Terjerat Cinta Si Culun

Terjerat Cinta Si Culun
Bahagianya Zain


__ADS_3

Kegelapan mulai meredup, saat sang surya mulai menampilkan pesonanya menyinari bumi yang tadi tertutup gelapnya malam.


Dentingan jam terus saja melangkah menuju waktu yang telah tergantikan oleh siang, saat sang surya semakin menunjukkan kuasanya.


Kaki kecilnya bergerak dengan lincah, saat mengayukan sepeda kecilnya ditaman belakang rumah. Ayunan kaki itu seketika berhenti, saat melihat kedatangan sang Mommy Ariana. Berlari menghampiri pada Ibunya, yang telah melabukan tubuh disebuah kursi rotan.


Membelai perut buncit itu, dan melabukan kecupan disana.


"Kau sangat sayang pada adikmu?" Ariana melukis senyum diwajah, seraya membelai pucuk kepala putrinya.


"Tentu saja Mommy, dan aku akan menjadi Kakak yang baik." Ucapnya dengan penuh keyakinan, yang semakin menonjolkan pipi gembul itu.


"Kalau kau menjadi Kakak yang baik, kau harus menurut pada Mommy."


Mengerucutkan bibirnya, saat mendengar apa yang dikatakan ibunya.


"Bukankah selama ini aku selalu menurut padamu Mommy.."


"Tidak! bukankah terkadang kau sangat keras kepala pada Mommy,"


"Baiklah, aku akan berusaha agar menjadi Kakak yang jauh lebih baik jika lima adikku nanti sudah lahir."


"Bukan lima, tapi satu Stefanie?! karena Mommy bukan kucing meongmu itu."


"Baiklah. Kalau begitu setiap tahun Mommy, dan Daddy harus memberi satu adik bayi padaku. Tahun ini satu, tahun depan lagi satu. Jadi setelah lima tahun kemudian, aku sudah mempunyai lima adik."


"Memang siapa yang akan mengatakan kalau Mommy, dan Daddy akan memberi lima adik padamu?"


"Daddy. Daddy sudah janji padaku, akan memberikan aku lima adik."


"Baiklah. Kalau begitu kau minta saja pada Daddymu, jangan pada Mommy."


"Tapi Mommy, bukankah kau yang mengandung adikbayinya?"


" Kalau begitu jangan menuntut banyak adik dari Mommy, karena Mommy tak sanggup memberimu adik bayi, sebanyak kucing Meongmu itu." Ariana berucap tegas pada putrinya.


"Kenapa tidak bisa Mommy? bukankah membuat adikbayi itu sangat gampang? jadi aku rasa keinginanku sangat muda dipenuhi." Wajah itu seketika memelas, yang tersirat akan rasa kecewa didalamnya.


"Siapa yang mengatakan padamu, kalau membuat adikbayi itu gampang?" Tatapan mata Ariana menatap dengan penuh selidik, saat mendengar ucapan putrinya.


"Daddy! bukankah kau hanya perlu tidur bersama Daddy, dan adikbayiku langsung ada. Dan aku juga sangat ingin melihat saat kalian membuat adikbayi Mommy, apakah boleh?" Menengadakan kepala menatap penuh harap pada Ibunya.


"Tidak! kau tidak boleh melihatnya .Kau mengerti?!"


"Kenapa tidak boleh Mommy?! kenapa..?" Dengan sedikit teriakan, akibat tidak puas akan jawaban Ibunya.


"Yang jelas tidak boleh Stefanie! dan jangan banyak bertanya lagi."


Stefanie mendecak kesal saat mendengar jawaban Ibunya. Hingga wajah itu terus saja menampilkan mimik cemberutnya.


"Aku marah padamu Mommy?! aku akan mengadukan pada Daddy." Wajahnya tertekuk kesal


saat berbicara.


"Adukan saja, Mommy sama sekali tidak takut pada Daddymu itu." Ariana berucap dengan senyuman, yang membuat wajah mungil itu semakin memerah karena marah.


Wajah mungilnya terus saja menampilkan mimik cemberutnya, dengan mulut berkomat-kamit tidak jelas akibat kesal pada Ibunya. Tapi seketika memudar, saat pendengaran itu mendengar suara mobil.


"Mommy, mungkinkah itu Daddy? bukankah Paman sopir menjemput Daddy kebandara?"

__ADS_1


"Iya, itu pasti Daddymu. Dan ayo kita temui dia." Baru saja Ariana berucap, dan bangun dari duduknya tapi Stefanie sudah berlari meninggalkannya.


"Selalu saja begini," Menyimpulkan senyum diwajah, saat kedua kaki itu mengayun masuk kedalam rumah.


****


Wajah sumringah saat memastikan kalau itu Ayahnya. Kedua kaki mungilnya berlari sedikit kencang, menyambangi pada pintu utama.


"Daddy...." Wajah mungilnya memancarkan rona bahagia, saat berada didepan rumah Stefanie mendapati keberadaan ayahnya.


Mengalihkan arah pandangnya, saat sedang berbincang dengan Adam. Zain melebarkan kedua tangannya ,dengan mengukir senyum diwajah.


Seketika senyuman bahagia menyelimuti wajah cantik Stefanie, dengan kedua kaki berlari menuju ayahnya.


"Daddy..! aku sangat merindukanmu." Berucap, saat tubuh mungilnya telah terbenam dalam pelukan ayahnya.


Segera menggendong gadis kecilnya, dan melangkah kedalam rumah.


"Daddy juga sangat merindukanmu. Dan apakah kau makannya sangat banyak? karena Daddy merasa kau semakin bertambah berat."


