Terjerat Cinta Si Culun

Terjerat Cinta Si Culun
Sadar dari koma


__ADS_3

Pagi kembali menyambut, saat gelap mulai meredup dengan datangnya cahaya matahari pagi.


Dua hari telah berlalu, tapi Ariana belum juga sadarkan diri dari komanya pasca operasi caesar. Dan dua haris itu pula, Zain tak bertemu dengan putrinya.


Sebuah mobil mewah memasuki kediaman Zain Pratama, diwaktu yang masih pagi. Membuka pintu mobil, dan segera keluar mencondongkan tubuhnya keluar dari dalam mobil saat kendaraan roda empatnya sudah terparkir.


Mengayunkan kaki dengan pelan, dan sayup-sayup dia mendengar suara putri disana.


Langkah kaki itu seketika terhenti, saat dari jauh Zain mendapati putrinya yang tengah bermain sepeda kecilnya.


Mengusap cepat airmata yang sudah mengalir, dengan tatapan lurusnya.


"Maafkan aku, putriku!"


Kakinya mengayun dengan lincah, saat mengayuh sepeda kecilnya didalam rumah.


Ayunan kaki itu seketika terhenti, dan melemparkan tatapan matanya pada asal suara, saat mendengar suara Ayahnya. Senyuman mengembang diwajah gadis kecil itu, dan dengan segera dia berlari kecil menghampiri sang Daddy.


"Daddy...." berlari menghampiri pada ayahnya, yang sudah melebarkan kedua tangannya.


Menangkap tubuh putrinya, dan membenamkan dalam pelukannya. "Daddy! aku sangat merindukanmu. Kenapa kau baru datang? dan dimana Mommy, dan adik-adik bayi?" dengan bolamata mata melempar kebelakang ayahnya, mencari keberadaan sang Mommy, dan juga adik-adik bayi.


Melukis senyum palsu diwajah, yang syarat akan kesedihan yang begitu dalam.


"Mommy, dan adik-adik bayimu belum diijinkan pulang Stefanie!"


"Kalau begitu aku yang akan menjenguk mereka, Daddy!" dengan nada berapi-api.


Menghembuskan napas dalam, dan mengukir senyum palsunya.


Menduduki Stefanie pada sebuah kursi, dan menatapnya dengan dalam.


"Kau sayang pada Daddykan?"


"Tentu saja aku sayang padamu Daddy! kenapa kau bertanya begitu?" wajah mungil itu menunjukkan rasa penasaran, dengan apa yang baru ditanyakan Ayahnya.


"Kalau kau sayang pada Daddy! Daddy minta kau penuhi permintaan Daddy,"


"Apa itu Daddy?"


"Kau tidak perlu menjenguk Mommy,"


"Apa?? kenapa aku tidak boleh menjenguk Mommy, Daddy? bukankah kau sudah janji kalau setelah Mommy melahirkan kelima adik bayiku, Daddy akan membawaku menjenguk Mommy!" dengan wajah kesalnya.


Menghembuskan berat, bagaimana dia mendapati kekehnya putrinya itu yang ingin tetap menjenguk Ibunya.


"Kali ini Daddy mohon padamu, Stefanie! penuhilah permintaan Daddy," tatapan penuh harap saat berucap pada putrinya.


"Tapi Daddy! aku sangat merindukan Mommy," sendu seketika membingkai penuh diwajah cantik bocah itu, saat Ayahnya yang tidak mengijinkan dirinya untuk mengunjungi sang Mommy.


Tangan kekarnya perlahan menyentuh pipi gembul sang putri, dan menatapnya penuh kasihsayang.

__ADS_1


"Karena Daddy sangat sayang padamu! jadi Daddy melarangmu untuk kesana,"


"Memangnya kenapa aku tidak boleh menjenguk Mommy, Daddy?"


"Karena disana banyak penyakit. Kau tau, dirumah sakit itu banyak orang dengan berbagai macam penyakit, dan Daddy tidak mau kau tertular dari mereka." seru Zain yang berusaha memberi pengertian pada putrinya.


"Baiklah," jawabnya pasrah, dengan menundukkan wajah akibat kecewa.


Melebarkan kedua tangannya, dan membawa Stefanie dalam pelukannya.


"Daddy sangat sayang padamu Stefanie! sangat sayang padamu," memeluk erat tubuh putrinya, dengan linangan airmata yang kembali mengalir, saat kembali terlintas dalam pikirannya tentang keadaan sang istri.


Menarik diridalam pelukan Ayahnya, dan menatap dalam pada wajah Ayahnya saat mendapati dia menangis.


"Daddy! kenapa kau menagis? apakah karena aku nakal?"


Mengusap kasar kedua pipinya, yang sudah terbasahi oleh tetesan airmata, dan menyimpulkan senyum palsunya.


"Sedikit. Jadi Daddy mohon, penuhi permintaan Daddy,"


"Baik Daddy! tapi berjanjilah kalau kau tidak akan menangis lagi,"


"Daddy, Janji putriku!" dengan senyuman kecil diwajah.


Dan tatapan mata itu berpaling pada kedua pelayan rumahnya, dan melangkah menghampiri pada mereka.


