Terjerat Cinta Si Culun

Terjerat Cinta Si Culun
Menemui Stefanie


__ADS_3

Mobil mewahnya melaju, ditengah kemaramaian lalulintas kota Jakarta, dipagi hari. Kedua mata itu terlempar keluar, lewat kaca jendela yang telah dia turunkan. Tiba-tiba saja dia terpikir akan putrinya, yang belum dia lihat bagaimana rupanya itu.


"Adam..." Panggilnya tiba-tiba.


"Ada apa Tuan.."Adam melemparkan tatapan kekaca spion dalam mobil, mendengar panggillan tiba-tiba itu.


"Apakah putriku ikut bersama Ariana kewawancara pagi ini?"


"Tidak Tuan...Nona Ariana pergi seorang diri. Dan putri anda sedang bersama Nona Rani."


"Benarkah..?" Yang sedikit keget, saat mendengar apa yang dikatakan Adamnya.


"Iya Tuan... saya mendapatkan informasi itu dari anakbuah kita. Mereka terus saja memantau, disekitar apartemen."


Seringai jahat membingkai diwajah tampan Zain, mendengar apa yang baru saja dikatakan Adam barusan.


Hingga saat tiba dipersimpangan jalan lampu merah, yang memberhentikan kendaraan itu, Zain meminta Adam agar berbelok arah menuju boutuque.


"Adam..."


"Iya Tuan..."


"putar haluan keboutique. Aku ingin menemui putriku sekarang."


Kedua bolamata itu seketika intens, mencari keseriusan dari ucapan Tuanmudanya.


"Apakah anda serius Tuan?"


"Apakah aku terlihat sedang bercanda?! aku sangat peenasaran, dengan rupa putriku. Jadi aku ingin bertemunya sekarang."


"Baik Tuan.." Jawab Adam dengan memutar haluan, kearah kiri dimana menuju boutique milik Rani.


Senyuman terus mengembang diwajah tampan Zain, saat kendaraan roda empat itu membawanya menuju bouitique milik sahabatnya itu.


"Dia pasti sangat cantik." Dia bergumam sendiri, meyakini kalau anak pemepuannya itu memiliki paras yang begitu cantik.


Mobil terus melaju dengan heningnya suasana didalam mobil. Dia menurunkan kaca mobil, menghirup udara yang masih bersih, hingga kedua mata itu menangkap toko mainan yang terletak dipinggiran jalan.


"Adam..." Panggilnya tiba-tiba, saat terlintas dalam diri untuk membeli buahtangan buat putrinya.


"Ada apa Tuan..."


"kita berhenti ditoko mainan itu. Aku ingin membeli mainan untuk anakku."


Senyuman kecil terlukis diwajah tampan Adam, mendengar keinginan Tuanmudanya itu, dan dia tahu Tuanmudanya tengah bahagia.


"Baik Tuan.."


Kendaraan itu menepi terparkir, dIdepan toko mainan.


Sepatu pantofelnya saling bersentuhan, melangkah dengan gagahnya kedalam toko, dengan senyuman terus mengembang diwajahnya yang tampan.


"Selamat pagi Tuan-Tuan..." Salahsatu karyawan wanita menyapa, ketika kedua pria itu sudah berada didalam.


"Pagi. Aku ingin membeli mainan buat anak perempuanku. Masukkan saja yang mana menurutmu paling disukai anak perempuan, nanti sekretarisku akan membayarnya." Zain berucap, saat gadis muda itu beruap.

__ADS_1


"Baik Tuan..."


Sepasang matanya menyapu bersih seisi ruangan, dengan senyum yang tak pernah luntur.


"Aku jadi tidak sabar, ingin bertemu dengan putriku. Pasti sangat bahagia, tiap hari terus bersamanya." Zain bergumam, denga kedua kaki terus melangkah melihat boneka-boneka yang berjejer rapi itu.


"Tuan.. ayo kita pergi." Adam menyambangi Tuanmudanya, saat tatapan pria itu terfokus pada boneka Hello Kitty besar


Membalikan tubuhnya, dan hanya terlukis senyuman kecil saat mendapati kedua tangan Adam, yang memegang dua kantong berisi banyak mainan untuk anaknya.


"Sepertinya putriku, akan menyukai boneka ini juga Adam?"


"Apakah tidak terlalu banyak Tuan..."


"Tentu saja tidak. Bukankah uangku ini adalah milik anakku juga. Aku mencari uang buat siapa, kalau bukan buatnya, dan juga Ariana."


"Maaf Tuan.. hanya untuk putri anda. Bukankah Nona Ariana berstatus mantan istri anda?" Adam mengkritik ucapan Zain.


Senyuman itu seketika memudar, berganti tatapan tajamnya saat mendengar apa yang dikatakan Adam barusan.


"Bisakah kau tidak mengatakan sesuatu yang dapat melukai perasaanku Adam?!" Nada sudah mulai meninggi, dari sebelumnya.


"Maafkan saya Tuan... saya hanya mengatakan yang sebenarnya. Bukankah Nona Ariana berstatus mantan istri anda?"


Melemparkan boneka besar Hello Kitty pada sekretarinya dengan kasar, hingga membuat genggaman tangan yang memegang dua kantog besar itu terlepas, saat menangkap boneka besar itu.


"Bayar itu! aku akan tunggu dimobil." Serunya datar, dengan berlalu dari dalam toko itu.


"Tuan.. tapi bagaimana dengan mainannya.. saya tidak bisa membawanya terlalu banyak." Dengan sedikit teriakan, saat Zain sudah berlalu pergi.


****


Rambutnya terkuncir dua. Gadis kecil itu berlarian kesana kemari, dengan kedua kaki kecilnya tanpa mengenal lelah.


