Terjerat Cinta Si Culun

Terjerat Cinta Si Culun
Kedatangan David.


__ADS_3

"Sayang, kenapa kau membanting pintu? itu bisa mengganggu pasien yang lain,"


"Dan aku tidak, perduli. Katakan tadi dia melihat inimukan?" Dengan menatap dada, dan area sensitif milik Ariana.


Ariana hanya tersenyum, saat mendengar pertanyaan suaminya. Dan belum sempat dia menjawab, Zain sudah kembali berbicara.


"Kenapa kau tersenyum, jadi apakah..?" Belum selesai Zain menyelesaikan kalimatnya, Ariana sudah menyela ucapan suaminya.


"Tidak Sayang, dia tidak menyentuh itu sama sekali. Jika dia melakukan itu, pasti aku sudah meneriakimu."


Zain terlihat begitu bahagia saat mendengar apa yang dikatakan Ariana, dengan segera dia mengambil sebuah kursi kecil, dan duduk disamping istrinya.


"Ingat lain kali, kalau mau kemana-mana katakan padaku. Kau mengerti?!" Dengan nada, yang terdengar penuh penekanan.


"Iya Sayang, aku mengerti." Jawab Ariana, dengan senyuman kecil diwajahnya.


Zain menyerngitkan dahinya, menatap heran istrinya yang terus menatapnya, seraya tersenyum.


"Kenapa kau terus menatapku, seperti itu? apakah ada yang lucu?"


"Aku pikir kita tidak akan bertemu lagi. Jujur, aku merindukanmu Tuan?"


Tubuhnya membeku seketika, dengan apa yang baru saja dikatakan Ariana padanya. Dan terselip rasa bahagia disana, saat Ariana mengucapkan kata, merindukannya.


"Ha...ha...ha...ha.. Culun, kau sekarang sudah berani menggodaku?" Dengan terus, tertawa.


"Tidak Tuan, aku serius. Aku tau dibalik sikapmu yang kasar, sebenarnya kau memiliki hati yang yang sangat baik. Dan terima kasih karena, sudah mengkhawatirkanku." Jawab Ariana, dengan senyuman kecil menatap Zain.


"Kemarilah, jika kau merindukanku. Biar aku, memeluknya."


"Aku tidak bisa bangun Tuan, bukankah aku sedang sakit?"


"Dan kenapa kau memanggilku, Tuan?"

__ADS_1


"Maaf. Maksudku, Sayang."


Zain bangun dari duduknya, dan berbaring disamping istrinya.


"Kalau begitu, biarkan aku yang memelukmu." Dengan mendekap tubuh istrinya, yang membuat Ariana hanya tersenyum, saat berada didalam pelukan laki-laki tampan itu.


****


Adam menghampiri Alex yang sedang duduk seorang diri, seraya memainkan ponselnya.


"Bolehkah aku, bertanya sesauatu padamu?" Dengan duduk, disamping laki-laki berambut gelombang itu.


"Tentu Tuan?"


"Dimana kau menemukan, Nona Ariana?"


"Saya menemukan Nona Ariana, dibawah kaki bukit. Saat saya sedang melintasi tempat itu. Dan saya yakin Nona Ariana bukan terjatuh, tapi didorong."


Adam larut dalam pemikirannya sendiri, saat mendengar apa yang dikatakan Alex padanya.


"Mungkinkah Nona CLara, yang melakukan ini pada Nona Ariana?" Bathin Adam, yang bertanya pada diri sendiri.


"Apa yang anda pikirkan, Tuan?" Tanya Alex, saat melihat Adam tampak melamun.


"TIdak. Tidak ada, yang aku pikirkan." Jawabnya, dengan berusaha untuk tersenyum.


"Saran saya, sebaiknya anda mencari tau siapa pelakunya. Karena saya yakin, ada yang menginginkan kematian Nona Ariana."


****


Zain terus memeluk tubuh istrinya, dengan begitu mesrah. Dan tanganya tak henti-hentinya mengerayangi tubuh Ariana, yang sudah serasa candu untuknya. Gairahnya pasti akan muncul, saat dia bersama dengan istri culunnya itu.


