
Ariana, dan Loard Davidson terus saja berbincang-bincang, mengenai kerjasama mereka, dan sedikit mengabaikan keberadaan Zain, cintya, dan Adam. Dan hal itu membuat Zain semakin meradang, dengan keakraban keduanya Apalagi melihat bagaimana tatapan Loard Davidson, dan gaya bicaranya pada Ariana, membuat kecemberuan itu semakin menjadi-jadi.
"Sayang... kau baik-baik saja?" Cintya bertanya, saat mendapati sikap tidak nyaman sang kekasih.
"Aku baik-baik saja Cintya," Meyakinkan, ditengah keresahan yang melanda.
Mimik cemberut membingkai penuh diwajah cantik Cintya, mendengar jawaban dari pengusaha berkumis tipis itu.
"Tapi aku rasa tidak. Seperti yang kulihat, kau sedang tidak baik-baik saja!"
Napas terdengar berat, perpaduan dua rasa saat ini. Antara rasa cemburu pada Ariana, dan rasa kesalnya pada Cintya yang selalu saja dengan tidak sikap dewasanya.
"Aku baik-baik saja Cintya?! dan jadi kau tidak perlu khawatir." Dengan meneguk segelas airputih, berusaha merendamkan rasa cemburu dalam diri. Tapi kedua boalamata itu, tetap tertuju pada Ariana yang tenga tersenyum pada Loard. Dan hal itu semakin membuat Cintya kesal.
"Nona Ariana...!" Panggil Cintya tiba-tiba, saat perancang ternama itu tengah berbincang dengan ayahnya.
"Ada apa Nona Cintya?"
"Aku rasa kau sangat cocok dengan Papaku. Kalian berdua, sangat serasi. Iyakan Adam..?!" Ucapnya dengan senyuman, yang berusaha memanasi Zain.
"A..aku tidak tau Nona...?" Jawab Adam gugup, saat tatapan Zain menatapnya dengan tajam.
"Cih..!! kau bahkan berpura-pura tidak tau."
Wajah Loard merona dengan apa yang dikatakan anak gadisnya, dan memang dirinya mempunyai ketertarikan pada rekan bisnisnya itu. "Kau membuat Papa malu Cintya?"
Ariana hanya membingkai senyuman kecilnya, mendengar apa yang dikatakan Cintya. Dan dia tahu, sedari tadi tatapan mantan suaminya itu terus tertuju padanya, dan hal itu memacu kecemburuan Cintya. Hingga tiba-tiba saja ada seorang pelayan menghampiri, dan itu sedikit mencairkan suasana hati.
"Nona Ariana..?"
Memalingkan wajahnya kesamping, menatap pada pelayan wanita itu.
"Ada apa? katakan." Juli langsung menyela, saat pelayan itu akan mendekat kearah Nonamudanya.
"Maaf Nona, bisakah aku berfoto denganmu?" Tatapan penuh harap dari pelayan restorant itu.
"Tentu saja boleh. Kenapa tidak." Dia menyimpulkan senyum ramahnya, pada pelayan wanita itu.
"Terima kasih Nona." Dengan jemari meraih ponsel dari saku bajunya, dan berselfi bersama Ariana.
Usai berselfi bersama Ariana, pelayan restorant itu segera berlalu pergi, setelah mengucapkan kata terima kasih.
"Terima kasih Nona Ariana? anda ternyata bukan saja hanya cantik, tapi juga sangat baik. Beruntung sekali pria yang memiliki dirimu. Dan kalau begitu saya permisi dulu."
Dan hal itu tentu tak luput dari pandangan Zain, dan dia begitu mengagumi kepribadian Ariana, yang mesti sudah terkenal tapi tetap bersikap rama pada siapapun, dan tidak ada yang berubah dari sikapnya.
"Dia tidak berubah. Dia tetap Ariana yang dulu, yang selalu baik pada semua orang. Benar kata pelayan tadi, beruntung pria yang dapat memiliki dirimu Ariana?! dan aku adalah pria itu."
Mereka kembali berbincang-bincang. Tiba-tiba saja terdengar suara telepone pada ponsel Ariana, yang berada dalam genggaman Juli sang asisten. Juli segera menyodorkan benda pipih itu pada Nonamudanya, saat melihat nama putriku Stefanie pada layar datar itu.
"Nona.. putri anda menelpone." Juli berucap pada Ariana, dengan sedikit berbisik.
"Stefanie menelpone?"
"Iya Nona?"
"Berikan padaku." Dengan jemarinya menjangkau ponselnya.
Tatapannya sekilas menatap Zain, yang sedari tadi terus saja mencuri pandang padanya. Ariana menyimpulkan senyum diwajah pada Zain saat tatapan mereka bertemu, dan meminta ijin untuk menjawab telepone dari putrinya.
