Terjerat Cinta Si Culun

Terjerat Cinta Si Culun
Kedatangan Rian, dan juga Bella.


__ADS_3

Meletakkan ponselnya diatas meja, dan menatap istriya dengan menyandarkan pundaknya pada sandaran kursi.


"Sepertinya kau sedang kesal, padaku?!" Dengan tatapan intens, menatap Araa, yang tengah berbaring diatas bed hospital.


Seketika tawa kecil membingkai diwajah cantiknya, berusaha menghilangkan rasa gugup sebab apa yang dikatakan Zain sangatlah benar.


"Mana mungkin aku kesal padamu, Sayang? bukankah aku selalu memujamu?" Dengan senyuman semanis mungkin, menatap suaminya agar meyakinkan pria itu.


"Ya...ya.., aku tau kau sedang berbohong. Dan aku tau, kau berharap aku mengatakan sesuatu tentang Rani kan? menurutku rancangannya, sangatlah biasa-biasa saja."


Ariana hanya tertawa kecil, saat mendengar apa yang diakatakan suaminya. Hingga suara ketukan pintu, mengalihkan tatapan ketiga orang dewasa itu.


"Siapa yang datang?" Tanya Zain, dengan tatapan mata menatap Ariana, dan Adam secara bergantian.


Ariana hanya mengeleng pelan, untuk menjawab apa yang ditanyakan suaminya.


"Mungkin saja perawat, atau Dokter." Celah Adam, menjawab pertanyaan Tuanmudanya.


"kalau itu perawat, atau Dokter pasti mereka akan langsung Adam, kenapa kau begitu bodoh?!" Dengan senyuman sinis, menatap sekretarisnya itu.


"Maafkan saya, Tuan? kalau begitu, biar saya membuka pintunya." Dengan beranjak dari duduknya, dan berlalu menuju arah pintu.


Saat pintu terbuka, Adam mendapati sosok cantik yang tengah tersenyum padanya.


Bella terus membingkai senyuman diwajahnya, dan dalam dirinya bertanya siapa laki-laki tampan didepannya ini.


"Pria ini sangat tampan, apakah dia suami yang dirahasiakan Ariana itu?" Bathin Bella, dengan rasa penasaran yang teramat sangat.


"Maaf Nona, anda sedang mencari siapa?" Bertanya dengan nada penasaran, menatap Bella yang tengah menatapnya dengan tatapan begitu dalam.


Terjaga dari lamunannya, dengan senyuman sedikit menggoda.


"Maafkan saya Tuan, apakah benar disini kamar Nyonya Ariana?"Bertanya dengan menatap lekat wajah tampan itu, yang membuat Adam sedikit risih dengan tatapan Bella padanya.

__ADS_1


"Iya benar, disini kamar Nyonya Ariana."


Terdengar langkah kaki seseorang menghampiri keduannya, dan Adam begitu terkejut saat mendapati keberadaan Rian yang merupakan Bos, tempat Nona mudanya bekerja.


"Apakah disini kamarnya Ariana, Bella?" Tanya pengusaha, muda itu.


"Iya Rian, disini kamar Ariana. Kalau begitu ayo kita masuk." Dengan melangkah masuk, mendahalui sepupunya.


"Hallo sekretaris Adam, kita ketemu lagi." Dengan senyuman menatap Adam, yang tengah memandangnya dengan tetapan tidak suka.


"Kita ketemu lagi, Tuan Rian?!"


"Ya, ini kali kedua kita bertemu lagi. Dan apakah aku boleh masuk?" Pintanya dengan senyuman, saat Adam berusaha menghalau jalannya.


"Apakah ada sesuatu yang penting, hingga anda datang kesini?"


Tertawa kecil saat mendapati pertanyaan Adam, yang menurutnya hanya pertanyaan orang bodoh.


"Ariana adalah salah satu karyawanku, jadi menurutku sah-sah saja, jika aku datang menjenguknya. Bagaimana?"


