Terjerat Cinta Si Culun

Terjerat Cinta Si Culun
Menemui mantan menantu


__ADS_3

Langkah kaki David terlihat tergesa-gesa, saat kedua kakinya membawa pria parubaya itu, kedalam kediamannnya setelah dirinya menempuh perjalanan, selama beberapa jam lamanya dari luar kota.


Raut wajah yang terlihat lelah, dengan guratan-guratan yang terlihat semakin bertambah pada wajah tuanya, akibat amarah yang sedari tadi sudah dibendungnya, usai mengetahui pemberitaan tentang putrinya.


"Diana.... Diana..... Clara.... Clara....." Suara panggilan yang begitu menggema, saat dirinya sudah berada didalam rumah.


Alma sang pelayan segera menghampiri asal suara, dan dia sedikit terkejut ketika mendapati majikan prianya.


"Tuan..." Gumamnya.


Tuan, anda sudah pulang?"


Kedua bolamata itu teralih pada Alma, yang tengah berjalan menuju kearahnya.


"Dimana Nyonya, dan Clara?" Raut wajah yang terlihat begitu memerah, saat dirinya mengajukan pertanyaan itu.


"Mereka ada Tuan. Nyonya, dan Nona Clara sedang berada dikamar mereka."


Usai mendapat jawaban dari pelayan rumahnya, David segera melenggangkan kedua kakinya, menuju arah tangga dengan langkah kaki yang begitu cepat.


Hembusan napas yang terdengar berat, dengan raut wajah yang terlihat begitu khawatir yang membingkai penuh diwajah Alma. Dan dirinya meyakini, kalau majikan prianya itu pasti sudah tau, perihal masalah yang menimpah putrinya. Dan melihat kemarahan yang terlihat diwajah Tuannya, Alma meyakini kalau putri dari majikannya itu, pasti akan mendapat amukan dari orang tuanya lagi. Kedua jemarinya saling meremas, menyalurkan rasa gelisah yang membelenggu diri wanita paruhbaya itu.


"Kasian Nona Clara, harus menghadapi amukan dari ayahnya." Gumamnya, dengan kedua bolamata terus tertuju pada arah tangga.


****


Airmata terus saja mengalir dari kedua sudut matanya. Tak henti-hentinya Clara merutuki kebodohannya sendiri, yang sama sekali tidak mengetahui kalau Piter, selalu saja merekam aktifitas panas mereka, setiap mereka melakukan hal itu.


"Dasar laki-laki brengsek!! biadap?! kenapa aku begitu bodoh, sampai tidak mengetahui kalau dia selalu saja merekam saat kami melakukan hal itu," Segala makian diluapkan, pada pengusaha itu.


Terdengar gedoran pintu yang begitu keras, dan juga suara panggilan didepan kamarnya, hingga membuat raut wajah Clara seketika diliputi ketegangan.


"Clara....! Clara buka pintunya, buka pintunya Clara..?"


Raut wajah Clara seketika berubah pucat, saat mendengar suara Papanya disana. Segera beranjak dari duduknya, dengan jemari saling meremas, yang menyalurkan berbagai perasaan dalam dirinya.


"Papa..." Gumamnya.


"Clara... Clara...., buka pintunya, buka pintunya Clara...?"


Airmata semakin deras mengalir dari kedua sudut mata wanita berambut pirang itu, saat mendapatkan kembali panggilan dari ayahnya, dan dia meyakini kalau ayahnya pasti sudah mengetahui tentang video panasnya yang tersebar didunia maya.


"Clara... buka pintunya..., Papa mau bicara denganmu..." Panggilnya, dengan nada penuh penekanan.

__ADS_1


Rasa takut semakin membelenggu, tapi tidak mungkin dia akan terus menghindar dari ayahnya david. Walaupun takut, tapi Clara tidak mempunyai pilihan lain, selain bertemu dengan ayahnya. Dengan langkah pelan dirinya menghampiri pintu, dan membukanya.


Pintu kamar terbuka lebar, dan menampilkan wajah geram ayah David.


Dengan perlahan Clara mendongakan kepala, menatap ayahnya David, dengan airmata yang sudah kembali mengalir akibat rasa bersalah dalam dirinya.


"Papa..."


Kedua bolamata itu terlihat begitu menghunus, saat berhadapan dengan putrinya. Emosi tak sanggup dibendung lagi oleh pria paruhbaya itu, hingga tanpa dia sadari tangan besarnya sudah melayangkan tamparan yang cukup keras pada pipi putrinya.


"PLAAAKKK" Yang membuat Clara, seketika terhempas kelantai.


Clara kembali menangis, setelah mendapat tamparan dari ayahnya David.


Surat kabar yang berada dalam genggaman pria tua itu, seketika dilemparkan dengan kasar kearah anaknya.


