
"Jadi dia , Bosmu?"
"iya Tuan, dia Bos saya." Jawab Araa, dengan anggukan.
Zain tampak memikirkan, perkataan Istrinya yang begitu mengusik pikiran dari lelaki tampan itu. Dan tatapannya dengan intens, menatap Ariana yang tengah duduk didepannya.
"(Tidak mungkinkan Rian Admaja, akan menyukainya. Ya! tidak mungkin. Bukankah Ryan itu sangat tampan, dan dia sangat culun. Jadi aku tidak perlu, khawatir. Tapi kenapa juga kau harus khwatir?! memang siapa dia? bukankah, dia hanya pelayan bagiku? ya, hanya pelayan dan tidak akan pernah lebih dari itu.)" Bathinya, yang memantapkan hatinya, tidak pernah berpikir jauh tentang Ariana.
, "Tuan? anda baik-baik saja? kenapa anda melamun?" Bertanya, dengan tatapan heran menatap suaminya.
"Melamun?! siapa yang melamun, kau pikir aku sepertimu? cepatkan siapkan aku airmandi, karena menunggumu datang, aku belum mandi sampai sekarang."
"Baiklah Tuan? aku akan menyiapkan airmandi sekarang." Jawabnya, dengan berlalu kekamar mandi.
Zain terus menatap istrinya yang telah berlalu pergi, dan dalam dirinya timbul rasa penasaran pada Ariana.
"Dia benar-benar aneh, apakah mendapatkan siksaan sudah bukan hal baru baginya. Aku berperilaku kasar padanya, tapi masih bisa saja dia tersenyum padaku."
****
Setelah selesai dengan kegiatan mandinya, Zain segera berlalu turun kelantai dua, guna bertemu dengan Bibinya, Celine.
Mengetuk pintu kamar, saat sudah berada didepan kamar wanita itu.
"Anakku, kau sudah datang?" ayo, masuklah."
__ADS_1
Tanpa menjawab, Zain langsung melangkah kedalam kamar dan menduduki salahsatu kursi tunggal, yang tersedia didalam kamar tersebut.
"Katakan padaku, Bibi? apakah ada sesuatu yang penting, hingga kau ingin bertemu denganku?" Dengan menyurutkan kedua alisnya, menatap penasaran wanita paruhbaya itu.
"Katakan pada Bibi, apakah didunia ini tidak ada wanita lagi, selain dia, hingga kau harus menikahi gadis itu, apa kata orang zain?! Bibi seperti tidak percaya, kau bisa menikahi gadis itu. Dan lebih parahnya, dia adalah anak angkat dikeluarganya mantan kekasihmu Clara. Dan apakah kau menikahinya, karena ingin membuat Clara cemburu?"
Mendapatkan pertanyaan dari wanita yang sudah membesarkan itu, membuat Zain hanya terdiam, dan dia bingung harus menjawab apa.
"Zain, kenapa kau diam? katakan pada Bibi, kenapa sampai kau menikahi wanita itu?! apakah ada alasan dasar yang dapat kau jelaskan pada Bibi, hingga bisa membuat kau menikahi gadis itu. melihat penampilan saja, Bibi mengirah dia awalnya adalah pelayan baru dirumah kita."
"Jadi Bibi mau, aku harus bagaimana." Bertanya balik, dengan menatap intens wanita paruhbaya itu.
"Bibi ingin kau ceraikan dia. Kau bisa menikahi wanita lain, yang pantas berdampingan denganmu. Atau kalau kau masih mencintai Clara, Bibi akan membantumu agar bersama dengannya lagi."
"Kalau kau masih mencintainya, kenapa tidak. Clara sangat cantik, dan juga dia anak satu-satunya, dari David Mahesa." Seru Celine, yang tetap kekeh pada pendiriannya.
Menghembuskan napas kasar, yang terasa begitu sesak didanya. Saat mendengar keinginan bIbinya, yang begitu kukuh.
"Maafkan aku Bibi?! tapi aku harus segera kembali kekamar. Karena besok, ada rapat penting." Dengan melangkahkan kaki, keluar dari kamar itu, tapi seketika langkah itu terhenti, keika Celine kembali berbicara.
