
Zain menyandarkan pudaknya pada sandaran kursi, saat mobil yang membawa dirinya, dan Adam melintasi keraiman jalan raya kota Jakarta disiang itu. Melemparkan tatapannya keluar jendela, setelah menurunkan kaca jendela mobillnya.
"Sepertinya Ariana sudah tidak ingin benar-benar bersamaku lagi." Ucap pengusaha tampan itu, tiba-tiba.
Tatapan Adam sekilas menatap pada kaca spion mobil, menatap wajah Tuanmudanya yang terlihat mendung.
"Nona Ariana masih belum melupakan, apa yang sudah Tuan lakukan padanya,"
Senyumann palsu membingkai penuh diwajah tampannya, mewakili suasana hati yang tengah berkabut.
"Seandainya aku meminta maaf padanya, dia pasti akan memaafkan aku. Karena Ariana adalah wanita yang baik. Tapi untuk kembali padaku sepertinya tidak mungkin, karena hatinya sudah betul membeku untukku Adam?" Wajah mendung itu, semakin terlihat saja saat kalimat itu terucap.
"Terus apakah Tuan akan tetap menculik Nona Stefanie?"
Tawa kecil membingkai diwajah tampan Zain, dengan apa yang ditanyakan Adam padanya.
"Bukan menculik, tapi aku hanya mengajaknya berjalan-jelan. Dan menurutku itu salahsatu cara, agar Ariana datang padaku."
"Terus bagaimana dengan hubungan anda, dan Nona cintya Tuan..?"
"Tentu saja, aku akan segera mengakhiri hubungan kami,"
****
Larut dalam dunianya sendiri, hingga dirinya mengabaikan keberdaan putrinya yang berada disamping, saat mobil yang membawa keduanya melaju keapartemen milik Rani. Tatapannya melempar jauh kedepan, dengan tatapan hampanya. Masih teringat dengan jelas dalam ingatan Ariana, saat pertemuan tadi paginya dengan Cintya. Wanita itu mengatakan padanya, kalau dirinya dan Zain akan menikah.
FLACBACK ON
Mobil melaju dikeramaian kota Jakarta, pada pagi hari ditengah cuaca yang begitu cerah. Senyum terus mengembang diwajah cantik Ariana, saat mobil yang dia tumpangi membawanya kesalahsatu gedung stasiun televisi.
Senyum seketika memudar, kala kedua matanya menatap nomor baru pada layar ponselnya yang dia genggam.
"Nomor siapa ini?" Dia bergumam dengan rasa penasarannya.
"Angkat saja Nona, siapa tau penting." Pinta Juli yang mendengar gumaman Ariana.
Sekilas tatapannya beralih pada Juli, dan memutuskan untuk mengangkatnya setelah menimang sesaat.
"Hallo..." Sapanya ramah pada penelpone diseberang sana.
"Hallo, apakah benar ini dengan Nona Ariana?"
"Iya, ini benar dengan saya sendiri."
"Maaf Nona Ariana, ini dengan aku Cintya, putri dari rekan bisnismu Loard Davidson."
"Ohh... Cintya.. maaf, aku tidak tau jika ini kamu yang menelpone. Dan kalau boleh tau, ada apa Nona menghubungiku?" Raut wajah penasaran, saat pertanyaan itu terlontar dari bibirnya.
"Bisahkah kita bertemu sekarang? sebab ada hal penting yang perlu aku bicarakan denganmu."
Keningnya berkerut, dengan rasa penasaran yang semakin membingkai penuh diwajah, mendengar apa yang baru saja dikatakan Cintya padanya.
__ADS_1
"Bertemu denganku??"
"Iya Nona Ariana, aku ingin bertemu dengan anda sekarang."
"Baiklah. Kirim alamatnya, dan aku akan kesana sekarang."
"Baik. Aku akan mengirimkan alamat restorantnya lewat WA." Dengan memutuskan sambungan teleponenya.
Tiba-tiba saja terdengar dentingan pesan pendek, pada ponsel miliknya. Membuka aplikasi WA, dan membaca alamat restorant yang dikirim Cintya.
"Juli, kita kerestorant XXX,"
"Baik Nona..." Jawab Juli dengan memutar haluan setir, kendaraan roda empat itu.
****
Kini Ariana telah berada diresotant, dimana dia bertemu dengan Cintya kekasih dari mantan suaminya.
Senyuman ramah saat pertemuan pertama mereka, sekarang tergantikan dengan tatapan sinis pada perancang busana itu, kala dirinya tahu kalau Ariana adalah mantan istri dari kekasihnya.
"Aku tidak ingin bertele-tele. Aku ingin mengatakan tujuanku, bertemu dengan anda."
"Katakan saja Nona Cintya?"
"Aku ingin kau menjauhi Zain. Sebab sebentar lagi kami akan segera menikah."Ucapnya dengan nada yang terdengar tegas.
Kedua alisnya bertaut, menatap dengan tatapan penasaran pada Cintya.
Cintya membingkai senyuman sinisnya, melihat raut wajah bingung dari Ariana.
