
"Tuan, aku mohon jangan lakukan tindakan bodoh ini. Apakah anda mau masuk penjara, hanya karena membunuh wanita ini?" Ucap Adam memperingati Tuanmudanya, yang sudah dikuasai oleh amarah yang teramat sangat.
Diana mengahampiri ketiga orang dewasa itu, dan dalam dirinya begitu penasaran, sebenarnya ada apa ini.
"Zain, ada apa ini? kenapa kau menampar putriku? dan sebenarnya, ada masalah apa."
Senyuman sinis membingkai diwajah tampan itu, saat mendengar apa yang baru saja, ditanyakan Diana.
"Putrimu, dan rekan bisnisku Piter, sudah bersekongkol untuk menjebak Ariana, seolah dia sudah berselingkuh dengan rekan bisnisku itu. Dan gara-gara itu semua, membuatku menceraikan wanita yang sama sekali tidak pernah menghianatiku. Dan tunggu saja, aku akan menghancurkan kau, dan Piter karena sudah membuat rumahtanggaku, dan Ariana berakhir. Dan ayo Adam kita pergi dari sini, sebab aku sudah muak melihat wanita murahan ini. Dan ingat ( Dengan nada penuh penekanan) Jangan pernah menginjakkan kakimu dirumah, atau perusahaanku lagi." Ucap Zain, dengan berlalu begitu saja.
Clara hanya bisa menangis, dan menangis. Sebab dia sudah membuat pria yang sangat dicintainya, semakin membencinya dirinya. Dan dia yakin, tidak ada harapan bagi dirinya lagi, untuk dapat memiliki Zain.
"Maa, aku harus bagaimana? aku tidak mungkin bisa mendapatkan dia lagi? dia sudah sangat membenciku," Keluhnya dengan linangan airmata, yang terus mengalir.
"Ini semua terjadi karena kebodohanmu, Clara?! kenapa kau begitu bodoh, sampai tidak menyadari kalau Jason merekam perbincangan antara kau, dan Piter saat direstorant itu. Dan kau lihat disana, semua orang menertawakan kita. Dan apa yang harus Mama jelaskan pada teman-teman Mama besok, kalau pertunangan kalian ini batal karena akibat karena Zain sudah mengetahui kebenarannya. Dan pasti Mama, akan menjadi bahan hinaan mereka." Jawab Diana dengan raut wajah kesalnya, menatap Clara.
David yang sedari tadi melihat semua kejadian itu, hanya bisa menahan kecewa. Dia tidak menyangkah Claralah, orang yang berada dibalik perpisahan Ariana, dan juga Zain.
Menghampiri putrinya yang masih meneteskan airmata, dengan tatapan penuh kekecewaan disana.
"Papa..?" Gumamnya, saat David berada didepanya.
"Papa tau, dari dulu kau sangat tidak menyukai Ariana. Tapi Papa tidak menyangkah, kau akan melakukan hal serendah ini, hanya untuk dapat kembali memiliki Zain. Apakah kau tidak punya rasa iba pada Ariana, disaat Zain menceraikannya, Ariana sedang mengandung. Papa sangat kecewa padamu, Clara? dan Papa sangat malu, dengan apa yang kau lakukan ini." Ucapnya, dengan berlalu begitu saja.
****
Mentari telah menampilkan senyum indahnya, menyapa semesta alam, setelah kegelapan menghilang, dengan munculnya mentari pagi
Sebuah mobil mewah memasuki rumah mewah milik Zain Pratama, diwaktu yang sudah menunjukkan pukul 8 pagi, waktu Jakarta.
Kedua kaki itu melangkah kedalam rumah sahabatnya, dengan tangan menggenggan sebuah amplop besar. Dan dalam dirinya sangat penasaran, hasil tes DNA apa ini. Sebab Jack diminta oleh rekan Dokternya yang berprofesi sebagai Dokter kandungan, untuk mengantarkan pada Zain, yang diketahui adalah sahabatnya.
