Terjerat Cinta Si Culun

Terjerat Cinta Si Culun
Bertemu Oma Celine


__ADS_3

Kedatangan Stefanie kerumah itu, membawa kegembiraaan bagi para penghuninya. Semuanya terlihat begitu bahagia, sebab tidak menyangkah putri Tuanmuda mereka, akan berkunjung kerumah itu.


"Jadi Mommymu bernama Ariana??" Ani mengukir senyum kecil diwajah tuanya, mendengar ucapan gadis kecil itu.


"Iya Oma.. Mommyku bernama Ariana. Dan ini Daddyku. Hi...hi...hi..." Dia kemudian tertawa geli, saat mengenalkan Zain sebagai ayahnya.


"Dia memang Daddymu Stefanie, dan ini adalah rumahmu." Tatapan itu begitu dalam, saat memorynya kembali memutar akan kenangan kisahcinta ayah, dan Ibu dari gadis kecil itu.


Raut wajah bingung membingkai penuh diwajah mungil Stefanie, karena bingung kala Ani mengatakan Zain adalah ayahnya.


"Daddy Zain akan betul-betul menjadi Daddyku, kalau dia menikah dengan Mommyku. Iyakan Daddy..?" Menengadakan kepala, menatap pada Zain yang tengah mengehembuskan napas beratnya.


"I..iya." Dengan senyum palsunya.


Ani mengambil langkah kecil, menghampiri Tuanmudanya. kalah sendu seketika membingkai diwajah lelaki tampan itu, saat mendengar ucapan putrinya.


"Besabarlah Tuan... semuanya butuh waktu. Cepat atau lambat dia pasti akan mengetahui, kalau anda benar-benar ayahnya." Ani berkata pelan, berusaha membesarkan hati pengusaha kaya itu.


Tersenyum palsu, dengan berusaha berbesar hati.


"Aku akan bersabar. Dia mau memanggilku Daddy saja, aku sudah bahagia,"


Paula mengalihkan topik pembicaraan, kala suasana sedih seketika melanda.


"Bibi Ani... ayo kita masak yang enak." Dan kedua mata Paula teraluh pada Stefanie, yang berada disamping ayahnya.


Bukankah selama ini kau menghabiskan waktumu diAmerika? jadi kau lebih banyak menyantap makanan luar. Dan bagaiamana kalau kami, memasak masakan yang enak buatmu. Khusus untuk menyambut kedatanganmu, Nona Stefanie?" Paula berkata, dengan membungkukkan mensejajarkan dengan tingginya.


"Masak makanan yang enak buatku...?" Bolamata membulat lebar, saat mendengar penawaran itu.


"Tentu. Bagaimana?" Paula tersenyum kecil, mendengar ucapan putri Tuanmudanya.


Seketika nampak berpikir keras, mengingat macam-macam masakan indonesia.


"Daddy..." Panggilnya tiba-tiba.


"Ada apa Stefanie?"


"Apakah aku boleh meminta makanan yang banyak??" Tatapan penuh harap, pada wajah tampan itu.


Mereka semua tertawa kecil, mendengar permintaan gadis berambut ikal itu.


Dan itu membuat Stefanie menampakan wajah cemberutnya, saat semua menertawai dirinya.


"Daddy... aku serius. apakah ini lucu??" Dia mulai mengajukan protesnya, dengan memanyunkan bibir mungil itu.


"Kau adalah Nona kami Stefanie?? katakan apa yang kau inginkan. Kami pasti akan memasaknya untukmu."


Menengadakan kepala, menatap tak percaya pada Zain.


"Benarkah Daddy??"


"Tentu saja Sayang... katakan pada Bibi Paula, dan juga Oma Ani, katakan apa saja yang kau inginkan."


"Meemm...." Dia nampak berpikir.


Aku ingin memakan ayam goreng, opor ayam, sate, ikan panggang, Ice buah, ice teler, bakso. Aku ingin memakan semua itu. Sebab disana sedikit susah Daddy??"

__ADS_1


"Apakah kau sanggup memakan semuanya Stefanie??"


"Tentu Daddy... karena kita akan memakannya bersama." Dia tertawa bahagia.


Ani tersenyum, dengan jemari membelai lembut pada pucuk kepala Stefanie.


"Kau betul-betul seperti Mommymu, Ariana. Memiliki hati yang begitu baik. Dan dengan senang hati, Oma, dan pelayan lainnya akan memasak semua masakan, yang kau sebutkan tadi."


"Terima kasih Oma?" Dan diapun tersenyum.


"Baiklah. Sambil menunggu Oma, dan yang lainnya masak, ayo kita keatas. Daddy akan mengenalkanmu pada seseorang."


Menengadakan kepala, menatap dengan intens pada Zain.


"Apakah itu Oma Celine, Daddy?" Stefanie mencoba untuk menebak.


"Iya Stefanie? kalau begitu ayo kita temui dia sekarang."


"Ayo Daddy?" Ajaknya dengan menggapai jemari Daddynya, saat kedua pasang kaki itu berjalan beriringan menuju arah tangga.


****


Zain, dan putrinya kini sudah berada didepan kamar milik Celine, yang masih tertutup rapat.


"Daddy... apakah ini kamar Oma Celine?"


"Iya Stefanie, ini kamar Oma Celine."


Zain mengayunkan tangannya, memberi ketukan pada badan pintu.