"Bukan aku yang bertambah berat Daddy? tapi Mommy."


"Benarkah??" Zain berucap dengan wajah berpura-pura kaget.


"Tentu saja Daddy, karena didalam perut Mommy ada adikbayi."


Langkah kaki itu seketika terhenti, mendengar jawaban putrinya


"Adik bayi?" Bolamata itu menatap dengan penasaran pada putrinya.


"Iya Daddy, adikbayi. Adik bayi yang kau buat bersama Mommy sudah jadi."


"Zain, kau sudah pulang anakku?" Terdengar suara Celine yang melangkah menghampiri pada lelaki tampan itu.


"Bibi.."


Wajah tuanya terlihat sedikit kesal, saat mendengarkan panggilan Bibi yang Zain serukan untuknya.


"Kau masih saja memanggilku Bibi. Bukankah sekarang aku adalah mertuamu? jadi kau harus memanggilku Mama, sama seperti Ariana."


"Maafkan aku, aku hanya belum terbiasa saja." Dengan mengukir senyum kecil diwajah. Tapi seketika raut wajah itu terlihat serius, saat mengingat ucapan putrinya.


Maa..." Panggil Zain tiba-tiba, yang masih terdengar kaku.


"Kenapa Zain? sepertinya kau ingin menanyakan sesuatu," Celine menatap penuh selidik pada wajah Zain.


"Oma, dalam perut Mommyku ada adik bayikan?" Stefanie seketika menyela, akan pembicaraan kedua orang dewasa itu.


Menyimpulkan senyum diwajah, mendengar ucapan Cucunya. Dan dia meyakini kalau cucunya telah memberitahukan pada ayahnya.


"Iya Zain, Ariana sedang mengandung,"


Raut wajah serius seketika membingkai penuh pada wajah tampan Zain, mendengar apa yang disampaikan Celine.


"Apakah kau serius Bibi?! kalau Ariana sedang mengandung?"


"Iya Zain, jadi Bibi minta kalian segera menikah sebelum perut Ariana membesar, dan jangan sampai bulan depan."


"Dimana Ariana Bibi? dimana dia?" Zain mengedarkan pandangan kesegalah arah, mencari keberadaan Ariana dengan raut wajah tidak sabaran.

__ADS_1


"Zain, kau sudah pulang?" Tanya Ariana, saat kedua kaki itu melangkah menghampiri pada calon suaminya.


Berbalik arah pada asal suara, dengan kedua mata menatap Ariana dari atas hingga bawa. Melihat perut Ariana dari balik kemeja putih besarnya, membuat raut wajah tampan itu terlihat begitu bahagia.


Zain mengambil langkah panjangnya menghampiri pada Ariana, dan saat mendekat Zain kedua tangan kekar itu segera menggendong calon istrinya yang membuat dia begitu kaget.


"Zain.. Zain..turunkan aku Zain.. turunkan aku," Ariana berucap saat berada dalam gendongan pengusaha kaya itu.


Segera menurunkan Ariana, dan melabukan kecupan singkat pada bibir mungilnya.


"Aku sangat mencintaimu Araa, sangat mencintaimu." Dia menyimpulkan senyuman diwajah tampan itu.


Mensejajarkan tingginya dengan perut Ariana, dan melabukan juga kecupan singkat disana.


Sudah berapa bulan Araa?" Menengadakan kepala dengan tatapan penuh cinta.


"Dua bulan. Kandunganku sudah berusia dua bulan Zain,"


Bangun dari duduknya dengan tatapan dalamnya.


"Terima kasih Araa, terima kasih karena sudah memberikan aku hadiah lagi. Aku sangat mencintaimu Sayang.." Membuka lebar tangan itu, dan membenamkan Ariana dalam pelukannya.


"Zain, aku ingin kita segera menikah. Aku malu perutku sudah membuncit," Dengan nada manja saat bersandar pada dada bidang itu.


"Kalau itu maumu, baiklah kita akan menikah dalam dua hari ini. Tapi mungkin tidak akan ada resepsi, karena aku sudah terlanjur memberi kabar ini pada teman-temanku. Bagaimana. Apakah kau setuju?"


"Tentu saja aku mau Zain," Tersenyum dengan kembali membenamkan diri dalam pelukan pria itu.


Tiba-tiba saja kedua tubuh yang saling berdempetan sedikit melebar, saat Stefanie menyisip didalamnya.


"Stefanie..! apa yang kau lakukan?" Zain memalingkan kebawah dengan tatapan herannya.


"Bahkan adik bayi belum lahir saja, kau sudah melupakan aku Daddy? apakah aku ini bukan anakmu?" Wajah kesal dengan tatapan tajamnya.


Menyimpulkan senyum diwajah, dan meraih tubuh putrinya.


"Mana mungkin Daddy melupakanmu Stefanie?"


"Daddy, kau tau kucing meongku yang kau berikan itu sudah memiliki enam bayi. Dan semoga saja Mommy juga akan memberi aku adik bayi, sebanyak kucing Meongku." Wajah mungil itu nampak berapi-api saat berucap pada ayahnya.


"Sekali lagi Mommy tegaskan Stefanie! Mommy bukan kucing Meongmu itu." Nada itu terdengar kesal saat berucap.


"Baiklah Mommy, kalau begitu tahun depan kau harus memberiku satu adik bayi lagi."


Zain Pratama



Ariana Mahesa



Stefanie Pratama.



Maaf yaa, kalau sedikit berantakan nulisnya pakai Hp.


Laptopeku lagi bermasalah.

__ADS_1


__ADS_2