"Hasil tes DNA apa ini? apakah Zain telah melakukan tes DNA, tanpa aku tau?" Bertanya pada diri sendiri, dengan tangan menatap amplop besar itu.
Saat sudah berada didalam, dia mendapati keberadaan Ani sang kepala pelayan, yang sedang berada diruang tamu.
"Selamat pagi, Bibi Ani? dimana Tuan Zain, aku ingin bertemu."
"Tuan Zain sedang berada didalam ruang kerjanya, Dokter Jack?"
__ADS_1
"Bukankah semalam dia baru saja bertunangan, dengan Clara? dia bukannya menghabiskan waktu dengan tunangannya, ini malah sibuk bekerja,"
"Mereka tidak jadi.." Belum selesai Ani menyelesaikan kalimatnya, Jack sudah berlalu begitu saja.
"Baiklah, kalau begitu aku kedalam dulu." Pamitnya, dengan berlalu pergi menuju ruang kerja.
****
Didalam ruang kerja, nampak Adam tengah menemani Tuanmudanya, yang tengah bersedih.
Penampilan Zain terlihat kusut, bagaikan benang yang tidak tertata pada rumahnya.
Lelaki itu tidak dapat tidur semalaman, memikirkan kebodohannya yang sudah menceraikan Ariana, wanita yang begitu dia cintai, akibat termakan perangkap yang dibuat oleh wanita yang nyaris menjadi tunangannya.
Terdengar suara ketukan pintu dari luar, yang mengalihkan tatapan Adam, saat jemarinya tengah menari-nari diatas layar ponselnya.
"Masuk..?" Teriaknya dari dalam, saat Tuanmudanya nampak mengabaikan suara ketukan pintu itu.
Pintu terbuka lebar, dan menampilkan sosok Jack yang tengah melangkahkan kaki, masuk kedalam ruang kerja.
Saat melangkah kedalam, tatapan Jack terus menatap Zain, yang terlihat dengan penampilannya yang terlihat kusut, dengan rambut yang begitu berantakan, dan tidak tertata rapi yang sangat melekat pada diri pria itu.
Menegakkan kembali duduknya, dengan senyuman yang terlihat memaksa, saat mendengar pertanyaan sahabatnya, dengan nada yang terdengar mengejek.
"Aku tidak jadi, bertunangan dengannya."
Seketika raut wajah serius membingkai diwajah Jack, saat mendengar apa yang baru saja dikatakan, oleh pengusaha tampan itu.
"Kau serius? kau sedang tidak berbohong padakukan?" Bertanya untuk memastikan, kalau yang dia dengar tidaklah salah.
Senyuman memaksa membingkai kecil diwajah tampan itu, saat mengingat Clara yang sudah memperdayainya, hingga membuatnya menceraikan Ariana.
"Wanita itu benar-benar ular. Aku tidak menyangkah, ternyata selama ini aku dibodohi olehnya."
Jack terlihat sangat penasaran dengan apa yang dikatakan Zain, dan dalam dirinya sebenarnya ingin mengetahui lebih banyak, masalah yang apa menimpa sahabatnya. Tapi amplop besar yang berada digenggamannya, membuatnya mengingat kembali tujuannya, yang datang berkunjung kerumah teman baiknya itu.
"Aku sangat penasaran, dengan apa yang terjadi semalam.Tapi ada hal yang lebih penting, yang harus aku berikan padamu. Aku diminta rekan Dokterku, mengantarkan ini. Dan ini adalah hasil tes DNA. Apakah kau pernah melakukan, Tes DNA Zain?" Dengan menyerahkan amplop besar itu, pada sahabatnya.
"Tes DNA," Gumamnya pelan, dengan meraih amplop itu dari tangan Jack.
__ADS_1
"Jadi kau tidak pernah, melakukan tes DNA Zain?" Tanya Jack sekali lagi, saat melihat raut wajah bingung pada wajah Zain Pratama.
