Terjerat Cinta Si Culun

Terjerat Cinta Si Culun
Rencana Zain, dan juga Stefanie


__ADS_3

Ariana menyunkan kedua kakinya melangkah kedalam boutique. Saat kedua kaki itu melangkah, tak sengaja dia melemparkan tatapannya kesamping, dan raut wajah itu seketika berubah atas ekspresi kagetnya.


"Ini bukannnya mobilnya Zain..?" Dia bergumam, dengan rasa penasarannya saat langkah kaki itu terhenti sesaat. Ariana segera mengambil langkah cepat, untuk masuk kedalam boutique. Dan dia meyakini kalau Zain datang, untuk menemui putri mereka.


Ariana mengedarkan pandangannya kesegalah arah, saat berada didalam bouitique itu. Dan dia tidak mendapati putrinya, maupun Zain disana. Kedua kaki itu menghampiri Rani, yang sedang sibuk dengan gaun-gaun rancangannya.


"Kak Rani.."


Membalikkan badannya, dan mendapati Ariana sudah berada dibelakangnya.


"Apakah Zain berada disini?! dan dimana Stefanie?"


Hembusan napas terdengar berat, mewakili rasa bersalahnya pada Ariana.


"Maafkan aku. Tapi aku sama sekali tidak mengatakan kalau Stefanie sedang bersamaku."


"Dan dimana mereka Kak Rani?!'


"Mereka berada ditaman belakang. Dia dan Zain sedang bermain disana."


Tanpa berucap lagi, Ariana segera mengayunkan kedua kakinya menuju taman belakang. Saat perjalanan menuju taman, dia berpapasan dengan Adam, sekretaris mantan suaminya yang berjalan melawan arah dengannya.


"Nona..." Adam menyapa dengan senyum kukuknya, dan dia tahu kalau Ariana tengah kesal padanya saat melihat tatapan tajam wanita pada wajah wanita itu.


"Dimana Tuanmu?!" Nada yang terdengar kesal, saat kalimat itu terlontar.


Adam tersenyum kikuk, seraya menggaruk tengkekuknya yang tidak gatal, sebab merasa malu akan sikap dia, dan Tuannya yang secara diam-diam menemui putri mereka.


"Tuan, dan Nona Stefanie sedang bermain ditaman belakang."


Kedua kaki itu segera terayun ketaman belakang, dengan raut wajah kesal, yang sudah membingkai penuh diwawajah cantik itu.


"Dasar brengsek!! siapa yang mengijinkan dia datang untuk menemui anakku." Ariana terus saja menggerutu, saat kedua kaki itu melangkah ketaman.


Ariana mengedarkan pandangannya kesegalah arah, saat sudah berada didepan taman belakang. Dan dirinya tidak mendapati keberadaan putrinya, dan maupun Zain disana.


"Dimana mereka?" Ariana bergumam, dengan rasa penasaran yang membelenggu.


Tiba-tiba saja terdengar suara tawa anaknya, yang membuat Ariana seketika melemparkan tatapannya keasal suara. Gadis kecilnya tengah berlarian, dan Zain mengejarnya dari belakang. Dan keduanya nampak begitu bahagia.


"Ayo... Daddy, kejar aku...." Dengan terus berlari kesana kemari.


Tubuhnya membeku seketika, melihat pemandangan manis yang begiitu mengharukan. Airmata lolos begitu saja, tanpa Ariana sadari. Setelah beberapa menit hanyut dalam suasana itu, dia segera menyadarkan diri, kalau dia tidak akan luluh pada mantan suaminya itu.


Stefnie, dan Zain sama sekali tidak menyadari adanya Ariana ditaman itu.


Mengayunkan kaki dengan cepat, saat menghampiri putrinya. Akibat kebenciannya pada Zain, membuat Ariana tidak menyadari apa yang dia lakukan menyakiti putrinya. Ariana segera meraih tangan Stefanie dengan kasar, dan kembali mengayunkan kaki dengan cepat, agar menjauh dari Zain. Dan hal itu membuat Zain begitu marah, saat melihat putrinya menangis karena apa yang dilakukan Ariana menyakiti anak mereka.

__ADS_1


"Mommy... lepaskan aku... lepaskan aku Mommy... ini sakit.." Saat genggaman tangan Ariana, menggegam tangannya dengan begitu kuat.


"Ayo kita pulang Stefanie.. bukankah Mommy sudah bilang padamu agar jangan dekat dengan orang asing..!" Nada yang terdengar kesal, saat kalimat itu terucap dari bibirnya.


"Lepaskan dia Ariana...!!" Dengan sedikit teriakan, tapi Ariana terus saja menarik tangan putrinya, tanpa memperdulikan tangis gadis kecil itu.


Lepaskan dia...!!" Zain berteriak, yang membuat genggaman tangan itu terlepas seketika.


Kau bermasalah denganku Ariana!! bukan berarti dia harus ikut merasakannya!"


Tatapannya beralih pada putrinya, yang tengah menangis disamping Ibunya.


"Kemarilah..." Zain berkata, seraya melebarkan kedua tangannya pada Stefanie.


"Daddy...." Gadis kecil itu berlari kecil, dan membenamkan diri pada pelukan ayahnya.


Sudahlah jangan menangis," Zain tersenyum kecil, dengan mengusap airmata pada pipi putrinya, saat Stefanie masih saja menumpakan tangisnya.


