Terjerat Cinta Si Culun

Terjerat Cinta Si Culun
Mengetahui kenyataan


__ADS_3

Tidak menjawab apa yang ditanyakan putrinya, Papa David malah bertanya balik mengenai hal yang lain.


"Papa ingin menanyakan sesuatu padamu."


"Bahkan kau belum menjawab pertanyaanku Papa...?" Ariana memelas pada ayahnya, saat lelaki paruhbaya itu belum menjawab rasa penasarannya.


"Papa tidak bisa menjawab akan hal itu. Sebab kau akan mengetahuinya suatu saat nanti."


Mendecak kesal, dengan mimik cemberut pada pada lelaki tua itu.


"Terserah kau saja Papa?! toh lagi pula aku sudah tidak perduli padanya."


Tawa kecil terlihat pada wajah Papa David, mendengar ucapan anaknya.


"Jika suatu saat takdir mempertemukan kau dengan pria itu, dan dia mengajakmu menikah. Siapa yang kau pilih. Zain atau lelaki yang sudah menolongmu itu?"


Ariana menyeringai, dengan apa yang ditanyakan ayahnya.


"Tentu saja aku akan memilihnya Papa? sebab aku sangat yakin, bahkan sangat yakin, kalau dia adalah laki-laki yang baik." Arian mengatakan dengan mantap.


Stefanie seketika menyela, karena tidak terima jika Mommynya menikah dengan pria lain, selain Zain yang dia panggil Daddy.


"Tidak Mommy?! kau hanya akan menikah dengan Daddy Zain saja." Raut penuh emosi pada wajah gadis kecil itu.


"Daddi Zain..?" Devid manautkan kedua alisnya, karena kaget saat cucunya menyebut Zain dengan Daddy.


Apakah...?" Pertanyaan itu terhenti, dengan tatapan penuh tanda tanya pada Ariana.


"Itu hanya panggilan saja Papa, dia datang menemui Stefanie diboutique kemarin. Dan kurasa putriku belum tau kalau Zain adalah Papanya."


"Tapi cepat atau lambat dia pasti akan mengetahuinya Araa?"


"Ntahlah Paa..." Seraya menghembuskan napas dalam.


Paa..." panggilnya kemudian.


"Ada apa?"


"Apakah Papa tau kalau Zain akan menikah?"


"Menikah..?" Raut wajah bingung, dan juga kaget menyelimuti wajah yang sudah menampakan keriputan itu.


"Iya Papa menikah. Zain akan menikah dengan anak rekan bisnisku, bernama cintya Davidson."


"Ohh... cintya..?"


"Apakah Papa mengetahuinya?" Ariana bertanya, saat reaksi ayahnya yang nampak biasa saja.


"Tentu Papa tau. Tapi untuk menikah Papa rasa tidak. Sebab Zain selalu menceritakan apa saja yang terjadi pada dirinya. Bisa dibilang, Papa adalah tempatnya berkeluh kesah."


"Jad apakah Papa tau bagaimana mereka bisa menjalin hubungan?"

__ADS_1


"Tentu Ariana? bukankah Papa bilang sebelumnya padamu, kalau Zain menganggap Papa sudah seperti ayah kandungnya sendiri. Jadi Tentu saja Papa mengetahuinya."


"Benarkah...?"


"Tentu Araa? Zain, dan Cintya bertemu diacara amal. Saat itu Cintya, datang bersama Papanya. Zain sangat mengenal baik Tuan Loard, ayah dari Cintya. Cintya menaruh hati pada Zain, saat pertemuan pertama mereka itu. Karena dia begitu menyukai Zain, Cintya meminta bantuan ayahnya untuk mengenalkan dia pada Zain."


"Terus... terus...." Ariana semakin penasaran, hingga membuat Papa David hanya tersenyum akan ekspresi putrinya.


"Tentu saja Tuan Loard membantunya, sebab Zain itu sangat tampan, dan juga kaya. Mereka kemudian berkenalan, dan Cintya mengutarakan perasaannya pada Zain malam itu juga."


Raut wajah kesal seketika terlihat pada wajah perancang kenamaan itu, akibat rasa cemburu.


"Jadi dia yang mengatakan perasaannya terlebih dahulu pada Zain, dasar wanita genit!!" Ariana membathin dengan wajah masamnya.


"Kau ingin mendengar kelanjutannya?" David berbicara tiba-tiba, yang mengagetkan anaknya.


"Tentu Paa..? terus?"


"Zain tidak langsung menerimanya. Dia datang menemui Papa, dan menceritakan semuanya."


"Terus apa yang Papa katakan??"


"Papa yang meminta dia untuk memulai membuka hatinya, dan menerima Cintya."


"Apaaa?? ja...jadi Papa yang meminta Zain untuk menjalin hubungan dengan wanita itu?!" Ariana berbicara dengan nada sedikit berteriak, karena kesal dengan ayahnya.


Kenapa Papa melakukan itu..?!"


"Papa sebenarnya masih sangat berharap kau dapat bersama Zain kembali. Begitupun juga dengannya. Selama ini kau menghilang dari kehidupannya, dan tidak mau kembali padanya. Papa sangat kasian pada Zain, dia seperti orang yang hidup dengan tidak tentu arah, sebab terus berharap padamu. Jadi Papa memintanya untuk menerima Cintya, agar dapat memulai hidup yang baru, walaupun sebenarnya sangat dia enggan."