"Aku tidak pernah, melakukan tes DNA." Jawabnya dengan sekilas, menatap Jack.
Memorynya kembali memutar kebelakang, dan ingatannya kembali tertangkap atas surat yang ditulis Ariana, kalau 1 minggu kemudian, Jack akan mengantarkan sesuatu padanya.
"Mungkinkah yang dimaksud Ariana, adalah ini? tapi hasil tes DNA, apa ini?" Bathinya, dengan rasa penasaran yang teramat sangat.
"Kenapa terus kau memandangnya, Zain? cepat buka! karena aku sangat penasaran, hasil tes DNA apa itu?"
Perlahan Zain mulai melepaskan benang yang mengait, pada sebuah benda yang hampir menyerupai kancing itu.
Tanganya menyisip kedalamnya, dan menggapai sebuah lembaran yang tertulis diatas, dengan nama Ariana Mahesa.
Dia membaca dengan seksama, semua keterangan yang berada didalam sana. Airmata kembali lolos, dan rasa menyesal yang begitu mendalam, kembali melanda diri, saat mengingat bagaimana dia meragukan bayi, dalam kandungan Ariana.
"Maafkan aku, Araa? maafkan aku. Aku sudah sangat bersalah padamu, dan anak kita. Maafkan aku, yang sudah meragukan kesetianmu," Ucapnya, dengan linangan airmata.
Raut wajah Jack terlihat penasaran, saat melihat perubahan mimik wajah teman baiknya itu. Dan tanpa meminta ijin, dia langsung meraih lembaran kertas itu, dari tangan Zain.
Tatapannya begitu intens, dan membaca dengan seksama, dan dia begitu kaget saat mengetahui itu, adalah Tes DNA yang dilakukan oleh Ariana.
"Apakah Ariana melakukan tes DNA ini, karena kau meragukan janin yang dia kandung?" Tanya Jack, yang mencoba untuk menebak.
"Iya. Dan aku, sangat menyesal Jack?" Jawabnya, menunduk.
Jack menghembuskan napas kasar, seraya menggeleng pelan, saat mendengar apa yang dikatakan Zain padanya.
"Kenapa kau begitu bodoh, Zain? kenapa? kenapa kau tidak mencari tau kebenarannya dulu, sebelum kau mengambil sebuah keputusan. Dan aku yakin, Ariana pasti sangat terluka dengan apa yang kau lakukan."
"Itulah kebodohanku. Saat itu aku terlalu dibutakan amarah, karena aku begitu mencintainya Jack, aku begitu mencintainya. Walaupun aku menjalin hubungan dengan CLara, tetap saja dia adalah wanita yang aku cintai sesungguhnya,"
"Tuan, maaf ini ada lagi yang tertinggal didalam amplop ini." Dengan memberikan sebuah foto kecil, pada pada Tuanmudanya.
Meraih dari tangan sekretarisnya, dan airmata kembali tumpa, dan juga dibarengi dengan senyuman kebahagian, saat melihat wujud anaknya disana. Zain membalikkan lembaran foto itu, dan ada pesan yang ditulis Ariana.
"Zain, anak kita berjenis kelamin perempuan. Dan kau tau, dia tumbuh sehat, dalam rahimku. Anakmu sangat pengertian Zain, dia tidak pernah merepotkan aku, dengan mengindam yang aneh-aneh. Mungkin dia tahu kalau Papanya, tidak bersama dia, dan Mamanya saat ini." Dengan memberikan, emoji senyum.
Zain tak sanggup lagi menegakkan wajahnya, hatinya semakin hancur, saat membaca pesan yang ditulis Ariana. Dan rasa penyesalan, dan juga bersalah semakin mendalam dalam dirinya, karena sudah membuat anaknya, dan Ariana menderita. Menundukkan kepala diatas meja, dan menumpakan kesedihannya disana.
__ADS_1
"Maafkan aku Araa, maafkan aku. Maafkan aku, Sayang..?"