Terjerat Cinta Si Culun

Terjerat Cinta Si Culun
Ingin tetap, memisahkan.


__ADS_3

Lelaki itu hanya membingkai senyuman diwajahnya, dan tidak mengindahkan apa yang dikatakan istrinya.


"Sayang! ingat kita sedang berada dirumah sakit. Tidak mungkin kita melakukan, itu disini."Ucap Ariana lagi, memperingati suaminya.


Duduk disisi ranjang samping istrinya, dengan tangan mulai menjelajahi tubuh Ariana.


"Sayang, aku mohon..? ingat kita sedang berada dirumah sakit," Peringatan Ariana, sekali lagi.


"Siapa juga yang mau melakukan disini, aku hanya menikmati bagian atas saja, Ariana?"


"Bagian atas?"


"Tentu, Ariana? jadi kau tidak perlu khawatir." Dengan mulai membuka kancing piama satu persatu, yang Ariana kenakan.


"Tapi Sayang, kita sedang berada dirumah sakit. Bagaimana kalau Dokter, perawat, atau Adam datang kemari." Seru Ariana yang semakin diliputi kegelisahan, saat suaminya mulai bermain dengan arae dadanya.


Bukan mengindahkan peringatan istrinya, Zain malah semakin menggila dengan apa yang dia lakukan. Mencium, dan meninggalkan tanda merah pada sekitarnya. Walapun bibirnya menolak apa yang dilakukan suaminya, tapi tak bisa dipungkiri Arianapun menikmati sentuhan yang Zain berikan. Matanya terpejam menikmati sentuhan itu, hingga tanpa dia sadari tangannya sudah menyentuh rambut miilik suaminya, dan itu semakin memperdalam Zain untuk mencumbuhnya.


Terdengar suara ketukan pintu, yang membuat keduanya dilanda sedikit kepanikan, apalagi pada Ariana yang saat itu, bajunya sudah terbuka. Zain terlihat begitu kesal, saat aktifitasnya terganggu dengan kedatangan orang.


"Tutup dengan selimut saja! jangan dikancing bajunya." Titah Zain denga nada tegas, dan berlalu menuju pintu.


"Tapi Sayang, bagaimana kalau itu Dokter Jack yang datang untuk memeriksaku." Jawab Ariana, dengan membalutkan tubuhnya dengan selimut rumah sakit, sesuai keinginan suaminya.


"Aku akan menyuruhnya, untuk kembali pulang." Jawab Zain, santai.


Zain membuka pintu, dan mendapati keberadaan sekretrisnya didepan kamar. Dan lelaki itu membuka pintu, hanya sebagaian saja.


"Tuan, kenapa anda membuka pintu hanya setengah saja. Aku ingin masuk." Dengan berusaha untuk masuk, tapi Zain mencekalnya.


Zain keluar dari kamar, dan menutup pintu itu dengan rapat. Mengambil dompet dari dalam saku celananya, dan memberikan sebuah kreditcard, pada Adam.


"Untuk apa, ini Tuan?" Dengan tatapan bingung, menatap Zain.


"Pakailah, sepuas yang kau mau. Kau mau habiskan juga, tidak apa-apa. Mungkin saja dengan berjalan-jalan hari ini, kau bisa bertemu seorang wanita, yang bisa jadi kekasihmu."


"Tapi Tuan, ada pekerjaan yang harus saya bereskan." Jawab Adam, yang tetap ingin masuk kekamar.

__ADS_1


"Kau bisa bereskan pekerjaan itu, setelah kau pulang. Sekarang yang terpenting, kau pergilah bersenang-senang. Sebab aku tidak mau, kau jadi perjaka tua, atau apapun itu. Dan kau bisa kembali kemari, satu jam, atau dua jam kemudian."


Menyurutkan kedua alisnya, menatap dengan intens Tuanmudanya. Dan kesekita dalam dirinya, timbul pikiran negatif pada Zain, kalau pria itu akan menyakiti istrinya. "Anda tidak berencana, akan melakukan hal buruk, pada Nonakan Tuan?"


"Tentu tidak, bodoh!! mana mungkin, aku menyakitinya. Aku, dan dia hanya ingin.." Dengan tidak melanjutkan kalimatnya, saat baru menyadari hampir saja dia keceplosan.


Sudah jangan banyak bertanya. Pergilah, dan bersenang-senanglah hari ini. Mungkin saja, kau bisa bertemu dengan wanita yang bisa menajadi jodohmu, agar kau tidak menjadi perjaka tua, Adam?" Dengan nada, yang terdengar kesal.


Adam hanya tersenyum, dan sekarang dia sudah mulai memahami apa yang akan dilakukan Tuanmudanya, dan istrinya.