"Jangan lari-lari Stefanie.. nanti kau jatuh.." Senyuman kecil membingkai diwajah Rani, memperingatkan Stefanie yang begitu aktif.


"Aku tidak akan jatuh Bibi? bukankah aku sudah besar? dan sebentar lagi aku akan berusia enam tahun."


"Masih lama Sayang, masih enam bulan lagi. Dan kalau kamu jatuh, Bibi akan menerkammu. Haummm...!!" Dengan membuat raut wajahnya, beringas pada Stefanie.


Kedua kaki itu terhenti berlarian, akibat rasa haus yang seketika mendera. Melangkah menghampiri Rani, yang masih sibuk memasukan gaun kedalam manekin-manekin.


"Bibi..."


"Ada apa Stefinie?"


"Aku haus Bibi... aku ingin minum," Dengan nada merajuk, pada perancang busana itu.


"Bukankah kau bilang, kau sudah besar.? jadi Cobalah kau ambil sendiri. Minummu ada diatas dimeja kerja Bibi."


"Baiklah Bibi... aku akan mengambilnya." Kedua kaki itu seketika berlari kecil, menuju ruang kerja Rani.


Zain mencondongkan tubuhnya keluar dari mobil, saat Adam sang sekretaris membuka pintu mobil yang membawa keduanya keboutique milik Rani. Senyum tak terlepas dari raut wajah tampan itu, sebab akan segera melihat wajah putrinya. Tangan kekarnya menggendong sebuah boneka hello Kitty besar, saat melangkah kedalam restorant.


"Nona Rani.. ada Tuan Zain Pratama." Bisik salahsatu karyawan boutique pada Rani, saat perancang busana itu tengah sibuk dengan gaun-gaun pada manekinnya.

__ADS_1


Seketika membalikkan tubuhnya, mendengar apa yang dikatakan karyawannya.


"Zain..." Gumamnya pelan, saat saling bertatapan dengan raut wajah kagetnya.


Tatapan Rani nampak begitu intens pada pengusaha tampan itu, dan dalam hatinya bertanya apakah Zain mengetahui akan adanya Stefanie diboutiquenya, hingga membuat lelaki tampan itu, pagi-pagi sudah menyambangi keboutique miliknya.


"Apakah dia tahu kalau Stefanie sedang bersamaku?" Rani membathin, dengan rasa penasarannya.


Senyum penuh arti membingkai diwajah tampan Zain, melihat raut wajah kaget dari Rani.


"Bagaimana kabarmu Rani? sudah lama kita tidak bertemu."


Rani tetap memasang wajah datarnya, saat pengusaha tampan itu melangkah semakin dekat padanya.


"Baik. Sangat baik. Dan tidak usah bertele-tele. Katakan, buat apa kau kemari?" Dengan tegas, saat kalimat itu terucap dari bibirnya.


Tawa kecil membingkai diwajah tampannya, mendengar apa yang ditanyakan Rani.


"Tidak mungkinkan, aku membawa mainan anak-anak ini buatmu, dan juga boneka ini. Dan aku rasa tanpa aku beritahupun, kau sudah tau tujuanku datang keboutiquemu." Zain tetap bersikap santai, saat Rani bersikap dingin padanya.


"Dia tidak bersamaku." Jawabnya tegas.


"Benarkah...?!" Menyimpulkan senyum kecilnya, terselip rasa tidak suka disana akan kebohongan Rani.


Tiba-tiba saja tatapan keduanya, beralih kearah samping saat suara Stefanie memanggil Bibinya Rani, dengan berlari kearah perancang busana itu.


"Bibi Rani...."


"Putriku..." Zaun bergumam pelan dengan tatapan tak berkedip sedikitpun, saat anak perempuannya sudah berada didepannya. Dan bagaimana melukis suasana hati pengusaha tampan itu, tentu saja haru setelah bertahun-tahun dia memendam rasa rindu pada gadis kecil itu.


Jemari kecil itu meraih tangan Rani, tanpa memperdulikan keberadaan Zain disana.


"Bibi! ayo antar aku kekamar mandi, aku mau pipis.." Dengan memegang rok tutuhnya, sebab sudah tidak sanggup menahannya.


"Biar Pa..." Zain seketika menjeda kalimatnya, saat dia akan mengatakan Papa. Dan tidak mungkin, dia berkata jujur langsung pada Stefanie tentang siapa dirinya. Dan dia akan memperkenalkan dirinya secara perlahan.


Hingga membuat Zain, mengulang kalimatnya lagi.


"Biar Paman.. yang mengantarmu gadis kecil...?" Dia tersenyum, dengan tatapan penuh kasih sayang pada Stefanie.


Tatapan yang sedari tadi tertuju pada Rani, seketika berbalik arah saat mendengar suara bariton itu.


Tatapannya begitui intens, dengan rasa penasaran didalamnya.


"Apakah kau sahabat Bibiku, Paman..?"


Zain mensejajarkan tingginya dengan Stefanie, menatapnya penuh kerinduan.


"Iya Sayang... aku sahabat Bibimu." Walaupun ada rasa sakit didalamnya, saat harus mengenalkan dirinya sebagai orang asing pada putri kandungnya sendiri.


"Benarkah Bibi...." Tatapannya beralih pada Rani, dengan bolamata membulat lebar.


Rani mengangguk kecil dengan senyum palsunya. Zain kembali berdiri tegak, dan berucap pelan pada teman baiknya itu.


"Lanjutkan saja kegiatanmu. Biar aku yang mengurus putriku."

__ADS_1


Ayo gadis kecil... biar Paman yang mengantarmu kekamar mandi." Dengan meraih tangan kecil itu, dan kedua berjalan bergandengan tangan.


__ADS_2