Terjerat Cinta Si Culun

Terjerat Cinta Si Culun
Aku hamil.


__ADS_3

Malam telah tergantikan dengan pagi, setelah sang surya tersenyum secara sempurna, menyambut terangnya bumi.


Kedua bolamatanya perlahan terbuka, setelah matanya tak dapat menghalau cahaya yang begitu meenyilaukan. Memalingkan wajahnya kesamping, dan tidak mendapati keberadaan suaminya disana.


"Dimana, dia. Apakah dia, sudah berangkat bekerja?" Bertanya pada diri sendiri, dan perlahan kedua kakiknya turun dari ranjang, menuju arah kamar mandi.


Saat akan membasuh wajahnya, dibawah kuncuran air kran yang mengalir, tiba-tiba saja Ariana teringat akan alat tes kehamilan, yang dia beli kemarin.


"Hampir saja, aku lupa," Gumamnya, dengan berlalu keruang ganti.


Beberapa menit kemudian, kini Ariana telah kembali berada dikamar mandi, dengan memegang alat tes kehamilan tersebut. Setelah menampung air seninya kedalam wadah, diapun mencelupkan benda pipih itu kedalamnya.


"Aku akan menunggu, sepuluh menit kemudian." Dengan berlalu, dari dalam kamar mandi.


Duduk diatas ranjang, dan tatapan matanya tak henti-hentinya menatap jam tangan, yang tengah digenggamnya untuk melihat waktu.


"Aku harus menunggu, sepuluh menit lagi." Gumamnya, dengan berbagai perasaan tengah menyelimuti.


1,2, 3, dia terus menghitung waktu. 4,5,6,7, hitungan meniit terus melangkah. 8, 9, 10.


"Sudah sepeluh menit, terlewati." Gumam Araa, dengan melangkah kekamar mandi.


Kini Ariana, tengah berhadapan dengan wadah tersebut. Berbagai perasaan, campur aduk menjadi satu. Perlahan tangannya meraih benda itu, dengan sedikit bergetar karena saking gugupnya, akan hasil nanti.


"Semoga saja, aku hamil," Gumamnya, penuh harap.


Saat kedua bolamata itu, sudah dihadapkan dengan benda itu seketika Ariana membungkam mulutnya, seolah tidak percaya dengan apa yang dia lihat sekarang. Airmata menetes begitu saja tanpa dia sadari, saat melihat dua garis, yang menandakan dirinya positif hamil.


"Aku hamil.., aku hamil, sangat sulit dipercaya. Aku akan segera, menjadi Ibu," Gumamnya, dengan airmata terus membasahi pipi.


Ariana terlihat begitu bahagia saat ini, tatapan matanya terus menatap alat tes kehamilan itu, yang masih berada digenggamannya.


Perlahan tangannya menyentuh perutnya yang masih rata, dengan senyuman kecil diwajahnya.


"Mama akan mengatakan kehadiranmu pada Papa, dimoment yang tepat. Dan aku akan membuat, kejutan yang manis untuknya." Gumamnya, tersenyum kecil.


****


PRATAMA GROUP.


Digedung bertingkat itu, nampak Zain, dan Adam tengah begitu sibuk membahas mengenai beberapa pekerjaan, dan juga proyek yang akan ditangani oleh PRATAMA GROUP.


Tatapan keduanya nampak begitu fokus, menatap berkas-berkas penting yang berserakan diatas meja.


Tiba-tiba saja terdengar dentingan pesan pendek pada ponsel milik Adam, yang mengalihkan perhatian keduanya.


"Siapa yang mengirimmu, pesan Adam? mengganggu saja!" Tanya Zain, dengan nada ketus.

__ADS_1


"Ntahlah Tuan," Jawabnya, dengan meraih ponsel dari dalam saku jasnya.


Dan melihat nomor yang sama lagi, membuat Adam terlihat begitu kesal. Sebab semalam, dia digoda oleh nomor yang sama lagi.


"Apakah Ariana yang mengirimmu pesan, Adam? mungkin dia bertanya, kalau aku sedang buat apa," Bertanya, dengan menatap intens sekretrisnya.


"Tidak Tuan, bukan Nona Ariana." Jawabnya, meyakinkan Zain.


Zain menghembuskan napas kasar, dengan raut wajah yang terlihat begitu kecewa, saat mendapatkan jawaban dari sekretrisnya.


"Padahal aku sangat berharap, dia menghubungiku. Menanyakan aku sedang buat apa, atau sudah makan atau belum. Dan jam berapa, aku pulang kantor."


"Bagaimana dia bisa menghubungi anda Tuan, bukankah Nona tidak mempunyai nomor HP anda?"