"Katakan pada Papa Clara, apakah semua itu benar...? apakah semua yang ditulis dalam surat kabar itu semuanya benar..? kalau kau sudah melakukan hal yang sangat memalukan itu..?" Dengan teriakan, yang begitu menggema.


"Maafkan aku Papa... maafkan aku. Aku melakukan semua itu, karena aku sangat mencintai Zain, aku sangat mencintainya Papa..." Ucapnya, disela airmata yang terus mengalir.


David mengusap kasar wajahnya, dengan tatapan mata sudah berkabut akibat airmata. Seraya menggeleng kepala tak percaya, mendengar apa yang dikatakan anak perempuannya.


"Kamu sudah membuat Papa malu Clara? Papa tidak menyangkah, kau akan melakukan hal serendah ini. Dan gara-gara perbuatanmu, Papa harus menjadi buah bibir diperusahaan tempat Papa bekerja. Papa tau kau sangat ingin memiliki Zain kembali, tapi Papa tidak menyangkah kau akan sampai melakukan hal serendah itu, hanya untuk dapat kembali memiliki mantan suami adikmu itu,"


"Maafkan aku Papa... maafkan aku,"


****


Dua hari telah berlalu, dan dua hari ini pula David belum kembali keluar kota, untuk melakukan aktifitasnya seperti biasanya, sebagai salahsatu Direktur dari sebuah perusahaan, yang terletak dipinggiran kota.


David mendongakan kepala keatas, menatap sebuah gedung yang menjulang tinggi, dimana perusahaan itu dibawah pimpinan mantan menantunya.


Hembusan napas terdengar berat sebab dirinya enggan bertemu dengan Zain, mengingat apa yang dilakukan Clara, tapi saat ini dia tidak punya pilihan lain.


Dengan langkah kaki yang terasa berat, kedua kakinya membawa pria paruhbaya itu, kedalam gedung bertingkat itu.


Segera menghampiri resepsionis, untuk mempertanyakan keberadaan pimpinan dari PRATAMA GROUP, saat dirinya sudah berada didalam.


"Selamat siang Nona?" Sapa David pada sang resepsionis, yang diketahui bernama Rose.


"Selamat siang juga Tuan, ada yang bisa saya bantu?" Sapanya, dengan senyuman pada pria tua itu.


"Saya ingin bertemu dengan PRESDIR, dari PRATAMA GROUP. Apakah beliau berada ditempat?"

__ADS_1


"Tuan Zain saat ini ada. Tapi apakah anda, sudah mempunyai janji sebelumnya dengannya dengan beliau, Tuan?"


"Sayangnya belum Nona? dan bisakah anda memberitahukan padanya, kalau saya David Mahesa yang ingin bertemu dengannya."


"Baik Tuan, saya akan menghubungi Pak Zain sekarang." Dengan jemari meraih gagang telepone, seraya menekan angka 1 yang terhubung langsung keruangan PRESDIR.


****


Keduanya tengah membahas masalah pekerjaan, saat dirinya meminta pendapat Adam sang sekretaris, tentang pembangunan proyek besar, yang dimenangkan perusahaan miliknya. Hingga suara telepone yang berada diatas meja, seketika mengalihkan tatapan kedua pria itu.


"Hallo Rose, ada apa?"


"Maaf Tuan, ada tamu yang ingin bertemu dengan anda."


"Apakah sebelumnya, dia sudah memiliki janji denganku?"


"Belum Tuan,"


"Katakan siapa dia?"


"Beliau bernama Tuan David Mahesa."


Kedua alisnya bertaut, hingga menimbulkan guratan pada wajah tampannya, karena rasa penasaran saat mendengar ayah dari mantan istrinya yang ingin bertemu dengannya.


"Tuan David Mahesa..?"


"Iya Tuan, dia Tuan David Mahesa." Jawab Rose, mempertegas apa yang dia sampaikan.


"Baiklah, ijinkan saja dia masuk."


"Baik Tuan.." Dengan mengakhiri panggilan teleponenya.


Zain segera menyandarkan pundaknya pada sandaran kursi, setelah mengakhiri panggilan telepone dengan resepsionisnya.


"Tadi saya mendengar anda menyebut nama mantan ayah mertua anda. Apakah beliau yang datang untuk menemui anda Tuan?" Adam bertanya, saat mendapati raut wajah gelisah Tuanmudanya.


Tatapannya beralih menatap Adam, yang tengah menanti jawabaan darinya.


"Iya. Ayah dari Ariana yang ingin bertemu denganku. Menurutmu ada hal penting apa yang ingin dia bicarakan denganku? bukankan hubunganku, dengan kedua putrinya sudah berakhir?"


"Ntahlah Tuan, kita lihat saja nanti."


Maaf aku baru up, karena beberapa hari lalu laptopeku terkena air. Kemari mau up, tapi masih sedikit gangguan, dan muda-mudahan sudah kembali normal.

__ADS_1


__ADS_2