
Mendapat pelukan dari mantan kekasihnya, membuat Clara tampak begitu bahagia.
"Tenanglah, aku yakin kita pasti bisa menemukan Araa. Dan aku minta istirahatlah. Karena aku tidak mau kau sakit, karena memikirkan adikmu." Pinta Zaain, dengan tatapan lembut menatap Clara.
"Terima kasih Zain, karena kau sudah begitu perduli padaku." Dengan senyuman, menatap mantan kekasihnya itu.
"Adam, kau istirahatlah. Sebab semalam kita tidak cukup tidur. Karena besok pagi, kita harus melanjutkan pencariannya."
"Baik Tuan, anda sebaiknya juga beristirahat. Karena anda juga, pasti sangat lelah."
"Iya Zain, seebaiknya kau juga istirahat. Nanti Bibi akan membuatkan sup, yang enak untukmu."
"Terima kasih, Bibi? kalau begitu aku kekamar dulu." Dengan berlalu menuju kamarnya, begitupun juga dengan Adam yang meninggalkan ruang tamu itu.
Setelah perginya Adam, dan juga Zain. Celine, dan Clara seketika tertawa bahagia, seraya membekap mulutnya. Karena tidak mau Zain, ataupun Adam mendengar tawa bahagia mereka.
"Bibi, semoga saja anak pungut itu tidak ditemukan."
"Bibi yakin, pasti dia sudah dimakan binatang buas. Memang takdirmulah, yang menjadi menantuku, Clara?"
"Terima kasih Bibi, aku begitu menyayangimu. Dan terima kasih karena masih mendukungku, untuk kembali bersama dengan keponakanmu." Dengan memeluk manja, Celine.
"Sama-sama, calon menantuku," Dengan membalas, pelukan dari Clara.
****
Pagi telah menyambut kota Jakarta, udara yang begitu dingin diperbukitan itu, tak menyulutkan niat Zain, untuk kembali mencari keberadaan istrinya. Dan sekali lagi, hasilnya tetap sama, Ariana tidak ditemukan.
"Maaf Tuan, kabut semakin saja terlihat. Dan cuaca sama sekali tidak mendukung. Kita sudah mencari dimana saja dengan menelusuri hutan ini, tapi istri anda tidak ditemukan juga." Seru salah satu pria, yang merupakan anggota tim yang mencari keberadaan Ariana.
Mengusap kasar wajahnya, dengan raut wajah yang terlihat begitu frustasi. Walaupun masih tetap ingin mencari Ariana, tapi bagaimanapun dia tidak boleh egois. Apalagi cuaca terlihat begitu buruk, dengan kabut yang semakin menyelimuti bukit itu.
"Baiklah, ayo kta pulang.' Ajaknya, dengan nada yang terdengar berat.
__ADS_1
****
Terbaring lemah, dengan kondisi tidak sadarkan diri hingga saat ini, itulah penampakan dari Ariana Mahesa. Ariana masih saja memejamkan matanya, saat dibawa salah satu penduduk lokal kerumah sakit, yang menemukan keberadaannya dibawah kaki bukit.
"Bagaimana keadaannya, Dokter?" Tanya Alex, pada Dokter yang menangani Ariana.
"Dia belum sadarkan diri, sampai saat ini. Dan apakah anda, suaminya?"
Alex tertawa kecil, saat mendapati pertanyaan yang keluar dari Dokter itu, yang mengirah Ariana adalah istrinya.
"Saya bukan siapa-siapanya, Dokter? saya menemukan dia ditengah hutan. Dan sepertinya, dia jatuh dari atas bukit."
"Benarkah?" Dengan raut wajah, yang begitu terkejut.
"Iya, Dokter?"
"Tapi syukurlah wanita malang ini, tidak mengalami patah tulang. Hanya saja, sampai sekarang dia belum juga siuman."
"Kita tunggu saja Dokter, kapan dia akan sadarkan diri. Dan syukurlah, dia tidak mengalami patah tulang."