"Aku sudah tau, kalau anda adalah mantan istrinya. Dan apa yang menjadi penyebab keretakan rumahtangga kalian, akupun mengetahuinya. Tapi saat ini, Zain sudah berstatus kekasihku. Jadi aku minta jangan mengusik hubungan kami. Dan jangan menjadikan anak kalian, sebagai alat agar kau dapat kembali bersamanya."
Ariana menghela napas berat, berusaha meredam emosi dalam diri, atas apa yang dituduhkan Cintya padanya yang sama sekali tidak benar.
"Kau tidak perlu khawatir. Aku dan Zain benar-benar sudah berakhir. Dan aku sama sekali tidak tertarik, pada kekasihmu itu Nona cintya? dan maaf aku harus segera pergi." Dengan beranjak dari duduknya, berlalu dari ruangan itu.
FLASBACK OFF
****
Melihat wajah sendu Ibunya, membuat gadis kecil itu dirundung sedih, dan merasa bersalah karena sudah membuat Ibunya marah.
"Mommy.... Mommy...." Panggil Stefanie dengan menarik-narik tangan Ibunya.
Seketika memalingkan wajah pada putrinya, saat dia terjaga dari lamunan.
"Ada apa Stefnie?"
"Apakah Mommy marah padaku?" Wajah sendu, saat tatapanya beraduh dengan Ariana.
Seulas senyum terlihat diwajah Ariana, dengan apa yang ditanyakan anak perempuannya.
__ADS_1
"Mana mungkin Mommy sanggup marah, pada putri mommy yang cantik ini,"
Bolamata berbinar membingkai penuh diwajah mungil Stefanie, mendengar perkataan Ibunya.
"Jadi Mommy akan menikah, dengan Daddy Zain...?!" Dan pertanyaan tiba-tiba itu, membuat Ariana membeku seketika, dan bingung harus menjawab apa. Kemudian dirinya tersenyum, berusaha memberi pengertian pada anak perempuanya itu.
Meraih tubuh Stefanie, dan menaruh atas pangkuannya, seraya memeluknya erat.
"Kau tau ada banyak hal yang dilewati orang dewasa, sebelum mereka memutuskan untuk menikah. Jadi tidak semudah itu. Apakah kau bisa mengerti?"
"Baiklah.. Mommy...?" Dengan mimik cemberut, yang membuat Ariana hanya tertawa kecil dengan sikap menggemaskan putrinya.
"Jangan cemberut, karena kita akan segera bertemu dengan Opa David."
Membulat lebar kedua bolamata gadis kecil itu, mendengar ucapan Ibunya.
"Kau serius Mommy? kita akan bertemu dengan Opa David..?"
"Tentu saja Sayang.. bukankah kau sangat ingin bertemu dengan Opamu?" Dengan tersenyum kecil, dan melabukan kecupan berkali-kali pada pipi putrinya yang membuat Stefanie tertawa geli.
****
Ariana mengedarkan padangannya kesegalah arah, saat dirinya begitu mengagumi setiap interior dalam apartemen ayahnya.
"Jangan berlari-lari Stefanie, nanti kau jatuh..." Tegur David pada cucunya, saat kedua kaki kecil itu tak bisa diam.
"Aku tidak akan jatuh Opa..." Dengan teriakan, dan kedua kakinya terus saja berlari.
Wajah tua David membingkai senyuman kecil, melihat putrinya yang terus saja memperhatikan isi dalam apartemennya.
"Zain yang membeli apartemen ini untuk Papa." David berucap tiba-tiba.
Ariana seketika memalingkan wajahnya, dengan tatapan penuh tanda tanya pada ayah angkatnya itu.
"Iya Ariana, Zain yang membeli apartemen ini beserta isinya. Dia benar-benar pria yang baik. Papa baru mengenal sisi lain dari dirinya, setelah Papa berpsah dari Mama Diana. Dan Papa minta maaf, karena tidak selalu bersamamu saat Mama Diana menjualmu ketempat hiburan." Ucapnya dengan wajah sudah berkabut.
"Jadi Papa sudah tau kalau aku.." Kalimat itu terjeda.
"Iya. Dan maafkan Papa Ariana? maaf..." Keriputan itu semakin bertambah, saat wajah sendu membingkai penuh diwajahnya.
Ariana membingkai senyuman kecil, seraya menyentuh jemari pria paruhbaya itu, berusaha membesarkan hatinya yang sudah mendung.
"Saat itu nasib baik masih berpihak padaku Paa, disaat aku dalam posisi tidak berdaya, ada lelaki baik hati yang datang menolongku."
David tertawa kecil, mendengar apa yang dikatakan putrinya. Sebab dia sudah tau, kalau pria yang menolong anaknya itu adalah Zain sendiri.
"Zain adalah laki-laki yang baik. Dia begitu menyayangi Papa seperti ayah kandungnya sendiri. Bahkan saat Papa sakit, dia rella jauh-jauh datang keluar kota hanya untuk membawa Papa keDokter. Bahkan dia sempat meminta Papa, untuk menjalankan satu perusahaannya. Tapi Papa menolak. Kembalilah padanya Ariana, sebab kau berhutang budi padanya."
"Hutang budi padanya?? maksud Papa apa, aku tidak mengerti," Bolamata itu semakin membulat lebar, akibat penasaran dengan apa yang dikatakan ayahnya itu.
"Kau akan mengetahuinya nant,"
__ADS_1