Terjerat Cinta Si Culun

Terjerat Cinta Si Culun
Menjawab Celine.


__ADS_3

Bangun dari duduknya, saat merasa suasana hati sudah jauh lebih baik. Menghampiri kaca yang ada dikamar mandi, seraya tersenyum saat melihat matanya yang tampak memerah akibat menangis.


"Aku terlihat sangat menyedihkan, menangis untuk laki-laki yang sama sekali tidak mencintaiku." Gumamnya dengan senyuman kecil diwajahnya, dibalik kesedihan yang dia rasakan.


Membenahi penampilan yang terlihat sedikit kusut, dan memutuskan untuk keluar dari kamar mandi.


Kegundahan tenga menyelimuti, membuat Araa tidak fokus saat melangkah, hingga tidak menyadari kehadiran Rian didepannya.


"BUUUKKk" Yang membuat wanita itu, terjatuh.


"Aduh..?!" Rintihnya,


"kau baik-baik saja? maaf aku tidak melihatmu." Tanya Rian, dengan raut wajah yang begitu merasa bersalah.


Bangun dari jatuhnya, seraya membenahi penampilanya.


"Saya yang sebenarnya minta maaf, Tuan?"


Tatapannya begitu intens menatap Ariana, terutama pada bagian matanya yang tampak sembab, hingga dalam dirinya timbul rasa penasaran ada apa dengan wanita berkacamata itu.


"Kau baik-baik saja, Ariana?!" Dengan tatapan yang begitu, intens.


Raut wajahnya seketika berubah gugup, saat mendapati pertanyaan dari Bosnya tentang keadaannya.


"Sa..saya, baik-baik saja, Tuan?!" Jawabnya, gugup. Dan saat akan melangkah, Rian langsung mencekal tangannya.


"Aku tau, kamu berbohong. Katakan padaku, ada apa?" Bertanya, dengan raut wajah yang terlihat penasaran.


Serasa ada yang tercekat ditenggorokannya, saat mendapati pertanyaan itu dari Rian.


"Aku baik-baik saja, Tuan?!" Jawabnya, dengan berusaha meyakinkan laki-laki tampan itu.


Menghembuskan napas kasar, saat Ariana tidak mau berkata jujur, tentang keadaannya saat ini.

__ADS_1


"Aku tau, kamu sedang tidak baik-baik saja, Araa?! sebaiknya kamu pulang, beristiirahatlah, dan tenangkan dirimu."


"Tapi, Tuan?!"


"Tidak apa-apa, Araa? pulanglah." Jawabnya, tersenyum.


"Baiklah, saya akan pulang." Dengan senyuman, kecil diwajahnya.


****


Melangkahkan kaki ditenga keramaian kota Jakarat, ditenga teriknya matahari disiang hari. Dan memutuskan untuk berhenti disebuah danau, yang terletak ditenga kota. Melemparkan tatapannya, jauh kedepan, memikirkan apa yang baru saja terjadi dalam hidupnya.


"Apa yang sebenarnya, terjadi pada diriku? kenapa aku, ini? aku tidak boleh mencintainya, karena yang dia cintai hanya Kakakku, bukan aku. Bahkan awal pernikahan kami, dia mengatakan, menikahiku hanya untuk membalaskan dendamnya pada kakakku, Clara." Gumamnya dengan senyuman kecil diwajahnya, berusaha untuk menyadarkan hatinya.


Saat tenga sibuk dengan lamunanya, terdengar suara telepone masuk pada phonselnya. Meraih, dan melihat nama ayannya disana.


"Papa..?" Gumamnya, dan memutuskan untuk menerima teleponenya.


David: Halo Araa? bagimana, kabarmu Nak?!


Tersenyum, seraya mengusap airmata yang kembali menetes, dan mencoba untuk menenangkan diri, sebelum melanjutkan obrolan mereka.


Ariana: Aku baik-baik saja, Papa? dan ada apa, Papa menghubungiku?'


David: Bisakah kita bertemu besok, Papa ingin bicara hal penting denganmu.


Mengernyit heran, dan dia terlihat begitu penasaran dengan apa yang dikatakan, oleh ayahnya.


Ariana: Baiklah, kalau Papa ingin menemuiku, besok datanglah ke restorant XXX, aku tunggu.


David: Baiklah Araa, besok Papa akan menemuimu sekitar jam sembilan. Kalau begitu , Papa tutup teleponenya.


Menghembuskan napas dalam, dengan kembali menerawangkan tatapannya jauh kedepan. Menatap hamparan danau, yang terdapat beberapa angsa yang tenga berenang. Kegundahan kembali menyelimuti dirinya, karena besok dia akan bertemu dengan orang yang paling menyayanginya, dan sangat dia sayangi.

__ADS_1


"Seandainya kau tau, apa yang terjadi padaku, saat ini Papa? apakah engkau akan tetap membiarkan aku tetap menjalani rumah tangga, yang penuh kepalsuan ini, tapi melihat senyuman kebahagianmu, disaat pernikahanku? membuat aku mempunyai alasan untuk terus berada disampingnya." Dengan senyuman kecil yang nyaris tak terlihat, yang mewakili kegundahann hatinya.


****


Detik terus berjalan, hinggapun senja telah menyambut kota Jakarta. Menapaki kaki melewati keramaian kota, dalam kegundahan hati yang teramat sangat. Dan memutuskan untuk tetap bersikap normal, guna menutupi luka yang tenga dia rasakan saat ini.


Pintu gerbang terbuka, dan mengedarkan pandangannya untuk memastikan suaminya sudah pulang, atau belum.


"Dia belum pulang, pasti mereka masih bersama." Gumamnya, dengan kembali melangkah kedalam rumah.


"Kau baru pulang?" Bertanya, dengan senyuman sinis menatap Ariana, yang baru saja datang.


"Iya Bibi?! seperti yang kau lihat, aku baru saja pulang." Jawabnya dengan terus melangkahkan kaki menuju arah tangga, tanpa memperdulikan keberaan Celine yang tengah menatapnya. Tapi seketika langka itu terhenti, saat Celine kembali berbicara padanya.


"Mau sampai kapan, kau bertahan disamping Zain. Dia itu tidak mencintaimu, dia hanya mencintai Clara. Dan aku rasa kau sudah tahu, kalau hari ini mereka menghabisskan makan siang mereka, diperusahaan miliknya. Kau sebenarnya harus berpikir, kau itu istri sahnya, tapi sampai sekarang saja, Zain tidak pernah memperkenalkan kau, pada rekan-rekan bisnisnya, dan juga belum pernah mengajakmu kekantornya. Itu semua sudah dapat membuktikan, kalau dia itu tidak mencintamu sama sekali, cintanya hanya untuk Clara, dan aku rasa mungkin sekarang mereka sedang menghabiskan waktu berdua." Ucapnya, tersenyum sinis.


Menghembuskan napas kasar, dan tanpa berbalik, Araa menjawab apa yang dikatakan Celine padanya.


"Setidaknya, dalam hidupku aku tidak pernah mengemis cinta dari keponakanmu, Bibi? aku memang tidak secantik kakakku, Clara. Tapi dalam hidupku, aku tidak pernah menggoda pria yang sudah beristri." Jawabnya tersenyum, dan kembali melanjutkan langkanya menuju lantai tiga kamarnya.


Celine tampak meradang, saat mendapati keberanian Ariana padanya. "Kaauuu...?!" Teriaknya, dengan kemarahan yang teramat sangat, pada Ariana yang terus melanjutkan langkanya.


Zain Pratama.




Ariana.



__ADS_1


__ADS_2