"Zain, katakan pada Bibi. Apakah kau menikahi wanita itu, karena kau mencintanya?"
Tubuhnya membeku seketika, saat Celine menanyakan hal itu. Dan tidak mungkin dia berkata jujur, kalau dia menikahi Ariana hanya untuk membalas rasa sakit hati pada Clara.
"(Aku tidak mungkin berkata jujur pada Bibi? kalau aku menikahi wanita itu, karena ingin membalaskan dendamku. Dan maafkan aku Bibi? karena harus berbohong padamu.)" Bathinnya, dengan menghela napas panjang.
__ADS_1
"Aku menikahi Ariana, karena aku mencintainya. Tidak mungkin bagiku, menghabiskan sisah hidupku, dengan wanita yang tidak kucintai." Jawabnya, dengan kembali melangkahkan kakinya, meninggalkan kamar wanita paruhbaya itu.
Terkejut, itulah penampakan dari raut wajah wanita paruhbaya itu.
"Ini musthahil Zain?! tidak mungkikan kau menikahinya, karena cinta. Apakah kau sudah butah, Zain?! apakah didunia ini sudah tidak ada gadis lain lagi?!" Dengan nada mulai meninggi, dari sebelumnya.
"Maaf Bibi, tapi aku harus segera kembali kekamar." Pamitnya dengan kembali melanjutkan langkahnya, meninggalkan Celine yang tengah meradang.
Celine hanya tertawa kecil, Dan terlihat jelas rasa kecewa yang teramat sangat, pada keponakannnya itu.
"Sampai kapanpun, aku tidak akan pernah mengakui anak pungut itu, sebagai menantuku. Dan aku akan membuatnya, berpisah dengan Zain." Gumamnya, dengan kemarahan yang teramat sangat.
Menapaki kakinya, ditengah keheninga malam, menuju lantai tiga kamarnya. Dan saat membuka pintu, Zain menjumpai kamar, dalam suasana remang-remang, karena hanya lampu tidur saja, yang menerangi kamar itu. Mengedarkan pandangan kesegalah arah, mencari keberadaan Ariana, dengan terus melangkahkan kakinya.
"Dimana siculun itu? apakah dia sedang keluar kamar?"Bertanya pada diri sendiri, dengan terus melangkah ditengah suasana yang tampak sedikit gelap. Mencari kekamar mandi, dan ruang ganti tapi tetap saja, dia tidak menemui keberdaan Ariana disana.
"Gadis ini, benar-benar melatih kesaba.." Belum sempat Zain menyelesaikan kalimatnya, dia mendapati Ariana yang sudah tertidur disebuah tikar kecil, yang dibentangi disamping ranjang kingsizenya. Pandanganya sedikit buram, akibat suasana yang sedikit gelap, hingga membuatnya tidak bisa melihat wajah Ariana dengan jelas, dan memutuskan untuk menyalahkan lampu.
Kedua bolamatanya sedikit menyurut, saat melihat Ariana yang sedikit berbeda, yang membuatnya, menatapnya dengan tatapan yang begitu intens.
Ariana tidur dengan membiarakan rambutnya tergerai indah, dan tanpa kacamata tebal yang biasa bertengger diatas hidungnya. Senyuman kecil terlihat jelas diwajah tampan itu, dan tanpa dia sadari, kakinya tengah melangkah menghampiri Ariana yang tengah tertidur pulas.
Duduk berjongkok didepan wajah istrinya, dan tangannya perlahan membenahi helaian rambut yang menutupi wajah cantik itu. Jarinya perlahan menyentuh mata gadis itu, yang terlihat damai dengan tidurnya. Rambut hitam panjangnya, yang selama ini tak pernah dibiarkan tergerai, dan terus menatap wajah tanpa polesan meakup, dan bibir yang begitu menggoda iman lelaki itu.
"Dia sangat cantik, ternyata siculun ini memiliki wajah yang begitu cantik." Gumamnya, dengan senyuman kecil yang nyaris tak terlihat.
__ADS_1