
Tatapan matanya menerawang, menatap keindahan kota Jakarta, dari gedung bertingkat miliknya. Dan tersirat kesedihan disana.
Pintu ruangan terbuka, dan menampilkan sosok Adam, yang baru saja masuk kedalam ruangan kerja itu.
Menghembuskan napas yang terasa berat didadanya, saat mendapati Tuanmudanya, tampak melamun.
"Anda baik-baik saja, Tuan?" Bertanya, hingga mengejutkan laki-laki tampan itu, dari lamunannya.
Membalikkan badan, seraya menghembuskan napas berat sebelum menjawab pertanyaan sekretarsnya itu.
"Aku baik-baik saja, Adam?"
Beberapa detik kemudian, terdengar suara telepone masuk pada ponsel milk Zain Pratama. Adam meraih ponsel Tuanmudanya yang tersimpan diatas meja kerja, dan melihat nama Dokter Jack disana.
"Maaf Tuan, ada telepone dari Dokter Jack." Dengan menyerahkan phonsel tersebut, pada Zain.
Raut wajahnya seketika terlihat penasaran, dan tersimpan tanda tanya disana. Karena tidak biasanya, sahabat Dokternya itu menghubunginya, kalau bukan ada sesuatu yang penting.
"Untuk apa, dia menghubungiku?" Bertanya balik, pada sekretarisnya itu.
"Ntalah Tuan, angkat saja. Mungkin ada sesuatu yang penting."
Menghembuskan napas, dan diapun memutuskan untuk menerima telepone dari Jack.
Percakapan.
"Untuk apa kau menghubungiku?! apakah kau sedang, tidak ada pasien?" Dengan nada, yang terdengar kesal.
"Datanglah kerumah sakit XXX, sekarang. Istrimu Ariana, sedang berada disini, dan dalam keadaan koma.
Zain terdiam sesaat, raut wajahnya pucat pasih seketika. Dan dia terlihat syok, saat mendengar tentang Ariana saat ini.
"Tuan, apakah ada masalah?" Tanya Adam, saat melihat raut wajah Tuanmudanya, yang terlihat pucat saat menerima telepone dari Dokter Jack.
__ADS_1
"Aku akan kesana, sekarang." Dengan langsung memutuskan, sambungan teleponenya.
Tatapan matanya beralih menatap Adam, yang tengah menatapnya dengan tatapan penasaran.
"Ayo kita kerumah sakit sekarang, Ariana sedang berada disana." Dengan langsung meraih jasnya yang menggelantung dikursi kebesarannya, dan berlalu dari ruang kerja itu, diikuti oleh Adam.
****
Kemacetan tengah melanda kota Jakarta disiang itu, dan setelah menempuh perjalanan selama kurang hampir satu jam, kini tibahlah mereka, dirumah sakit yang terdapat dipinggiran kota Jakarta.
Setelah mobil mewahnya teparkir sempurna diarea parkir, Zain langsung menurunkan kedua kakinya, tanpa menunggu Adam membuka pintu mobil terlebih dahulu.
Langkah kakinya terlihat begitu tergesa-gesa, dan terlihat raut wajah yang terlihat tidak sabaran.
Saat tiba didalam rumah sakit, Zain mendapati sahabatnya Jack yang sudah menunggunya kedatangannya.
"Dimana istriku Jack, dimana dia?" Bertanya, dengan raut wajah yang terlihat begitu resah.
"Ayo ikut aku, dia sedang berada diruang ICU sekarang."
"Baik, ayoo?" Dengan melangkahkan kaki bersama Zain, dan Adam menuju ruang ICU.
Kini tibahlah mereka diruangan, dimana Ariana dirawat. Zain masih berpijak pada tempatnya, saat sudah didepan ruang dimana Ariana dirawat. Pengusaha tampan itu, seolah masih tidak meyangkah wanita yang mengisi hari-harinya, tengah terbaring tidak sadarkan diri didalam ruang ICU.
"Masuklah. Mungkin saja dengan kedatanganmu, bisa menyadarkan dia dari komanya."
