
Clara masih terlihat kesal, wanita berambut hitam itu masih menumpakan semuanya yang ia simpan selama ini, lewat perdebatannya ia, dan ayahnya, David.
"Dari dulu, Papa selalu saja membelanya. Padahal, aku adalah anak kandungmu."
"Papa sama sekali tidak pernah membedakan Araa, denganmu. Kau saja yang selalu berpikir, kalau Papa lebih menyayangi Araa, daripada kau. Apakah Papa salah menegurmu, jika kau pulang malam? apakah salah, papa menegurmu jika kau melakukan kesalahan!"
Raut wajah Clara semakin memerah, saat mendengar apa yang dikatakan oleh David, ayahnya.
"Aku tau, Ariana tidak pernah melakukan kesalahan. Dan dia adalah anak yang baik, tidak seperti aku yang sering pulang malam, dan mabuk-mabukan. Hal itukan, yang membuat Papa hanya menginginkan Arianalah yang menjadi istrinya, Zain." Ucap Clara, dengan deraian airmata.
"Papa cape berdebat denganmu, Clara?! kau selalu saja, tidak suka ditegur, jika melakukan kesalahan." Jawab David, dengan berlalu begitu saja.
"Aaaahhhh...?!" Teriaknya dengan begitu menggelegar, dan menumpakan semua tangisannya yang selama ini, dia pendam.
Ini semua gara-gara anak pungut itu?! dia merebut Zain dariku, dan dia juga merebut kasihsayang papa, dariku." Dengan terus menangis.
Diana menghampiri putrinya, dan membenamkan dalam pelukan, guna menenangkan. "Tenanglah Clara, Mama ada bersamamu, jadi kau tidak perlu bersedih."
"Apa kelebihan, anak pungut itu, Maa?! hingga Papa begitu menyayanginya. Dan Zain saja bersikap manis, pada siculun itu, didepanku." Ucapnya, menangis.
Menghembuskan napas kasar, dan raut wajahnya terlihat memerah, saat mendengar apa yang dikatakan oleh anak perempuannya, tapi sebisa mungkin Diana, meredam emosinya.
"Tenanglah, Nak?? karena kau baru memulainya, Mama yakin cepat atau lambat, Zain pasti akan kembali padamu. Jadi kau, tidak perlu bersedih." Ucapnya, menenangkan.
"Terima kasih, Maa? karena kau selalu mendukungku. Dan kalau begitu aku kekamar dulu, sebab aku harus pergi."
"Kau mau kemana, Clara?!" Bertanya, dengan raut wajah yang terlihat penasaran.
Clara tersenyum, saat melihat raut wajah penasaran ibunya.
"Aku akan pergi menemui Zain, dikantor Maa? dan aku tidak akan berhenti mengejarnya, sebelum aku mendapatkan dia kembali," Jawabnya, dengan penuh keyakinan.
Senyuman langsung mengembang diwajah wanita paruhbaya itu, saat mendengar apa yang dikatakan oleh anak perempuannya.
__ADS_1
"Pergilah, Mama sangat mendukungmu. Dan ayo kita kekamar, Mama akan membantumu, bersiap-siap, dan mendadanimu yang cantik."
Menggandeng manja Ibunya, berjalan menuju arah tangga.
"Ayoo, aku ingin berdandan yang cantik hari ini, agar dia terpikat padaku." Jawabnya, dengan penuh keyakinan.
****
Cahaya matahari, bergitu bersinar pagi ini. Dan lewat lantai duapuluh empat, dia terus memandang pemandangan kota Jakarta, lewat gedung pencakar langit miliknya.
Pikiranya bergelayut, dengan apa yang terjadi pagi tadi. Dan ntah kenapa, hal itu begitu mengusik pikiran lelaki tampan itu. Memikirkan kedekatan, antara Ariana, dan Bosnya. Sibuk dalam lamunanya, hingga suara pintu terbuka, membuyarkan Zain dari lamunan.
"Maaf Tuan, aku datang untuk mengantarkan berkas-berkas ini." Ucapnya, dengan meletakkan berkas-berkas itu, diatas meja.
