
Lima tahun kemudian.
Matahari telah kembali bersinar pada muka bumi, setelah gelap menghilang bersama bulan, dan bintang.
Seperti biasanya suasana akan selalu ramai, jika sikembar lima sudah hadir. Dan itu terjadi diruang makan.
"Jangan berebut anak-anak! Mommy akan membagikannya," Ariana menegur, pada kelima buahatinya yang sibuk merampads makanan.
"Aku mau yang ini, Mommy!' sibungsu Safaira menunjukkan pada potongan roti panggang, yang berada sedikit jaun darinya.
"Sebentar ya Sayang," dengan senyuman, kala jemarinya menggapai pada sebuah piring yang berisi beberapa roti yang sudah dipanggang itu.
"Mommy! dimana Kakak?" tanya Safaniya, yang sedari tadi mencari keberadaan Kakak perempuannya Stefanie.
"Kakak masih dikamar, sebentar lagi pasti akan turun."
"Mommy... Mommy... mana nasi gorengku?! aku sudah sangat lapar tau!" dengan mimik cemberut, kala Ibunya tak kunjung menyendokkan nasi goreng untuknya.
"Mommy, akan segera mengambilnya Sayang! dan apakah kau ingin telor ceplok juga?"
"Tidak Mommy! aku tidak mau." bibir mungil itu berucap dengan cepat.
"Mommy... Mommy... aku mau susu cokelat," Aaron sedikit berteriak pada Ibunya.
"Baiklah-baiklah, Mommy akan segera membuatkan susu untukmu." menghembuskan napas lelahnya, saat melayani permintaan kelima anaknya yang tidak ada habisnya.
Mengambil langkah panjangnya, kala sudah berada dilantai bawah yang akan membawanya pada ruang makan.
"Pagi Mom," Stefanie menyapa, dengan melabuhkan kecupan singkat pada pipi Ibunya.
"Pagi Sayang! kau ingin apa?"
"Aku ingin nasi goreng saja. Tapi biar aku saja yang mengambilnya sendiri Mommy! karena aku tau, kau pasti sudah lelah mengurus kelima adikku yang nakal ini."
"Aku tidak nakal Kakak! " Aksa seketika menyela, saat mendengar apa yang dikatakan Kakak perempuannya Stefanie.
"Baiklah- baiklah, kau memang anak yang baik." dengan mengacak-ngacak rambut adik laki-lakinya, sebelum melabuhkan tubuhnya pada sebuah kursi tunggal.
"Aku juga Kakak! aku juga anak yang baik." Safaira sibungsu dengan tidak mau kalahnya.
"Kau memang adikku yang paling manis!' dengan senyuman saat tatapan itu beradu dengan mata adik bungsunya.
Mengayunkan langkah pelan, menuju pada ruang makan. Samar-samar Zain mendengar suara keramian, diruangan itu.
"Selalu saja seperti ini, kalau sikembar sudah ada." dengan senyuman, saat kedua kaki itu melangkah.
"Pagi," Zain menyapa, dan melabuhkan kecupan singkat pada pipi istrinya.
"Daddy..." Sibunggu Safaira segera berlari pada Zain, kala melihat kedatangan Ayahnya.
Seketikia menggapai tubuh putri bungsunya, kala bocah kecil itu merentangkan kedua tangannya untuk digendong.
"Daddy! apakah aku juga boleh ikut kekantor bersamamu?" bolamata kecil itu, lebih membulat lebar saat menyampaikan keiginannnya.
"Kau boleh pergi kesana, tapi harus bersama Mommymu."
"Tidak. Kami tidak akan pergi. Kau tau Zain, bagaimana kerepotannya kalau aku harus membawa mereka berlima." Ariana menjawab cepat, akan apa yang dikatakan suaminya.
__ADS_1
"kau bisa meminta bantuan pada Mama, dan juga Bibi Ani, ataupun Paula, Araa!"
"Ntalah! karena kau tau sendirikan bagaimana kenakalan ketiga putramu ini!"
"Iya Daddy! ketiga putramu itu sangat nakal. Karena kau terlalu memanjakkan mereka." Stefanie seketika menyela, akan ucapan kedua orangtuanya.
"Kau tau Stefanie! saat kau kecil dulu, kau bahkan jauh lebih nakal dari ketiga adik laki-lakimu ini. Dan kau begitu keras kepala, dan begitu susah diatur."
"Itukan dulu, Daddy! sekarang aku sudah berubah menjadi gadis yang manis, dan tidak nakal lagi."
"Tapi ada satu yang tidak berubah. Yaitu kau tetap menyebalkan. Bahkan sangat menyebalkan."
Menampilkan wajah cemberutnya, mendengar apa yang baru saja dikatakan Ayahnya.
"Apakah Daddy tidak menyadari, kalau Daddy jauh lebih menyebalkan dariku!"
"Zain! Stsfanie! bisakah kalian berdua diam? karena aku harus mengurus kelima anakku. Kalau kalian berdua mau berdebat, kalian berdua bisa berdebat ditempat lain." dengan nada kesal saat berucap pada anak, dan suaminya.
"Iya Mommy! Kakak, dan Daddy itu memang sangat menyebalkan. Selalu saja bertengkar kalau sudah bertemu." Safaniya seketika menyela dengan wajah cemberutnya.
****
Kegelapan telah kembali menyelimuti bumi, kala senja kembali bersembunyi pada balik gununng yang menjulang.
Setelah kelahiran sikembar, Zain memutuskan untuk membangun rumahnya hingga lima lantai, dan memasang fasilitas lift untuk memudahkan mereka melakukan kegiatan dirumah itu.
Mengayun dengan pelan, saat kedua kaki itu mengayun pada arah lift. Menekan angka empat, yang akan membawanya pada kamar anak-anak.
