
Mendengar apa yang dikatakan Zain, membuat Piter terlihat begitu syok. Menundukkan wajahnya, dan pasrah apa yang akan terjadi pada hidupnya setelah tersebarnya video panasnya, dan Clara.
Senyuman palsu terukir diwajah tampan itu, melihat perubahan ekpresi dari Piter.
"Aku sebenarnya sangat tidak tega melakukan hal ini. Tapi apakah kau berpikir dua kali, sebelum melakukan hal itu padaku. Hanya karena untuk dapat menikmati tubuh wanita itu, kau sampai tega menghancurkan rumahtanggaku. Jadi sekarang kita impas. Kehancuran yang aku rasakan, kau pun merasakan. Dan akibat perbuatanmu sekarang aku harus berjuang untuk mendapatkan kata maaf dari mantan istriku, dan mencarinya yang aku tidak tau keberadaannya. Dan ini ponselmu, aku sudah tidak membutuhkan lagi." Dengan melemparkan benda pipih itu, pada Piter.
Dan ayo Adam, kita pergi dari sini?" Ajak Zain, dengan berlalu begitu saja.
****
Dentingan jam terus berputar, yang menandakan kegelapan semakin menjemput, hingga tidak terasa jarum jam sudah berada diangka dua belas.
Kedua kaki itu membawa tubuh tegap itu memasuki kediamannya yang telah sepi, saat para penghuni sudah terlelap dengan mimpi indahnya.
Melepaskan jacket kulit yang membalut tubuh itu, saat dirinya sudah berada didalam rumah.
"Aku yakin, semua media pasti akan heboh dengan video panas Tuan Piter, dan juga Nona Clara. Dan apakah anda tidak apa-apa, karena aku yakin media pasti akan mewawancarai Tuan juga, karena mereka banyak yang tau, kalau Nona Clara adalah mantan kekasih anda."
Menyeringai jahat, saat mendengar apa yang dikatakan oleh sektretarisnya.
"Biarkan saja, aku tidak perduli. Karena itu yang aku harapkan. Dan aku yakin, keluarga Mahesa pasti akan syok berat, dengan ini semua, karena tidak menyangkah kalau putri mereka Clara, akan melakukan hal serendah ini. Terutama Clara, yang pasti akan sangat kaget, dengan beredarnya video panasnya dan Piter."
"Iya Tuan, pasti mereka akan sangat syok berat. Terutama Tuan David, dia pasti orang yang sangat terpukul dengan semua ini."
Hembusan napas terdengar berat, saat mendengar Adam menyebut nama ayah angkat, dari mantan istrinya.
"Kalau aku tidak mengingat bagaimana sayangnya Ariana pada ayah angkatnya itu, mungkin aku sudah membuat keluarga Mahesa berakhir dijalanan, akibat perbuatan dari anaknya."
****
Kicauan burung telah terdengar kembali, tanda pagi telah menampakkan senyumnya.
__ADS_1
Mataharipun telah kembali memamerkan cahayanya, setelah kegelapan perlahan meredup dari muka bumi ini.
Seperti biasa para penghuni rumah keluarga Pratama, akan melakukan aktifitas mereka seperti biasanya, termasuk para pelayannya yang akan melakukan aktifitas, sesuai dengan bagiannya masing-masing.
Seperti yang terlihat diruang makan pagi ini. Nampak Ani sang kepala pelayan, dan juga Paula yang tengah mempersiapkan sarapan pagi untuk anggota keluarga Pratama.
Paula memang membantu Ani dalam menyiapkan sarapan pagi, tapi dia lebih memfokuskan diri pada ponselnya, daripada membantu Ani.
"Apa yang kau lakukan Paula? dari tadi, kau lebih banyak menghabiskan waktu bermain ponselmu, daripada membantu Bibi menyiapkan sarapan pagi. Kalau Tuanmuda melihat kelakuanmu seperti ini, kau bisa dipecat." Dengan keriputan yang semakin memenuhi wajah tuanya, saat ucapan itu terlontar dari bibirnya akibat rasa kesal.
"Tuan muda sangat baik Bibi, mana pernah dia memarahi kita hanya karena hal sekecil ini. Kecuali Nyonya Celine, yang akan langsung memarahi kita habis-habisan, hanya karena hal sepeleh. Tapi sejak dia mengetahui Nona Ariana adalah putrinya, dia lebih banyak mengahabiskan waktunya dikamar, hanya untuk menangis meratapi penyesalannya. Jadi untuk sementara, kita bebas dari amukannya."
