
Ariana begitu terkejut, saat suaminya melemparkan dirinya keatas ranjang. Rasa gugup, takut, menyelimutinya saat ini hingga menelan ludahpun terasa begitu berat ditenggorokan, sebab ini adalah hal yang petama baginya.
"Sayang.." Serunya, dengan raut wajah sudah memucat.
Merangkak naik keatas ranjang, dan menarik kaki istrinya, saat Ariana berusaha untuk menghindar.
"Kenapa kau megnghindar, culun? apakah kau takut padaku?" Bertanya, dengan seringai dibibirnya.
"Ti..tidak Sayang, aku tidak takut padamu." Berusaha untuk tersenyum, dibalik rasa gugupnya.
"Memang kau tidak boleh takut, karena aku akan membawamu kedunia yang tidak pernah kau datangi sebelumnya."
Dengan menyunggingkan senyuman, diisudut bibirnya.
Raut wajahnya semakin berubah pucat, apalagi saat Zain sudah membuka pakaian, yang melekat pada tubuh seksinya. Menelan salivanya, ketika melihat tubuh suaminya yang begitu seksi, dan dadanya yang ditumbuhi oleh bulu-bulu halus, dan dia begitu mengagumi tubuh lelaki tampan itu.
Langsung tertawa terbahak-bahak, saat mendapati pandangan Ariana, yang begitu intens menatap dadanya.
"Malam ini, kau bisa menikmati tubuhku sepuasnya culun?!"
Raut wajahnya seketika semakin terlihat pucat, saat mendengar apa yang dikatakan oleh suaminya, dan tanpa menunggu lama Zain mulai mencium bibir mungil itu, dan perlahan tangannya sudah mulai melepaskan satu persatu kancing baju Ariana, hingga menampakan buahdadanya. Memberikan rangsangan disekitar area sensitif istrinya, hingga ada beberapa tanda merah yang tertinggal disana.
"Kau menikmatinyakan, culun?!" Tanya zain, saat mendapati Ariana berusaha membekap mulutnya, untuk menahan desahan agar tidak lolos begitu saja.
"Aku tidak menikmatinya, Sayang?!" Jawabnya, dengan berusaha menunjukkan kalau dia biasa-biasa saja.
Mengernyitkan dahinya, menatap Ariana dengan tatapan tidak suka, saat mendapati jawaban yang begitu mengecewakan.
"Ohh, begitu?! jadi menurutmu yang kau lakukan ini biasa saja?'
__ADS_1
"Tidak Sayang, aku tidak bilang seperti itu?!"
"Dan kau pikir, aku ini laki-laki bodoh culun?! dan sekarang kita akan keinti dari pemainan kita malam ini, dan akan aku buktikan padamu, kalau aku bisa membuatmu tak berdaya.'" Jawabnya dengan lagsung membungkam mulut Ariana dengan sebuah ciuman, dan menghujamkan miliknya, yang membuat Ariana meringis kesakitan, saat benda perkasa milik suaminya berusaha menerobos dinding pertahanan miliknya.
Desahan kenikmatana yang semula ditahannya, lolos begitu saja saat kesakitan yang dia rasakan, berubah menjadi sebuah kenikmatan, saat Zain terus memacunya ditengah permainan mereka, yang semakin menjemput malam.
KEDIAMAN DAVID MAHESA.
Matahari telah tersenyum menyambut kota Jakarta. Hembusan angin pagi, menerbangkan helain kain tipis, yang menggelantung dijendela kamarnya. Matanya perlahan terbuka, saat sang surya memberikan sedikit cahanya, pada wajah cantik itu.
"Kau sudah bangun, Clara?!" Tanya Diana, seraya menududuki pinggiran ranjang.
"Mama..?!" Dengan berusaha bangun, seraya menyentuh kepalanya yang masih terasa sakit, akibat pengaruh alkohol.