Pintu lift terbuka, dan kedua kaki itu segera mengambil langkah panjangnya saat melangkah menuju kamar anak-anaknya.
Melebarkan daun pintu, dan mendapati sikembar sudah tidur dengan pulasnya.
"Dia sudah memiliki kamar sendiri, tapi masih saja ingin tidur bersama adik-adiknya." Ariana menyimpulkan senyuman diwajah, menatap pada Stefanie yang terlihat nyenyak dalam tidurnya.
Menggeliatkan tubuh itu, saat tidurnya merasa terusik. Bolamata yang tadi terkatup rapat, perlahan mulai melebar dan mendaoati Ibunya yang tengah tersenyum padanya.
"Mommy! apa yang kau lakukan disini?" dengan mengucek-ngucek matanya, agar semakin mempertegas penglihatan itu.
Menyimpulkan senyuman diwajah, seraya membenahi helaian rambut yang menutupi sebagian wajah putrinya.
"Mommy datang untuk melihat adik-adikmu, tapi tidak menyangkah kalau kau ada dikamar mereka."
"Aku saja yang ingin tidur bersama mereka, Mommy!"
"Baiklah. Kalau begitu kembalilah tidur. Mommy akan segera kembali kemar,"
"Bailklah," dengan kembali melabuhkan tubuhnya pada ranjang.
Mengapai selimut yang sudah terkoyak, dan kembali membenamkan tubuh anak-anaknya dibawah selimut berbulu itu. Kedua kakinya mengayun pada kontak lampu, dan mematikkannya, hingga tersisa lampu tidur yang menciptakan suasana remang-remang.
"Selamat maalam anak-anak Mommy! mimpi yang indah," dengan mengukirr senyum diwajah, dengan tatapan penuh kasih sayang saat kedua kakinya, melangkah keluar dari dalam kamar itu.
****
Ting" pintu lift kembali terbuka, saat Ariana sudah kembali tiba pada lantai tiga. Segera mengambil langkah panjang, menuju kamarnya yang berada tak jauh dari lift.
Melebarkan daun pintu kamar, dan mendapati Zain disana.
__ADS_1
"Kau darimana saja, Araa?""
"Aku baru saja dari kamar anak-anak,"
"Apakah mereka semua sudah tidur?"
"Sudah Zain, bukankah ini sudah jam sepuluh malam!"
"Aku terlalu semangat bekerja, hingga melupakan waktu."
Mimik cemberut, dengan wajah berpura-pura kesal pada suaminya.
"Kau terlalu semangat bekerja, hingga sekarang jarang sekali kau menghabiskan waktumu bersamaku dan anak-anak."
Menyimpulkan senyuman diwajah, dengan kedua kaki melangkah pada Ariana. Melingkarkan penuh kedua tangannya pinggang rampang itu, kala sudah berada dekat dengan sang istri.
"Apakah kau marah padaku?"
"Tentu saja, aku marah padamu. Akhir-akhir ini kau selalu saja menghabiskam waktumu, untuk lebih banyak bekerja."
"Maafkan aku. Akhir-akhir ini, memang pekerjaan dikantor sangat banyak, sebab aku sedang menangani proyek besar."
Membalikkan badannya, dan mengalungkan kedua tangan itu.
"Maafkan aku, karena begitu egois. Padahal kau melakukan ini semua, hanya untuk aku dan anak-anak. Sebenarnya aku.." dengan menjeda kalimat sejenak.
"Sebenarnya apa Araa?" raut wajah itu seektika dilanda rasa penasaran, kala sang istri tak menyelesaikan ucapannya.
Menghembuskan napas panjangnya, dan menatap pada Zain dengan dalam.
"Aku merindukamu Zain! aku sangat merindukanmu. Akhir-akhir ini kau begitu sibuk dengan kerjamu, dan melupakan aku. Apakah kau sudah tidak mencintaiku lagi?"
Mengukir senyum diwajah, mendengar apa yang ditanyakan sang istri.
" Sampai kapanpun, cintaku tidak akan pernah pudar Araa! aku begitu mencintaimu. Bahkan sangat-sangat mencintaimu,."
"Benarkah?'
"Tentu saja Sayang!"
"Zain..." dengan nada yang terdengar manja, seraya jemari mengukir indah pada dada bidang yang masih berbalut kemeja putih itu.
"Hem, katakan apa yang kau mau Sayang?"
"Aku..." dengan raut wajah yang sudah merona, akibat malu akan apa yang akan dia katakan.
Zain tertawa kecil, sebab sudah sangat mengerti apa yang akan dikatakan istrinya.
Rambut yang tadi tertatapa rapi, Zain geraikan saat ikatan rambut itu dia lepas, hingga semakin menambah kecantikan sang istri.
"Aku mencintaimu Araa! sangat mencintaimu," dengan mendaratkan bibi itu, pada bibir istrinya.
Membalas ciuman itu, menyalurkan kerinduan yang selama ini dibendung. Ciuman yang tadi biasa, lambat laun semakin menuntut kala gairah sudah bangkit dalam diri keduanya. Hingga tubuh yang tadi berbalut pakian, kini sudah terekpos dengan polos.
"Zain aku lelah, mau sampai kapan kau mengajakku untuk terus berdiri,"
"Maafkan aku. Ayo kita ketempat favorite kita." dengan langsung menggendong tubuh istrinya, melangkah pada arah ranjang.
__ADS_1
TAMAT
Sekian, dan terima kasih. Sudah berakhir yaa! kisah cinta, antara Ariana dan juga Zain setelah melewati kerikil-kerikil tajam dalam perjalanan cinta mereka, dan berakhir bahagia.