
Melangkakan kaki kedalam kamar, dan menjumpai kamar dalam suasana gelap, dan hanya menjumpai lampu tidur saja, yang menerangi kamar itu.
Menghampiri Ariana yang tengah meringkuk dalam selimut tebal, yang menutup seluruh tubuhnya. Dengan paksa Zain membuka selimut itu, dan mendapati wajah Ariana terlihat pucat, seraya merintih kesakitan.
"Kau kenapa? apakah kau sedang, sakit?" Bertanya, dengan raut wajah yang terlihat begitu khawatir.
Ariana tidak menjawab, dia terdiam serta terus merintih.
Rauta wajah Zain seketika terlihat begitu panik, dan dengan segera dia berlari keluar kamar, dan memanggil sekretarisnya, dengan suara yang begitu menggelegar, hingga suara panggilan itu membangunkan para penghuni rumah.
"Adam..?"
Mendengar panggilan Tuanmudanya, dengan suara yang begitu menggema, membuat Adam terjaga dari mimpi indahnya. Mengahampiri Zain, dengan wajah bantalnya.
"Ada apa Tuan? apakah telah terjadi, sesuatu?" Bertanya, dengan raut wajah yang terlihat begitu panik.
"Zain, ada apa? apakah ada sesuatu yang terjadi?" Tanya Celine, yang datang bersama Clara.
"Iya Zain, kau mengejutkan kami. Padahal aku baru mau saja, tidur."Timpal Clara, dengan mimik cemberut.
"Ariana sakit, Adam?! kau hubungi Jack, suruh dua datang, sekarang juga."
"Baik Tuan, saya akan menghubungi Dokter Jack sekarang."
Setelah memimta Adam menghubungi Jack, Zain segera berlalu kembali kekamar, tanpa memperdulikan Celine, dan CLara disana.
Melihat kekhawatiran Zain yang teramat sangat pada istrinya, membuat Clara diliputi rasa cemburu.
"Dia pasti berpura-pura sakit, hanya untuk menarik perhatian Zain." Ucap Clara, dengan raut wajah yang terlihat kesal.
Celine menghampiri Clara, yang tengah menahan rasa kesalnya, memegang kedua pundak wanita itu, guna menenangkan.
"Kau tidak perlu khawatir, Bibi akan membantumu, untuk mendapatkannya kembali."
Memaksakan diri untuk tersenyum, saat mendengar apa yang dikatakan wanita paruhbaya itu.
"Kau janji Bibi? akan membantuku, untuk mendapatkan Zain kembali?"
"Tentu saja Bibi Janji. Bibi akan membantumu, untuk mendapatkan Zain kembali."
"Terima kasih, Bibi? karena sampai sekarang, kau masih mendukungku untuk kembali bersama Zain."
"Tentu, karena hanya kau yang pantas mendampinginya."
****
Menghembuskan napas kasar, dan tatapan matanya menatap dengan sinis, pengusaha tampan itu.
"ini Adam, resep obatnya. Dan pergilah tebus sekarang, kasian Nonamudamu."
"Baik Dokter, Jack? saya akan pergi keapotik sekarang, untuk menebus obatnya." Jawab Adam, dengan berlalu keluar dari kamar itu.
__ADS_1
Zain mengernyit heran, menatap Jack yang sedari tadi menatapnya dengan tatapan tidak suka.
"Kenapa kau menatapku, seperti itu? apakah aku sudah melakukan, kesalahan?"
Tatapan Jack beralihkan menatap Ariana, yang tengah berbaring diranjang, dengan keadaan yang sudah terlihat lebih membaik.
"Nona, bolehlah aku berbicara dengan suami sebentar?"
Tidak menjawab, dia hanya mengangukkan kepalanya sebagai jawaban ia, menjawab pertanyaan Dokter itu.
"Memang apa yang kau ingin bicarakan denganku, Jack?" Bertanya, dengan nada penasaran.
"Ayolah, kita keruang kerjamu saja."
Menghembuskan napas, sebelum mengiyakan keinginan Jack.
"Baiklah, ayoo kita keruang kerja!!?
Dan kau beristirahatlah, aku tidak akan lama." Pamit Zain dengan mengikuti langka kaki Jack, yang sudah keluar terlebih dahulu.
****
Kini kedua pria dewasa itu, sudah berada diruang kerja, milik Zain pratama, dan dia terlihat begitu penasaran, dengan apa yang akan dibicarakan Jack padanya.
