Terjerat Cinta Si Culun

Terjerat Cinta Si Culun
Telepone dari Piter.


__ADS_3

KEDIAMAN ZAIN PRATAMA.


Wanita parubaya itu terus menampilkan tawa bahagianya, saat mendengar apa yang dikatakan Clara padanya, kalau keponakannya sudah menceraikan Ariana.


"Apa yang Bibi Bilang padamu, kau tidak perlu repot-repot mengotori tanganmu dengan membunuhnya, cukup dengan memakai cara ini saja, Zain sudah menyingkirkan anak itu dari hidupnya, untuk selamanya. " Ucap Celine, dengan bangganya.


"Tentu Bibi, aku tidak menyangkah dengan idemu ini, baru membuat kita berhasil menyingkirkan anak pungut itu selamanya. Dan sekarang aku sangat bahagia, karena tidak ada yang menghalangi jalanku lagi, untuk mendapatkan Zain kembali."


"Kau tidak perlu khawatir, karena Bibi yakin Zain pasti akan cepat kembali padamu. Karena sekarang baru dia menyadari, kalau wanita yang dia nikahi sangat murahan. Jadi tidak ada alasannya lagi baginya, untuk menolakmu Clara?"


Clara mengedarkan pandangannya keseluruh penjuru arah, dan dia nampak seperti sedang mencari seseorang.


"Siapa yang kau cari, Clara? Tanya Celine, yang sedari tadi memperhatikan tatapan wanita berambut pirang itu.


"Dimana Zain, Bibi? karena tadi aku tidak melihatnya. Apakah hari ini dia tidak masuk kantor hari ini? karena yang aku lihat, Adam masih berada dirumah."


Menghembuskan napas berat, saat mendapatkan pertanyaan itu dari Clara.


"Ntahlah, BIbi juga tidak tau dimana anak itu sekarang. Dari semalam, dia tidak pulang kerumah,"


"Tidak pulang??" Tanya Clara, yang sedikt terkejut.


"Iya dari semalam, Zain tidak pulang. Bibi sudah meminta Adam menghubunginya beberapa kali, tapi ponselnya malah dimatikan." Jawabnya, dengan guratan kekecewaan yang terlihat jelas dari raut wajahnya.


Ada rasa sesak dalam diri wanita berambut pirang itu, saat mendengar apa yang disampaikan Celine padanya.


Dan dia tahu, Zain sedang menenangkan dirinya, dari masalah yang tengah dia hadapi.


"Sepertinya dia sangat mencintai Ariana, bahkan rasa cintanya lebih besar saat masih menjalin hubungan denganku dulu," Bathin Clara.


Saat tengah larut dalam perbincangan mereka, terdengar suara mobil yang memasuki halaman rumah mewah itu.


Menurunkan kedua kakinya dari mobil mewahnya, setelah menyambar jasnya yang dia letakkan disamping kursi kemudi.


Penampilanya terlihat sangat acak-acakkan, dengan kancing kemeja yang sedikit terbuka, dan sebagian baju yang sudah terlepas dari sisipannya, dan rambut yang berhamburan.


Berjalan memasuki rumah mewahnya dengan santai, tanpa memperdulikan keberadaan wanita kedua beda usia itu, yang tengah menatapnya dengan aneh.


Raut wajah Clara dipenuhi rasa kecewa, saat mendapati Zain sama sekali tidak memperdulikan keberadaannya.


Dan diapun berinisiatif, untuk menghampiri pria itu.


"Zain..." Panggilnya, dengan sedikit berteriak.


Membalikkan badannya, dan dengan tatapan malas dia menatap Clara.


" Ada apa?" Bertanya, dengan senyuman sinisnya.


Tatapan Clara menatap dengan intens, penampilaan Zain saat ini. Tatapan itu seketika berhenti pada leher Zain, yang begitu menarik perhatiannya.

__ADS_1


"Kenapa lehermu, Zain?"


Celine menghampiri pasangan mantan kekasih itu, begitupun juga Adam, yang sedari tadi sudah menunggu kedatangan Tuanmudanya. Dan tatapan wanita parubaya itupun, tertuju pada leher keponakannya, yang bertebaran tanda merah, dan dia sangat mengetahui itu apa.


"Kenapa dengan lehermu Zain? jangan katakan kalau semalam, kau habis.." Dengan tidak melanjutkan, kalimatnya lagi.


"Apa yang Bibi pikirkan itu sangatlah benar, semalam aku baru saja bercinta," Jawabnya santai, tanpa memperdulikan perasaan Clara.


Ketiga orang dewasa itu, begitu terkejut dengan apa yang baru saja dikatakan oleh pengusaha tampan itu, sebab dia menjawabnya dengan tanpa beban.


"Kenapa kau melakukan hal itu, Zain? apakah Bibi pernah mengajarkan hal yang tidak baik, padamu?" Bertanya dengan, sedikit berteriak.


"Ayolah Bibi, tidak perlu berteriak begitu, aku ini bukan seorang suami, dan kekasih dari wanita manapun. Aku ini, seorang pria dewasa jadi apakah salah, jika aku melakukan hal itu," Jawabnya, santai.