"Maaf, aku harus menjawab telepone dari putriku."
"Silahkan.." Loard berkata, dengan senyuman.
Zain seketika tersedak minuman, saat mendengarkan apa yang dikatakan Ariana. Hingga membuat pria itu batuk-batuk seketika.
"Hallo Sayang.. ada apa kau menghubungi Mommy?"
"Mommy... kapan kau pulang? aku sudah mau tidur...?" Suara bocah itu, terdengar begitu menggema diseberang sana, hingga membuat Ariana seketika menjauhkan sedikit telinganya dari benda pipih itu.
__ADS_1
Jangan ditanya bagaimana raut wajah Zain saat ini. Raut wajah sendu, penasaran, dan juga terselip kerinduan akan sosok putrinya. Apalagi mendengar suara gadis kecil itu, membuat hatinya remuk redam.
"Adam... itu anakku... itu anakku...?" Dia berbisik pelan, dengan wajah sendunya.
"Tenangkan diri anda Tuan?" Ucap Adam menenangkan, dan dia tahu bagaimana suasana hati Tuannya saat ini.
"Sedikit lagi, Mommy sudah akan pulang. Dan katakan apa kau yang inginkan? biar Mommy membawanya."
"Aku ingin kau membawakan martabak telor Mommy?"
Ariana tertawa kecil, mendengarkan keinginan anak perempuannya.
"Martabak telor..?"
"Iya Mommy..?"
"Baiklah Sayang? Mommy pasti akan membawakannya untukmu." Dengan memutuskan sambungan teleponenya.
"Putri anda pasti sangat cantik Nona Ariana? pasti persis sepertimu, yang begitu cantik." Loard berucap pada perancang ternama itu.
Ariana tertawa kecil, dan sekilas tatapannya terlempar pada Zain yang tengah menatapnya dengan tatapan sulit diartikan.
"Putriku sangat cantik. Dan wajahnya sangat mirip dengan mantan suamiku."
Dan tentu saja apa yang dikatakan Ariana tadi membuat hati pria itu semakin hancur berkeping-keping, hingga padangan itu sudah berkabut, akibat airmata yang sudah tergenang.Tak kuasa menahan kepedihan dihatinya, dan memutuskan untuk pulang.
"Maaf, aku harus segera pergi." Dengan kedua kaki beranjak dari duduknya.
"Tuan.. apakah kita sudah akan pulang?" Adam bertanya, seraya menengadakan kepala menatap pada Zain, yang sudah berdiri tegak.
"Iya."
"Sayang... apa kau akan pulang? bahkan kita belum juga makan malamnya," Membingkai penuh menatap kekasihnya, dan terselip rasa kecewa didalamnya.
"Maaf Cintya, aku harus segera pergi. Dan Tuan Loard maafkan aku, sebab ada urusan yang harus aku bereskan." Dengan berlalu begitu saja, dari ruangan itu.
"Dia sangat aneh Cintya? ada apa dengan kekasihmu?" Loard memalingkan raut wajah penasarannya, pada putrinya Cintya.
Dengan kasar, dan mimik cemberut Cintya kembali mendaratkan tubuhnya pada kursi kosong, dimana dia duduk.
"Ntahlah Papa.. aku juga tidak tau kenapa dia bersikap seperti itu."
Ariana membingkai senyuman kecil diwajahnya, dan dia tahu hal yang membuat mantan suaminya tidak nyaman karena kehadiran dirinya. Dan keempat orang dewasa itu kembali melanjutkan, perbincangan mereka.
Dalam remanngnya suasana dalam mobil, Zain duduk dikursi penumpang saat mobil itu masih terparkir dihalaman restorant. Jemarinya sedikit melonggarkan dasinya, guna menghilangkan sejenak sesuatu yang terasa begitu sesak didalam dada.
"Apakah kita masih disini Tuan..?" Adam bertanya, saat Tuanmudanya memintanya agar mereka berdiam didalam mobil yang terparkir itu.
"Tunggu lagi sebentar. Aku ingin bicara dengannya."
"Nona Ariana?!" Adam mencoba untuk menebak, apa yang dimaksud Tuanmudanya.
"Tentu saja!"
"Maafkan saya Tuan?"
Tatapan Zain terus tertuju pada mobil mewah, yang terparkir disebrang sana.
"Jadi itu mobil yang ditumpangi Ariana?"
"Iya Tuan?"
"Adam..."
"Ada apa Tuan?"
"Kau caritau, dimana Ariana tinggal bersama putriku saat ini."
"Baik Tuan..."
__ADS_1
Tatapan Zain masih saja tertuju pada mobil yang membawa Ariana kerestontorant itu. Tak berapa lama, akhirnya yang ditunggupun datang juga. Dimana Ariana, Juli, cintya, dan ayahnya Loard Davidson telah keluar dari dalam restorant. Setelah berbincang sebentar Loard, dan putrinya cintya memutuskan untuk pulang terlebih dahulu.
