Terjerat Cinta Si Culun

Terjerat Cinta Si Culun
Marahnya Ariana


__ADS_3

Zain menutup pintu pintu kamar Bibinya dengan pelan, agar tidak membangunkan gadis kecilnya, yang sedang terlelap dalam mimpi siangnya. Sepasang matanya tertuju pada arah lantai tiga, dan diapun mengayunkan kakinya, melewati setiap barisan anak tangga menuju kamarnya.


Saat sudah berada dikamar, Zain melenggangkan kedua kainya menuju ruang ganti. Berhadapan dengan lemari besar miliknya, dan membuka lemari itu.


Kedua mata itu tertuju pada sebuah laci, dan menariknya. Matanya tertuju pada sebuah kalung emas putih, dimana begelatungan sebuah serpihan liontin. Mengambilnya, dan tak lupa kotak perhiasan milik Ariana yang dia simpan jadi satu.


****


BEBERAPA JAM KEMUDIAN.


Sempurna. Itu satu kata yang ditujukan pada sosok wanita cantik, dengan rambut panjangnya yang tergerai indah, saat melangkah masuk kedalam gedung pencakar langit milik mantan suaminya. Penampilannya terlihat begitu elegant. Kaca mata hitam, dan sebuah syal yang dia jadikan kerudung. Dan Ariana senagaja memakai itu semua, agar tak ada satu orangpun yang mengetahui siapa dia.


Segera menyambangi resepsionis, untuk memastikan keberadaan sang pimpinan. Setelah memastikan keberadaanya, dan sudah mendapat ijin, Ariana segera melangkah menuju lift, menuju ruang kerja pria itu.


Kacamata, dan syal yang dia pakai segera Ariana tanggalkan saat berada didalam lift.


Helaaan napas yang terasa sesak, meluapkan emosi yang sedari tadi sudah dia bendung. Dan Ariana sangat meyakini, kalau putrinya sedang bersama Zain.


"TING..." Pintu lift terbuka, dan mengambil langkah panjang menuju ruang kerja lelaki tampan itu.


"Selamat siang sekretaris Adam...?" Senyuman itu terkesan ramah, nyatanya terselip amarah yang teramat sangat saat dia lemparkan pada sang sekretaris.


Adam menengadakan kepala seketika, dan raut wajah terkejut dengan bergumam pelan, saat mendapati keberadaan mantan istri Bosnya.


"Nona Ariana...??" Mata itu sedikit membulat lebih lebar.


Senyuman sinis, Ariana menatap pada Adam.


"Maaf sekretaris Adam, apakah Bosmu yang tampan itu sedang sibuk atau tidak?"


Wajah pucat itu mengukir tawa palsu, saat mendapati pertanyaan itu.


"Ha...ha...ha... Nona.. Tuan sedang berada didalam. Dan dia sedang tidak sibuk."


Tanpa berbasa- basi lagi, Ariana segera melangkah bebas menghampiri ruang kerja Zain Pratama.


Membuka pintu dengan sedikit kasar, hingga tatapan yang terfokus pada lembaran yang berada diatas meja, seketika berpaling pada arah pintu.


"Akhirnya dia datang juga." Zain membathin, dengan sikapnya yang tetap tenang.


"Zain..! dimana anakku??" Nada itu sedikit berteriak, dengan wajah penuh amarah.


"Anak..." Zain memicingkan mata, dengan wajah berpura-pura terkejut.


Senyuman sinis, melihat raut wajah pura-pura tidak tau Zain.


"Jangan berbohong Zain..? dimana Stefanie anakku. Kau membawanya tanpa meminta ijin dariku."

__ADS_1


Menyandarkan pundaknya, dengan senyuman ringan dia lemparkan pada Ariana, yang masih meluapkan emosinya.


"Duduklah. Kita bisa bicarakan ini baik-baik."


"Aku tidak mau bicara baik-baik. Kembalikan anakku..!! bukankah aku sudah bilang padamu, untuk jangan pernah mengusik hidupku lagi..?!"


Zain mengukir senyum kecil diwajah, melihat emosi pada mantan istrinya. Dan dia berusaha menyeimbangi Ariana, yang masih berada dipuncak amarah.


"Apakah kau tidak malu, jika karyawanku mendengar teriakanmu ini. Dan aku yakin, pasti akan langsung menjadi trending topic dimedia sosial, jika sampai ada orang lain yang mengetahuinya."


Nada yang sedari tadi berapi-api perlahan mulai meredup, saat Ariana menimang apa yang dikatakan Zain, yang menurutnya sangalah benar.


"Baiklah. Aku akan bicarakan baik-baik. Dan kenapa kau mengambil anakku. Bukankah kau akan menikah dengan cintya? jadi kau bisa mendapatkan anak dari wanita itu. Jadi kau tidak perlu memusingkan Stefanie lagi."


"Mana mungkin aku akan menikah dengannya, sementara hubungan kami sudah berakhir. Lagi pula Stefanie juga anakku. Apakah salah jika dia bersamaku Ariana..."


Bibir merah jambu itu membungkam sesaat, saat Zain mengatakan kalau dia sudah putus dengan kekasihnya.


"Jadi dia, dan cintya sudah putus??" Ariana membathin dengan tatapan intens pada Zain, yang tengah menatap dirinya.


Dan diapun melanjutkan ucapannya, yang sempat terhenti.


