
Hening yang dia rasakan, saat dirinya larut dalam suasana hati yang tengah gundah. Memikirkan apa yang baru saja terjadi antara dirinya, dan Ariana membuat Zain terlihat begitu gelisah. Bangun dari duduknya, dengan ayunan kaki yang menghampiri pada jendela kaca besar itu. Menyingkap habis tirai yang menghalangi pandangannya, dengan melemparkan tatapan mata pada pada langit biru yang sudah tertutup gelap.
"Apakah salah, jika aku melakukan hal ini? aku memang terlihat begitu egois, bahkan sangat egois. Tapi aku melakukan hal ini, karena aku begitu mencintainya," Zain bergumam dengan wajah sendunya.
Menikmati pesona malam hari, dengan taburan ribuan bintang, dan juga bulan dengan remang-remang suasana dalam ruang kerjanya. Tiba-tiba saja ruangan itu jadi terang dengan cahaya lampu. Memalingkan wajah, dan mendapati Celine disana.
"Maa..."
"Apa yang kau lakukan disini anakku?" dengan melukis senyum diwajah, saat kedua kaki itu mengayun pada Zain.
"Aku belum bisa tidur. Jadi aku memutuskan untuk datang kemari," dengan tatapan mata yang kembali pada taburan bintan, yang tengah mengelilingi bulan.
"Kau berbohong anakku! tadi kau keluar dari kamar dengan wajah yang tengah kesal. Apakah kau sedang ada masalah dengan Ariana?" Tanya Celine penuh selidik.
Menghembuskan napas kasar, dengan melukis senyum palsu diwajah.
"Ini hanya masalah kecil,"
"Ceritakan pada Mama Zain! mungkin saja Mama bisa membantu,"
"Ariana ingin mengundang Clara, dan ibu angkatnya keresepsi pernikahan kami. Dan aku menolaknya dengan tegas."
"Dulu Mamapun juga sama jahatnya seperti mereka, tapi kalian bisa memaafkan aku,"
"Kau adalah ibu kandung dari Ariana, beda dengan mereka. Apakagi Clara, pernah berusaha utuk membunuh Ariana. Jadi itulah yang membuat aku sulit untuk mempercayainya, kalau dia sudah berubah atau tidak!"
"Terima kasih karena telah mengkhawatirkan putriku Zain! dan aku tau kau melakukan ini karena kau begitu mencintainya. Tapi percayalah pada Mama, mereka sudah berubah. Tuhan sudah memberikan hukuman pada Clara dengan caranya sendiri,"
"Tapi Maa, wanita itu begitu jahat!"
"Mama tidak meminta kau untuk percaya pada Mama Zain! tapi Mama minta kau ikutilah kemauan Ariana, apalagi saat ini dia sedang mengandung. Tidak baik baginya untuk bersedih, karena itu bisa memepengaruhi kondisi janin dalam kandungannya."
"Baiklah. Aku akan mempertimbangkan apa yang kau katakan itu,"
"Kalau begitu Mama tinggal dulu, dan pikirkan apa yang Mama katakan tadi," Dengan kedua kaki mengayun keluar dari ruang kerja.
Hening kembali melanda ruangan itu, setelah perginya Celine. Kedua bolamata itu kembali Zain lemparkan pada langit malam, yang diterangi bulan dan bintang yang tengah memancarkan pesonanya. Hening, hening setelah berperang dengan katahatinya, mempertimbangkan apa yang dikatakan ibu mertuanya tadi.
"Aku akan memenuhi keinginannya, kalau itu bisa membuat dia bahagia," Gumam Zain.
Kembali menikmati keindahan malam, hingga waktu yang semakin menjemput malam. Tatapan mata itu teralih pada jam dinding yang menempel pada dinding ruang kerjanya, dan mendapati waktu sudah menunjukkan pukul dua belas malam. Dan memutuskan keluar dari ruangan itu, untuk kembali kekamar.
Melangkah ditengah kesunyian malam, ditengah suasana rumah yang sudah sepi. Meraih gagang pintu kamar itu, dan melebarkannya. Zain sedikit kaget saat berada didalam, dia mendapati istrinya yang belum tidur.
__ADS_1
"Zain! kau sudah datang?" dengan senyuman, saat ponsel itu dia kembali letakkan pada meja samping ranjangnya.
"Kenapa kau belum tidur Araa?" tanyanya saat kedua kaki itu mengayun pada arah ranjang.
Melukis senyum diwajah, dengan apa yang ditanyakan suaminya.
"Tentu saja aku menunggumu Zain,"
Menghembuskan napas kasar, saat melabukan tubuhnya pada tepian ranjang.
"Tidak perlu menungguku Araa!"
"Zain, maafkan aku. Aku akan menuruti keinginanmu, untuk tidak mengundang Clara, dan juga Mama Diana," dengan raut wajah sendunya, saat tatapan mata itu menatap dengan dalam pada sang suami.
