Terjerat Cinta Si Culun

Terjerat Cinta Si Culun
Tanpa sengaja.


__ADS_3

Tatapan matanya tampak begitu fokus menatap layar laptopenya, saat melihat data-data penting pembangunan proyek. Hingga suara pintu terbuka membuyarkan konsentarsinya, dan tatapan matanya teralihkan pada arah pintu itu.


"Maaf Tuan, karena saya tidak mengetuk pintu terlebih dahulu." Ucap Adam, dengan melangkah menghampiri meja kerja Bosnya.


"katakan padaku, ada apa? pasti ada yang penting, yang ingin kau sampai kan padaku."


Adam meletakkan sebuah map berwarna merah, diatas meja kerja Bosnya.


"Apa ini, Adam?" Bertanya, dengan menatap penasaran sekretarisnya.


"Ini data diri, dari Rian Adamaja, Tuan?"


Tanpa menjawab, Zain langsung meraih map tersebut, dan dengan tatapan intens dia menatap sebuah lembaran, yang berisi data diri dari Bos tempat istrinya bekerja.


"Ternyata dia memiliki dara Korea, dari Ibunya. Dan merupakan lulusan terbaik, dari salahsatu universitaas diAmerika, dan usianya masih sangat muda.


Tatapan matanya teralihkan menatap Adam, yang masih berada diruang kerjanya, setelah meletakkan map tersebut.


"Apakah kau sudah mempersiapakan semuanya, Adam? karena besok kita akan kevila."


"Saya sudah mempersiapkan semuanya, Tuan? tapi..." Dengan menjeda, kalimatnya.


"Tapi, apa..?" Bertanya balik, dengan tatapan penasaran.


"Maafkan saya sebelumnya, Tuan? tapi Nyonya Celine bersikeras ingin ikut. Dan saya yakin, Nona Clara pasti akan ikut juga."


Menghembuskan napas, berusaha menahan amarahnya, karenan dia hanya ingin menghabiskan waktu berdua dengan istrinya.


"Baiklah, biarkan mereka ikut."


****


Hari yang ditunggupun telah tiba. Dan setelah menempuh perjalanan kurang lebih satu jam, tibahlah mereka divila yang begitu mewah, diarea pegunungan.

__ADS_1


Turun dari mobil, dengan raut wajah yang terlihat begitu bahagia. Dan Ariana tak henti-hentinya, mengagumi kemewahan dari vila tersebut, yang banyak ditumbuhi banyak pohon yang begitu menghijau, disekitarnya.


Clara terus menatap Ariana dengan tatapan yang begitu intens, dan terselip rasa tidak suka pada saudara angkatnya itu.


"Bagaimanapun caranya, aku akan menyingkirkan anak pungut itu, dan merebut kembali posisiku." Gumamnya dengan raut wajah yang terlihat begitu kesal, dan kebencian yang semakin mendalam pada Ariana.


Zain menatap istrinya, yang tengah memandang keindahan alam disekitar vila, dan memutuskan untuk menghampiri.


"Ayo kita, kekamar." Ajak Zain, dengan merengkuh penuh pinggang Ariana.


"Ta..tapi, aku masih mau melihat pemandangan disekitar sini, Sayang?" Dengan ingin menolak, ajakan suaminya.


"Kau bisa melihat sepuasnya, setelah kau melakukan kewajibanmu sebagai istriku." Dengan menarik tangan Ariana berjalan kedalam vila itu.


Raut wajah Clara terlihat semakin memerah, saat melihat pemandangan yang begitu menyesakkan dada, hingga kepalan tangan itu terlihat begitu membungkus, dan terselip rasa cemburu yang teramat sangat.


"Bersabarlah, kita akan mencari cara, untuk menyingkirkan anak pungut itu." Ucap Celine, menenangkan Clara dari rasa cemburunya.


"Kita akan memikirkan caranya, malam ini. Bagaimana?" Tanya Celine, dengan senyuman diwajahnya.


"Baiklah..?" Jawab Clara, dengan nada yang terdengar berat.


****


Menarik pinggang Ariana, dan mulai mencium bibir itu, dengan sangat rakus.


"Sa..sayang, apa yang kau lakukan?" Bertanya, dengan berusaha menghindar, dari serangan suaminya.


Menghentikan kegiatannya sejenak, dengan tatapan penuh tanda tanya, pada Ariana.


"Kenapa? apakah salah jika aku melakukan itu, padamu?"


"Tidak Sayang, tapi ini masih siang. Bisakah kita melakukan malam saja, karena aku masih ingin berjalan-jalan disekitar vila ini."

__ADS_1


Hanya menyunggingkan senyum devilnya, saat mendapati jawaban Ariana.


"Bagaimana, kalau aku menginginmu sekarang. Apakah kau, akan tetap menolaknya?"


"A..aku." Dengan terlihat ragu, saat menjawab pertanyaan suaminya.


"Berarti, kau menyetujuinya." Jawabnya dengan kembali membungkam bibir Ariana dengan ciuman panjang, dan mendorong pelan tubuh istrinya ketas ranjang, hingga membuat Ariana hanya pasrah.


Zain mulai mencumbuh tubuh mungil itu, dengan begitu lembut. Bibirnya mulai menelusuri setiap jengkal tubuh Ariana, yang membangkitkan gairah wanita itu seketika.


Matanya terpejam, dan lambat laun Ariana mulai menikmati permainan yang diciptakan oleh suaminya, hingga desahan yang menandakan dia begitu menikmatinya, lolos begitu saja dari bibir wanita berkacamata itu, tanpa dia sadari.


Zain menyunggingkan senyuman disudut bibirnya, saat desahan itu keluar dari bibir istrinya. Dan itu semakin memacuh semangatnya, untuk bercinta.


Menangggalkan helaian benang, yang menutupi area priabadinya, dan Araa, dan dengan segera dia menghujamkan miliknya.


Desahan kenikmatan, makin terdengar jelas dikamar itu, saat Zain mulai melakukan gerakan, untuk mengawali acara bercinta mereka.


****


Terlihat dilantai bawah, Clara, dan Celine tampak sibuk mempersiapkan makan siang mereka.


"Clara...?" Panggil Celine, tiba-tiba.


"Ada apa, Bibi?"


"kau panggil Zain, karena ini sudah jam makan siang."


"Baik, Bibi..?" Jawabnya tersenyum, dengan melangkahkan kaki menghampiri kamar pria itu.


Kini Clara sudah tiba dilantai dua, depan kamar Zain. Dan saat akan mengetuk pintu, tanpa sengaja dia mendengar erangan kenikamatan, yang keluar dari bibir adik angkatnya.


Airmatanya seketika menetes, karena sudah sangat tau apa yang tengah terjadi didalam kamar itu. Desahan-desahan semakin terdengar jelas, baik itu dari bibir Zain, maupun Ariana, yang membuat airmata Clara semakin deras mengalir.

__ADS_1


__ADS_2