
AMERIKA SERIKAT
Usai memarkirkan kendaraan roda empatnya diarea parkir, Ariana segera melangkannya kaki memasuki sebuah gedung perkuliahan, dimana dia mengemban ilmu khususnya dibidang FASHION, disalah satu universitas bergengsi diAmerika Serikat.
Senyuman terus terukir diwajahnya calon Ibu itu, saat kedua kaki itu membawanya masuk kedalam gedung itu. Hingga suara panggilan dari salahsatu teman kuliahnya yaitu Jane, menghentikan langkah itu seketika.
"Ariana..."
Berbalik, dan mendapati Jane tengah berlari kecil menghampirinya.
"Kau selalu tampil cantik Ariana, walaupun perutmu semakin membesar, dan itu membuatku iri," Dengan sekilas jemarinya, membelai lembut perut buncit Ariana.
"kehadirannya dalam dirikulah, yang membuatku jadi bertambah cantik." Senyuman kecil membingkai diwajahnya, dan rasa bangga saat menyebut calon buahatinya.
Dan ayo kita masuk, pasti sedikit lagi Miss Milye sudah memasuki ruangan." Dengan menarik tangan Jane, saat kedua kaki itu kembali melangkah.
Suasana riuh mewarnai ruangan, khususnya ruangan jurusan Fashion Disainer. Ariana, dan Jane melangkahkan kaki memasuki ruangan mereka, dan duduk dikursi masing-masing yang kebetulan bersebelahan. Para mahasiswa masih nampak berbincang-bincang, saat sang Dosen yang ditunggu untuk memulai kegiatan kuliah mereka, belum juga datang. Tapi seketika mereka berhamburan menyambangi kursi masing-masing, saat kedatangan Dosen wanita yang mereka panggil dengan Miss Milye.
"Pagi semuanya..."
"Pagi..."
"Apakah tugas yang aku berikan pada kalian, untuk merancang busana musim semi sudah kalian selesaikan..?" Tanyanya, dengan sedikit teriakan.
"Sudah Miss Milye.." Jawab mereka, bersamaan.
"Kalau begitu, segera kumpulkan agar aku bisa melihat kemampuan kalian dalam merancang busana, sesuai dengan musim yang sedang melanda kota ini.
Satu persatu dari mereka melangkah kedepan, untuk mengumpulkan hasil rancangannya busana musim semi, pada Dosen wanita itu. Begitupun juga dengan Ariana yang tak mau ketinggalan ,untuk mengumpulkan hasil desain busana-busana musim seminya pada beberapa lembaran kertas putih.
"Ini Miss Milye, busana hasil rancanganku." Dengan meletakkan beberapa lembar kertas putih diatas meja, yang sudah bubuhi gambar-gambar model busana, sesuai dengan permintaan Dosennya, dan kembali menyambangi tempat duduknya.
Tapi seketika langkah kaki itu terhenti, saat Milye memanggilnya.
"Ariana, kemarilah."
Kedua kaki yang tadi akan melangkah kembali ketempat duduknya, seketika kembali berbalik arah.
"Ada apa Miss Milye?"
"Apakah ini kamu yang mendesain busana-busana musim semi ini?" Dengan tatapan penuh selidik, menatap wanita berambut hitam itu.
"Iya. Itu saya yang mendesainnya."
__ADS_1
"Kamu tidak sedang berbohong padakukan Ariana??" Bertanya lagi, untuk memastikan kebenaran apa yang dikatakan Ariana.
"Buat apa saya berbohong pada anda, Miss? itu memang gambar hasil rancangan saya," Jawabnya, meyakinkan wanita berkepala empat itu.
Senyuman mengembang diwajah wanita berambut pirang itu, dan tatapan mata yang begitu intens saat kedua bolamata itu menatap setiap lembaran kertas milik Ariana yang sudah berisi desain-desain miliknya.
"Kamu begitu berbakat Ariana? saya sangat takjub dengan desain busana-busana musim semi kamu ini. Dan saya yakin jika ini dibuatkan pakaian, pasti akan sangat laku keras dipasaran. Terutama para kalangan atas, ataupun selebriti Holywood yang sangat menyukai model-model seperti busana yang kamu gambar ini. Dan saya akan membawa hasil desain kamu ini, pada brand-brand ternama seperti GUCCI, atau LOUIS VOTION, mungkin saja mereka tertarik. Tapi itu jika kamu tidak keberatan, bagaimana Ariana?"
Raut bahagia terpampang nyata diwajah Asia Ariana, saat mendengar apa yang ditawarkan oleh Dosennya itu, hingga membuat kedua bolamata itu seketika ber kaca-kaca, akibat rasa haru.
"Tentu saja boleh Miss, tentu saja boleh," Dengan sebuah anggukan, mewakili kalau dia menyetujuinya.
Milye mengembangkan senyum diwajahnya, saat melihat ekpresi Ariana.
"Kalau begitu berikan nomor HPmu, padaku. Agar jika mereka tertarik dengan hasil rancanganmu, mereka bisa menghungimu Ariana. Siapa tahu mereka tertarik, dan menawarkan melakukan kerja sama."
"Tentu saja Miss," Dengan langsung memberikan nomor HPnya.
Senyuman terus mengembang diwajah cantik itu, hingga sekilas dia mengusap airmatanya yang sudah menetes, karena terlalu bahagia.