Diana menatap intens putrinya, dan mengingat kembali kejadian semalam, dimana zain mengantar putrinya, membuat dia tersenyum bahagia.
Raut wajahnya seketika berubah sendu, saat mengingat kembali kejadian diapartemen, dimana dia memergoki Jason, berselingkuh dengan sahabat baiknya sendir,i Alice.
"Jason berselingkuh, Maa?! dia menghianatiku bersama Alice sahabat baikku sendiri, dan aku memergoki mereka, saat sedang melakukan hubungan suami istri. Dan aku bertemu dengan Zain, ketika aku pulang dari klub malam." Jawabnya, dengan kesedihan yang teramat sangat pada wajahnya.
Menghembuskan napas, saat mengetahui anaknya menghabiskan waktu diklub malam. Tapi ada juga rasa bahagia dalam diri Diana, saat mengetahui hubungan putriinya, dan Jason telah berakhir.
"Kau serius, Clara?! kalau hubunganmu, dan Jason sudah berakhir?!" Tanya Diana, memastikan apa yang dikatakan anaknya.
"Iya Maa, aku dan Jason, sudah putus." Jawabnya, dengan mengusap cairan bening yang membasahi pipinya.
Diana menangkup kedua pipi putrinya, tersenyum lembut, dengan tatapan yang begitu dalam.
"Kau tau, Mama begitu bahagia hari ini. Karena hubunganmu, dan Jason sudah berakhir. Dan buat apa kau bersedih memikirkan pria brengsek, seperti dia?! bukankah masih ada Zain?!" Dengan senyuman, yang mengembang diwajahnya.
__ADS_1
"Tapi Maa, dia suami siculun itu?"
"Kau tau, semalam Zain yang mengantarmu pulang. Dia begitu perhatian padamu, saat melihat keadaanmu seperti semalam, dan Mama yakin, bahkan sangat yakin, kalau dia masih sangat mencintainya." Ucapnya, dengan penuh keyakinan menatap putrinya.
"Tapi aku tidak yakin Maa, dia masih memiliki perasaan itu padaku, atau tidak."
"Mama sangat yakin, percayalah pada Mama. Dan jika kau masih mencintainya, Mama akan membantumu untuk mendapatkannya kembali."
"Tapi Maa? apakah Mama lupa kalau masih ada Papa, yang selalu mendukung sianak pungut itu?!"
"Soal Papamu, biar Mama yang mengurusnya. Dan kita akan meminta bantuan pada Bibi Celine, agar kau bisa kembali pada zain, bagamana, kau setuju?!"
Clara tampak menimang, dengan apa yang dikatakan ibunya, tapi seketika senyuman itu mengembang diwajahnya, dan dia terlihat begitu bahagia.
"Terima kasih Maa, karena sudah memberikanku semangat. Dan aku akan meminta bantuan Bibi Celine, agar aku bisa mendapatkan Zain kembali." Jawabnya, dengan penuh keyakinan.
KEDIMAN ZAIN PRATAMA.
Hembusan angin kencang, menerobos kaca jendela kamarnya. Kedua bolamata itu terbuka, saat tak dapat menghalau cahaya mentari pagi yang mengenai wajahnya.
Pintu kamar terbuka, dan menampakkan sosok Paula yang mengantarkan sarapan pagi, untuknya.
"Selamat pagi, Nona?!" Sapa Paula, seraya meletakkan sarapan diatas meja samping ranjang.
Langsung menarik selimut untuk lebih membungkus tubuhnya, saat selimut itu sedikit melorot, hingga menampakkan sedikit bahu mulusnya.
Paula Hanya tersenyum, saat melihat sikap Nonamudanya. Dan walaupun belum menikah, tapi dia sudah sangat paham dengan apa yang terjadi.
"Anda tidak perlu malu, Nona?! karena itu adalah hal yang wajar, yang terjadi antara pasangan suami istri." Ucapnya, tersenyum.
__ADS_1