Terjerat Cinta Si Culun

Terjerat Cinta Si Culun
Bertemu Adam.


__ADS_3

"Tentu Sayang, karena kau adalah suamiku."


"Sedikit lagi, aku dan Adam akan keluar makan direstorant, yang berada didekat perusahaan. Dan lanjutkan apa yang kau lakukan, karena aku harus menyelesaikan pekerjaanku."


"Iya Sayang, dan sampai ketemu dirumah." Ucap Ariana, dengan mengakhiri panggilan teleponenya


Zain terlihat begitu bahagia, dengan senyuman yang terus mengembang diwajahnya. Setelah mengakhiri percakapan itu, dia segera memberikan ponsel milik sekrtetrisnya.


"Ini ponselmu Adam, dan keluarlah! aku tidak, membutuhkanmu lagi." Dengan kembali menduduki kursi kebesarannya, dan senyum-senyum sendiri.


Adam terlihat begitu kesal, mendengar apa yang dikatakan oleh Tuanmudanya itu.


"Baiklah, Tuan? kalau begitu, saya permisi dulu." Pamitnya, dengan berlalu begitu saja.


Rona bahagia terus terpancar dari raut wajah lelaki berkumis itu, hingga ucapan sekretarisnyapun, sama sekali tidak diperdulikan olehnya.


"Ariana.., Ariana..., aku mencintamu istriku? sangat mencintaimu. Dan aku hanya ingin menghabiskan sisa hidupku, denganmu." Gumamnya, dengan senyuman kecil diwajahnya.


****


Adam segera menduduki kursi kerjanya, saat sudah berada didlam ruang kerjanya. Raut wajahnya terlihat begitu kesal, saat mengingat bagaimana sikap Bosnya tadi.


Hingga dentingan pesan pendek yang terdengar pada ponselnya, mengalihkan tatapan matanya.


Membuka pesan itu, dan membacanya.


Apakah kita bisa bertemu, Tuan Tampan?"


"Sebenarnya siapa yang mengirimkan pesan buatku, dan darimana dia mendapatkan nomor HPku," Bertanya pada diri sendiri, dengan raut wajah yang terlihat begitu penasaran. Dan memutuskan, untuk membalasnya.


Maaf, aku tidak bisa.


Terdengar nada pesan lagi, pada ponsel miliknya.

__ADS_1


Jangan katakan, kalau anda penyuka sesama sesama jenis. Sebab beredar gosip diluar sana yang kudengar, kalau anda tidak menyukai wanita.


Raut wajah Adam seketika memerah, saat membaca pesan dari pengirim rahasia itu.


Asal kau tau, aku pria normal. Dan aku menyukai, wanita.


Benarkah? tapi aku tidak akan percaya, kalau aku tidak membuktikan nya langsung. Jadi aku, ingin kita bertemu.


Menghembuskan napas, berusaha menahan rasa kesalnya, pada pengirim pesan ini.


Baiklah. Besok tunggu aku, ditaman XXX jam 5 sore, dan aku akan membuktikan padamu, kalau aku pria normal.


Membalas pesan itu, dengan langsung memasukan ponselnya, kedalam saku celana.


Sore telah menyambut kota Jakarta, setelah matahari perlahan meredupkan wajanhya, hingga senjapun menyambut. Menggenakan pakaian kasualnya, yang terlihat sempurna, saat membalut tubuh sekretaris dari Zain Pratama itu.


Duduk disebuah kursi panjang, dengan menatap hamparan danau kecil, yang membentang didepannya, dengan adanya beberapa angsa kecil, yang berenang kesana-kemari.


Senyuman kecil membingkai diwajah tampan itu, saat melihat pasangan kekasih, yang tengah berkencan, dan meraka terlihat begitu mesrah.


"Kalau kau mau, aku bisa membantumu untuk merasakannya." Ucap seseorang tiba-tiba, dengan menghampiri Adam.


"Nona Bella, kau?! sedang apa, kau disini?" Bertanya dengan nada penasaran, menatap sahabat Nonamudanya itu.