"Sayang, ingat kita sedang berada dirumah sakit. Lagi pula, tubuhku masih lemah." Seru Ariana, yang merasa risih dengan kelakuan suaminya.

__ADS_1


"Aku hanya menyentuhnya sedikit saja, Ariana? lagi pula tidak akan ada yang masuk, bukankah sibrengsek itu, sudah memeriksamu," Jawab Zain, dengan nada yang terdengar kesal.


"Tapi Sayang," Dengan kekeh ingin menolak, saat Zain menelusupkan tangannya kedalam celah kancing bajunya, dan tak bisa dipungkiri diapun menikmatinya juga. Zain mulai menelusuri leher istrinya, seraya menggigit kecil telinga Ariana, dan membisikkan sesuatu disana.


"Saat kau keluar nanti, aku akan membuatmu sampai tidak bisa berjalan."


"I..iya Sayang, tapi bukankah aku harus beristirahat dulu, agar tenagaku dapat pulih kembali. Jadi kita tidak dapat langsung melakukannya Sayang, karena aku butuh istirahat." Jawab Ariana, dengan berusaha menjauhkan lehernya dari bibir suaminya.


Zain tampak tidak perduli dengan apa yang dikatakan istrinya, dia terus menjalajahi tangannya ketubuh Ariana, hingga membuat Ariana hanya bisa menahan rasa kesalnya terhadap pengusaha tampan itu. Dan saat sedang asyik mencumbuh istrinya, Zain dan Ariana dikejutkan dengan kedatangan David secara tiba-tiba, tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu.


"Papa," Seru Ariana dengan langsung membenahi bajunya pasiennya, yang sudah sedikit terbuka akibat kenakalan tangan suaminya.


"Tuan David, kapan anda datang? kenapa tidak mengetuk pintu terlebih dahulu?" Tanya Zain dengan raut wajah yang terlihat kesal, saat pria paruhbaya itu mengganggu kesenangannya.


Dengan posisi berbalik, David menjawab apa yang ditanyakan menantunya.


"Maafkan aku menantuku, tapi aku sama sekali tidak melihat apa-apa," Sangkalnya dengan senyuman yang nyaris tak terlihat, akibat memergoki kemesraan anak, dan juga menantunya.


Walaupun menahan malu, Ariana tetap berusaha untuk bersikap biasa-biasa saja, karena dia tahu Papanya berbohong kalau tidak melihat apa-apa. Sementara Zain tampak santai. Pengusaha tampan itu mengangap, seolah tidak terjadi apa-apa. Beranjak dari ranjang, dan duduk disebuah kursi yang terletak disudut ruangan, agar memberi ruang buat ayah mertuanya.


"Papa, kemarilah. Apa kau tidak merindukanku?" Berpura-pura bertanya, agar dapat menghilangkan suasana canggung.


David membalikkan badannya, dan dengan senyuman diwajahnya dia segera menghampiri Ariana.


"Bagaimana kabarmu, anakku? Papa mengirah kita tidak akan pernah bertemu lagi." Bertanya dengan raut wajah yang terlihat sendu, seraya menduduki sebuah kursi kecil disamping ranjang anaknya.


"Aku baik-baik saja, Papa? sebentar lagi aku sudah dipindahkan keruang rawat, jadi kau tidak perlu mengkhawatirkan keadaanku." Jawab Ariana, tersenyum.


"Apakah ada yang masih sakit? katakan pada papa." Tanya David, dengan raut wajah yang terlihat begitu khawatir.


"Tidak perlu mengkhawatirkan aku, Paa?" Seru Ariana tersenyum, saat melihat kekhawatiran ayahnya yang tampak berlebihan.


"Jangan pernah membuat Papa khawatir lagi, Araa? kau mengerti putriku??" Dengan membelai lembut pucuk kepala Ariana, dan tatapan penuh kasih sayang.

__ADS_1


"Tentu, Paa?"


__ADS_2