"Tentu. Dan Papa yakin berita itu sama sekali tidak benar. Dan kalaupun benar, pasti Papa akan mengetahuinya."


Ariana nampak merenung, dengan apa yang dikatakan David padanya. Hingga suara panggillan pria tua itu, mengalihkan tatapannya sekerika.


"Araa...?"


"Iya Paa...?" Dia memalingkan wajah pada David, senyuman kecil melukis diwajah.


"Zain itu sangat mencintaimu. Walaupun dia tidak pernah mengatakannya langsung."


"Ntahlah Paa.. aku masih bingung dengan semua ini." Jawabnya dengan hambar.


"Kemariilah anakku..." David memanggil Ariana, agar duduk disebelahnya.


"Ada apa Paa..?" Beranjak dari sofa tunggal, dan melangkah pada David.


"Papa ingin mengatakan hal penting padamu. Bagaimanapun kau harus mengetahuinya, sebelum kau mengetahui dari oarng lain."


Tatapan penuh selidik, dan terselip rasa penasaran seketika membingkai diwajah Araa mendengar apa yang dikatakan ayahnya.


"Apakah ini mengenai Zain, Papa?"

__ADS_1


"Tidak anakku?"


"Terus apa Paa..?" Raut wajah yang semakin penasaran, terlihat diwajah Ibu muda satu anak itu.


"Celine.." Berucap dengan nada terdengar berat, saat sepenggal kata itu terucap dari bibirnya.


"Bibi Celine, Bibi dari Zain..?" Menautkan kedua alisnya, akibat penasaran.


"Iya Nak..?" David memandang dengan penuh kasih sayang, seraya jemari membenahi rambut Ariana.


"Kenapa dengan dia Paa??"


Hembusan napas terdengar berat, sebelum mengatakan kenyataan yang mungkin akan menyakitkan hati Ariana.


"Paa..." Ariana memanggil saat David tak kunjung bersuara.


"Bibi Celine adalah Ibu kandungmu Araa?"


Raut wajah terkejut, dan jemari yang dimana tadi menggenggam tangan ayahnya, dengan sendirinya terlepas karena kaget dengan apa yang baru saja dia dengar.


"Ibu kandungku..? wanita itu Ibu kandungku??"


"Iya Nak.. Bibi Celine, adalah Ibu kandungmu. Wanita yang sudah melahirkamu anakku..?"


"Tidak!! pasti Papa berbohongkan?!!" Ariana berbicara keras, dengan airmata yang sudah menetes.


"Tidak anakku... Papa sangat serius, dia adalah Ibumu. Ibu kandungmu Araa..."


"Tapi kenapa harus dia Papa... kenapa.... dia begitu jahat padaku, saat aku masih berstatus istri dari Zain? dia begitu kasar, dan selalu saja menghinaku? karena aku hanya anak angkat Paa... karena aku hanya anak angkatmu..." Ariana berbicara dengan deraian airmata yang terus mengalir.


David meraih tubuh Ariana, dan membenamkan dalam pelukan saat tangis itu terus saja terdengar.


"Papa tau ini sangat berat bagimu, tapi cobalah untuk menerima kehadirannya Araa?"


"Tapi Papa...?"


"Kau adalah anak yang baik, Papa yakin kau bisa memaafkannya. Dia begitu menyesal, saat tau kau adalah anak kandungnya. Bertahun-tahun dia hidup dalam penyesalan, dan sakit-sakitan akibat memikirkan dirimu. Selama ini dia selalu mencarimu, bahkan sanmpai menyewa detektif untuk mencari tau kau berada dimana. Papa minta maafkan dia Araa? maafkan dia? sebab bagaimanapun dia adalah wanita yang sudah melahirkanmu."


Ariana semakin terisak dalam pelukan ayahnya, akan kenyataan yang baru saja dia tahu, kalau Celine adalah Ibu kandungnya. Sulit untuk menerima, tapi dia tidak dapat menolak takdir itulah yang Ariana rasakan saat ini. Hanya bisa menangis, dan menangis.


Stefanie berlari kecil mengahampiri kedua orang dewasa itu, saat melihat Ibunya menangis.


"Opa... kenapa Mommyku menangis..?" Raut wajah gadis itu menatap dengan kasihsayang pada Araa.


"Kemarilah...?" David melebarkan tangan yang satunya, agar Stefanie masuk dalam pelukannya.


"Opa sangat menyayangi kau, dan Mommymu Stefanie..?" David berucap saat Ibu dan anak itu berada dalam pelukannya.


"Aku juga sangat menyayangimu Opa..? dan apakah Mommy menangis karena tidak mau menikah dengan Daddy Zain? Stefanie bertanya, dengan menarik diri dalam pelukan Kakeknya.


"Tanyakan saja pada Mommymu?" David berucap dengan senyuman, yang membuat wajah Araa seketika cemberut.

__ADS_1


"Sampai kapanpun, aku tidak mau kembali padanya." Dengan kalimat yang begitu meyakinkan.


"Tapi aku mau, kau menikah dengan Daddy Zain Mommy, hanya Daddy Zain.." Stefanie berucap dengan teriakan.


__ADS_2