
"karena dia sudah menolong Nona Ariana, Tuan?" Celah, Adam.
"Jadi anda yang sudah menolongku, Tuan?" Tanya Ariana dengan nada lembut, dan senyuman kecil menatap Alex.
"Ia Nona, akulah yang sudah menolong anda." Jawabnya dengan senyuman kecil pula, menatap Ariana.
Zain terlihat begitu kesal, tak bisa dipungkiri rasa cemburu semakin melanda diri pengusaha tampan itu, apalagi saat melihat Alex tersenyum pada istrinya, dan Ariana membalas senyuman lelaki itu.
"Tapi kau juga tidak perlu, menatap istriku seperti itu. Apa kau tidak menyadari, kalau suaminya berada disini.
Dan dimana kacamatamu? kenapa kau tidak memakainya?" Dengan nada, yang terdengar kesal.
"Kacamataku hilang Sayang, nanti baru aku membelinya."
"kau jangan terlalu posesif seperti itu, Zain? bukankah istrimu lebih cantik kalau tidak memakai kacamata." Timpal Jack, yang tampak kesal dengan sahabatnya.
"Ta..tapi, aku lebih suka kalau dia memakai kacamata. Nanti setelah ini, aku akan menyuruh Adam membeli kacamatamu."
"Baiklah Sayang, terserah kau saja."
"Baiklah Zain, aku minta kalian keluar. Aku akan memeriksa istrimu, sekarang."
"Aku akan, tetap disini."
"Tapi Zain, bagaimanapun kau harus keluar." Seru Jack, yang mulai terlihat kesal dengan sahabatnya.
"Aku akan membayar berapapun, agar aku bisa tetap berada disini. Apakah kau sengaja meminta aku keluar, agar kau bisa menyentuh tubuh istriku, atau kau ingin melihat yang lain."
"itu bisa saja terjadi, karena itu adalah tugasku sebagai seorang Dokter."
"Apaa?! kalau begitu aku akan tetap disini." Jawabnya, tegas.
"Apa kau mau, aku akan memanggil secuiriti untuk memaksamu keluar?" Dengan nada, yang terdengar kesal.
__ADS_1
"Coba saja kau lakukan. Aku akan menghancurkan rumah sakit ini."
"Sayang, aku minta keluarlah. Dokter Jack, akan memeriksaku." Pinta Ariana, dengan tatapan memohon.
"Ayo Tuan , kita keluar." Ucap Adam, dengan menarik paksa tangan bosnya.
"Awas saja Jack?! jika kau berani macam-macam!" Dengan tatapan tajam menatap sahabatnya, dari berlalu dari ruangan itu.
Jack hanya menggelengkan kepalanya, dengan kelakuan sahabatnya, yang menurutnya terlalu berlebihan.
"Nona Ariana..?"
"Iya, Dokter."
"Aku rasa kau sudah berhasil mencairkan sebuah gunung es, yang selama ini membeku."
"Maksud, Dokter??" Dengan tatapan penasaran, menatap Jack.
"Aku rasa sahabatku, Zain Pratama telah jatuhcinta padamu Nona." Dengan senyuman kecil, menatap Ariana.
"Pasti Nona tidak percaya padaku, kan?"
"A..aku tidak tau Dokter, karena dia sering bersikap begini padaku."
"Zain sudah jatuhcinta padamu, Nona? hanya dia saja belum menyadari akan hal itu."
Membingkai senyuman kecil yang nyaris tak terlihat, saat mendengar apa yang dikatakan Jack. Ada sedikit kebahagian dalam diri Ariana, karena akhir-akhir ini sikap Zain sudah tidak sekasar seperti dulu lagi. Apalagi saat dia meminta cerai, dengan jelas-jelas laki-laki itu menolaknya.
****
Zain masih menunggu didepan pintu ruangan ICU, dan dia terlihat begitu gelisah. Kadang lelaki tampan itu bangun dari duduknya, dan sesekali dia menatap lewat celah jendela, agar dapat melihat apa yang dilakukan Jack pada istrinya.
"Kenapa dia lama sekali? kenapa saat memeriksa istriku dirumah, dia membiarkan aku berada didalam. Tapi kenapa disini, dia membiarkan aku tunggu diluar. Apakah dia sengaja agar dia bebas menyentuh istriku, dengan memanfaatkan gelarnya sebagai Dokter." Seru Zain, dengan raut wajah yang terlihat kesal.
__ADS_1
"Itu karena kasusnya berbeda Tuan? sekarang Nona Ariana sedang berada diruang ICU, jadi kita tidak bisa seenaknya berada didalam." Jawab Adam, yang memberi pengertian pada Tuanmudanya.
Tatapan matanya teralihkan pada Adam, dengan tatapan kesal, saat mendengar apa yang dikatakan sekretarisnya.
"Tau apa kau soal wanita, Adam?! pantas saja sampai sekarang kau belum memiliki kekasih, karena kau sangat tidak paham soal wanita."
Menghembuskan napas, berusaha menahan rasa kesalnya pada Tuanmudanya itu, saat mendengar apa yang dikatakan.
"Maafkan saya Tuan, apakah itu berarti anda sudah jatuhcinta pada Nona Ariana?" Dengan senyuman kecil, menatap Tuanmudanya.
Raut wajah Zain seketika berubah gugup, dan memerah saat mendengar apa yang dikatakan sekretrisnya itu.
"Aku tidak bilang begitu bodoh?! bukankah kau sudah tau, untuk apa aku menikahinya?"
"Maafkan saya Tuan, karena sudah berasumsi sendiri." Jawab Adam, dengan senyuman kecil diwajahnya.
Tak berselang lama, Jack pun keluar bersama dengan teman Dokternya.
"Apa yang kau lakukan, kenapa lama sekali Jack?! apa kau sengaja berlama-lama agar bisa menyentuh istriku."
"Hei teman tenang, aku minta tenang. Mana mungkin berbuat macam-macam, kau lihat didalam aku bersama dengan teman Dokterku. Memang aku menyeentuhnya, bahkan..." Dengan sengaja tidak melanjutkan kalimatnya, agar Zain kesal.
Tatapannya seketika begitu penasaran, dan terlihat tidak begitu sabaran saat Jack tidak melanjutkan lagi kalimatnya.
"Memang kau menyentuh dibagian mana? awas saja jika kau menyentuh yang merupakan milikku, akan kubunuh kau sekarang juga."
Tersenyum saat melihat reaksi sahabatnya, yang berlebihan.
"Tenang teman, aku tidak menyentuhnya. Tapi seandainya kalau memang sakit dibagian situ, mau tidak mau aku harus menyentuhnya. Dan setelah ini istrimu, sudah bisa dipindahkan kekamar." Jawabnya tersenyum, dan berlalu begitu saja.
Tatapan Zain terlihat begitu kesal menatap Jack, yang telah berlalu pergi sambil tertawa lepas.
"Dasar Dokter brengsek?! mesum!" Dengan kembali menyambangi istrinya, dan membanting pintu dengan sangat kasar, hingga membuat Ariana yang berada diidalam begitu terkejut.
__ADS_1
"BRAAKKK"