"A..ku tidak perduli. Sebab itu sama sekali bukan urusanku. Aku hanya menginkan Stefanie. Kembalikan putriku padaku Zain..?"


"Ada syaratnya," Zain berkata dengan santai.


Memicingkan mata, menatap Zain dengan tatapan penasaran.


"Temui aku dihotel nanti malam."


Mata itu membulat lebar, mendengar keinginan dari pengusaha kaya itu.


"Hotel.. apa kau sudah gila?? kau menginginkan aku menemuimu dihotel..?"


Zain hanya tersenyum. Jemarinya menarik laci meja kerjanya, dan menggapai sesuatu didalam sana.


Membuka kota perhiasan yang tertutup rapat, dan sengaja menunjukkan serpihan liontin itu pada Ariana yang nampak kaget.


"Aku sangat yakin, benda ini sangat berharga buatmu."


Beranjak dari duduknya, dan melangkah cepat menghampiri pria itu. Dan saat Araa akan mengambil kotak itu, dengan cepat Zain meninggikan tangannya.


"Zain berikan padaku..? itu milikku..." Ariana berkata dengan sedikit teriakan.


"Didalam kotak ini kau menulis sebuah surat. Kalau kau mencari pria pemilik liontin ini. Wow... ternyata kau telah bermain hati saat kau masih menjadi istriku." Dengan senyuman kecil diwajah.


"Apa perdulimu. Sebab itu bukan urusanmu?! asal kau tau, lelaki itu jauh lebih baik darimu, dan tentu saja tidak sebrengsek dirimu.!"

__ADS_1


Zain berusaha menahan tawanya, mendengar ucapan Ariana yang membandingkan dirinya, dengan lelaki itu.


"Aku sangat iri pada pria itu. Seperti dia jauh lebih segalanya dariku,"


"Aku tidak suka bertele-tele, kembalikan liontin itu. Karena benda itu sangat berharga bagiku Zain.."


"Aku ingin tanyakan sesuatu padamu."


"Apa yang ingi kau tanyakan...!!" Nada itu masih saja terdengar kesal.


"Jika aku, Rian, dan pria itu mengajakmu untuk menikah. Siapa yang kau pilih. Aku, Rian, atau pria yang kau cari selama ini??"


Ariana nampak menimang apa yang ditanyakan Zain padanya. Tatapannya sekilas beradu dengan mantan suaminya, sebelum menjawab pertanyaan pria itu.


"Walaupun aku belum mengenalnya, dan tidak tau siapa dia, tapi kata hatiku mengatakan, kalau pria itu adalah laki-laki yang baik."


"Jadi kau memilihnya, daripada aku atau Rian?"


"Yaaa." Jawabnya tegas dengan penuh keyakinan.


Zain membingkai senyuman kecilnya, mendengar jawaban Ariana yang membuat perutnya terasa menggelitik. Tapi laki-laki itu berusaha menahannya.


"Temui aku dihotel nanti malam. Maka aku akan memberikan liontin ini, dan juga mengembalikan Stefanie."


"Kau licik Zain..? kau menggunakan Stefanie, dan juga liontin itu agar untuk memenuhi keingianmu."


"Terserah padamu. Dan aku janji akan mempertemukan dirimu dengan laki-laki itu, jika kau datang menemuiku. Bagaimana. Apakah kau setuju dengan penawaranku?" Seulas senyuman dia lemparkan pada Ariana, yang syarat akan makna.


Menghembuskan napas dalam, dan Ariana tdak memiliki pilihan lain, selain memenuhi keinginan mantan suaminya itu.


"Baiklah aku mau. Tapi ingat setelah itu, kembalikan liontin itu dan juga putriku." Nada penuh penekanan dari Ariana.


"Tentu Sayang..." Zain berkata dengan senyuman pada Ariana, yang tengah menatapnya dengan tatapan membunuh.


"Brengsek kau Zain..!!" Nada terdengar kesal, dan melenggangkan kaki dari ruang kerja itu setelah mendapati kesepakatan.


****


Kegelapan mulai menyelimuti bumi. Mentari yang tadi bersinar, telah meredup setelah senja menjemput, dan tergantikan dengan bulan, dan taburan bintang-bintang yang menyinari langit malam.


Ariana terlihat cantik, dan sungguh mempesona dengan dres yang mampu menampilkan lekuk tubuh rampingnya, saat menemui Zain dihotel.


Jemari yang berhaiskan cat kuku berwarna marun pada kuku cantiknya, terayun pada gagang pintu yang sengaja dibiarkan tidak terkunci.


Pintu terbuka, dan kedua kaki itu melangkah masuk kedalam. Suasana yang cukup romantis, itulah pemadangan didalam kamar hotel itu. Dimana ada taburan kelopak mawar, dan juga lilin yang menyinari kamar yang sengaja dibiarkan gelap.


"Zain..." Ariana memanggil pelan, saat kedua kaki itu sudah berpijak.

__ADS_1


Punggung kokoh itu berbalik, dengan stelan jas berwarna hitam yang membalut sempurna pada tubuh atletisnya. Tatapannya begitu dalam, saat kedua pasang mata itu saling beradu.


"Cantik.." Satu kata yang Zain ucapakan dalam hati, pada Ariana yang terlihat mempesona malam ini.


__ADS_2