"Tentu saja, karena aku sedang berjalan-jalan. Dan kebetulan, bertemu denganmu, ditaman ini." Sangkalnya, meyakinkan sekretaris itu.


"Tunggu! tunggu! apakah kau, orang yang sudah mengirimkan pesan buatku?" Dengan nada penuh selidik, menatap gadis didepannya.


Menelan salivanya yang terasa berat, saat mendapatkan pertanyaan itu dari Adam. Dan agar Adam tidak curiga, Bella mulai berakting dengan berpura-pura kesal.


"Kau terlalu percaya diri, sekretaris Adam?! buat apa aku mengirinkan pesan, buatmu. Memang aku gak, kerjaan apa?!"


"Baiklah, kalau begitu aku akan menghubungi nomor ponsel itu. Dan jika itu kau! aku akan melaporkanmu kepolisi, atas kasus meneror." Ucap Adam, dengan langsung menghubungi nomor baru itu.

__ADS_1


"Terserah kau, dan aku sama sekali tidak takut, karena memang bukan aku, pelakunya." Jawabnya santai, dengan mengangkat kedua pundaknya.


Adam berulang kali menghubungi nomor baru itu, tapi tak kunjung diangkat.


"Mana, HPmu?" Bertanya, dengan nada kesal.


Meraih dalam tasnya, dan menunjukkan pada Adam.


"Kau lihat ponselku, sama sekali tidak berdering. Berarti bukan aku, yang mengirmkan pesan buatmu."


"Katakan. Apakah kau, mengikutiku?"


"Mengikuitimu? buat apa, aku mengikutimu. Memangnya taman ini, milikmu?!" Dengan nada, kesal.


"Baiklah, kalau begitu aku pulang dulu. Karena aku tidak, mempunyai kepentingan, disini lagi," Dengan melangkahkan kaki, tapi seketika Bella langsung mencekal tangannya.


"Ada apa?" Dengan tatapan penasaran, menatap gadis itu.


"Tidak bisakah, kau menemaniku? aku sedang, ada masalah. Aku sebenarnya ingin menenggelamkan diriku, didanau ini. Karena orangtuaku, memaksaku menikah dengan duda beranak empat." Pinta Bella, dengan tatapan memohon menatap Adam.


"Apa perduliku. Kalau kau mau bunuh diri, bunuh diri saja. Aku sama sekali, tidak perduli." Jawabnya, asal.


Seketika Bella langsung bersimpuh didepan pria itu, dan menangis tersedu-sedu.


"Hei..., apa yang kau lakukan? nanti orang-orang mengirah, aku telah melakukan hal yang buruk padamu," Seru Adam dengan raut wajah yang terlihat resah, saat tatapan para pengunjung taman menatap mereka berdua.


Bella tidak perduli, dengan apa yang dikatakan Adam. Gadis itu terus mengeluarkan airmata buayanya, agar Adam luluh.


"Aku tidak perduli, terserah mereka mau mengatakan apa tentangku, aku sama sekali tidak perduli. Aku tidak tau, harus mengadu pada siapa lagi sekreris Adam, Papaku memaksaku menikah dengan pria itu. Kalau seandainya saja dia tampan sepertimu, pasti aku mau. Tapi ini tidak. Sudah perutnya buncit, duda, dan anaknya empat lagi. Mana aku, mau. Dan Papaku, terus memaksaku menikah dengan lelaki itu."


"Kau bisa menceritakan masalahmu, pada Nona Ariana, bukankah dia sahabatmu? atau pada Tuan Rian, bukankah dia sepupumu?"


"Kau tau! Tuanmudamu itu sangat egois. Manamungkin, dia membiarkan Ariana berpergian sembarangan."

__ADS_1


"Dan bagaimana, dengan sepupumu,"


"Dia dalah sepupu yang jahat, bahkan sangat jahat. Bahkan dia ikut mendukung rencana Papaku, yang ingin aku menikah dengan duda perut buncit itu," Ucapnya, dengan airmata yang masih mengalir.


__ADS_2