
Zain terus menatap interaksi antara Araa, dan juga ayahnya David yang terlihat penuh dengan kasih sayang. Dan dia semakin yakin kalau ayah mertuanya tidak mengetahui apa yang pernah dilakukan oleh istrinya pada Ariana, yaitu dengan menjual putri angkatnya ditempat hiburan malam. Dan dia yakin, bahwa hanya ayah mertuanyalah yang benar-benar tulus menyayangi Ariana.
"Terima kasih menantuku, karena kau sudah menjaga putriku dengan baik. Dan aku semakin yakin, kalau tidak salah menerima kau menjadi suami dari putriku, Ariana." Ucap David, dengan senyuman kecil menatap menantunya.
Menyandarkan pundaknya pada sandaran dinding rumah sakit, dan menyilangkan kakinya menatap ayah mertuanya. Dan berbicara dengan penuh rasa bangga.
"Tentu, karena aku adalah laki-laki yang baik. Dan aku akan memperlakukan putrimu, dengan penuh kasih sayang. Iyakan, Sayang?" Dengan senyuman, menatap Ariana.
Bolamatanya nyaris menyeruak, saat Zain memanggilnya dengan panggilan Sayang. Hingga lidahnyapun terasa keluh, saat akan menjawab pertanyaan lelaki tampan itu. Sebab selama ini, Zain tidak pernah memanggilnya dengan sebutan Sayang. Jangankan memanggilnya dengan sebutan Sayang, memanggilnya dengan sebutan namapun sangat jarang. Dan Ariana sudah terbiasa, kalau Zain memanggilnya dengan sebutan Culun.
"I, iya." Jawab Ariana, dengan memaksakan diri untuk tersenyum.
"Apakah, sudah ada tanda-tanda?" Tanya David, tiba-tiba.
Mengernyitkan dahinya, saat mendengar apa yang ditanyakan ayahnya itu.
"Maksud Papa, apa? aku tidak mengerti?" Dengan raut wajah, yang terlihat bingung.
"Maksud Tuan, apa? maaf, maksud saya ayah mertua." Tanya Zain, pula.
Tawa kecil membingkai diwajah Tua itu, saat mendapati kepolosan menantu, dan juga putrinya.
"Maksud Papa, apakah sudah ada tanda-tanda kalau Papa akan segera memiliki cucu?"
Raut wajah Ariana berubah pucat, dan sedikit merona, karena selama ini dia tidak memikirkan memiliki anak bersama Zain. Sebab dia tahu, alasan apa pria itu menikahinya. Hanya untuk membalaskan dendamnya pada Kakaknya, Clara.
"Setelah anakmu sehat, kami akan segera memprogramnya. Dan aku merencanakan akan mulai menyicilnya, setelah dia keluar dari rumah sakit." Jawab Zain santai, tanpa ada rasa malu sedikitpun.
Raut wajah Ariana seketika berubah merona, saat mendengar ucapan suaminya yang begitu vulgar. Hingga membuat David hanya tertawa, saat melihat wajah anaknya yang tampak memerah, akibat malu dengan ucapan suaminya.
__ADS_1
"Ucapanmu terlalu vulgar, menantuku? kau lihat wajah putriku, sampai merona begini." Seru David dengan tawa kecilnya, yang membuat wajah Ariana semakin merona karena malu.
"Papa, apa yang Papa bicarakan?" Dengan mimik cemberut, manatap ayah angkatnya.
Papa, katakan padaku. Siapa yang memberitahumu, kalau aku berada dirumah sakit." Tanya Ariana, yang sengaja mengalihkan pembicaraan.
"Papa mengetahuinya, dari Adam. Karena Papa sering menghubunginya, untuk menanyakan kabar tentangmu. Dan Papa juga sudah memberitahukan kabar ini pada Mamamu, dan juga Clara, kakakmu."
****
KEDIAMAN ZAIN PRATAMA.
