Terjerat Cinta Si Culun

Terjerat Cinta Si Culun
Terpesona.


__ADS_3

Clara terlihat begitu kesal, saat Zain memperkenalkan Ariana pada salahsatu rekan bisnisnya.


Timbul rasa cemburu dalam dirinya saat ini, apalagi ketika melihat sikap Zain yang terlihat begitu posesif pada adik angkatnya, membuat kecemburuan Clara semakin menjadi.


"Kebahagian kalian tidak akan bertahan lama.Bagaimanpun caranya, aku akan tetap memisahkan kalian berdua." Bathin Clara, dengan raut wajah kesalnya.


Adam membingkai senyuman sinis diwajahnya, saat melihat raut wajah Clara yang nampak memerah.


Menghampiri gadis itu, dan berbisik pelan ditelinganya.


"Apakah sekarang, kau sedang berencana untuk membunuhnya lagi? dan jika kau melakukan hal itu lagi, akulah orang pertama yang akan membunuhmu, Clara?!" Bisik Adam, ditelinga gadis itu.


Tubuhnya membeku seketika, dan raut wajahnya terlihat begitu pucat, saat mendengar apa yang dikatakan Adam.


"A..apa, yang kau bicarakan? aku tidak mengerti." Sangkal Clara, dengan berpura-pura tidak mengetahui, apa yang dimaksud


Adam.


"Aku tidak tau apa yang aku bicarakan, tapi aku hanya memperingatkanmu saja. Agar tidak macam-macam, dengan Nona Ariana." Dengan senyuman sinis diwajahnya, dan berlalu begitu saja meninggalkan Clara.


Raut wajah Diana terlihat begitu memerah, saat meliha anak angkatnya yang tersenyum, dengan rona bahagia diwajahnya.


"ini semua gara-gara kau, Clara?! coba saja kau tidak tergoda dengan Jason, pasti sekarang kau yang berada diposisi, anak pungut itu."


"Kenapa Mama, jadi menyalahkanku?"


"Tentu saja Mama menyalahkanmu. Pokoknya Mama tidak mau tau, bagaimanapun caranya, kau harus mendapatkan Zain kembali. Karena Mama tidak rella, jika melihat anak pungut itu bahagia." Dengan nada, penuh penekanan.


"Baiklah, bagaiamanapun caranya, aku pasti akan mendapatkan Zain kembali. Jadi Mama tidak perlu, khawatir."


****


Waktu terus melangkah, hingga malampun semakin menyambut waktu. Tidak terasa, pesta yang diadakan dikediamann Zain pratamapun, telah berakhir.

__ADS_1


Ariana memutuskan untuk terlebih dahulu masuk kedalam kamar, setelah berpamitan pada suaminya, yang masih sibuk dengan beberapa tamu undangan, yang masih berada di pesta itu. Melangkahkan kaki menuju arah tangga, menuju lantai kamarnya. Senyuman terus mengembang, diwajahnya saat mengingat kembali, hal yang terjadi dipesta tadi. Yaitu Zain memperkenalkan dirinya pada para tamu undangan, sebagai Nonya Zain Pratama.


Ketika kakinya baru akan menapaki anak tangga, Ariana begitu kaget ketika ada seseorang yang menarik tangannya, dan membenturkan dirinya kedinding samping tangga.


"ADUUHH" Rintihnya, saat merasa nyeri akibat kepalanya yang terbentur dinding tembok itu.


Bibi..?!" Dan dia begitu terkejut, saat melihat orang yang melakukan hal itu padanya, adalah Celine.


Senyuman sinis, dan tatapan tidak suka, membingkai diwajah wanita paruhbaya itu, saat menatap Ariana.


"Hari ini aku membiarkan kau bahagia, tapi aku pastikan kebahagianmu tidak akan bertahan lama. Karena aku akan segera memisahkanmu, dengan keponakanku. Dan jangan panggil aku Bibi! karena aku tidak pernah, menganggapmu sebagai menantuku. Tidak akan pernah." Ucapnya, dengan berlalu begitu saja.


Raut wajah Ariana memucat, seraya menghembuskan napas yang terasa begitu sesak didadanya.


"Apa yang akan mereka lakukan lagi padaku, agar aku berpisah dengan suamiku. Bisakah, kalian membiarkan aku bahagia, hidup bersama nya?" Dan tersirat, kesedihan dari raut wajahnya.


kembali melanjutkan langkahnya, disaat merasa suasana hatinya sudah jauh lebih tenang.


kakinya melangkah menuju ruang ganti, ditengah sepinya suasana kamar.


