
Keheningan menyelimuti sepanjang perjalanan, menuju boutique milik sahabatnya. Zain melemparkan tatapan mata sendu, kearah luar dengan kaca mobil yang masih tertutup rapat. Amarah yang sedari tadi terlihat diwajah, perlahan memudar tergantikan dengan tatapan hampanya saat ini. Dan seperti ada yang begitu mengganjal, dalam diri lelaki tampan itu.
"Sehancur inikah hatinya, saat melihat diriku bersama Clara dulu..? aku benar-benar mencintaimu Araa.. hingga hatiku begitu sakit, saat melihat kau bersama Rian tadi. Apakah sudah tidak ada cinta untukku lagi, hingga aku harus memakai cara ini, agar kau dapat bersamaku kembali." Zain membathin, dengan apa yang tengah dia rasakan.
Kembali memalingkan wajah, menatap kedepan.
"Adam..." Panggilnya tiba-tiba.
"Ada apa Tuan..?" Sekilas kedua mata itu menatap Tuanmudanya, pada kaca spion mobil.
"Kau ambil rekaman CCTV saat Ibuku merayakan ulang tahun, dimana saat ayahku memberikan hadiah liontin itu, dan juga rekaman saat kita berdua akan keklup malam."
Tatapan mata itu semakin menyipit, terselip rasa penasaran akan permintaan Tuanmudanya.
"Apakah rekaman yang dimaksud Tuan saat kita pergi klup, yang bertepatan dengan saat Tuan menyelamatkan Nona Ariana??" Adam mencoba menebak, apa yang diingikan Tuanmudanya.
"Yaa..! cari rekaman itu, dan berikan padaku."
"Baik Tuan... saya akan mencarinya."
Hening kembali melanda, saat kendaraan roda empat itu membawa dirinya, juga Adam keboutique.
Hampir satu jam mereka menempuh perjalanan, tibalah Zain dan juga Adam dibotique itu.
"Apakah kita tidak turun Tuan?" Adam bertanya saat mobil sudah terparkir, Tuanmudanya masih berdiam ditempat.
"Putriku yang akan datang padaku." Dengan jemari menyelip masuk, meraih ponsel pada saku jasnya.
****
Kedua mata bulatnya begitu fokus pada layar datar ponselnya. Berbaring diatas sofa panjang, dengan jemari yang lihai menari-nari pada layar ponsel itu. Stefanie begitu santai saat menonton youtube kartun anak-anak. Ntah itu marsha and the beer, upin-ipin, doraemon ataupun yang lainnya.
"Mereka sangat lucu.. hi...hi...hi..." Gadis kecil itu berucap, dengan tawa bahagianya.
Tiba-tiba saja terdengar suara telepone masuk pada Hpnya. Karena belum bisa membaca, jadi gadis kecil itu tidak tau siapa yang menelpone.
"Opa David bilang kalau ada yang menelpone, aku harus mencolek yang hijau ini." Stefanie bergumam sendiri, dengan jemari menggeser pada icon hijau.
"Hallo..." Dia menyapa pada penelpone diseberang sana, dengan suara khas anak-anak.
"Hallo Stefanie.. ini Daddy."
Membulat, dengan bolamata berbinar saat mengetahui itu dari Daddynya Zain.
"Daddy... Daddy Zain.."
"Iya Stefanie.. ini Daddy Zain."
__ADS_1
"Daddy dimana..? aku ingin bertemu denganmu.."
"Daddy berada didepan boutique Bibi Rani. Keluarlah sekarang. Tapi ingat..!! jangan katakan pada siapapun, terutama pada Bibi Rani. Kau mengerti..?"
"Iya Daddy.. aku mengerti. Dan aku akan keluar sekarang."
Stefanie tengah berada didalam ruang kerja milik Bibinya. Langsung beranjak dari duduknya, dengan mengedarkan pandangannya menjangkau flat, dan juga jacket denimnya. Melangkah menuju pintu, dengan jemari menjangkau gagang, dan membukanya sedikit saja. Bak seorang maling dirinya mengendap, untuk memastikan situasi aman. Dan situasi sangat mendukung, saat karyawan boutique tangah sibuk melayani pengunjung yang begitu ramai.
Tangan kecilnya melebarkan daun pintu itu, dan. mencondong tubuh keluar dari dalam ruangan. Dan segera mengambil langkah cepat keluar dari dalam boutique, agar karyawan tidak ada yang melihatnya.
Stefanie mengedarkan pandagannya kesegalah arah, dengan tatapan bingungnya saat sudah berada didepan boitique milik Bibinya.
"Dimana Deddy Zain? apakah dia berbohong padaku??"
"Stefanie...." Tiba-tiba saja terdengar suara serak memanggil dirinya, dengan sedikit teriakan.
Memalingkan wajah pada asal suara. Dan senyum seketika mengembang diwajah gadis kecil itu, saat melihat dari jauh keberadaan Zain yang tengah tersenyum padanya.
"Daddy...." Kaki kecil itu segera berlari menghampiri Zain, yang sudah melebarkan tangannya menyambut dirinya dengan senyuman.