"Iya, Tuan. Mungkin saja, Nona Ariana akan sadar dengan kedatangan anda."
Menghembuskan napas kasar, meraih gagang pintu dan melangkahkan kaki masuk kedalam ruangan.
Matanya tampak berkaca-kaca, tak bisa dipungkiri hatinya terkoyak melihat wanita yang biasa dia panggil culun, terbaring tidak berdaya diatas bed hospital, dengan berbagai alat bantu yang terpasang pada tubuhnya, untuk membantunya bertahan hidup.
Dengan langkah pelan dia menghampiri Ariana. Mengambil sebuah kursi kecil, dan diletakkan dipinggiran ranjang. Tatapan matanya menerawang, dan tersirat kesedihan yang mendalam disana. Perlahan tangannya meraih tangan wanita itu, dan mengecupnya dengan lembut, yang menyalurkan segala kerinduannya.
__ADS_1
"Ternyata kau disini, Culun? kau tau, aku begitu mengkhawatirkanmu. Aku mohon, bangunlah. Beberapa hari ini tidak ada kau, tidak ada yang mengurusku. Aku mohon bangunlah.., bangunlah Culun..? kalau kau tidak bangun, aku akan membunuhmu. Aku mohon bangunlah, bangunlah.." Dengan mata sudah berkaca-kaca, menatap Ariana yang belum juga sadarkan diri.
Ariana masih saja, setia memejamkan matanya. Hati Zain, semakin diliputi kesedihan, saat Ariana belum juga sadarkan diri.
"Kalau kau tidak bangun, aku akan menghancurkan keluargamu. Bangunlah bodoh!! bangunlah, aku mohon...?" Dengan menyandarkan kepalanya pada bed hospital, karena tak sanggup membendung kesedihannya lagi.
Kedua mata yang beberapa hari ini setia terpejam, perlahan terbuka saat mendengar suara seseorang memanggil namanya. Mengalihkan tatapan matanya kearah samping, dan mendapati keberdaan suaminya.
"Sayang...?" Panggilnya, pelan.
Zain mendongakkan kepala, dan betapa bahagianya laki-laki berambut hitam itu, saat mendapati istrinya telah sadarkan diri.
"Sayang...?" Panggil Ariana sekali lagi, dengan memaksakan diri untuk tersenyum.
Zain terlihat begitu bahagia. Tanpa mengucapkan sepata katapun, laki-laki tampan itu langsung memeluk tubuh wanita yang begitu sudah sangat dirindukan.
Terus memeluk tubuh Ariana, seolah tidak ingin melepaskan lagi, akibat kerinduan yang teramat sangat.
Jack, dan Adam yang berada disitu hanya tersenyum, dan mereka turut larut dalam suasana bahagia, yang diciptakan pasangan suami istri itu.
"Kenapa kau begitu bodoh, Culun? kenapa kau pergi begitu jauh. Apakah kau tidak tau, kalau aku sangat mengkhawatirkanmu?" Dengan tatapan kesal, menatap Ariana yang sedang terbaring lemah.
"Maafkan aku, maaf." Jawabnya, dengan suara yang terdengar lemah.
"Anda sudah sadar, Nona?" Tanya Alex yang baru saja datang, saat mendapati wanita yang ditolongnya sudah sadar dari komanya.
"Maaf, anda siapa?" Tanya Ariana balik, dengan senyuman kecil diwajahnya menatap Alex.
Zain terlihat begitu kesal, tak bisa dipungkiri dia dilanda api cemburu, saat melihat Ariana tersenyum pada pria lain.
"Siapa kau?! dan ada kepentingan apa kau datang kesini?"
"Maaf Tuan, saya.." Belum selesai Alex menyelesaikan kalimatnya, Jack sudah menyela.
__ADS_1
"Kau jangan cemburu dulu Zain, sebenarnya kau harus berterima kasih padanya."
"Buat apa, aku harus berterima kasih padanya." Jawabnya, ketus.