Melangkahkan kaki dengan langkah yang tergesa-gesa, saat masuk kedalam rumah mewah itu. Dan saat tiba didalam, Clara berpapasan dengan sophia sang kepala pelayan.
"Dimana Bibi, Celine?" Bertanya, dengan nada yang terdengar tidak bersahabat.
Tanpa bertanya lagi, Clara langsung berlalu menuju kekamar wanita paruhbaya itu, dengan langkah yang begitu tergesa-gesa.
Celine menarik sebuah kursi, dan duduk didepan meja rias setelah selesai darikegiatan mandinya. Melepaskan rambutnya yang dia kuncir, dan membiarkannya tergerai indah. Tanganya meraih sebuah sisir yang tergeletak diatas meja, dan mulai menyisir rambutnya.
Terdengar suara ketukan pintu kamarnya, yang mengalihkan tatapan mata wanita paruhbaya itu.
"Masuk..." Teriaknya, dari dalam kamar.
Clara!" Seru Celine saat pintu terbuka, dan mendapati mantan kekasih keponakannya.
Tanpan menjawab, dan dengan raut wajah yang terlihat begitu memerah, gadis itu langsung melangkah kedalam kamar, dan menjatuhkan diri disebuah sofa tunggal.
"Kau kenapa, Clara? apakah kamu sedang, ada masalah?!" Tanya Celine, dengan raut wajah penasarannya.
__ADS_1
"Dia sudah ditemukan, Bibi? dan sekarang sedang berada dirumah sakit."
"Siapa yang kau maksud? katakan pada Bibi." Dengan nada penasaran, menatap Clara.
"Siapa lagi kalau bukan siCulun itu, Bibi? Ariana sudah ditemukan, dan sekarang gadis kampung itu sedang berada dirumah sakit. Dan Zain, sedang menemaninya disana."
"Ja..jadi Ariana, masih hidup?" Tanya Celine seolah tidak percaya, dengan apa yang disampaikan Clara padanya.
"Dan besok aku akan kerumah sakit, untuk menyingkirkan dia selamanya." Seru Clara, dengan raut wajah yang begitu diliputi amarah.
"Ti..tidak. Bibi tidak menyetujui, jika kau melakukan hal gila itu lagi. Dan jika kau mau membunuhnya, Bibi tidak mau ikut campur, karena Bibi tidak mau masuk penjara."
"Terus apa yang harus kita lakukan, Bibi?! sekarang dia sudah bersama Zain kembali. Dan aku tidak punya kesempatan untuk bersama keponakanmu lagi, karena siculun itu, ternyata masih hidup."
"kita akan memikirkannya, nanti."
Clara hanya memasang raut wajah kesalnya, saat mendengar apa yang dikatakan Celine padanya. Karena bagaimanapun, dia tidak mungkin membantah ucapan Bibi dari Zain.
****
Kini Ariana telah dipindahkan kesalahsatu ruang VIP, dan kondisinya sudah jauh lebih baik dari hari sebelumnya.
Berbaring dengan sedikit meninggikan bed hospital, agar memudahkian dirinya menonton televisi, yang tertancap pada dinding rumah sakit. Ariana tampak begitu serius saat menonton pergelaran busana, yang disiarkan secara langsung oleh salasatu stasiun televisi.
"Sayang, bukankah itu sahabatmu Rani?!" Seru Ariana tiba-tiba pada Zain, saat laki-laki itu tengah berbincang-bincang dengan Adam.
"Kalau itu dia, memangnya kenapa. Toh aku juga, tidak perduli!" Jawab Zain yang tampak begitu acuh, hingga membuat Ariana hanya bisa menggerutu dalam hatinya.
"Kenapa dia bersikap begitu acuh, setidaknya pujilah sahabatmu. Diakan sahabat baikmu?" Bathin Ariana dengan mengerucutkan bibirnya, dan dia terlihat begitu kesal dengan jawaban Suaminya.
__ADS_1