"Katakan padaku, ada apa? sepertinya ada sesuatu yang penting hingga kau mengajakku bertemu disini." Bertanya, dengan raut wajah penasarannya.
"Istrimu terlihat begitu syok, apakah kau baru saja melakukan sesuatu yang membuat mentalnya terguncang?"
" Kau sepertinya memaksanya untuk melakukan hal itu, karena dia merasa nyeri pada **** *************, dan untung saja istrimu sedang tidak mengandung, kalau tidak bisa keguguran."
"Apakah dia sedang, mengandung?"
"Aku bilang, tudak bodoh?!" Jawabnya, kesal.
"Padahal, aku berharap dia segera mengandung anakku."
"Apakah kau, mencintainya?"
"Ntalah, aku tidak tau."
"Terus bagaimana dengan, Clara? aku melihat dia sedang berada dirumah ini."
"Aku, dan dia sudah tidak punya hubungan apa-apa lagi."
"Tapi kau masih sangat mencintainya, bukan?"
Mendecak kesal, saat mendengar apa yang dikatakan sahabat Dokternya itu.
"Kau terlalu mencampuri urusan pribadiku, Jack?!"
"Baiklah-baiklah, aku tidak akan mencampuri urusanmu lagi. Setidaknya disaat bercinta dengan istrimu, lakukan dengan lembut. Dan kalau begitu aku pulang dulu." Ucapnya, dengan berlalu, dari ruang kerja itu.
__ADS_1
"Pergilah sekarang?! karena kau sangat mengganggu." Jawabnya kesal, dengan menatap Jack yang telah berlalu pergi.
****
Menapaki kakinya keluar dari ruang kerja itu, dan saat melangkah menuju arah tangga, Zain berpapasan dengan Bibinya, Celine.
"Istrimu sakit apa, Zain? kenapa dia selalu saja merepotkanmu."
"Dia hanya demam biasa, dan maaf Bibi, aku harus segera kembali kekamar."
"Kenapa kau tidak menceeraikan dia saja!! dan kembali pada Clara. Bibi tau, kau masih sangat mencintai mantan kekasihmu itu. Lagi pula, Clarapun masih mencintaimu juga."
"Maaf Bibi?! aku tidak bisa menjawab pertanyaanmu, dan maaf aku harus segera kembali kekamar." Jawabnya, dengan berlalu begitu saja.
Raut wajah Celine seketika memerah, saat mendapati jawaban dari keponakannnya itu, dan itu semakin memacuh keinginannya untuk memisahkan Zain, dan juga Ariana.
"Aku akan mencari cara, agar Zain berpisah dengan anak yang tidak jelas asal usulnya itu."
****
Membuka pintu kamar, dan mendapati Ariana tengah berbaring diatas ranjang.
"kenapa kau belum tidur?" Bertanya, dengan merangkak naik keatas ranjang, dan berbaring disamping istrinya.
"A..aku, belum mengantuk, Sayang?" Jawabnya, dengan raut wajah yang terlihat gugup, akibat rasa takut.
"Kau takut, padaku?" Bertanya, dengan menatap Ariana yang hanya menunduk.
"Tidak, aku tidak takut padamu." Jawabnya, dengan mencoba untuk berani.
"Dua hari lagi kita akan kevila, aku akan mengajakmu berlibur disana."
Seketika Ariana mendongakkan kepala, menatap dengan intens wajah tampan itu.
"Kau serius, Sayang? kau akan mengajakku, kevila?"
"Tentu, itu kalau kau mau."
"Tentu saja, aku sangat mau Sayang? tentu saja, saja aku sangat mau." Jawabnya, yang terlihat antusias.
"Kalau begitu kemarilah..?"
Terdiam, dan Ariana terlihat ragu untuk dekat dengan suaminya, saat mengingat kejadian tadi, bagaimana kasarnya pria itu padanya.
"Kemarilah..?" TItahnya, sekali lagi.
Menatap wajah tampan itu beberapa detik, dan memutuskan berbaring disebelahnya. Walaupun ada sedikit keraguan dalam dirinya, tapi Ariana mencoba untuk berani.
"Tidurlah, ini sudah sangat malam."
"Baiklah." Jawabnya, dengan memejamkan mata menuju alam mimpi.
__ADS_1