"Siapapun anda, semoga anda cepat sadar, Nona?" Bathin Alex, penuh harap.
****
Dua hari telah berlalu, dan kini Zain sudah kembali dikediaman mewahnya.
Tatapan matanya menerawang, menatap keindahan alam dari balkon lantai tiga kamarnya. Hembusan angin malam begitu menusuk, tak menyulutkan niatnya untuk beranjak dari balkon ditengah dinginnya udara.
Clara membuka pintu kamar, dan melangkah mencari sosok mantan kekasihnya, dan mendapati pria itu sedang berada dibalkon.
Melangkah pelan menghampiri Zain, dan memeluknya dari belakang.
"Clara.." Ucapnya yang kaget saat Clara memeluknya, dan dia berusaha melepaskan pelukan wanita itu. Bukannya melepaskan, Clara semakin mempererat pelukannya pada Zain.
__ADS_1
"Biakan aku memelukmu, Zain? walapun kau hanya menjadikanku, tempat pelarian. Biarkan aku memelukmu seperti ini. kau tau, aku begitu merindukanmu. Selama ini kau selalu mengabaikan keberadaanku, dan menganggapku tidak ada." Ucapnya dengan airmata yang sudah membasahi pipi, karena rasa cintanya yang teramat sangat pada pria itu.
"Tapi aku sudah tidak mencintamu lagi, Clara?" Dengan nada, yang terdengar tegas.
Melepaskan pelukannya. seraya menatap Zain, dengan tatapan penuh cinta.
"Aku akan tetap bersabar, sampai kau mau menerima cintaku kembali." Seru Clara dengan langsung mencium bibir mantan kekasihnya, dengan begitu dalam.
Zain yang awalnya menolak, akhirnya terbawa dengan permainan yang Clara ciptakan, hingga membuatnya membalas ciuaman dari mantan kekasihnya dengan gairah. Terus berciuman hingga bayangan Ariana terlintas dalam pikirannya, yang membuat laki-laki tampan itu, melepaskan pagutannya dari bibir Clara seketika.
"Maaf Clara, aku tidak bisa."
"Tapi kenapa, Zain? kenapa? walaupun kau tidak mencintaiku lagi, setidaknya ijinkan aku untuk mencintaimu kembali. Bahkan aku rella memberikan tubuhku, padamu." Dengan kembali mencium bibir Zain, dengan begitu agresif.
"Lepaskan aku, Clara..?! aku minta keluarlah. Karena aku ingin sendiri." Ucapnya, dengan sedikit berteriak, dan melepaskan pagutan Clara.
"Aku tidak mau, zain.. aku tidak mau." Kekehnya dengan teriakan, dan airmata yang sudah membasahi pipinya.
"Kau sudah gila, Clara? kalau kau tidak mau keluar, biar aku yang keluar." Ucap Zain dengan berlalu begitu saja, meninggalkan Clara seorang diri.
"Zain... Zain..." Teriaknya memanggil pria itu, tapi tidak dihiraukan.
Clara terlihat begitu frustasi, saat Zain dengan terang-terangan menolaknya, sebab dulu pria itu begitu mencaintainya, hingga membuatnya tidak bisa menerima kenyataan. Mengambil vas bunga yang berada diatas meja, dan melemparnya hingga hancur berkeping-keping.
"PRAAKK."
"Sampai kapanpun, aku tidak akan pernah membiarkan siapapun memilikimu, Zain," Gumamnya, dengan raut wajah yang begitu memerah.
****
Sinar matahari pagi telah tersenyum menyapa bumi, setelah kegelapan menghilang secara sempurna.
Tatapan matanya menerawang menatap keindahan kota Jakarta dari gedung pencakar langit miliknya, ditengah kegundahan hati yang dia rasakan saat ini.
__ADS_1
"Apa yang sebenarnya kurasakan padamu, Araa? kenapa aku begitu merasakan kehilangan, disaat kau tidak ada disisiku." Bertanya pada diri sendiri, ditengah kehampaan dirinya.