"Baiklah, Tuan. Saya akan pergi, sekarang. Tapi ingat anda harus hati-hati, karena sekarang Nona Ariana, masih sedang sakit." Dengan berlalu pergi, dan membingkai tawa kecilnya.


Mengernyitkan dahinya, menatap dengan intens sekretarisnya itu. Dan dalam diri Zain timbul tanda tanya, apakah Adam mengetahui apa yang akan dia lakukan, bersama Ariana.


"Apakah dia mengetahui, apa yang akan kulakukan dengan Ariana?"


****


Detik terus melangkah, hingga dua hari telah berlalu. Dan kondisi Ariana sudah membaik, dan sudah kembali kekedimannnya bersama Zain.


Berdiri disebuah hamparan rerumputan yang begitu luas, yang ditumbuhi banyak pohon-pohon besar, dengan dedaunan yang begitu rimbun.


"Kau jangan senang dulu, Ariana?!" Suara seseorang, yang mengejutkan wanita berambut hitam itu.


Membalikkan badannya, dan sedikit kaget saat mendapati keberadaan saudara angkatnya, Clara.


"Kakak..!"


"Aku mengirah kau sudah mati, tapi ternyata Tuhan masih membiarkan kau bernapas, sampai hari ini." Senyuman sinis, menatap tidak suka pada adik angkatnya.


"Kenapa kau tega, berbicara seperti itu padaku? apakah kau, yang.." Dengan tidak melanjutkan kalimatnya, saat mengingat kembali peristiwa dihutan itu.


"Ya. Akulah, yang sudah mendorongmu." Jawab Clara, dengan santainya.


Seketika airmata menetes dari kedua sudut matanya, saat mendengar pengakuan saudara angkatnya itu. Dia tidak menyangkah, Clara akan melakukan hal sejauh itu, pada dirinya.


"Kau jahat, Clara!! kenapa kau tega, melakukan hal itu padaku!"

__ADS_1


Tawa begitu menggema, keluar dari mulut wanita berambut pirang itu, saat medengar apa yang dikatakan Ariana padanya.


"Kalau kau tidak mau, aku melakukan hal itu lagi padamu, kembalikan Zain, padaku."


"Bagaimana, kalau aku tidak mau.' Jawab Ariana, dengan nada tegas.


"Apa maksudmu, Ariana? apakah kau tidak menyadari, kalau dirimu sangat tidak pantas menjadi istrinya. Kau lihat saja penampilanmu, sangat kampungan. Dan apakah kau mengirah, dia mencintaimu? kau bandingkan saat dia masih menjalin hubungan denganku, Zain selalu mengajakku kesebuah acara, dan memperkenalkan aku sebagai kekasihnya, pada rekan-rekan bisnisnya. Tapi lihat denganmu, hal itu tidak pernah terjadi padamu. Kau memiliki raganya, tapi tidak dengan hatinya Ariana," Senyuman mencemooh, menatap Ariana.


Buliran cairan bening, semakin deras keluar dari kedua matanya, karena yang dikatakan Clara sangatlah benar. Bahkan pernikahan merekapun, berlangsung tertutup.


"Terserah apa katamu, aku tidak perduli Clara! tapi yang jelas, sampai kapanpun aku tidak akan mau berpisah darinya."


Saat tengah berdebat, kedua kakak beradik itu, dikejutkan dengan kedatangan Rani, yang sedari tadi mencari keberadaan Ariana.


"Nyonya Araa, ternyata kau disini. daritadi, aku mencarimu."


"Rani..?" Gumam Clara, yang sedikit kaget melihat kedekatan Ariana, dengan perancang busana itu.


"Nona Rani, kau? untuk apa, kau mencariku."


"Hallo Clara, lama tidak bertemu." Dengan senyuman, menatap Clara.


"Hallo juga, Nona Rani." Dengan memaksakan diri untuk tersenyum, ditengah rasa kesalnya.


Rani menghampiri Ariana, dengan langsung menggandeng wanita itu.


"Ada apa, kau mencariku Nona Rani?" Bertanya dengan menatap penasaran, Rani.


"Bukankah sebentar malam, akan ada pesta dirumahmu. Jadi aku minta, kau ikut aku sekarang juga."


"Tapi aku harus meminta ijin dulu pada suamiku, aku takut nanti dia mencariku."


"Tenanglah, kau tidak perlu khawatir. Nanti aku yang akan meminta ijin, padanya."


"Tapi, Nona Rani,"


Rani tidak mengindahkan ucapan Ariana. Menarik tangan istri sahabatnya, setelah berpamitan pada Clara.

__ADS_1


"Clara, kami pergi dulu. Dan sampai ketemu, malam nanti."


__ADS_2