Terjerat Cinta Si Culun

Terjerat Cinta Si Culun
Telepone dari Stefanie


__ADS_3

Senja telah tergantikan dengan gelap, dimana bulan dan bintang-bintang telah menampilkan pesonanya, dilangit yang sudah membentang luas tertutup oleh kabut malam.


Kaki kecilnya begitu lincah, saat berlari melewati barisan anak tangga menuju lantai bawah.


Mata bulatnya mengedar kesegalah arah, memastikan situasi aman. Dan saat Stefanie tidak mendapati keberaan Ibunya, kedua kaki kecil itu melangkah cepat menghampiri Kakeknya yang sedang fokus membaca surat kabar.


"Opa..." Dari jauh bibir mungil itu, sudah bersuara memanggil Kakeknya.


Melukis senyum kecil diwajah yang sudah berkeriput, saat Stefanie berjalan kearahnya.


"Ada apa?"


"Opa..." Panggilnya lagi, dengan nada manjanya.


"Ya.. katakan ada apa?"


"Opa... aku ingin bicara dengan Daddy Zain.." Pintanya yang terdengar menuntut.


Raut wajah biasa, seketika berubah serius saat tatapan mata itu tertuju pada wajah cucunya.


"Menelpone Daddy Zain..?"


"Heemmm...."Bergumam dengan anggukan cepat.


Ragu seketika menyelimuti diri lelaki tua itu, mengingat titah Ariana yang tidak mengijinkan jika putrinya, berhubungan dengan Daddynya.


"Tapi..."


Stefanie merajuk seketika, saat sang Kakek tak mau menuruti keinginannya. Berbaring dilantai, dan segera mengeluarkan protesnya.


"Jika Opa tidak membiarkan aku bicara dengan Daddy Zain?! aku tidak mau bangun, dan juga tidak mau makan!"


Bingung dan juga kaget jadi satu menyelimuti diri, melihat apa yang dilakukan cucunya.


"Jangan tidur dilantai Stefanie, nanti bajumu kotor??" Membujuk pelan, agar cucu perempuannya itu luluh.


"Tidak..!! aku tidak mau. Aku hanya akan bangun, jika aku bicara dengan Daddy Zain!!" Gadis kecil itu tetap mengeluarkan Protesnya dengan keras.


"Tapi Stefanie...."


Dan mulai menangis Drama, agar kakeknya lebih dapat luluh.


"hiks...hiks.... hiks... Opa gak sayang sama aku.. Opa jahat..? aku gak mau makan.... hiks...hiks..." Dengan masih saja tidur dilantai, dan menendang-nendang kuat kakinya.


Hembusan napas terdengar berat. Walaupun enggan, tapi melihat rajukan cucunya membuat lelaki tua itu tidak tegah. Hingga dia berani melanggar titah putrinya, yang tidak ingin Stefanie berkomunikasi dengan ayah kandungnya.


"Baklah. Opa akan menghubungi Daddymu sekarang." Dengan meraih Hpnya yang diletakkan diatas meja.


Seketika bangun dari lantai, dengan rona bahagia pada wajah mungilnya.


"Benarkah Opa..?!"


"Tentu saja." Dengan ketika akan menghubungi Zain, Stefanie menyela hingga membuat Kakeknya kembali menurunkan ponsel, yang sudah ditempelkan pada daun telinganya.


"Tidak Kakek..!! aku juga punya Hp. Tunggu sebentar aku akan mengambilnya." Dengan berlari kecil menuju arah tangga.

__ADS_1


"Bagaimanapun, Zain adalah anak kandungnya. Dan stefanie berhak mendapatkan kasih sayang dari kedua orangtuanya." Gumamnya pelan, dengan tatapan iba pada cucunya yang yang berlari menuju arah tangga.


"Kakek... ini ponselku." Tangan mungil Stefanie, menyerahkan benda pipih itu pada pria paruhbaya itu.


Melukis senyum kecil diwajah, dengan jemari meraih HP dari tangan Stefanie. Menulis nomor Zain disana, dan melakukan panggillan keluar.


"Ingat! ini rahasia kita berdua. Jangan bilang pada Mommymu. Kau mengerti?!" Tatapan serius, dengan nada tegas.


"Tentu Opa... aku sangat mengerti. Ini rahasia kita berdua." Anggukan cepat, yang meyakinkan ri awajah mungilnya.


Sudah masuk Opa?" Stefanie bertanya dengan sedikit menempelkan daun telinga, saat Kakeknya melakukan panggilan pada Zain.


"Sudah tapi belum juga diangkat."


Ini sudah diangkat." Dengan memberikan Hp pada Stefanie, saat terdengar suara sapaan Hallo.


"Hallo..."


Meraih benda pipih itu dengan raut wajah sumringahnya, dan berlari kearah kamar. Stefanie memutuskan untuk bersembunyi dibalik lemari besar, agar dapat menghalangi penglihatan saat dia melakukan telepone dengan Zain.


****


KEDIAMAN PRATAMA


Zain terlihat serius, saat membahas masalah pekerjaan mengenai proyek yang dia dapat. Tiba-tiba saja terdengar suara nada panggilan telepone pada ponsel, yang Zain letakkan diatas meja kerjanya.


Tangannya menggapai benda itu, hingga menimbulkan kerutan dikening akibat rasa penasaran, saat melihat nomor baru pada layar datar itu.


