
Langkah kaki keduanya beriringan, saat menuju kamar mandi. Setelah selesai dengan pipisnya, Stefanie kembali menyambangi Zain yang tengah menunggu diluar.
Tawa kecil terlukis diwajah tampan Zain, melhat anaknya memakai Rok dengan tidak benar pada posisinya.
"Kemarilah. Biar Paman membenahi rokmu." Zain membungkukkan sedikit badan, mensejajarkan tingginya dengan gadis kecil itu.
Saat sibuk dengan kegiatannya, tatapannya begitu dalam pada wajah Stefanie. Sulit dilukiskan bagaimana suasana hatinya saat ini. Sedih, juga bahagia yang bercampur jadi satu. Hingga airmata itu yang tadi dia bendung, tumpah begitu saja akibat rasa bersalah yang teramat sangat, karena sudah menelantarkan anaknya, dan juga Ariana.
Raut wajah sumringah seketika berubah serius, melihat Zain menitikkan airmata."Paman... kenapa kau menangis?"
Menyeka airmata, dan tersenyum getir. Tak sanggup lagi membendung rasa bersalahnya, hingga pelukan tiba-tiba dia berikan pada anak perempuannya itu.
"Maaf... maafkan Papa... yang sudah menelantarkan kau, dan Mamamu.." Zain membathin dalam hatinya.
Walaupun penasaran tapi gadis kecil itu, tetap membiarkan Zain memeluknya. Zain melepaskan pelukan mereka, saat merasa suasana hatinya sudah jauh lebih baik, dan berusaha tersenyum. Saat Stefanie menatapnya dengan dalam.
"Paman... kalau kau mau, kita bisa menjadi teman. Agar kau jangan menangis lagi." Dengan meyakinkan Zain, yang membuat pengusaha tampan itu hanya tertawa kecil dengan apa yang baru saja dikatakan anaknya.
"Kau sangat lucu gadis kecil, dan baiklah mulai sekarang kita adalah teman baik."
Bolamata berbinar, dengan tatapan serius pada Zain.
"Kau serius Paman??"
"Tentu saja anak manis? buat apa Paman berbohong padamu."
"Kalau begitu ayo kita kedalam Paman... dan apakah boneka yang kau gendong tadi, akan kau berikan padaku sebagai tanda kita kalau kita sudah berteman?"
"Tentu saja anak manis? bahkan semua yang Paman bawa tadi untukmu."
"Benarkah...?!" Matanya semakin membulat lebar, dengan apa yang dikatakan Zain.
"Tentu."
"Wah Paman.. kau sangat baik. Seandainya saja kau adalah Daddyku, aku pasti akan sangat bahagia." Dia tertawa kecil, dan menggandeng manja Zain.
"Tanpa kau harapkan, aku adalah Daddymu anakku.." Membathin, dengan senyum hampannya menatap pada gadis kecilnya, yang tengah menggandeng mesrah dirinya.
Rani hanya bisa menghela napas berat, melihat bagaimana mesrahnya Zain, dan juga putrinya Stefanie.
"Kau pulanglah, aku tidak mau Ariana berpikir kalau aku yang sudah mengatalkan padamu, kalau Stefanie sedang bersamaku."
"Jadi nama putriku Stefanie??"
"Iya namanya Stefanie."
Mimik cemberut, dan juga kesal membingkai diwajah gadis mungil itu, saat Zain dan juga Rani nampak mengabaikan dirinya.
"Paman... katamu tadi kau ingin memberikanku boneka, mainan yang banyak, dan juga bermain bersamaku. Dibelakang ada taman Paman, ayo kita main bersama disana."
"Tapi Stefanie... Paman harus pulang.." Rani menyela, saat mendengar keinginan gadis kecil itu.
"Tidak Bibi... aku masih ingin bermain bersama Paman..." Nada yang terdengar menuntut, dari bibir Stefanie. Tatapannya beralih pada Zain yang hanya diam membisu.
Paman jangan pulang dulu yaa... bukankah sekarang kau adalah temanku..?! jadi kita harus bermain dulu," Tatapan penuh harap, pada pengusaha tampan itu.
__ADS_1
"Tapi Stefanie... Paman harus pulang..?!" Rani menyela lagi, pada Stefanie yang masih kekeh ingin tetap Zain bersamanya.
Kedua bolamata itu seketika berkaca-kaca, dan menunduk sedih.
"Bibi jahat... Bibi tidak sayang padaku..." Dengan isak tangis yang sudah mulai terdengar.
"Tapi Stefanie.." Ucapannya terhenti saat Zain menyela.
"Aku akan tetap disini, dan aku akan bertanggung jawab pada Ariana jika dia memarahimu nanti." Dengan nada yang terdengar kesal.
Mensejajarkan tinggi dengan putrinya, yang masih saja terisak.
" Hallo cantik... jangan menangis Paman akan tetap bersamamu. Dan hari ini Paman adalah milikmu."
Menengadakan kepala, dengan senyum sumringah diwajahnya.
"Apakah kau serius Paman..."
"Tentu saja buat apa Paman berbohong."
Seketika langsung melonjak kegirangan, mendengar apa yang dikatakan Zain padanya. Dan tanpa meminta ijin pengusaha tampan itu, Stefanie langsung merangkak naik keatas punggung ayahnya.
