatap desain liontin itu, dan menurutnya desain ini sangat tidak asing baginya.
"Aku sepertinya, pernah melihat liontin seperti ini. Tapi liontin yang aku lihat itu, bisa dibagi dua. Sebab bisa terakat kembali jika berdempetan."
Ariana seketika tertarik dengan apa yang dikatakan Rani tadi, hingga membuatnya bertanya pada perancang busana itu.
"Jadi Kak Rani pernah melihatnya? dimana? dan katakan siapa pemiliknya?" Pertanyaan, yang terdengar begitu menuntut.
Keningnya berkerut, menatap dengan heran pada Ariana yang terlihat begitu ingin tahu.
"Memangnya kenapa? sepertinya liontin ini sangat penting untukmu?"
"Tidak. Tapi coba Kak Rani ingat, siapa pemilik dari liontin ini." Dengan tatapan penuh harap pada Rani, yang tengah menatapnya dengan aneh.
Rani nampak berpikir keras, berusaha untuk mengingat kembali akan liontin yang sangat tidak asing untuknya itu.
"Aku ingat." Dengan raut wajah sumringah.
"Siapa Kak orangnya?? siapa??" Dengan raut wajah tidak sabarannya.
"Ibu dari Zain. Mantan suamimu. Dia memiliki liontin seperti yang kamu gambar ini. Dan liontin yang dimilikinya itu juga, edisi terbatas."
Tatapannya menyipit, berusaha untuk menelusuri kebenaran dari perkataan Rani tadi.
"Apakah Kak Rani yakin, kalau Ibunda Zain memiliki liontin seperti ini??"
"Tentu saja aku sangat yakin. Karena Tante Vivi, pernah menunjukkan padaku. Aku, Zain, dan juga Jack adalah sahabat baik. Dan kami sering pergi kerumahnya saat jaman SMA dulu. Tapi mungkin saja, bisa juga orang lain memilikinya. Bukankah orang kaya didunia ini banyak, dan bukan keluarga Pratama saja. Dan kenapa kau menanyakan tentang liontin ini, apakah ada sesuatu yang kau sembunyikan dariku?" Tatapan penuh selidik pada Ariana.
__ADS_1
"Tidak, aku hanya bertanya saja." Jawabnya, berusaha meyakinkan Rani dengan kebohongannya.
"Benar kata Kak Rani, pasti ada pemilik lain yang memiliki liontin yang sama dengan liontin yang dimiliki ibunda dari Zain. Tuan Pahlawan, kenapa mencari keberadaanmu sangat susah? padahal aku hanya mau berterima kasih, dan mengembalikan liontin milikmu ini. Dan seandainya kau mengajakku menikah, pasti aku akan mau. Karena aku yakin, kalau kau adalah pria yang baik. Dan semoga saja, kau lebih baik dari mantan suamiku."Ariana membathin seraya tertawa geli, saat mengingat keinginan konyolnya yang ingin menikah dengan laki-laki yang sudah menolongnya waktu itu.