Membuka pintu lemari, dan tatapan matanya tertuju pada sebuah kotak kecil, yang tersimpan rapi dibawah susunan pakaiannya.


Ariana membuka kotak itu, dan memandang dengan lekat sebuah liontin, yang mengingatkannya pada sebuah kejadian, dimana Ibu angkatnya Diana, dengan tega menjualnya pada tempat hiburan malam. Dan dia berhasil lolos dari sebuah tindakan pemerkosaan itu, saat ada seorang pria yang datang menolongnya.


"Hanya liontin ini saja, yang membuktikan aku pernah ditolong oleh pria itu. Tapi dimana dia? dan bagaimana cara aku mengenalnya, sementara aku hanya memiliki liontin ini saja."


Terdengar suara langkah kaki, orang berjalan didalam kamar. Dan dengan segera, Ariana menyimpan kembali liontin itu, dibawah tumpukan pakaian, karena meyakini itu adalah Zain.


"Apa yang kau lakukan, Ariana?! apa kau sedang menyembunyikan, sesuatu dariku??" Tatapan penuh selidik, menatap Ariana.


"Sa...Sayang, kau sudah datang?" Dengan raut wajah, yang terlihat gugup.


"Kau sudah tau aku berada didepanmu, kenapa masih bertanya?!" Dengan melangkahkan kaki, semakin mendekat kearah Ariana.

__ADS_1


Walaupun ada rasa takut dalam dirinya, tapi sebisa mungkin dia tetap beersikap tenang.


Zain menghampiri istrinya, dengan senyuman devilnya.


"kenapa kau menatapku seperti itu Sayang, apakah ada yang salah dengan ucapanku??" Dengan semakin memundurkan langkahnya, saat suaminya semakin mendekat.


"Kenapa kau begitu takut, apakah kau sedang menyembunyikan sesuatu dariku?" Dengan semakin mendekat, hingga membuat Ariana terjebak disudut tembok.


"Tidak Sayang. Aku tidak menyembunyikan apapun darimu." Jawabnya yang berusaha meyakinkan Zain, agar laki-laki itu percaya dengan kebohongannya.


Tatapan mata Zain menatap dengan intens wajah istrinya, dan dia begitu mengagumi kecantikan wanita didepannya itu.


"Ternyata dibalik kacamata, dan penampilannya yang begitu sederhana, dia memilik paras yang begitu cantik. Aku seperti menikahi seorang bidadari, yang selama ini menutupi kecantikannya, dibalik kesederhanaanya." Bathin Zain, yang begitu mengagumi kecantikan Ariana.


"Apa yang harus aku lakukan padamu! karena kau sudah pergi, tanpa meminta ijin terlebih dahulu padaku."


"Bukankah tadi Nona Rani sudah bilang padamu, kalau dia yang mengajakku? tadi kaupun mendengarnya, saat dia mengatakan itu."


"Tetap saja, kau salah. Kenapa kau mau, saat dia mengajakmu. Bahkan kau berpenampilan, seperti ini. Memang siapa yang mengijinkanmu, agar merubah penampilanmu?!"


"Bukannya, kau menyukainya Sayang? Nona Rani juga mengatakan agar kau semakin jatuhati padaku, dengan berpenampilan seperti ini."


Seketika tawa keras keluar dari bibir lelaki tampan itu, saat mendengar apa yang dikatakan istrinya.


"Benarkah, dia bilang seperti itu?" Dengan, terus tertawa.


"I..Iya, Sayang..?" Jawab Araa gugup, dengan raut wajah bingungnya.


"Siapa bilang aku menyukainya. Justru aku sangat tidak suka, karena aku lebih menyukai jika kau berpenampilan biasa saja. kau mengerti??" Dengan nada, penuh penekanan.


Iya Sayang, aku mengerti." Jawabnya, dengan mengangguk cepat.


"Dan kau sudah termakan dengan ucapan disainer bodoh itu! dan malam ini aku akan menghukumu, karena sudah pergi tanpa ijin dariku." Dengan langsung mencium bibir Ariana, yang membuat wanita itu kesulitan bernapas, saat mendapatkan ciuman tiba-tiba dari suaminya.

__ADS_1


__ADS_2