Terjerat Cinta Si Culun

Terjerat Cinta Si Culun
Mempunyai bakat.


__ADS_3

Matahari telah menampilkan senyumnya, menikmati keindahan pagi hari. Lelaki tampan itu menopang dagunya, dan seperti ada yang dia pikirkan saat duduk diruang kerjanya.


Pikirannya masih berkelana kemana-mana, hingga mengabaikan berkas-berkas yang berada diatas meja. Memikirkan hal kemarin saat menghubungi Rani, sangat begitu mengusik pikirannya, dengan perubahan penampilan Ariana saat ini.


Hembusan napas terdengar berat, seraya mendongakkan kepala menatap langit-langit ruang kerjanya. Terus larut dalam lamunannya, hingga suara telepone membuyarkan lamunan lelaki yang memiliki tatapan tajam itu.


"Selamat siang, Tuan?"


"Siang. Ada apa Ross?"


"Maaf Tuan, dibawah ada tamu yang ingin bertemu dengan anda."


"Tamu. Siapa? apakah dIa sudah mempunyai janji sebelumnya, denganku?" Bertanya, dengan rasa penasarannya.


"Belum Tuan. Dia sama sekali belum mempunyai janji dengan anda. Dan namanya, Tuan Jason."


"Jason..?" Dengan kerutan dikeningnya, karena tidak menyangkah laki-laki itu, akan kembali datang diperusahaannya.


Untuk apa, dia datang menemuiku?" Bertanya pada diri sendiri, dengan rasa penasaran yang menyelimuti.


"Iya Tuan. Namanya, Jason."


"Katakan saja padanya, kalau aku tidak bisa bertemu dengannya. Karena aku, sangat sibuk." Ucapnya, dengan nada penuh penekanan.


:Baik Tuan," Jawab resepsionis itu dengan mengakhiri panggilan teleponenya.


Zain menyandarkan pundaknya pada sandaran kursi, dengan rasa penasaran yang semakin menyelimuti diri. Sebab ini sudah kedua kalinya, Jason datang mencarinya keperusahaan.


Dan sekali lagi pikiran negatif menyelimuti diri pria itu, karena kebenciannya pada Jason, yang sudah pernah merebut Clara darinya.


"Untuk apa, sibrengsek itu datang menemuiku lagi. Apakah dia datang menemuiku, hanya untuk membahas soal Clara? kalau itu benar, aku sama sekali tidak perduli. Karena itu, bukan urusanku." Gumamnya, dengan raut wajah kesalnya.


****


Matahari perlahan mulai menyembunyikan wajahnya, seiring datangnya gelap yang perlahan telah sempurna menenggelamkan wajahnya.


Ariana berbaring diatas ranjang kingzisenya, dengan berbalut selimut berbulu yang dapat menghangatkan dirinya, dari dinginnya udara malam hari.


Rasa jenuh seketika menyelimuti diri, hingga membuatnya tidak dapat tidur.


Menurunkan kedua kakinya dari atas ranjang, dan melangkah keluar dari kamar itu.

__ADS_1


Berada seorang diri diapartemen mewah itu, membuatnya sangat bosan, hingga Ariana memutuskan untuk berjalan-jalan mengelilingi apartemen milik Rani. Langkah kaki itu terhenti, saat arah pandangnya menatap beberapa piagam yang terpajang didinding, atas pretasi yang diraih Rani sebagai seorang perancang bucana.


Terus melangkah, dan melangkah hingga dia berada didekat ruang kerja disainer cantik itu.


Akibat rasa penasaran, Ariana memutuskan untuk masuk sebab dia sama sekali belum pernah memasuki ruangan itu.


Meraih gagang, dan membuka pintunya yang kebetulan tidak terkunci. Dia menatap piala-piala yang berjejer rapi diatas bufet, dan sekali lagi dia begitu mengagumi Rani, atas pretasinya.


Langkah kakinya membawanya menghampiri meja kerja, dan melihat lembaran-lembaran yang yang sudah berisi goresan tangan Rani, dengan menghasilkan desain-desain yang begitu indah.


"Nona Rani sangat berbakat. Aku juga ingin seperti dirinya, hanya saja aku tidak memiliki uang untuk melanjutkan sekolah dibidang fashion," Gumamnya, dengan wajah sendu.


Untuk mengusir kejenuhan, wanita berambut hitam itu meraih beberapa lembaran kertas putih, dan beberapa pensil warna, dan kembali kekamarnya.


Saat sudah berada dikamar, Ariana segera menyalakan lampu, setelah tadi membiarkan remang-remang suasana , menyelimuti kamarnya.


Dudu diatas ranjang, dan tangannya dengan lihai mulai menggoreskan pensil warna diatas lembaran kertas putih polos, hingga menghasilkan sebuah desain yang sangat indah.