Raut wajah Clara seketika berubah mendung, saat mendengar pengakuan pria yang masih dicintainya itu, yang begitu menyakiti hatinya.


"Tapi Zain, aku masih mencintaimu? masih sangat mencintaimu, Zain??" Dengan linangan airmata, yang sudah membasahi pipi.


"Iya Zain, kenapa kau melakukan hal itu? kau seperti, bukan Zain yang Bibi kenal. Apakah ini karena perpisahanmu, dengan wanita itu?" Tanya Celine, yang mencoba untuk menebak.


"Sudahlah Bibi, jangan membahas wanita murahan itu, walaupun hanya mendengar namanya saja, membuatku muak.


Adam.." Panggilnya, tiba-tiba.


"Ada apa, Tuan?" Jawabnya, dengan berjalan mendekat kearah pria itu.


"Aku mau beristirahat, dan tidak mau diganggu. Jadi hari ini masalah pekerjaan, kau yang mengurus semuanya." TItahnya, dengan berlalu begitu saja.


Dan saat Clara akan menyusul, Celine langsung mencekal tangannya.


"Kenapa kau mencegahku, Bibi? aku ingin, menyusulnya,"


"Biarkan dia sendiri. Zain, butuh waktu untuk menenangkan dirinya."


"Tapi Bibi?"


"Zain butuh waktu untuk sendiri, dan kau tidak perlu khawatir, dia tidak mungkin kembali lagi pada Ariana. Jadi minta kau harus banyak bersabar, jika ingin kembali bersamanya."


Menghela napas berat, dan dia membenarkan apa yang dikatakan Celine, padanya.


"Baiklah Bibi, aku akan mencoba untuk bersabar demi dirinya."


Tiba-tiba saja terdengar suara telepone pada ponsel miliknya, yang mengalihkan tatapan Clara pada dalam tas, yang menggelantung pada pundaknya.


Merogoh ponsel dalam tasnya, dan raut wajahnya sedikit kaget, saat melihat nama Piter disana.


"Untuk apa, dia menghubungiku?" Bathinnya, bertanya pada diri sendiri. Dan memutuskan, untuk mematikannya.


"Siapa, yang menghubungimu?" Tanya Celine tiba-tiba, yang mengejutkan wanita itu.

__ADS_1


"Bu..bukan, siapa-siapa Bibi?" Jawabnya gelapan, dengan raut wajah yang sudah berubah pucat.


Sekali lagi terdengar suara telepone masuk, pada ponsel wanita itu. Dan melihat nama yang sama lagi, yaitu Piter.


"Angkat saja teleponenya Nona, mungkin itu telepone penting, hingga dia menghubungi anda berkali-kali."


"Maaf, aku harus menjawab teleponenya." Ucap Clara, dengan berlalu menuju taman samping rumah.


Celine terus menatap Clara, dengan tatapan penuh tanda tanya. Dan dalam dirinya menaruh rasa curiga, pada wanita itu.


"Tidak biasanya Clara menjawab telepone dengan jarak yang begitu jauh, jika ada aku. Dan dia nampak seperti, sedang menyembunyikan sesuatu."


****


Saat sudah berada ditaman, Clara langsung menggeser icon hijau, untuk menjawab telepone dari pengusaha itu.


"Untuk apa kau menghubungiku? bukankah, urusan kita sudah selesai?!" Dengan nada, yang terdengar kesal.


Seketika terdengar tawa yang begitu menggema diseberang sana, hingga membuat Clara sedikit menjauhkan ponselnya, karena tawa itu sedikit menyakiti pendengarannya.


"Siapa bilang sudah selesai! asal kau tau, belum sama sekali." Dengan nada, penuh penekanan.


"Apa maksudmu, Tuan piter? bukankah, aku sudah memenuhi keinginanmu?"


"Tapi sayangnya, aku sudah merasa candu dengan tubuhmu,"


"Apa maksudmu berbicara seperti itu, asal kau tau, aku hanya ingin melakukan hal itu dengan Zain saja, karena aku sangat mencintainya." Dengan nada, penuh penekanan.


Terdengar sekali lagi tawa diseberang sana yang begitu menggema, dari mulut pengusaha itu.


"Kau jangan sok suci Clara!! bahkan sebelum melakukan hal itu denganku, kau sudah terbiasa melakukan hubungan suami istri dengan mantan kekasihmu."


Raut wajahnya seketika berubah pucat, saat mendengarkan apa yang dikatakan Piter barusan.


"Jangan bertele-tele, cepatkan katakan apa yang kau mau!"


"Malam ini, kau harus melayaniku." Pintanya, dengan nada tegas.


"Bagaimana, kalau aku tidak mau."


"Benarkan kau tidak mau, tapi aku yakin setelah menonton video yang sudah kukirimkan padamu, pasti kau akan memenuhi keinginanku. Datang jam 8 malam dihotel XXX, aku menunggumu. Berdandanlah yang cantik, dan pakai baju yang seksi, karena kau harus memuaskanku malam ini." Dengan langsung memutuskan, sambungan teleponenya.


Zain Pratama.


Kenapa aku memilih visual ini, sesuai dengan sikapnya yang arogant.



Ariana Mahesa.

__ADS_1




__ADS_2