Mengukir senyum diwajah, dengan jemari menyentuh pipi sang iatri dengan tatapan begitu dalam.
"Kemarilah," kedua tangan itu membuka lebar untuk menyambut tubuh Ariana.
Membenamkan dirinya dalam pelukan Zain, dengan bersandar pada dada bidangnya.
"Maafkan aku Zain, maafkan aku. Tapi aku minta jangan marah padaku," Meluapkan keluh kesahnya berharap hubungannya dan sang saumi kembali membalik.
"Aku yang sebenarnya minta maaf, karena sudah berkata kasar padamu. Dan maafkan aku Araa! aku mengijinkan kau untuk mengundang Clara, dan ibunya kepesta pernikahan kita,"
"Bukankah tadi kau bilang.." dia tak sanggup melanjutkan kalimatnya, saat Zain menyela akan ucapannya itu.
"Lupakan apa yang kukatakan tadi Araa! aku mengijinkanmu mengundang Clara, dan Ibunya."
"Kau serius Zain? kau mengijinkan aku mengundang Mama Diana, dan juga Clara?" Memastikan apa yang baru saja dikatakan sang suami dengan bolamata lebih membulat.
Menganguk pelan, yang mewakili jawabannya pada Ariana. Senyum bahagia membingkai penuh diwajah cantik Araa, dan kembali membenamkan dirinya dalam pelukan sang suaminya.
"Terima kasih Zain! terima kasih suamiku, dan aku sangat-sangat mencintaimu,"
Melabukan kecupan singkat pada perut Ariana, dan semakin mempererat pelukan itu.
"Aku juga sangat mencintaimu Araa! sangat mencintaimu. Dan katakan apakah kau tidak menginginkan sesuatu?"
Keningnya mengkerut, dengan menatap heran pada pengusaha kaya itu saat kembali menegakkan tubuhnya.
"Menginginkan apa Zain?"
"Makanan. Mungkinkah kau ingin makan sesuatu?"
__ADS_1
"Anak-anakmu kali ini mereka begitu pengertian Zain! tidak seperti Kakaknya, yang selalu banyak maunya."
."
"Baiklah, kalau kau menginkan apapun beritahu aku. Aku siap memasak untukmu atau mencarinya, tapi jangan yang sulit,"
"Baiklah suamiku," dengan senyuman dan kembali bersandar pada dada bidang itu.
****
Sebuah mobil mewah melaju ditengah keramain lalulintas kota Jakarta dipagi hari. Jemari kecil itu bermain pada rambut boneka barbienya yang baru saja dibeli sang ayah.
"Mommy! apakah kita akan pergi keboutique milik Bibi Rani?"
"Iya Sayang, kita akan mengantarkan undangan ini buat Bibimu," dengan senyuman seraya membelai pucuk kepala anaknya.
Ariana menyandarkan kembali tubuhnya pada sandaran kursi, dengan melemparkan kedua matanya menikmati pemandangan pagi hari. Senyum merekah diwajah cantiknya, saat melihat sekilas Stefanie yang terlihat begitu tenang dengan beneka baribienya.
"Nona!" Panggil Charlote tiba-tiba.
"Ada apa Charlote?"
" Bagaimana dengan pekerjaan anda? apakah anda akan meninggalkannya setelah menikah?"
Ariana tertawa kecil, dengan apa yang ditanyakan Charlote padanya.
"Kami sudah menikah Charlote! dan undangan ini hanya untuk resepsi saja, dan maaf tidak memberitahumu,"
"Ia Bibi Charlote! Daddy, dan Mommy sudah menikah," timpal Stefanie pula.
"Benarkah? bagaimana saya tidak bisa tahu Nona?!"
Menyimpulkan senyum diwajah, karena wajah kagetnya.
"Bahkan Kak Ranipun tidak tau, kalau aku sudah menikah dengan Zain. Dan kenapa kami buru-buru meresmikan hubungan kami karena aku sudah terlanjur hamil, dan ini sangat memalukan Charlote!" Menghembuskan napas sejenak, dengan jemari membelai pada perut yang sudah membuncit,
"Aku tidak menyangkah akan kembali bersamanya, setelah kami berpisah berrtahun-tahun. Bahkan sekarang aku sedang mengandung anaknya," seru Ariana kemudian.
"Jawabannya, karena anda begitu mencintainya Nyonya! hanya Tuan Zainlah satu-satunya pria dalam hidup anda,"
Menyimpulkan senyum diwajah, dengan kembali memalingkan wajahnya menikmati hembusan angin pagi hari dengan mobil yang terus melaju. Setelah hampir duapuluh menit berada didalam kendaraan roda empat itu, tibalah ketiganya dibouitique milik Rani. Pintu yang telah terbuka oleh Charlote, membuat kedua kaki kecil itu segera berlari menuju arah buoutique.
" Bibi Rani..." teriak Stefanie, saat berlari menuju boutique.
__ADS_1