Zain yang berada didalam ruangan terlihat begitu penasaran dengan sekretarisnya, yang sedari tadi tampak berbincang-bincang dengan seseorang, dan memutuskan untuk bertanya siapa yang tengah berbincang dengan sekretarisnya itu.


"Adam sedang berbicara, dengan siapa?"


" Dia sedang berbicara dengan sepupuku, Tuan?"


"Sepupu?" Dengan mengernyitkan kedua alisnya, karena tidak tau siapa sepupu dari sahabat istrinya.


"Siapa sepupumu?" Tanya Zain, penasaran.


Saat Bella akan menjawab, Rian sudah melangkah kedalam kamar dengan membawa sebuket bunga lili, untuk Ariana.


"Kau..?! buat apa kau kesini?" Dengan bangun dari duduknya, dan raut wajah yang terlihat begitu kesal, saat mendapati keberadaan Rian.

__ADS_1


Rian hanya tersenyum, menatap Zain yang tengah menatapnya dengan tatapan sinisnya.


"Selamat siang Tuan Zain? kita bertemu lagi. Dan aku datang, untuk menjenguk Ariana."


"Tuan, tenanglah. Ingat kita sedang berada dirumah sakit. Jangan bertindak, yang dapat menurunkan harga diri anda." Ucap Adam, dengan berbisik pelan ditelinga Tuanmudanya.


Menghembuskan napas, berusaha meredam emosi dalam dirinya, saat mendengar apa yang diakatakan Adam padanya.


"Rasa-rasanya, aku ingin sekali menghajar pria ini. Berani sekali, dia datang menjenguk istriku. Apa dia sudah tidak punya malu?!"


"Ini masih dalam hal wajar Tuan, jadi aku minta anda bersabar."


Rian menghampiri Ariana yang tengah berbaring diatas bed hospital , dengan senyuman menatap wanita itu.


"Maaf. Karena aku, dan Bella baru sempat menjengukmu. Dan aku mengetahui dari Bella, kalau kau sangat menyukai bunga lili. Dan aku membawa bunga ini, khusus untukmu." Dengan memberika buket bunga itu, pada Ariana.


"Te..terima kasih Tuan, karena sudah menjengukku." Jawab Ariana gugup, karena takut dengan tatapan suaminya.


Rian tertawa kecil, saat mendengar Ariana memanggilnya dengan sebutan Tuan.


"Bukankah aku sudah bilang padamu, kalau kita tidak sedang berada ditempat kerja, jangan panggil aku Tuan."


Tak bisa dibayangkan bagaimana raut wajah Zain saat ini, ketika melihat kedekatan istrinya, dan juga Rian. Dan tanpa pamit, pria berkulit eksotik itu langsung berlalu keluar dari kamar, dengan membanting pintu kamar yang cukup keras.


"PRAAKK" Hingga membuat mereka yang berada didalam ruangan itu begitu terkejut, terutama dengan Ariana yang raut wajahnya langsung berubah pucat, sebab dia tahu suaminya tengah marah padanya.


Bella begitu terkejut, dengan apa yang dilakukan suami sahabatnya. Dan diapun bertanya pada Ariana, dengan apa yang dilakukan suami sahabatnya.


"Araa, apakah suamimu tidak menyukai kedatangan kami?" Tanya Bella, dengan raut wajah yang terlihat penasaran.


Tawa kecil membingkai diwajah Ariana, saat mendengar apa yang ditanyakan Bella padanya. Sebab yang ditanyakan sahabatnya itu, memang sangatlah benar.


"Kau salah sangkah Bella? suamiku sangat menyukai kedatangan kalian. Mungkin dia sedang ada masalah kerjaan, jadi bersikap seperti itu." Jawab Ariana dengan sekilas menatap Adam, berusaha menutupi.

__ADS_1


"Tuan Zain senang dengan kedatangan kalian, hanya beliau sedang stress memikirkan proyek yang sedang kami tangani saat ini. Jadi aku sebagai sekretarisnya minta maaf." Jelas Adam.


__ADS_2