"Paman... kenapa kau diam saja..?! ayo kita ketaman..!!"
"Ba...Baiklah..." Jawabnya terbata, karena tidak menyangkah Stefanie akan cepat dekat dengannya.
Rani tersenyum getir, melihat pemanadangan mengharukan itu. Dan diapun merasa bersalah pada Stefanie, karena sudah berusaha menjaukan gadis kecil itu dari ayahnya.
"Maafkan Bibi Stefanie.. semoga saja Mamamu Ariana, dapat memaafkan papamu."
"Paman... kau dimana...." Stefanie mengedarkan pandanganya kesegalah arah, saat mereka tengah bermain petak umpet ditaman.
Tawa kecil seketika membingkai diwajah mungil itu, melihat rimbunan bunga yang bergoyang. Dia melangkah pelan bak seorang maling, dan saat sudah mendekat gadis kecil itu. langsung memeluk ayahnya.
"Wah Paman... kau tertangkap..?!" Dia tertawa lebar, saat melihat ekpresi terkejut dari Zain. Dan merekapun tertawa bersama.
Seketika menangkap tubuh putrinya, saat gadis kecil itu mencoba untuk berlari. Terus menggelitik, dan keduanya berbaring diatas rumput akibat lelah.
"Kau curang Paman... kau menangkapku!" Dengan napas terengah-engah karena lelah.
Zain tersenyum, dan tatapan begitu dalam yang syarat akan makna.
"Aku mencintaimu putriku.... sekali lagi maafkan Papa.." Membathin dalam hati.
****
Mobil mewah yang membawa Rian, dan Ariana berhenti didepan boutique berlantai dua itu. Saat akan membuka pintu mobil, seketika tangan kekar itu mencekalnya.
"Ada apa Tuan Rian..." Ariana kembali memalingkan wajah, pada pengusaha tampan itu dengan tatapan penasaran.
"Bolehkah aku menelponemu nanti malam?" Tatapan penuh harap dari wajah sang pengusaha muda.
Senyuman kecil terlukis diwajah cantik Ariana, mendengar apa yang dikatakan Rian padanya.
"Tentu saja boleh, kenapa tidak. Dan apakah kau akan terus memegang tanganku hingga membuatku tidak dapat turun."
__ADS_1
Rian seketika melepaskan genggaman tangan itu, dengan senyum kikuknya.
"Maafkan aku. Maaf."
"Bailklah... kalau begitu aku turun. Dan sampai jumpa lagi." Ucapnya dengan menurunkan kedua kakinya dari mobil mewah itu.
****
Zain masih menghabiskan waktu dengan putrinya ditaman itu, dengan bermain, ataupun sekedar bercerita.
"Tuan...." Panggil Adam tiba-tiba, saat Zain tengah mengendong putrinya.
Menurunkan Stefanie dari gendongannya, dan melangkah menghampiri Adam.
"Kau tunggu sebentar gadis kecil, Paman akan segera kembali."
"Baik Paman..."
"Ada apa Adam..?"
"Coba lihat ini Tuan... sepertinya anda akan ada saingan berat." Dengan menunjukan ponselnya pada Zain Pratama.
Kepalan tangan, dan raut wajah memerah seketika membingkai penuh diwajah tampan Zain, melihat adanya Rian dalam wawancara Ariana pagi ini.
"Dasar brengsek!! apakah dia tidak tau, kalau Ariana sama sekali tidak menyukainya?! dia benar-benar manusia yang tidak punya malu!!"
"Sepertinya Tuan Rian, akan mengejar Nona Ariana, Tuan? apalagi saat ini Nona Ariana berstatus single."
"Tidak akan kubiarkan lelaki manapun memiliki Ariana, dan juga putriku." Dengan seringai licik diwajahnya.
"Paman...Paman..." Dengan jemari menarik-narik kecil ujung celana Zain.
"Ada apa gadis kecil...?" Dengan senyum kecilnya.
"Aku ingin melihat apa yang kau tonton itu..." Dengan nada sedikit merajuk.
Tanpa menunggu lama, Zain segera meraih tubuh putrinya.
"Paman... ini Mommyku... ini Mommyku Paman..." Dengan jemari menunjuk pada wajah Mamanya.
"Apakah ini Mommymu...?" Dengan wajah berpura-pura tidak tau.
"Iya Paman.. dan Mommyku sangat cantik bukan..?" Dia berkata dengan bangganya.
"Iya dia sangat cantik. Cantik sepertimu." Dengan mencubit gemas pipi Stefanie, hingga membuat gadis itu hanya tertawa.
"Paman.. maukah kau menikah dengan Mommyku? agar kau bisa menjadi Deddyku."
"Sebenarnya Paman sangat mau menjadi Deddymu, tapi sepertinya Mommymu mau Paman ini yang menjadi Daddymu." Dengan wajah berpura-pura sedih.
"Tidak Paman... aku tidak menyukai Paman yang ini, aku hanya menyukaimu.. jadi kau jangan bersedih."
"Benarkah...?!" Dengan bolamata berbinar.
"Hemmm..." Dengan sebuah anggukan cepat.
__ADS_1