"Nomor siapa ini?" Bertanya pada diri sendiri, dan jemari terlabuh pada icon hijau.


Hallo...!!" Dengan nada sedikit kasar, akibat emosi yang sudah meluap. Dan ketika jemarinya akan dilabukan pada tanda merah, tiba-tiba saja terdengar suara anak kecil yang begitu memekikan telinga.


"Hallo Daddy........" Terdengar nada yang begitu panjang.


"Ste.. fanie..." Ucapan ragu, yang mencoba untuk menebak pada suara gadis kecil yang memanggilnya Daddy.


"Iya Daddy... ini aku Stefanie. Kapan Daddy akan menculikku? agar kita bisa bermain bersama lagi."


Raut wajah serius, yang sedari tadi terlihat pada wajah sang pengusaha tergantikan dengan senyum bahagia, karena tidak menyangkah kalau putrinya akan menelpone.


"Apakah itu putri anda Tuan??" Adam bertanya, seketika melihat rona bahagia pada wajah Tuanmudanya.


Hanya anggukan kecil, dan kembali melanjutkan obrolan dengan anaknya.


"Daddy pasti nanti akan mengajakmu bermain. Katakan apa yang sedang kau lakukan?"


"Aku dan Mommy datang mengunjungi Opa David, Daddy? dan aku meminta Opa untuk menghubungimu."


"Kau dan Mommy sedang berada diapartemen Opa David?!"


"Iya Daddy. Daddy.. aku mau mengatakan sesuatu padamu."


Keningnya berkerut, terselip akan rasa penasaran didalamnya dengan ucapan putrinya barusan.


"Katakan pada Daddy, apa yang kau ketahui."

__ADS_1


"Daddy, tadi aku mendengar Mommy bicara dengan seseorang. Dan dia menyembut nama Rian. Dan Mommy nampak begitu bahagia, saat bicara dengan Paman itu. Dan kalau aku menyembut nama Daddy, pasti Mommy akan marah-marah."


"Benarkah..?!!"Dengan raut wajah mulai berubah.


"Sangat benar Daddy... dan aku tidak mau, Paman Rian menjadi Daddyku." Kalimat mantap yang Stefanie ucapkan.


Amarah akan kecemburuan teramat sangat, seketika menyelimuti wajah tampan sang pengusaha, mendengar ucapan anak perempuannya.


"Rian... kau benar-benar brengsek!! kita lihat saja, siapa yang akan mendapatkan Ariana nantinya."


"Daddy.....!!" Terdengar suara terikan yang begitu menggema, hingga membuat Zain sesaat menjauhkan telinganya, saat suara teriakan itu sedikit menyakiti.


"I...iya. Daddy masih ada disini. Dan katakan pada Daddy, kapan kalian pulang agar kita bertemu lagi."


"Dua hari lagi Daddy..."


"Baiklah. Daddy akan menghubungimu, dua hari lagi" Jawabnya, dengan memutukan sambungan telepone.


Meletakkan Hpnya dengan sedikit kasar, hingga tatapan Adam teralihkan pada wajah Tuan mudanya yang sudah diliputi amarah.


"Apakah ada masalah Tuan?" Tanyanya hati-hati.


"Kau atur pertemuanku dengan sibrengsek itu!! aku harus memperingatkannya agar menjauhi Ariana."


"Bukankah...!!" Adam tak dapat melanjutkan kalimatnya, saat Zain bersuara dengan nada lebih tinggi.


"Cukup..!! jangan bicara lagi. Cukup patuhi saja, apa yang aku perintahkan." Nada yang terdengar tegas, hingga membuat wajah itu seketika pucat pasih.


"Baik Tuan..."


****


Jarum jam terus saja melangkah. Hingga gelappun terbenam penuh, saat sang surya sudah menyapa pagi.


Hal seperti biasa dia lakukan, yaitu bekerja. Jemarinya dengan lihai bermain pada papan keiboard dari laptopenya, dan sesekali tatapa kedua mata itu, terlempar pada sebuah berkas disampingnya.


Merasa Zain adalah kekasihnya, membuat Cintya merasa tidak perlu mengetuk pintu, saat dirinya tau dari Adam sang sekretaris kalau Zain berada didalam.


Seulas senyuman terlihat diwajah Cintya, saat sang kekasih tak menyadari kedatangannya.


"Kau sangat serius Sayang, hingga suara pintu terbukapun kau tidak tau." Dia tersenyum pada Zain, yang nampak kaget dengan kedatangannya.


"Cintya..."


"Apa kau sibuk Sayang? aku ingin mengajakmu makan siang diluar. Kebetulan temanku baru saja membuka restorantnya. Dan dia meminta aku untuk datang, bersamamu."


Mematikan laptope, dan merapikan berkas-berkas yang sedikit berantakan. Dan itu membuat Cintya nampak bahagia, saat mengirah kalau Zain menerima ajakannya.


Menyandarkan pundaknya pada sandaran kursi, menatap dengan intens pada wajah gadis itu.


"Aku ingin kita putus." Sepenggal kalimat yang keluar dari bibir lelaki tampan itu, hingga membuat raut wajah yang sudah diliputi bahagia seketika memudar.


"Apaa... putus....!" Dengan sedikit teriakan karena terkejut.


"Iya putus." Kalimat meyakinkan, dan tegas dari bibir Zain.

__ADS_1


__ADS_2