"Ariana.. kamu sangat hebat... aku yakin kamu hasil rancanganmu, pasti akan diterima oleh brand-brand ternama itu,"
"Semoga saja, Bryan.." Jawab Araa, pada teman prianya itu.
Kedua kaki itu membawanya menuruni setiap barisan anak tangga, menuju lantai bawa rumahnya. Saat berada dilantai dua, langkah kaki itu seketika terhenti, saat tatapan matanya tertuju pada kamar Bibinya. Ada rasa bersalah dalam diri seorang Zain, yang sudah berapa hari ini mengabaikan keberadaan Bibinya Celine.
Dan ketika dia mendapati keberadaan Ani, yang baru saja keluar dari kamar Bibinya, pria pemilik tatapan tajam itu, memutuskan untuk bertanya pada kepala pelayannya.
"Bibi Ani.." Panggilnya, saat wanita paruhbaya itu hendak menuruni tangga.
"Ada apa Tuan?" Jawabnya, dengan kedua kaki melangkah menghampiri pengusaha tampan itu.
"Apakah Bibi Celine, sedang berada didalam?"
"Iya Tuan, Nyonya Celine sedang berada dikamarnya. Dan beliau sedang sakit."
"Sakit..?" Dengan menaikkan kedua alisnya, saat mendengar apa yang dikatakan Ani.
"Iya Tuan, Nyonya sedang sakit. Dan dia terus menangis ntah apa penyebabnya, sayapun tak tau."
Zain larut dalam pemikirannya sendiri, memikirkan Bibinya yang sudah beberapa hari tidak ditemuinya, apalagi mendengar wanita paruhbaya itu tengah sakit, dan terus menangis membuat berbagai pikiran berkecamuk dalam dirinya.
"Apakah hal yang membuatnya bersedih, dan sampai sakit apa karena diriku, atau karena dia merindukan putrinya." Zain membanthin, saat mencoba untuk menebak.
__ADS_1
"Apakah Tuan akan menjenguk Nyonya Celine? mungkin saja bertemu dengan anda, bisa mengurangi kesedihannya."
Hembusan napas terdegar berat, saat mendengar apa yang ditawarkan Ani padanya. Dan tak bisa dipungkiri dia begitu merindukan Celine, wanita yang sudah merawatnya sejak kedua orangtuanya tiada. Tapi saat mengingat apa yang sudah dilakukan Celine pada rumahtangganya, membuat rasa benci dan sakit hati seketika kembali menyeruak dalam diri lelaki tampan itu.
"Tidak Bibi Ani, lain kali saja baru aku menemuinya. Sekarang aku harus segera kekantor, karena pagi ini ada rapat penting." Pamitnya, dengan berlalu begitu saja.
****
Kendaraan roda empat itu, melaju ditengah keramaian kota Jakarta yang sudah menunjukkan pukul delapan pagi. Hembusan napas terdengar berat, memikirkan keadaan Bibinya yang sedang sakit. Tapi saat memikirkan apa yang dilakukan Celine, membuat rasa sakit hati itu kembali membuncah dalam dirinya. Perlahan jemarinya membuka kaca jendela mobil, guna menikmati pemandangan pagi hari kota Jakarta, sekedar mengusir rasa gundah dalam dirinya.
Kembali menyandarkan pundaknya pada sandaran kursi, dan teringat kembali pada tujuannya yang ingin menemui Rani, untuk menanyakan keberadaan sang mantan istri.
"Adam.." Panggilnya tiba-tiba, yang memecahkan kesunyian yang melanda dalam kendaraan roda empat yang tengah melaju.
"Ada apa Tuan?"
"Apakah jam begini, bouitique milik Rani sudah dibuka?"
"Sudah Tuan.."
"Kalau begitu putar haluan. Aku ingin menemuinya sekarang juga, untuk menyanyakan dimana Ariana saat ini.
"Bagaimana dengan rapatnya Tuan?"
"Batalkan saja. Karena bagaimanapun informasi tentang Ariana, dan calon anakku jauh lebih penting." Menjawab, dengan nada yang terdengar tegas.
"Baik Tuan." Jawab Adam, dengan memutar lawan arah menuju bouitique milik Rani.
****
Kendaraan yang roda empat yang ditumpangi oleh seorang Zain Pratama, sudah terparkir didepan boutique dengan logo R pada dinding depannya. Tubuh tegap itu segera condong keluar, saat pintu mobil dibuka oleh sang sekretris Adam.
Merapikan kra bajunya yang sedikit terkoyak, dan dengan memasang aura maskulin pada raut wajahnya, kedua kaki itu melangkah penuh percaya diri, saat masuk kedalam boutique.
Seketika tatapan mata mereka yang berada didalam bouitique tertuju pada Zain, saat mendapati keberadaan sang pengusaha.
Sengaja berpura-pura batuk, saat semua mata menatapnya tanpa berkedip.
Seorang karyawan wanita segera melangkahkan kaki menghampiri Zain, dan juga Adam saat mendapati keberadaan sang pengusaha.
"Selamat pagi Tuan, apakah ada yang bisa saya bantu?"
Adam seketika menghampiri, untuk menjawap apa yang ditanyakan oleh karyawan wanita itu.
__ADS_1
"Selamat pagi juga Nona, kami datang kebouitique ini karena Tuanmuda saya, ingin bertemu dengan pemiliknya. Dan apakah Nona Rani sudah berada ditempat?"