"Bibi Ani!, Paula, kalian pasti sudah mengetahui keadaan Arianakan?"


"Dia masih Koma, Bibi!" dan tatapan mata itu tertuju pada putrinya, yang sudah kembali bermain sepeda kecilnya.


"Aku tidak ingin putri tahu, kalau Mommynya sedang terbaring koma. Jadi kalau dia meminta untuk mengantarnya kerumah sakit, jangan penuhi permintaannya. Setidaknya sampai Ariana sadar."


"Baik Tuan! kami mengerti," jawab keduanya bersamaan.


****


Malam menenggelamkan wajahnya, tergantikan dengan siang yang memunculkan mentari, hingga tak terasa satu minggu telah terlewati.


Bolamata nya masih saja tertutup rapat, dengan alat-alat bantu yang terpasang pada tubuhnya yang membuatnya bertahan hidup.


Jemari yang tadi terlihat kaku, perlahan mulai bergerak, dan bolamatapun mulai terbuka dengan perlahan. Tatapan matanya tertuju langit-langit ruangan, dan mendapati dirinya diruangan asing.


Memalingkan wajah, dan mendapati Zain tertidur dengan posisi duduk, dengan kepala bersandar pada pinggiran ranjang.


"Zain...." dia berucap pelan, memanggil nama suaminya.


"Zain...." panggilnya nlagi, kala sang suami belum juga bangun.


Merasakan gerakan tangan itu, membuatnya terpaksa bangun dari tidurnya.


Dengan wajah bantal Zain menengadakan kepalanya, dan betapa kaget pria itu saat mendapati Ariana yang sudah membuka matanya.

__ADS_1


"Zain," ucapnya pelan dengan melukis senyum diwajah.


"Araa! kau sudah sadar Sayang," dan diapun segera bangun dari duduknya, memencet bel untuk memanggil Dokter.


Segera mendaratkan tubuhnya, memeluk sang istri dengan tangis bahagia.


"Aku sangat merindukanmu Araa! sangat merindukamu, jangan pernah tinggalkan aku, jangan pernah Araa ..." airamata terus saja mengalir, saat dia mengeluarkan keluh kesahnya dengan memeluk tubuh Ariana.


Airmata ikut menetes dari sudut mata Ariana, dengan apa yang dikatakan Zain.


"Mana mungkin aku akan segampang itu meninggalkanmu, Zain! karena sampai kapanpun aku tidak akan pernah membiarkan wanita lain menggantikan posisiku. Kau hanya milikku Zain! hanya milik Ariana Mahesa."


Menarik diri, dan tersenyum seraya mengusap airmata.


"Selamanya aku hanya milikmu Araa! hanya milikmu," dan melabukan kecupan singkat pada bibir istrinya.


Kedua kakinya mengayun pelan melewati lorong yang panjang, menuju ruang ICU dimana putrinya dirawat. Saat tangannya baru saja melebarkan daun pintu, itu Celine begitu kaget kala melihat Dokter, dan juga beberapa perawat sedang melepaskan beberapa alat medis dari tubuh putrinya.


"Araa, putriku! kau sudah sadar Nak?" dengan langsung mengambil langkah cepat, saat melangkah kedalam ruangan.


"Maa...." seru Ariana dengan melukis senyuman kecil diwajah.


Segera melabuhkan pelukan pada putrinya, dan menumpakan tangis bahagianya disana.


"Jangan pernah lakukan ini lagi pada Mama, Araa! karena Mama tidak mau kehilanganmu lagi, Nak! tidak mau," seru Celine dengan airmata yang terus saja tumpah dari kedua matanya.


"Aku tidak akan pernah meninggalkanmu, Maa! tidak akan pernah. Dan siapa yang menjagamu kalau aku mati,"


"Nyonya Ariana, setelah ini sudah bisa dipindahkan keruang rawat, dan kalau begitu kami permisi dulu,"


"Baik Dokter, dan terima kasih." ucap Zain pada Dokter wanita itu.


****


Sehari kemudian.


Stefanie terdengar begitu bahagia, saat Ayahnya memintanya untuk datang kerumah sakit. Dia datang kerumahsakit dengan ditemani oleh Bibinya Rani.


"Bibi, cepat! kenapa jalanmu seperti kura-kura saja?!' dengan raut wajah kesalnya, melihat Rani yang berjalan dibelakangnya.


"Tentu saja Bibi jalannya lambat, karena tenaga Bibi sudah terkuras habis untuk menggendongmu Stefanie!' dengan wajah kesalnya, kala berucap pada gadis kecil itu.


"Apakah aku sangat berat, Bibi?" dengan raut wajah tiba-tiba berubah serius.


"Tentu saja kau sangat berat Stefanie! apa kau tidak menyadarinya?"


"Baiklah. Aku akan menurunkan berat badanku lagi,"


"What??" Rani begitu kaget, dengan apa yang baru saja dikatakan gadis kecil itu.


"Tentu saja Bibi! karena aku sedang diet."

__ADS_1


Selamat membaca, dan aku hanya mau nyampein kalau novel ini sebentar lagi bakalan tamat.


__ADS_2