"Kau terlalu banyak bicara Paula? cepat selesaikan kerjaanmu., dan berikan ponselnya, karena kalau tidak kerjaanmu pasti tidak ada yang beres, jika kau hanya sibuk bermain Hp." Dengan meraih benda pipih itu dari tangan Paula, tapi seketika gadis itu mencekalnya setelah melihat sesuatu yang sangat menarik perhatiannya.
"Tunggu... tunggu Bibi...?!"
"Ada apa. Kalau kau masih bermain Hp Terus, Bibi akan mengadukanmu pada Tuan Zain." Tatapan kesal, dengan semakin menajamkan tatapan matanya.
Tidak mengindahkan apa yang dikatakan Ani padanya, Paula lebih mendekatkan dirinya dengan wanita parubaya itu, dan menunjukan sesuatu disana.
Kedua bolamatanya membelalak lebar, seraya jemarinya membekap mulut itu, saat dia nyaris berteriak ketika melihat sesuatu pada ponsel milik Paula.
"Nona Clara.., Tuan Piter.. mereka..." Dengan tidak dapat melanjutkan kalimatnya, dengan tatapan mata menatap kearah Paula.
Kedua kaki Adam membawanya menghampiri kedua wanita beda usia itu, saat melihat raut wajah serius dari keduanya ketika menatap layar ponsel, dan itu membuatnya penasaran.
"Apa yang kalian tonton Bibi Ani, Paula.., sepertinya ada sesuatu yang sangat menarik."
Paula segera menghampiri Adam, saat melihat kedatangan sekretaris muda itu.
"Adam, coba kau lihat ini." Dengan memberikan ponselnya, pada pria itu.
__ADS_1
Kau lihat, ternyata dia sangat murahan. Ternyata selama ini, diam-diam Nona Clara menjalin hubungan dengan Tuan Piter, bahkan mereka sampai melakukan itu. Dan kau lihat Adam, banyak sekali videonya. Aku merasa begitu jijik padanya, dia sangat murahan."
"Biarkan saja, itu akibat dari perbuatannya sendiri." Yang nampak acuh, karena diapun sudah tau hal ini pasti akan terjadi.
****
Kediaman Mahesa.
Jemari wanita paruhbaya itu berselancar pada layar ponselnya, seraya menonton acara acara pagi pada salahsatu stasiun televisi. Tiba-tiba saja terlihat panggilan dari salahsatu teman arisannya, saat jemarinya sedang menari-nari disana.
"Ibu Endang, ngapain pagi-pagi dia menguhubungiku." Gumamnya, bertanya pada diri sendiri.
Dan karena rasa penasaran, Diana memutuskan untuk mengangakat teleponenya dari teman arisannya itu.
PERCAKAPAN
"Halo Bu Endang?"
Terdengar suara yang begitu menggema seberang sana, saat Diana menyapa.
"Bu Diana, anaknya sekarang sudah beralih profesi yaa? memang gak ada kerjaan lain lagi, selain menjual diri?"
Keningnya berkerut, dan emosi dalam diri seketika menyeruak, tapi berusaha dibendung oleh Diana, saat mendengar apa yang dikatakan teman arisannya tentang Clara putrinya.
"Apa maksud Bu Endang berkata seperti itu? dengan berkata menjual diri."
Terdengar tawa diseberang sana, saat mendengar pertanyaan yang terlontar dari bibir Diana.
"Pasti Bu Diana belum menonton gosip pagi ini, atau hanya sekedar melihat berita dimedia oneline. Lagi heboh lho Bu Diana, berita tentang Clara dengan seorang pengusaha. Yang jelas bukan dengan mantan kekasihnya Tuan Zain, tapi dengan yang lain. Dan aku yakin, pasti Bu Diana akan sangat kaget karena anak anda sudah jadi sebritis dadakan." Jawabnya, dengan mengakhiri panggilan telepone itu.
Saat percakapan telepone telah berakhir, Diana segera meraih remot televisi yang berada dimeja kaca. Jemarinya mulai mencari channel yang menayangkan berita pagi ini, dan dia berhenti disalahsatu acara stasiun televisi.
__ADS_1
Kedua bolamata itu tertuju penuh pada layar televisi, saat masih menayangkan berita tentang seorang artis yang tengah naik daun. Dan ketika tayangan selanjutnya, tubuh Diana melemas seketika hingga buliran bening itu, menetes begitu saja tanpa dia sadari.
"Clara...." Gumamnya, seraya membekap mulutnya seolah tidak percaya dengan apa yang dia lihat.