Kedua kakinya segera melangkah keluar dari dalam mobil, dan dengan mengambil langkah panjang, Zain menghampiri mantan istrinya itu.
Jemari lentik itu akan meraih gagang pintu, dan saat akan membuka, Ariana begitu kaget saat ada seseorang menarik tangannnya.
"Lepaskan aku.. lepaskan..." Ariana berusaha melepaskan genggaman itu, yang terasa begitu kuat.
Zain... kau...." Dan dia begitu terkejut, saat tatapan mereka bertemu.
"Aku ingin bicara denganmu." Nada yang terdengar menuntut, saat kalimat itu terucap.
"Aku tidak mau Zain.. lepaskan aku...?! bagaimana kalau media melihat kita. Apa kau lupa, kalau kau sudah memiliki kekasih..!!" Nada kesal, dan berusaha melepaskan genggaman tangan pria itu.
"Biarkan saja. Aku tidak perduli." Jawabnya enteng.
"Kau sangat egois Zain..!! aku sangat membencimu..?!"
Juli yang melihat itu semua, berusaha menolong Nonamudanya, tapi seketika Adam mencekal tangannya, hingga langkah asisten itu terhenti seketika.
"Apa yang kau lakukan?! lepaskan aku..!!"
"Aku akan melepaskanmu, setelah Tuanmudaku sudah selesai berbicara dengan Nona Ariana,"
"Aku tidak perduli!!" Dengan ingin kembali melepaskan genggaman tangan itu, tapi Adam semakin mempererat cengkraman tangannya.
"Kau bisa diam tidak?! apakah kau mau aku menciummu Nona..! lagi pula biarkan mereka bicara dulu."
"Memang apa yang akan mereka bicarakan? bukankah Nona Ariana tidak terikat kontrak kerja dengan Bosmu??"
"Tuanmudaku, ayah biologis dari anak perempuan Nona Ariana. Mereka adalah mantan suami istri."
Juli begitu terkejut, mendengar apa yang disampaikan Adam padanya.
"A..apa kau serius??" Tanyanya seolah tidak percaya.
"Tentu saja, buat apa aku berbohong."
Ariana masih berusaha melepaskan genggaman tangan mantan suaminya itu.
"Jadi selama ini kau berada diAmerika?! dan dimana putri kita?!" Zain bertanya pada mantan istrinya, sekalipun Ariana terus berusaha melepaskan diri.
Menyeringai diwajah cantik Ariana, mendengar apa yang ditanyakan Zain.
"Putri kita?! bukankah kau tidak mengakui dia sebagai anakmu?!"
"Maafkan aku Ariana... aku sangat menyesal... aku mohon... ijinkan aku bertemu dengan anakku.." Tatapan penuh harap, saat kalimat itu terucap dari bibirnya.
"Maaf aku tidak bisa. Lagipula, anakku tidak membutuhkan sosok ayah. Dia sudah bahagia hidup bersamaku." Dengan nada yang begitu meyakinkan.
Zain hanya terdiam, dan tatapannya menatap dengan penuh kerinduan pada mantan isrtrinya itu.
"Kenapa kau terus menatapku seperti itu Zain..?!"
"Aku sangat merindukanmu Ariana.... aku sangat menderita, selama beberapa tahun ini," Tatapan begitu dalam, dan tangan kekarnya menjangkau tengkuk Ariana, dan menciumnya dengan paksa.
"Lepaskan aku Zain... lepaskan...." Ariana memukul-mukul kuat dada Zain, saat pria itu terus mencium paksa dirinya.
Zain tidak memperdulikan rontahan Ariana, lelaki tampan itu terus saja memagut bibir mantan istrinya, yang begitu sangat dia rindukan. Ariana terus saja berontak, dan saat sudah terlepas dari kukuhan Zain, dia segera melayangkan tamparan keras pada pipi mantan suaminya.
"PLAAKKK" Hingga membuat wajah tampan itu, seketika berpaling kesamping. Dan hal itu membuat Juli, dan Adam melongo kaget dengan apa yang dilakukan perancang terkenal itu.
"Aku sangat membencimu Zain... aku sangat membencimu..." Dengan sedikit teriakan, dan berlalu begitu saja.
Zain mengusap kasar sudut bibirnya dimana mengeluarkan sedikit darah, akibat tamparan dari Ariana.
"Suka, atau tidak suka kau akan tetap bersamaku. Sebab kau hanya milik Zain Pratama. Kita lihat saja, hal apa yang akan kulakukan hingga kau tidak bisa lari dariku." Dengan nada penuh penekanan.
Maaf ya baru up, sebab selama ini aku ngurus Ibuku yang sedang sakit, sambil mencuri waktu buat nulis novel.
__ADS_1