"Zain..." Celine berucap, saat pintu kamar terbuka dia mendapati keberadaan Zain.


Sepasang mata itu berpindah pada gadis kecil, yang bergenggaman tangan bersama keponakannya.


Tatapan itu seketika menatap dengan dalam, saat melihat gadis kecil itu begitu mirip dengan keponakannya Zain.


"Daddy... apakah dia Oma Celine?" Stefanie bertanya dengan sedikit berbisik.


"Iya. Dia Oma Celine."


"Zain... apakah dia..?" Tak dapat melanjutkan ucapannya, saat airmata itu sudah menetes.


"Iya. Dia cucumu." Zain berkata dengan senyum kecilnya.


Celine mensejajarkan tingginya dengan Stefanie, menatap pada gadis kecil itu dengan raut wajah bersalahnya.


"Apakah Mommymu bernama Ariana??" Mata itu berkaca-kaca, saat pertanyaan itu keluar dari bibirnya.


"Iya Oma? nama Mommyku Ariana. Dan aku Stefanie. Dan kenapa Oma menangis, apakah Oma tidak senag bertemu denganku??" Tatapan bingung, pada wajah gadis kecil itu.


Airmata semakin saja mengalir, melihat cucu kandungnya.


"Justru sebaliknya Stefanie? Oma sangat senang bertemu denganmu. Sangat senang..." Tak dapat menghalau lagi rasa sedih juga bahagia itu, Celine langsung membenamkan Stefanie dalam pelukannya.


"Maafkan Oma... maafkan Oma..." Dia berbicara pelan, dengan deraian airmata yang terus saja mengalir.


Stefanie melepaskan pelukan mereka, dan jemari mungil itu mengusap airmata pada wajah tirus yang masih saja mengeluarkan airmata.

__ADS_1


"Jangan menangis Oma.. karena kau tidak bersalah padaku."


Ibu jarinya mengusap sudut mata yang masih basah, dan berusaha menampilkan wajah ceria pada cucunya.


"Katakan pada Oma. Apakah kau sudah makan??"


Mengerucutkan bibirnya, sebelum pertanyaan itu dia jawab.


"Aku sudah makan Oma? tapi baru sedikit. Dan aku masih lapar...?" Nada itu, terdengar merajuk saat mengatakan masih lapar.


"Benarkah??" Raut wajah kaget, pada wajah yang sudah sedikit berkeriput itu.


"Iya Oma..? dan aku masih kapar." Dengan nada melemah, yang membuat Zain hanya tertawa.


"Baiklah kau tunggu disini. Oma akan mengambil makanan untukmu." Celine langsung melangkah keluar, tanpa berbasa basi saat mendengar keinginan cucunya.


****


Stefanie duduk dilantai kamar berlaskan karpet bulu, dengan berbicara sendiri pada dua boneka barbie, dengan terus mengunyah makanan yang disuapi Omanya.


"Oma... aku ingin minum,"


"Minum..?"


"Meemm..." Dengan anggukan cepat, dan kembali fokus pada mainannya.


Menyambangi kembali cucunya, dengan segelas airputih pada genggaman.


"Minumnya pelan-pelan. Nanti bajumu basah." Celine memperingatkan, saat Stefanie minum dengan sedikit tergesa-gesa.


Zain terus sedari tadi melemparkan senyuman, saat melihat keakraban Bibinya, dan juga putrinya. Sekalipun direpotkan keinginan Stefanie yang tidak ada habisnya, tapi Celine nampak begitu bahagia. Senyum yang beberapa tahun ini hilang pada wajah tua itu, muncul kembali dengan kedatangan cucunya.


"Ternyata tidak salah, aku membawa Stefanie kesini. Putriku, adalah obat yang mujarap bagi Bibi Celine." Zain membathin, dengan melukis senyum kecilnya.


"Oma... aku mau pipis.." Ucap Stefanie tiba-tiba.


"Biar aku saja Bibi??" Zain ingin mengambil alih, tapi ditolak oleh wanita paruhbaya itu.


"Tidak perlu. Biar Bibi saja yang mengurusnya."


Ayo Stefanie..! Oma antar kekamar mandi." Dengan meraih tangan gadis kecil itu.


Waktu terus saja melangkah, tidak terasa sudah menunjukkan pukul satu siang. Dan diranjang king size Bibinya, Stefanie sudah tidur dengan lelap seraya memeluk guling.


'Terima kasih Zain, karena kau sudah membawa cucu Bibi kemari." Celine berucap, saat tatapan mata itu menatap pada wajah damai cucunya yang terlelap.


"Apakah kau juga ingin bertemu dengan anakmu Bibi?"


Mengengadakan kepala, menatap dengan intes pada wajah tampan keponakannya.


"Apakah kau serius Zain??"


"Aku serius. Dan semoga saja apa yang sudah kurencanakan ini berhasil. Dan malam ini aku titip putriku disini, sebab malam ini aku tidak akan pulang kerumah. Dan aku yakin sebentar lagi Ariana akan mencariku keperusahaan. Karena aku membawa Stefanie tanpa sepengatahuannya."


"Benarkah..?" Terkejut dengan bolamata semakin membulat lebar.


"iya. Dan aku pergi dulu." Zain melangkah keluar dari kamar, saat melabukan kecupan pada pipi putrinya.

__ADS_1


__ADS_2