"Apakah ada berkas yang mesti aku periksa, dan aku tandatangi?" Bertanya dengan menatap, sekretarisnya.
"Ada Tuan, ada beberapa berkas yang mesti anda periksa, dan ada pula yang perlu anda pelajari, mengenai proyek baru kita."
"Baiklah" Jawabnya, dengan mulai memeriksa berkas-berkas tersebut, satu persatu. Tapi seketika Zain menyandarkan pundaknya pada sandaran kursi, saat teringat akan sesuatu.
"Ada apa, Tuan?!"
"Meem..?" Dengan raut wajah yang terlihat ragu, saat menyampakan apa yang akan diakatakan.
Adam terlihat begitu penasaran, dengan apa yang akan dikatakan oleh atasannya, hingga membuatnya bertanya sekali lagi.
"Ada apa, Tuan?"
"Bisakah kau memberikan aku indentitas atasan istriku, ehh?? maksudku, siculun itu?!"
Senyuman kecil langsung membingkai diwajah Adam, saat mendengar apa yang dikatkan oleh Atasannya.
"Kalau cinta, kenapa tidak bilang saja, Tuan? kenapa mesti malu."
__ADS_1
"Cinta..?" Dengan mengernyitkan dahinya, menatap dengan intens seketarisnya.
"Iya Tuan, mungkinkah anda sudah jatuhcinta pada Nona Ariana, tanpa anda sadari." Dengan senyuman kecil, diwajahnya.
Raut wajah Zain, seketika berubah gugup, dan sedikit merona, tapi sebisa mungkin dia menyembunyikan, agar tidak terlihat oleh sekretarisnya.
"Cinta? apa kau sudah gila?! manamungkin aku jatuhcinta, pada siculun itu?!" Ucapnya, dengan nada kesal.
Adam hanya terdiam, dan dalam dirinya timbul rasa penasaran akan perasaan Tuanmudanya.
"Maaf Tuan, mungkin akunyalah yang berpikir terlalu jauh. Dan apakah saya perlu tetap mencari tau, tentang Tuan Rian?"
"Tentu saja, dan secepatnya berikan padaku." Titahnya, tegas.
"Baik Tuan, secepatnya saya akan memberikan data diri Tuan Rian, pada anda." Jawab Adam, dengan berlalu begitu saja.
Setelah perginya Adam, pikirannya teringat kembali akan kata-kata dari sekretarisnya itu.
"Mungkinkah, aku sudah jatuhcinta pada Ariana?" Bertanya pada diri sendiri dengan tatapan menerawang, menatap langit-langit ruang kerjanya.
Sibuk dengan lamunannya, dan seketika senyuman mengembang diwajah tampan itu, dan hanya dia saja yang tau, arti dari senyuman itu.
"Tidak-tidak, ( Dengan menggeleng-gelengkan kepalanya). Tidak mungkin aku jatuhcinta, pada siculun itu, dia bukan wanita yang masuk dalam kriteriaku. Tapi kenapa juga, aku harus mencari tau, identitas Rian? tidak mungkinkan, aku cemburu." Dan seketika dia tertawa, saat menyebut kata cemburu.
"Buat apa aku cemburu, pada siculun itu?" Dengan memantapkan hati, kalau kehadiran Ariana sama sekali tidak berpengaruh, dalam hidupnya.
Dan kembali terfokus pada tumpukan berkas, untuk berusaha mengalihkan perhatiannya.
****
Tanpa memperdulikan teguran dari Adam, Clara membuka pintu ruang kerja, seraya menyapa zain, yang tampak sibuk dengan berkas-berkasnya.
"Pagi, Zain..?" Sapanya dengan nada yang begitu menggoda, menatap laki-laki itu.
__ADS_1
Mendongakkan kepala, dan begitu terkejut ketika mendapati keberadaan Clara, diruang kerjanya.
"Clara..?! kau..?!" Ucapnya, seolah tidak percaya dengan apa yang dia lihat.