Terjerat Cinta Si Culun

Terjerat Cinta Si Culun
Datang menemui mantan suami.


__ADS_3

Diruang kerjanya, Zain dan Clara terlihat begitu akrab seraya berbincang-bincang, setelah menikmati makan siang mereka.


Tiba-tiba saja Zain sedikit kaget, saat wanita itu menggenggam jemarinya.


"Ada apa, Clara?" Bertanya dengan masih membiarkan Clara, menggenggam jemarinya.


Tatapannya begitu dalam, menatap pria didepannya. Akibat rasa cinta, dan sayang yang masih begitu besar, pada seorang Zain Pratama.


"Aku masih mencintaimu, Zain? apakah betul-betul sudah tidak ada tempat untukku, dihatimu lagi?"


Helaan napas terdengar berat, saat mendapat pertanyaan dari mantan kekasihnya, yang sulit dia jawab.


"Aku.." Dengan menjeda, kalimatnya sejenak.


Clara menggenggam jemari tangan Zain semakin erat, dan tatapan yang semakin mendekat kewajah pria itu.


"Aku tau, aku sudah melakukan kesalahan yang sangat fatal dengan berselingkuh dengan Jason. Tapi aku mohon, beri aku kesempatan satu kali lagi, untuk dapat memperbaiki semuanya."


Raut wajah tampan itu menatap lekat Clara, dan terlihat kesunguhan pada wajah cantik itu.


"Apakah kau janji, tidak akan menyakitiku Clara?" Bertanya, untuk memastikan.


"Aku janji. Aku janji, tidak akan pernah menghianati hubungan kita lagi, jika kau memberi kesempatan untuk memperbaikinya."


"Baiklah aku mau. Aku mau kita, kembali bersama."


Kedua bolamata itu seketika menatap intens wajah tampan sang pengusaha, berusaha mencari kesungguhan dari ucapannya.


"Kau serius, Zain? kau sedang tidak berbohong padakukan?" Tanyanya dengan bolamata berbinar, berusaha memastikan apa yang dikatakan lelaki itu.


"Iya aku serius. Aku mau kita memulai semuanya, kembali dari awal lagi."


Senyum sumringah membingkai diwajah cantik Clara, dan terlihat rona bahagia disana. Karena merasa tidak sia-sia, dengan perjuanganya selama ini, agar mendapatkan kembali memiliki hati pria itu.


"Terima kasih Zain, terima kasih karena sudah mau menerimaku kembali. Dan aku janji padamu Sayang, tidak akan pernah mengecewakanmu." Ucapnya dengan merangkul penuh tubuh pria itu karena terlalu bahagia.


Zain membalas pelukan Clara, walaupun hatinya sampai saat ini masih tetap milik Ariana.


"Mungkin dengan menerima kembali Clara, perlahan aku bisa melupakan rasa sakit hatiku pada Ariana." Bathinnya.

__ADS_1


Clara mendongakkan kepala, menatap mantan kekasihnya. Jemari itu perlahan membelai lembut pipi pria itu, dan berhenti pada bibir seksinya. Menatap dengan intens, dan betapa dia mencintai pria didepannya.


"Aku mencintaimu, Zain.." Ucapnya dengan berbisik pelan, dan melabukan ciuman panjang pada bibir lelaki itu. Sesaat Zain hanya membiarkan kekasihnya beraksi sendirian, namun perlahan dia itu mulai menikmatinya, dan membalas ciuman dari Clara.


****


Detik terus berjalan menyapa jam yang terus berdenting, hingga tidak terasa hari terus berlalu, dan sudah satu bulan terlewati.


Perutnya sudah semakin membuncit, dan diusia kandungan yang sudah memasuki bulan ke 4.


Dengan iseng Ariana membuka IGnya, dan dia sangat terkejut hingga airmata tanpa dia sadari telah menetes, saat melihat foto-foto kebersamaan Clara, dan juga mantan suaminya yang terlihat begitu mesrah.


"Jadi mereka sudah kembali bersama," Dengan menjeda kalimatnya sejenak, mengusap airmata yang terus mengalir.


Tanganya menyentuhperut buncit itu, dengan kesedihan yang semakin mendalam dia rasakan.


"Papamu sudah benar-benar melupakan kita, Nak?" Gumamnya. Ariana melempar jauh tatapannya kedepan, menatap keindahan kota Jakarta dari lantai 8. Walaupun hatinya hancur mengetahui kenyataan, dengan kembali bersamanya saudara anagkatnya, dan mantan suaminya, tapi pemilik rambut hitam itu tetap berusaha tegar, untuk bayi dalam kandungannya.


Aku harus kuat, demi anakku. Karena hanya dia yang aku punya." Gumamnya menyemangati diri sendiri, dan kembali melangkah kedalam apartemen. Tapi seketika langkah itu terhenti, saat mendengar suara perbincangan via telepone Rani, dan seseorang, yang membuat Ariana begitu kaget.


"Bagaimana bisa, pergelaran busana ini gagal? bukankah kalianpun tahu, kalau aku sudah mengeluarkan uang yang banyak untuk terlaksananya acara ini. Bahkan aku sudah mengundang, banyak tamu-tamu penting untuk hadir dipergelaran busana ini."