"Benar juga, apa yang kau katakan Adam? tapi ingin aku bicara, dengannya,"


"Apakah anda merindukan, Nona Ariana Tuan?" Dengan senyuman kecil, menatap Tuanmudanya.


Raut wajahnya seketika berubah pucat, saat Adam menanyakan hal itu. Dia memang sangat merindukan Ariana, padahal mereka baru saja beberapa jam lalu berpisah.


Tapi itulah seorang Zain Pratama, tidak mungkin mengakui perasaannya pada siapapun, kalau dia telah jatuhcinta pada istrinya, Ariana.


"Tentu saja tidak, bodoh!! manamungkin, aku merindukan dia." Dengan berusaha, meyakinkan Adam.


Adam tersenyum kecil, saat mendengar jawaban dari Zain. Dan pria itu sangat yakin, kalau Tuanmudanya telah jatuhcinta pada istrinya.


Seketika tatapan Zain, menatap Adam dengan tatapan tidak suka, sebab dia sudah mulai berpikir yang tidak-tidak, mengenai sekretrisnya itu.


"Jangan sampai, diam-diam kau memiliki perasaan pada Ariana?! awas saja, jika hal itu benar, aku akan memecatmu Adam?!"


Tersenyum kecil, saat mendengarkan apa yang dituduhkan Zain, padanya.


"Apakah Tuan sudah lupa, kalau Tuanlah yang meminta saya meminta nomor ponsel Nona,"


"Ya, mungkin saja aku sudah lupa,"


"Apakah saya perlu menghubungi Nona, Tuan?"


"Tidak perlu, nanti dia jadi besar kepala. Dan mengirah, aku telah jatuhcinta padanya."


"Baiklah Tuan, kalau begitu saya akan kembali keruang kerja saya sekarang. Karena proyek yang kita bahas, sudah selesai." Ucap Adam dengan melangkah keluar dari ruang kerja itu, tapi seketika langkahnya kembali terhenti, saat Zain memanggilnya.


"Adam.."


Senyuman kecil membingkai diwajah Adam, saat mendengar panggilan itu. Membalikkan badannya, dan berpura-pura bertanya.


"Ada apa Tuan, apakah ada yang perlu saya kerjakan lagi?"

__ADS_1


"Kau hubungi dia, sekarang." Titah Zain, dengan nada tegas.


"Dia siapa, Tuan?" Tanya Adam dengan berpura-pura tidak tau.


Mengehembuskan napas, berusaha menahan rasa kesalnya pada Adam.


"Tentu saja, istriku bodoh!! memang, siapa lagi?!"


"Baik, Tuan?" Jawab Adam, dengan segera menghubungi Ariana.


Zain terlihat begitu gelisah, saat Adam belum memberikan ponselnya, karena Ariana belum jugA mengangkat telepone dari sekretrisnya itu.


"Apakah dia belum juga, mengangkatnya?"


"Belum Tuan,"


"Mungkinkah dia sedang bersama, deengan Bosnya yang tidak tau malu itu?!" Dengan raut wajah, yang terlihat begitu kesal.


"Sudah diterima, Tuan," Ucap Adam, dengan langsung memberikan ponselnya pada Zain.


Saat meraih ponsel dari tangan sekretarisnya, Zain tidak langsung berbicara. Lelaki itu bingung, harus mengatakan apa pada istrinya, dan dia nampak seperti orang yang baru saja menjalin sebuah hubungan percintaan.


"Apa yang harus aku katakan, padanya Adam?"


"Anda bisa menyakan pada Nona, sedang buat apa? sudah makan, atau belum?"


Menghembuskan napas, dan menempelkan benda itu, didekat telingahnya.


"Hallo Adam! kenapa kau, diam saja?" Tanya Ariana, diseberang sana.


"Ini aku, bodoh!! kenapa kau begitu, bodoh Ariana? apakah kau sedang menunggu, telepone dari sekretarisku?!" Dengan nada, yang terdegar kesal.


"Sayang maafkan aku. Aku tidak tau, kalau ini kau yang menelpone."


"Yaa, yaa, yaa. Kali ini, aku memafkanmu. Katakan apa yang sedang kau lakukan, apakah kau sedang bersama dengan Bosmu, yang tidak tau malu itu?!"


"Tidak Sayang, hari ini aku tidak masuk kerja. Dan Sayang, apakah kau sudah makan?"


Rona bahagia terlihat jelas diwajah tampan itu, saat mendapatkan perhatian kecil dari Ariana.


"Apakah, sedang mengkhawatirkan diriku Ariana?"


Zain Pratama.



Ariana.

__ADS_1



__ADS_2