Terjerat Cinta Si Culun

Terjerat Cinta Si Culun
Akan menikah


__ADS_3

Kedua mata itu terpejam, saat jemari lentik sang kekasih mengukir indah disana. Zain begitu menikmatinya, saat Ariana menggores-gores tak tentu arah pada dada kekarnya, saat kepala itu bersandar pada lengan kokohnya.


"Jangan terlalu banyak bergerak Araa..?" Zain memperingatkan kekasihnya, saat tanpa Ariana sadari dadanya sudah menempel pada dada bidang itu.


Mendongakan kepala, dan gerakan tubuhnya itu semakin membuat benda kenyal miliknya semakin terasa oleh Zain.


"Memang apa yang kulakukan. Hingga kau melarangku, untuk jangan terlalu banyak bergerak." Ariana bertanya dengan wajah bingungnya.


"Karena itu?" Dengan tatapan tertuju pada dada Ariana.


Karena itu bisa kembali membangunkan dia Araa??"


"Ingat Zain, aku masih lelah. Dan apakah kau juga tidak lelah, karena semalam akupun tidak tau kita melakukannya hingga berapa kali."


"Tentu saja aku juga lelah Araa..!! kau lihat leher, dan juga dadaku banyak sekali tanda yang kau ciptakan. Bahkan ada yang masih terasa nyeri sampai saat ini. kau tau semalam kau seperti hewan buas. Dan aku juga tidak tau, kita melakukan sampai berapa kali. Tapi yang jelas, semalam kau tidak ada bosan-bosannya Araa?"


"Itu karena obat perangsang itu Zain? seandainya saja aku tidak meminum obat itu, pasti aku tidak akan sebuas itu." Ariana berseru dengan raut wajah kesalnya, sebab tidak terima dengan apa yang dikatakan calon suaminya itu.


"Maaf, aafkan aku. Tapi jujur aku lebih menyukai kau seperti itu." Zain melemparkan senyum mesumnya, yang membuat Ariana menampilkan wajah kesalnya.


"Dasar mesum..!!"


Hening kembali melanda kamar hotel itu. Zain kembali memejamkan mata, menikmati suasana romantis dengan wanita yang dia cintai.


"Zain..."Panggil Ariana pelan.


"Heemm..." Matanya masih saja terpejam saat dirinya bersuara.


"Semalam kita melakukan hal itu berkali-kali. Dan kau tidak memakai pengaman. Aku takut jika aku hamil Zain?"


"Aku akan segera menikahimu, jadi kau tidak perlu khawatir."


"Kau serius..?!" Araa mendongakan kepala, menatap intens pada wajah tampan itu.


"Aku bukan hanya serius. Tapi sangat serius. Aku ingin kau segera menjadi milikku, agar kau tidak bisa lari dariku lagi."


"Tentu saja aku takut, jika harus lari darimu. Semalam saja kita melakukan itu berkali-kali. Dan yang sekarang aku takutkan, jika bulan depan aku tidak datang bulan. Bukankah itu sungguh memalukan??"


"Bukankah itu bagus Araa? jadi aku tidak perlu bekerja setiap malam. Dan sebentar lagi Stefanie akan berusia enam tahun, jadi aku rasa sudah saatnya dia memiliki adik."


"Kenapa kau malah senang Zain? bagaimana kalau aku hamil, sebelum kita menikah."


"Kau tidak perlu khawatir, aku akan segera menyiapkan pernikahan kita. Dan aku akan mengadakan pesta yang sangat meriah, dan mengenalkan kalau Ariana Mahesa, adalah Nyonya Zain Pratama."

__ADS_1


"Terserah kau saja Zain.." Jawab Ariana pasrah.


"Dan semoga saja jika kehamilanmu selanjutnya ini, kau akan mengandung bayi kembar. Kau tau Araa, sangat seru jika kita memiliki bayi kembar, dan Stefanie juga pasti akan sangat bahagia. Jika Daddy, dan Mommynya bukan hanya memberi dia satu adik, tapi lebih." Zain berucap dengan raut wajah antusiasnya.


"Dan pasti perutku akan sangat berat Zain? karena harus memikul bukan hanya satu bayi."


"Hanya sembilan Araa.. hanya sembilan bulan. Dan sembilan itu, aku akan selalu menjadi suami yang siaga buatmu, jadi kau tidak perlu khawatir."


"Terserah kau saja, dan kenapa bukan kau saja yang hamil?!" Nada yang terdengar kesal, saat kalimat itu terlontar dari bibir mungilnya.


"Itu bukan kodratku Araa..?" Jawabnya tersenyum.


"Dasar..!!" Dengan mimik cemberut, dan memalingkan wajah kesalnya.


Hening kembali melanda kamar hotel, dengan masih posisi berpelukan, Zain dan Araa berbaring diatas ranjang kingsise itu.


"Zain..." Panggil Ariana tiba-tian, yang memecahkan keheningan.


"Heemm..."


"Bagaimana kabar Bibi Celinemu? apakah dia baik-baik saja?"


Tatapan mata yang tadi terpejam, seketika terbuka lebar saat mendengar pertanyaan yang terdengar berat.


"Iya. Aku sudah mengetahui siapa dia. Dia adalah Ibu kandungku Zain?" Jawabnya, dengan buliran bening yang sudah membasahi kedua pipi mulus itu.


Bangun dari tidurnya melempar tatapan dalam pada Ariana, dimana airmata sudah membasahi kedua pipinya.


"Araa..." Zain memanggil pelan, pada Ariana yang menangis dan menunduk.


