
Celine menapaki kakinya menuju sebuah pekuburan umum yang terletak ditengah kawasan kota jakarta. Tatapan matanya nanar, menatap makam mendiang suaminya, DImas. Kembali menangis, saat dengan terpaksa dia harus meninggalkan suaminya, dan bayi perempuannya yang saat itu baru berusia satu bulan, demi keamanan suami , dan bayi perempuannya akhirnya demgan terpaksa, Celine meninggalkan anak, dan suaminya, dan pergi keluar negeri, karena hubungan mereka yang ditentang oleh ayah angkatnya, yang merupakan kakek dari zain.
"Maafkan aku Dimas, maafkan aku. Aku terpaksa meninggalkan kau, dan putri kita karena aku tidak berdaya, dengan keadaanku. Tapi pada siapa kau memberikan putri kita? aku sudah berusaha mencarinya, tapi sampai sekarang, aku belum menemukan keberadaanya." Ucapnya, dengan terus menangis.
celine terus menangis, dan menangis, apalagi sudah berapa lama dia mencari keberadaan putri kandungnya, tapi hasilnya selalu saja nihil.
****
KEDIAMAN DAVID MAHESA.
Memoleskan lipstik berwarna marun pada bibirnya, dan membentuk rambutnya bergelombang, menggunakan catok itulah hal yang tengah dilakukan oleh seorang Clara Mahesa.
Pintu kamar terbuka, dan menampilkan sosok wanita paruhbaya, yang tak lain adalah Ibunya Diana.
"Mama.."
Menghampiri, dan menduduki salahsatu kursi yang tersedia dikamar itu.
"Apakah kau akan pergi menemui Jason lagi?!" Sebuah pertanyaan, yang terdengar dengan nada tidak suka.
"Iya Maa, aku akan pergi menemuinya. Bukankah dia kekasihku? jadi wajarkan, kalau aku pergi menemuinya. Bahkan kami berencana akan menikah, dalam waktu dekat." Jawabnya dengan terus membentuk rambutnya bergelombang.
"Sudah berapa kali Mama bilang, Mama tidak menyetujui jika kau menjalin hubungan dengan pria itu, apa yang kau harapkan dari dia. Dia itu hanya karyawan biasa, tidak seperti Zain, yang merupakan seorang CEO . Dan masa depanmu, akan lebih terjamin jika kau bersamanya."
"Tapi zain itu terlalu posesif padaku, Maa?! melarangku bepergian dengan teman-temanku, dan marah jika aku berpakaian terbuka. Dan marah jika, aku pergi ke klup malam. Mana aku bisa bertahan, dengan hubungan seperti itu Maa?!" Dengan nada, yang terdengar kesal.
__ADS_1
"Itu karenan dia sangat mencintamu, Clara?! sangat mencintamu?!" Dengan nada, sedikit tinggi.
"Bukankah, dia sudah menikah dengan anak pungut itu?!"
"Mama akan mencari cara, agar memisahkan mereka berdua. Bukankah Bibinya juga, sangat mendukung hubunganmu dengan Zain?"
"Sudahlah kita bicarakan nanti saja, aku akan pergi menemui Jason sekarang." Jawabnya dengan menyambar sebuah slempang, dan berlalu begitu saja.
Diana menghembuskan napas kasar, berusaha meredam emosinya dalam dirinya, saat mendengar jawaban putrinya itu.
"Bagaimanapun Mama tida akan pernah membiarkan anak pungut itu bahagia, karena menjadi istri dari Zain adalah posisimu yang sebenarnya."
****
Apartemen Jason.
Dian yang merupakan sahabat baik dari Clara itu begitu menikmati, saat lelaki tampan itu membuat dia tak berdaya dengan permainan yang dia cipatakan. Desahan pun keluar dari bibir keduanya, yang tampak begitu menikmati permainan itu.
Clara terus mengembangkan senyuman diwajah cantik nya, , saat tiba didepan apartemen kekasinya. Menekan sandi yang sangat sudah dihafalnya, dan senyuman itu hilang saat berada didalam apartemen, dia menadapati sepasang sepatu wanita.
"Milik siapa ini? apakah ada wanita lain, diapartemen ini?!" Dengan meraih sepatu tersebut, dan menatapnya dengan tatapan intens.
Pandangannya beralih kelantai dua apartemen, dan memutuskan untuk pergi kekamar kekasihnya. Saat sudah berada sudah dilantai dua, Clara begitu terkejut ketika mendengar desahan-desahan kenikmatan yang berasal dari kamar itu. Membuka pintu kamar, dan betapa terkejutnya dia saat mendapati sahabat baiknya, dan juga kekasinya tengah melakukan hubungan suami istri.
"Jason...Dian...?!" Teriaknya, dengan linangan airmata.
__ADS_1
"Clara...?!"Seru keduanya bersamaan, dan meraih sebuah selimut untuk menutupi tubuh polos mereka.
"Aku sangat membencimu, Jason?! sangat membencimu, dan hari ini kita putus?! dan kau Dian?! lupakan kalau aku ini adalah sahabatmu!" Ucapnya dengan tangisan, dan berlalu begitu saja.
"Clara...?!" Teriak jason, dan berniat mengejarnya, tapi seketika tangannya dicekal oleh Dian.
"Biarkan saja Sayang, bukankah lebih bagus seperti ini? jadi kita tidak perlu, menyembunyikan hubungan kita lagi."
"Tapi Dian..?!"
"Sudahlah Sayang, bagaimana kalau kita lanjutkan saja kegiatannya." Serunya, dengan senyum yang begitu menggoda.
"Baiklah..?!"
****
Detik terus berjalan hingga petangpun telah menyambut kota Jakarta. DIsebuah Klub malam, tampak seorang gadis cantik tengah meneguk Wine, seraya menikmati alunan musik DJ yang begitu menggelegar dalam tempat hiburan itu.
"Mereka berdua menghianatku. Kenapa aku begitu percaya dengan janji manis sibrengsek itu?! dan sahabat baikku, tega menusukku dari belakang." Gumamnya dengan terus meminum minuman beralkohol itu, dan airmata yang terus mengalir membasahi pipi.
Setelah puas dengan keluh kesahnya, Clara segera berlalu keluar dari Klub malam itu. Berjalan tak tentu arah, ditengah keramaian kota Jakarta dimalam hari. Dan airmata yang kembali membasahi pipinya, saat mengingat penghianatan sahabat baiknya, dan kekasihnya itu.
"Mereka tegah menghianatiku, kenapa mereka begitu jahat?! ternyata diam-diam mereka berdua menusukku dari belakang," Racaunya, dengan terus melangkah tak tentu arah.
Adam yang tengah menyetir sedikit terkejut saat mendapati seorang wanita yang tengah berjalan seorang diri, dan tampak tidak begitu asing baginya.
__ADS_1
"Tuan, sepertinya gadis yang berjalan didepan kita itu adalah Nona Clalra?!"
"Clara..?!" Dengan menyerngitkan dahinya, menatap intens kedepan.