"Daddy.. tanganku sakit..?" Dia berkata dengan manja, seraya menunjuk pergelangan tangannya.


Zain melukis senyuman pada wajahnya, seraya meraih tangan putrinya dan meniup pelan disana.


"Apakah masih sakit??"


"Tidak Deddy..?"


"Tidak Mommy, aku masih ingin bermain," Dengan mengeleng pelan.


"Kau tunggulah disini, Daddy ingin bicara dengan Mommymu."


"Baik Daddy.." Dengan mengangguk iya.


Zain melangkah menghampiri Ariana, dan saat mendekat dia langsung meraih tangan perangcang busana itu, berjalan kearah samping bangunan boutique.


"Lepaskan aku Zain... lepaskan..." Ariana berusaha melepaskan genggaman tangan pria itu, saat Zain membawanya jauh dari putri mereka.


"Lepaskan..." Dia menghempaskan genggaman tangan Zain dengan kasar, saat Zain berhenti disamping bangunan boutique itu.


"Kau membenciku..?!'


"Tentu saja aku sangat membencimu. Lagi pula buat apa kau datang kesini. Aku tidak mau, kalau nantinya kau akan menyakiti hati putriku."


"Putri kita. Bukankah kau membuatnya bersamaku?!"


"Kau bisa mendapatkan anak dari wanita lain. Bukankah kau, dan cintya akan menikah?!" Dengan tatapan sinisnya.


Keningnya berkerut, menatap Ariana dengan tatapan penuh selidik.

__ADS_1


"Siapa yang mengatakan padamu, kalau aku dan Cintya akan menikah."


.


Senyuman palsu membingkai diwajah cantik itu, mendengar apa yang ditanyakan Zain barusan.


"Sudahlah Zain.. lagi pula itu juga bukan urusanku, kalau kau mau menjalin hubungan dengan wanita manapun. Kau hanya mantan suamiku, dan aku sama sekali tidak perduli dengan apa yang terjadi padamu."


"Aku memang menjalin hubungan dengan Cintya, tapi bukan berarti aku akan menikah dengannya, dan aku rasa berita yang dengar itu salah. Dan sampai kapanpun, aku tidak akan membiarkan anakku memiliki ayah tiri. Sekalipun kau menjalin hubungan dengan pria lain, termasuk Rianmu itu? karena tetap saja kau akan menjadi milikku. Sebab aku akan melakukan seribu cara, untuk dapat memilikimu Ariana?! dan aku sangat yakin, Stefanie pasti akan mendukung rencana ayahnya ini. Bahkan dia sendiri memintaku untuk menikahi denganmu, agar bisa memanggilku Deddy. Tapi aku mengijinkan dia untuk memanggilku Deddy, karena memang aku adalah ayahnya. Bukan Rian sibrengsek itu, atau yang lain. Termasuk Loard situa itu. Bagaimana?!" Dengan menyeringai diwajahnya, yang membuat Ariana begitu meradang.


Dan ketika dia akan melayangkan tamparan keras pada pipi pria itu, Zain langsung mencekalnya, dan kembali mencium paksa Ariana.


"Lepaskan aku Zain... lepaskan..." Dengan memukul-mukul dada pengusaha tampan itu, agar terlepas dari kukuhannya.


Setelah puas dengan ciuman itu, Zain melepaskan kembali Ariana.


"Kau brengsek!! aku sangat menbencimu!!" Dengan raut wajah murkanya.


Dan itu hanya membuat Zain tertawa, dengan umpatan dari Ariana padanya.


"Mommy... Daddy...." Teriak Stefnie memanggil kedua orang tuanya, saat tak sengaja dia melihat pemandangan manis itu.


Keduanya segera memalingkan wajahnya, dan sedikit kaget melhat keberadaan putri mereka yang tengah tertawa.


"Aku rasa Stefanie, melihat Daddy dan Mommynya berciuman."


"Kau brengsek Zain..!!" Ariana masih saja mengumpat kesal, dengan jemari mengusap kasar bibirnya.


Menarik sudut bibirnya, dan melangkah menghampiri Stefanie.


"Apakah tadi kau melihat Daddy, mencium Mommymu..?"


"Maafkan aku Daddy.. aku tidak sengaja melihatnya.." Dia cekikikan, dengan wajah merona.


"Mommymu sudah pulang. Sekarang Daddy harus berangkat bekerja."


"Dan apakah kita akan bertemu lagi Daddy?"


"Tentu saja anak manis.. dan ingat jangan ceritakan pada siapapun mengenai rencana kita tadi. Sebab ini adalah rahasia." Dengan raut wajah bersungguh-sungguh, pada putrinya.


"Tentu daja Deddy... ini rahasia kita berdua. Dan kapan kau akan menculikku...?"


"Tunggu saja anak manis? Daddy yang akan mengatur semuanya."


Stefanie menganguk mantap, mengiyakan apa yang dititahkan ayahnya itu. Dan hal itu tak luput dari pandangan Ariana, yang begitu penasaran saat melihat perbicangan Zain, dan juga putri mereka yang begitu serius.


"Tentu Daddy..." Dengan senyuman, dan melakukan tos saat Zain akan segera berlalu pergi.

__ADS_1


__ADS_2