
Zain terus memanggil istrinya, ditengah pencariannya, dan dia tidak tau, ada sebuah tubuh yang terbaring tidak berdaya dibawah kaki bukit yang baru saja dia lewati.
Matanya perlahan terbuka, dengan pandangan sedikit buram, dan terlihat suasana yang begitu gelap, yang membuatnya diliputi rasa takut.
Samar-samar Araa mendengar teriakan seorang pria yang memanggil namanya, dan dia meyakini itu adalah suaminya, Zain.
"Sayang...?" Dengan suara yang begitu melemah, dan tidak sanggup menjawab teriakan suaminya. Airmata semakin menetes, rasa takut terlihat jelas diwajahnya, saat mendengar lolongan anjing, atau pun hewan lain yang mengeluarkan sauranya dimalam yang terlihat begitu mencekam. Apalagi suara panggilan Zain yang semakin terdengar jauh, membuat Ariana semakin menangis, dan ketakutan karena tidak bisa berbuat apa-apa.
"Sayang..., tolong aku, aku takut.., aku takut..." Dengan deraian airmata, dan hanya bisa tertidur karena tubuhnya yang tidak mampu untuk bangun.
Rasa sakit semakin mendera, tubuhnya begitu kesakitan, terdapat beberapa goresan luka yang terlihat, dan dia semakin tak kuat menahan rasa sakit yang mendera sekujur tubuhnya, hingga akhirnya Ariana pun pingsan tak sadarkan diri.
Zain, dan Adam terus menyusuri hutan untuk mencari keberadaan Ariana, hingga tidak terasa pagi hampir menyambut mereka. Zain terlihat begitu frustasi, dan tampak keputusasaan diwajahnya saat ini.
"Araa....?" Teriaknya yang begitu menggema, didalam hutan itu.
Dimana istriku, Adam..? dimana istriku...?" Teriaknya, seraya mencengkram kuat baju milik seketarisnya.
"Kita akan mencari Nona, Tuan? kita akan mencarinya." Dengan cucuran keringat yang sudah membasahi dahinya, akibat rasa takut yang teramat sangat.
Melepaskan dengan kasar cengkraman tangannya, hingga membuat laki-laki tampan itu sedikit terhuyung.
"Kita harus mencarinya kemana, Adam? kita harus mencarinya kemana? bagaimana kalau ada apa-apa dengannya, ini sudah hampir pagi, tapi kita tidak menemukan dia juga." Dengan raut wajah yang terlihat frustasi, dan menyimpan kesedihan yang teramat sangat.
Adam menghembuskan napas dalam, dan dia tampak merasa iba, saat melihat keadaan Tuanmudanya, yang terlihat begitu frustasi.
__ADS_1
"Tuan, sebaiknya kita pulang untuk beristirahat. Besok baru kita lanjutkan pencahariannya."
"Tapi, Adam...?" Jawab Zain, yang enggan berhenti dari pencariannya.
"Ayo Tuan? karena bagaimanapun, anda juga butuh istirahat."
Menghembuskan napas, dan akhirnya dengan berat hati, Zain menyetujui keingian sekretrisnya, untuk meninggalkan hutan.
"Baiklah, ayo kita pulang."
****
Zain melangkahkan kaki menuju kamarnya, yang berada dilantai dua. Kegundahan terlihat jelas dari raut wajah lelaki tampan itu. Apakah ini cinta, diapun tak tahu. Yang dia tahu, dia tak sanggup berada jauh dari wanita yang biasa dia panggil Culun itu.
Masuk kedalam kamar, dan tersenyum menatap ranjang miliknya. Dan masih teringat dengan jelas, bagaimana istrinya itu begitu menikmati sentuhan yang dia berikan, disaat aktifitas bercinta mereka. Duduk ditepi ranjang, dengan senyum kehampaan yang terlihat jelas diwajahnya saat ini.
Awas saja jika kau kabur bersama laki-laki lain, aku tidak segan-segan akan membunuhmu, dan laki-laki itu juga. Atau aku akan menceraikanmu." Meluapkan semua kesedihan, dan rasa kesalnya yang bercampur menjadi satu dalam dirinya.
Larut dalam kesedihan yang mendalam, hingga suara ketukan pintu membuyarkan lamunannya, dan teralihkan kearah pintu.
"Siapa..?" Bertanya, dengan raut wajah yang terlihat penasaran.
"Ini aku Clara, Zain?"
Menghembuskan napas dalam, dan beranjak dari duduknya menuju pintu kamar itu.
__ADS_1
"Ada apa?" Bertanya, saat sudah membuka pintu.
Clara tidak langsung menjawab, apa yang ditanyakan mantan kekasihnya. Tatapan matanya menatap dengan intens Zain, terutama pada bagian matanya yang tampak sembab. "Mungkinkah, dia sudah jatuhcinta pada siculun itu?" Bathinnya, yang begitu penasaran.
"Ada apa perlu apa, hingga kau datang kemari, Clara?" Bertanya denga nada yang terdengar kesal, hingga mengejutkan wanita itu dari lamunannya.
"Aku datang hanya mau mengantarkan minuman, hangat ini untukmu. Mungkin saja dengan meminum minuman ini, bisa menenangkan sedikit pikiranmu, Zain?"
"Maaf, aku sedang tidak berselerah." Dengan ingin menutup pintu kamar, tapi seketika Clara langsung mencekalnya.
"Aku mohon, Zain? jangan seperti ini, dan biarkan aku masuk. Aku hanya ingin memperbaiki hubungan kita." Tatapan penuh harap, menatap laki-laki tampan itu.
Menghembuskan napas dalam, berusaha menahan rasa kesalnya pada Clara.
"Tapi aku sudah tidak mencintamu lagi, Clara?"
"Tapi aku masih mencintaimu, Zain? lagi pula sianak pungut itu, sudah pergi. Bisa saja dia pergi bersama, dengan laki-laki lain."
"Keluarlah, aku ingin tidur." Dengan ingin menutup pintu, tapi sekali lagi Clara mencekalnya.
"Baiklah, tapi setidaknya ambilah minuman ini."
Tatapan matanya menatap Clara, yang tengahmenatapnya dengan tatapan penuh harap, hingga membuat Zainpun luluh dan memutuskan untuk menerima minuman itu.
"Baiklah, dan terima kasih karena sudah perduli padaku. Tapi maaf aku sedang ingin sendiri." Dengan kembali menutup pintu, tanpa memperdulikan keberadaan Clara yang berada didepan.
__ADS_1
Raut wajahnya terlihat begitu memerah, dan terselip rasa kesal yang teramat sangat pada Ariana.
"Walapun dia tidak berada disini, tapi tetap saja aku sulit menaklukkan Zain."