Dan setelah selesai dengan gambar pertamanya, sebuah gaun pesta yang sangat indah.


"Gaunnya sangat cantik, dan tidak kalah sama hasil rancangan Nona Rani tadi." Gumamnya, yang begitu terpukau dengan gambar hasil goresan tanganya.


"Ariana...! Ariana...!" Panggil Rani saat membuka pintu, mendapati apartemen dalam keadaan sepi.


'AKu sedang, berada didalam kamar Nona Rani?" Jawabnya, dengan sedikit berteriak.


Mendengar teriakan Ariana, Rani memutuskan untuk menyambangi kamar wanita itu.


"Apakah, aku boleh masuk?" Pintanya, saat sudah berada didepan kamar.


Ariana terlihat panik, saat mendengar Rani akan masuk kedalam kamarnya. Apalagi dengan lancang dia sudah masuk kedalam ruang kerja wanita itu, dan mengambil kertas-kertas polos itu. Dan merasa sikapnya tidak sopan, sebagai orang yang menumpang hidup dirumah orang.


Segera meraih lembaran-lembaran yang berserakan diatas ranjang, dan segera menyisipkan dibawa bantal kepalanya.


"Ma...masuklah.." Jawabnya terbata-bata, akibat rasa gugup yang menyelimuti diri.


Rani menampilkan senyumannya Pada Ariana, saat pintu kamar telah dibuka olehnya.


Berjalan menghampiri wanita bermanik hitam itu, dengan raut wajah bersalahnya, sebab meninggalkan Ariana sendirian diapartemen.


"Maafkan aku, karena meninggalkanmu sendirian. Dan apa, yang sedang kau lakukan Araa?"

__ADS_1


"A..aku. sedang.." Dengan tidak, melanjutkan kalimatnya.


Seketika raut wajah Rani menatap intens Ariana, yang nampak seperti tengah menyembunyikan sesuatu darinya.


"Kamu sedang tidak menyembunyikan sesuatu, darikukan Araa?" Bertanya, dengan tatapan penuh selidik menatap wanita didepannya.


"Tidak!" Jawabnya berusaha meyakinkan Rani, ditengah rasa gugup yang mendera.


Rani tidak langsung percaya dengan Ariana. Dia mengedarkan pandangannya kesegalah arah, dan berhenti pada sebuah kertas yang terlihat sedikit bagiannya dibawa bantal kepala. Karena rasa penasarannya, dia langsung meraihnya.


"Apa ini?"


"Itu bukan apa-apa?" Dengan ingin mengambil kertas dibawah bantal itu, tapi Araa kalah cepat dengan tangan Rani yang telah mendahuluinya.


Rani menatap dengan intens lembaran-lembaran kertas yang berada digenggamannya, dan dia begitu takjub karena goresan-goresan itu sangat luar biasa.


"Maafkan aku, karena sudah lancang masuk dalam ruang kerjamu Nona Rani," Ucapnya, menunduk.


Tatapan Rani menatap dengan intens Ariana, yang tengah menundukkan kepalanya. Dan dalam dirinya merasa sulit untuk mempercayai, kalau Ariana yang menggambar desain-desain pada kertas putih itu.


"Apakah benar, kamu yang menggambarnya Ariana?" Tanyanya, memastikan.


"I..iya. Itu aku yang menggambarnya, Nona Rani," Jawabnya, dengan masih menundukkan kepalanya.


"Ariana, tatap aku!" Pintanya, tegas.


Ariana mendongakkan kepalanya, mencoba untuk berani menatap perancang busana itu.


"Maafkan aku sekali lagi, maafkan aku Nona Rani,"


"Aku sama sekali, tidak marah padamu. Tapi ini sangat keren, Ariana?? kamu seperti perancang profesional, dan aku tidak menyangkah ternyata kamu sangat berbakat," Ucapnya, dengan tatapan berbinar.


"Terima kasih," Jawabnya, tersenyum kikuk.


Raut wajahnya seketika serius, dengan kedua tangan menggenggam jemari Ariana.


"Kalau kamu mu, bagaimana kalau kau berkuliah diAmerika dan aku akan membiayainya. Kamu sangat berbakat Ariana, dan aku yakin kamu bisa menjadi wanita sukses," Bujuk Rani, dengan raut wajah berapi-api.


"Tapi..?" Dan dia, terlihat ragu.


"Ini saatnya kamu membuktikan pada mereka, kalau kamu bisa menjadi seorang wanita yang sukses. Dan bukan Ariana, yang selama ini mereka anggap sebagai wanita lemah. Dan kamu harus bangkit, karena mau sampai kapan kau hidup dalam bayang-bayangnya."

__ADS_1


__ADS_2