"Auww..!" Zain sedikit merintih, saat putrinya menabrak tubuhnya dengan sedkit kuat.
Kau membuat dirimu, dan juga hampir saja terjatuh Stefanie??"
Stefanie tertawa kecil, dengan menyimpulkan kedua tangannya pada leher sang ayah.
"Daddy juga sangat merindukanmu. Dan ayo kita pergi sekarang. Kita akan pergi kerumah kita." Dengan segera meraih tubuh putrinya.
"Kerumah kita??" Tatapan penasaran, dengan bolamata semakin membulat.
"Iya Sayang... kita akan pergi kerumahmu." Zain berucap dengan memangku tubuh putrinya, saat kendaraan roda empat itu telah melaju.
****
Pagar besi menjulang tinggi, melengkapi bangunan mewah berlantai tiga, dengan interior yang begitu elegant, juga pepohonan yang berdiri kokoh disekitar rumah itu, itulah sekilas penampakan kediaman Zain Pratama.
Stefanie melebarkikan tatapannya, saat mobil yang membawa mereka, sudah memasuki rumah pengusaha kaya itu.
"Rumahmu sangat besar Daddy..?" Kedua mata itu terus saja menatap keluar, lewat kaca jendela mobil yang masih tertutup rapat.
Zain mencondongkan tubuhnya, dan ketika akan meraih tubuh putrinya, gadis kecil itu bersuara.
"Aku ingin jalan sendiri Daddy..?" Memprotes yang membuat Zain hanya tertawa.
Tangan kekarnya meraih jemari mungil Stefanie, dan berjalan beriringan memasuki rumah.
Tatapan para penghuni rumah terfokus pada Stefanie, akibat rasa penasaran akan sosok gadis kecil yang dibawa Tuanmuda mereka. Daun pintu terbuka lebar, dan menampakkan Paula disana.
__ADS_1
"Selamat siang Tuan..?" Dan tatapan mata itu berpaling pada gadis kecil, yang tengah bergandengan tangan dengan Tuanmudanya.
Melemparkan tatapan itu sekilas pada Tuanmudanya, dan juga Adam akan rasa penasarannya.
"Coba kau tebak Paula, siapa gadis kecil ini." Zain tersenyum, saat melihat wajah bingung pelayan rumahnya.
"A.. apakah dia pu.." Belum selesai Paula berbicara, Zain sudah menyela pelayannya.
"Dia Stefanie. Putriku, dan Ariana."
Terkejut, seraya membekap mulutnya yang hampir saja berteriak karena bahagia.
"Dia sangat mirip dengan anda Tuan...?" Dan karena terlalu bahagia, Paula berteriak memanggil Ani sang kepala pelayan rumah.
Bibi Ani.... Bibi Ani.... lihat siapa yang datang...?"
Wajah mungil itu terlihat bingung. Menengadakan kepala, menatap pada ayahnya yang tengah tersenyum.
"Daddy.. aku takut..." Dengan nada sedikit merajuk.
Zain mensejajarkan tingginya dengan Stefanie, dan menyimpulkan senyum berusaha menenangkan gadis kecilnya.
"Kau tidak boleh takut Sayang.. mereka adalah keluargamu. Dan disini kau mempunyai dua Oma. Ada Oma Ani, dan juga Oma Celine."
Rona bahagia, dan senyum seketika melebar pada wajahnya, mendengar apa yang dikatakan Zain barusan.
"Kau serius Daddy?? aku mempunyai dua Oma??" Tanyanya seolah tidak percaya.
"Iya." Dengan anggukan kecil pada Stefanie.
"Ada apa Paula?? kenapa kau teriak-teriak..?!" Nada terdengar kesal, saat kedua kaki itu melangkah membawanya pada pelayan muda itu.
"Kau lihat Bibi?! ada tamu istimewa hari ini." Paula menyampingkan tubuhnya, hingga tatapan Ani bisa melihat keberadaan Stefanie yang terhalang akan tubuhnya.
Melangkah dengan pelan, dengan tatapan terfokus pada gadis kecil disebelah Zain. Melihat begitu miripnya wajah gadis kecil itu dengan Tuanmudanya, membuat Ani meyakini kalau anak kecil ini anak Tuanmudanya dan Ariana.
"Tuan... apakah dia adalah..?" Tak sanggup melanjutkan kalimatnya, saat tatapan mata sudah berkaca-kaca akibat rasa haru.
"Iya Bibi Ani.."
Ani mensejajarkan tingginya dengan Stefanie, dan tatapan begitu dalam pada gadis kecil berambut ikal itu.
"Apakah Oma, yang bernama Oma Ani??" Stefanie bertanya tiba-tiba, karena rasa ingin tahunya.
"iya Oma, bernama Oma Ani." Senyuman kecil menatap dengan sendu pada gadis kecil itu.
"Aku Stefanie Oma... dan Mommyku bernama Ariana. Iyakan Daddy?" Dengan menengadakan kepalanya pada Zain
__ADS_1
Menganguk kecil, dengan senyuman diwajah pada putrinya.