"Baiklah, kalau begitu nanti baru kita lanjutkan lagi teleponnya." Ucap Rani dengan nada memelas, dan memutuskan sambungan teleponenya.


Rani menduduki kursi, yang berada disampingnya. Dan dia nampak menimang, dengan apa yang dikatakan oleh penyelenggara acara tadi, dan dalam dirinya meyakini, ini pasti adalah perbuatan Zain, yang tidak menginginkan Rani mengeluarkan Ariana dari apartemennya.


"Aku yakin, Zain berada dibalik ini semua. Karena dia tidak mau, kalau aku tinggal bersama Ariana. Dan ternyata dia benar- benar, membuktikan ucapannya."


Ariana menyandarkan pundaknya pada dinding apartemen itu, saat mendengar ucapan Rani. Dan dia tidak menyangkah jika pria yang masih dicintainya, tega menyakiti orang-orang terdekatnya.


"Kenapa kau begitu jahat Zain, bahkan kau menyakiti orang-orang yang sama sekali tidak tau apa-apa mengenai masalah kau, dan aku. Apakah sebegitu besarnya rasa bencimu, padaku Zain? hingga kau mau, aku betul-betul menderita." Dengan menjeda kalmatnya sejenak, dan mengusap airmata yang membasahi pipinya.


Ini semua gara-gara aku. Gara-gara aku, Nona Rani jadi gagal untuk melakukan pergelaran busana itu. Dan aku harus menemuinya." Gumam Ariana dengan berlalu pergi, tanpa berpamitan pada Rani.


****


PRATAMA GROUP.


Walaupun enggan untuk menemui mantan suaminya, tapi keadaan membuatnya tidak berdaya. Hingga mau tidak mau, Ariana harus menemui mantan suaminya. Sebab pria itu sudah melibatkan orang lain, dalam masalah mereka berdua. Pintu lift terbuka, dan wanita hamil itu segera melangkahkan kaki, menuju ruang kerja mantan suaminya.

__ADS_1


Menghampiri Adam, yang ruang kerjanya berhadapan dengan ruangan CEO, untuk memastikan Zain ada atau tidak diruangannya.


"Adam.." Panggilnya Ariana, saat Adam nampak sibuk memeriksa berkas-berkas penting.


Adam mendongakkan kepala, dan dia begitu kaget saat melihat keberadaan mantan istri Tuanmudanya.


"Nona Ariana, anda?" Dengan segera, beranjak dari duduknya.


Senyuman mengembang diwajah cantik itu, saat melihat ekspresi terkejutnya Adam.


"Apakah Tuanmudamu, ada diruanganya?"


"Ada Nona? Tuan sedang berada diruang kerjanya. Dan sudah berapa bulan, usia kandungan anda Nona?" Dengan menatap, perut buncit Ariana.


"Dia sudah berusia 4 bulan Adam, dan kalau begitu aku masuk dulu. Sebab ada hal penting, yang harus aku bicarakan dengannya."


"Silahkan Nona?"


Zain nampak sibuk dengan berkas-berkasnya, hingga dia tidak menyadari ke beradaan Ariana sudah berdiri didepan pintu, yang telah terbuka.


"Selamat siang, Tuan Zain?"


Mendengar suara sapaan, membuat Zain mengalihkan tatapannya. Dan dia sangat kaget, saat mendapati keberadaan mantan istrinya Ariana.


"Ariana? kau??"


Tanpa menunggu ijin dari mantan suaminya, Ariana langsung melenggangkan kakinya masuk kedalam ruang kerja, dan duduk disalasatu sofa tunggal.


Senyuman sinis membingkai diwajah tampan itu, saat melihat sikap mantan istrinya yang nampak acuh.


"Kau bahkan tidak punya malu, dan masih saja menampakan batang hidungmu didepanku."


"Aku tidak perduli dengan apa yang kau katakan. Dan aku langsung saja, dengan tujuanku datang kemari. Katakan padaku, apakah kau yang sudah membuatnya batalnya pergelaran busana, yang akan diadakan Nona Rani?" Bertanya, dengan nada yang terdengar tegas.


Menyandarkan pundaknya, dengan senyuman mencemooh menatap Araa.


"Ya aku berada dibalik itu semua. Karena dia sudah berani menampungmu, dengan membiarkan kau tinggal diapartemenya. Asal kau tau Ariana, keinginanku adalah membuat hidupmu menderita diluar sana." Jawabnya, santai.


Ariana hanya mengeleng pelan, saat mendengar apa yang dikatakan lelaki itu. Tatapan matanya seketika berkaca-kaca, hingga airmata sudah lolos begitu saja, tanpa dia sadari.

__ADS_1


"Kau sangat jahat Zain, kau sangat jahat?! kenapa kau tega melibatkan orang-orang, yang tidak tau apa-apa dengan masalah kita. Aku mohon padamu Zain, jangan libatkan mereka dalam masalah kita berdua, aku mohon Zain..?" Dengan tatapan memohon, dan airmata yang terus mengalir.


__ADS_2