"Semua ini sulit dipercaya. Bagaimana bisa wanita sejahat dia, adalah Ibu kandungku Zain..?" Ariana mulai terisak, hingga bahu itu bergetar akibat tangisnya.


"Aku tau apa yang kau rasakan. Karena dirinya tidak pernah memperlakukanmu dengan baik, selama kau berada dirumah. Tapi bagaiamanapun, dia adalah Ibumu Araa?? Ibu kandungmu..?"


Ariana menegakkan kepala, menatap dalam pada pengusaha kaya itu.


"Tapi apakah dia pantas disebut Ibu, Zain? mana ada Ibu yang pergi meninggalkan anak, dan juga suaminya. Dan saat itu aku baru berusia satu bulan Zain?" keluah kesah Ariana ucapkan, dengan airmata yang terus membasahi pipi.


"Bibiku terpaksa melakukan itu Araa.. dia terpaksa melakukan hal itu. Kau tau, diapun menderita saat pergi meninggalkan kau, dan Papamu."


"Jadi kau tau alasan apa yang membuat dia meninggalkan aku, dan Papaku Zain?"


"Kakekku menentang keras hubungan Bibi Celine, dan juga ayahmu Araa? dia memberi pilihan pada Bibiku, jika tidak meninggalkan Papamu, maka Kakekku akan melakukam hal yang buruk pada Paman DImas. Jadi mau tidak mau, Bibi Celine pergi meninggalkan kalian."

__ADS_1


"Zain.. apakah kita berdua.." Ariana tak dapat melanjutkan kalimatnya, saat dia berpikir kalau Zain adalah sepupu kandungnya.


"Tidak. Kita berdua tidak memiliki hubungan darah sama sekali. Bibi Celine adalah anak angkat Kakekku."


"Aku bingung Zain.. karena masih sulit bagiku untuk menerima kenyataan ini."


"Berdamailah dengan masalaluhmu Araa? kau saja bisa memaaafkan aku, pasti kau juga bisa memaafkan dia. Apalagi dia adalah Ibu kandungmu."


"Zain..." Ariana mulai terisak. Memikirkan semua yang sudah dilakukan Celine padanya, membuat dirinya sulit untuk memaafkan wanita itu. Tapi bagaimanapun dia tidak bisa melawan takdir, saat dia dihadapkan pada kenyataan kalau wanita yang selama ini sudah begitu jahat padanya, adalah Ibu kandungnya sendiri.


Lengan kokoh itu meraih tubuh Ariana, dan membenamkan dalam pelukannya.


"Menangislah, kalau itu bisa membuat kau jauh lebih baik Araa?"


Ariana semakin terisak dalam tangisnya, saat Zain mengucapkan kata-kata itu. Semakin memeluk erat tubuh kekar itu, mengeluarkan semua beban dalam hati lewat airmata yang terus mengalir.


Berjam-jam Zain dan Ariana menghabiskan waktu dihotel XXX, kini keduanya memilih untuk meninggalkan hotel bintang lima itu, diwaktu yang sudah menunjukkan jam dua belas siang.


Rona bahagia terus saja membingkai diwajah keduanya, saat melangkah keluar dari dalam hotel, dengan Ariana terus menggandeng mesrah Zain.


"Apakah kau betul-betul sudah siap bertemu dengan Ibumu?" Zain bertanya, saat kedua pasang kaki itu terayun keluar.


"Siap atau tidak siap, aku pasti akan tetap bertemu dengannya Zain?" Jawabnya dengan melukis senyum kecilnya.


Saat keduanya sudah berada didepan hotel, Zain dan Ariana dikejutkan dengan kedatangan para pemburu berita, yang langsung mengerumuni keduanya. Dan itu membuat Ariana sedikit bersembunyi dibelakang tubuh kekasihnya, saat Zain menggunakan badanya untuk melindungi sang kekasih.


"Tuan Zain, Nona Ariana, apakah kami bisa meminta waktu kalian sebentar?"


"Katakan, apa yang ingin kalian tanyakan." Zain berucap dengan nada tegas.


"Beredar berita, kalau kalian berdua melewati malam bersama. Apakah itu benar?"


Menghembuskan napas kasar, sebelum menjawab pertanyaan dari wartawan pria itu. Sebab diapun kaget, darimana para pemburu berita, mengetahui keberadaannya dan Ariana dihotel itu.


"Ya. Aku dan Ariana semalam memang bersama. Dan aku sengaja memintanya datang kehotel ini, karena aku telah menyiapkan lamaran yang romantis dengan mengajaknya makan malam."


"Lamaran...? jadi Tuan, dan Nona Ariana akan segera menikah?"


"Ya kami akan segera menikah."


"Dan ada satu hal lagi yang ingin kami tanyakan. Apakah benar, kalau anda adalah ayah biologis dari anak Nona Ariana? tapi bagaimana bisa. Apakah kalian berdua pernah terlibat hubungan terlarang, hingga membuat Nona Ariana hamil??"


Zain terlihat meradang, dengan pertanyaan yang baru saja dilontarkan oleh wartawan wanita itu, yang sangat jauh dari fakta.

__ADS_1


"Perlu aku luruskan berita itu, agar kalian tahu yang sebenarnya. Aku dan Ariana pernah menikah. Jadi berita yang kalian dengar, kalau anak kami terlahir karena hubungan terlarang, itu sama sekali tidak benar. Stefanie putri kami terlahir dari kedua orangtua yang saling mencintai. Terima kasih." Zain langsung mengambil langkah panjangnya, melewati kerumunan para pemburu berita dengan menggenggam erat jemari Ariana.


__ADS_2