
Berusaha untuk tetap kuat, dan tegar, walaupun hatinya teramat kecewa, saat mendengar aktifitas panas mantan kekasihnya, dan juga adik angkatnya itu.
Menghembuskan napas kasar, dan dengan satu tarikan, Clara memutuskan untuk mengetuk pintu kamar itu.
"Zain..?" Panggil Clara seraya mengetuk pintu, dan berpura-pura seolah tidak mengetahui apa yang tengah terjadi disalam sana.
"Sayang.., sepertinya ada yang memanggilmu." Seru Araa, yang masih berada dibawah tubuh suaminya, saat percintaan mereka tengah berlangsung.
Zain mendengus kesal, saat acara bercintanya tengah diganggu. Apalagi dia sedang berada, dipuncak kenikmatan.
"Siapa..?" Tanya Zain, dengan sedikit berteriak.
"Ini aku Clara, Zain..? Bibi Celine memintaku memanggil kalian, untuk makan siang."
Menghembuskan napas kasar, dan dia terlihat begitu kesal.
"Katakan pada Bibi, kalian makan saja dahulu, tidak usah menunggu kami. Aku, dan Araa akan turun sebentar lagi."
Terlihat begitu geram, saat mendapat jawaban yang tidak sesuai, dengan apa yang dia harapkan.
"Cepat, atau lambat, aku akan membuat kalian berdua berpisah. Dan tidak akan pernah kubiarkan, kalian berdua bahagia." Gumamnya dengan menuruni anak tangga, menuju lantai bawah.
"Sayang? bisakah kau mempercepatnya, aku takut Bibi Celine akan marah pada kita."
"Terserah, aku tidak perduli. Sebenarnya dia harus senang, karena kita sedang membuatkan cucu untuknya." Jawab Willi santai, yang membuat Ariana terlihat begitu kesal.
****
Turun kelantai bawah, dengan raut wajah yang terlihat begitu memerah, serta kesedihan yang teramat sangat, tapi sebisa mungkin dia menahannya, dan menunjukkan kalau dia baik-baik saja.
"Clara.., kenapa kau sendiri? dimana Zain?" Tanya Celine, dengan raut wajah penasaran menatap Clara.
__ADS_1
Menghembuskan napas, berusaha menahan airmata yang hampir menetes.
"Dia masih dikamar, Bibi..? sedikit lagi, baru akan turun."
Celine terlihat begitu geram, saat mendapati jawaban dari yang keluar dari mulut Clara.
"Sejak menikah dengan anak pungut itu, dia semakin keras kepala, dan selalu saja membantah omonganku."
Mereka memulai makan siangnya, hingga beberapa menit kemudian datanglah Zain, dan juga Ariana.
Celine terus menatap Ariana, dengan pandangan yang sulit diartikan. Apalagi saat melihat leher Ariana yang dipenuhi tanda merah, membuat kemarahan semakin terlihat jelas diwajah wanita paruhbaya itu.
"Bagaimanapun, anak pungut ini tidak akan kuibiarkan mengandung dara daging dari keponakanku. Dan aku akan mencari cara, untuk menyingkirkan dia selamanya dari kehidupan Zain. Karena hanya Claralah, yang pantas jadi istri dari Zain, keponakanku." Bathinnya, dengan raut wajah yang terlihat memerah.
"kalian kenapa lama sekali, Zain? padahal Bibi sengaja masak yang enak, buatmu."
"Terima kasih, Bibi? karena sudah memasak yang enak buatku. Dan aku minta maaf."
Clara terus menatap leher Ariana, yang dipenuhi tanda merah. Dan tentu saja rasa cemburu, benci, tengah menyelimutinya dirinya saat ini, hingga membuatnya tak sanggup berada diruang makan itu, untuk menikmati makan siang.
"Tapi Clara, makananmu belum habis."
"Aku sudah kenyang, Bibi? dan selera makanku juga, sudah hilang." Jawabnya dengan terus melangkahkan kaki, tanpa memperdulikan mereka yang tengah menatapnya.
Celine menghembuskan napas kasar, berusaha untuk meredam emosinya, dan dia tahu penyebab hingga membuat Clara seperti itu, karena Ariana.
"Zain, pergilah membujuk Clara? kasian dia baru makan, sedikit saja."
"Dia bukan anak kecil, kalau dia lapar, nanti juga akan makan." Jawabnya, santai.
"Biar aku saja, yang membujuk Kak Clara." Ucap Ariana, dengan bangun dari duduknya, tapi seketika tangannya dicekal oleh Zain.
__ADS_1
"Duduk." Titah Zain, dengan nada penuh penekanan.
"Tapi, Sayang..?" Dengan tatapan memohon, menatap suaminya.
"Duduk." Ucapnya, tegas.
"Baiklah.." Jawab Araa pelan, karena sesungguhnya dia tidak tegah pada saudara angkatnya itu.
"Kalian berdua lanjutkan makannnya, Bibi sudah tidak berselerah lagi untuk makan." Ucap Celine dengan bangun dari duduknya, dan berlalu begitu saja, tanpa memperdulikan Ariana, dan juga Zain.
Ariana hanya menundukkan kepala, dengan raut wajah yang begitu merasa bersalah. Dan dia tahu, ini semua karena dirinya.
"Maafkan aku. Karena keberadaanku, semuanya jadi seperti ini."
"Tidak perlu minta maaf. Lanjutkan saja makanmu, dan tidak usah perdulikan mereka."
"Baik, Sayang.." Jawab Ariana, dengan kembali melanjutkan makan siangnya.
Mentari telah tenggelam secara sempurna, setelah sang rembulan menyinari gelapnya bumi.
Ariana berjalan ditengah remangnya suasana, seraya menatap keindahan alam disenja itu.
"Pemandangannya, sangat indah." Gumamnya, dengan terus melangkahkan kaki, disekitar area vila.
Terus melangkah, hingga tidak menyadari dia sudah berada sedikit jauh, dari vila mewah itu. Memandang keindahan alam menuju kegelapan, dan berhenti disebuah bukit. Pandangannya lurus kedepan, dan Ariana tidak menyadari kalau sedari tadi ada yang membuntutinya.
"Aku rasa disini tempat yang pas, untuk menyingkirkan anak pungut itu."Gumam Clara dengan seringai dibibirnya, saat sedang bersembunyi dibalik pohon besar itu.
Clara terus memantau keadaan, untuk memastikan tidak satu orangpun yang berada ditempat itu. setelah memastikan tidak ada orang, dia segera berjalan pelan menghampiri Ariana, dan saat sudah berada dibelakang tubuh adik angkatnya, Clara segera mendorong kuat tubuh Ariana, dari atas bukit itu.
"AHHH.....!!" Teriak Ariana yang menggema, dan jatuh terguling kedasar bukit.
__ADS_1
Clara tertawa terbahak-bahak, dan dia terlihat begitu bahagia, sebab sekarang tidak ada penghalang baginya, untuk mendapatkan Zain kembali.
"Sekarang tidak ada yang menghalangi jalanku, untuk kembali mendapatkannya." Gumamnya dengan tawa bahagia, dan berlalu dari tempat itu.