Terjerat Cinta Si Culun

Terjerat Cinta Si Culun
Amarah Zain


__ADS_3

"Apa alasannya Zain..? tidak ada angin, tidak ada hujan, tiba-tiba saja kau mengakhiri hubungan kita. Dan aku rasa aku sama sekali tidak melakukan keselahan padamu. Ataupun menghianati hubungan kita." Dengan nada sedikit tinggi, meluapkan rasa kesalnya.


"Kau sama sekali tidak melakukan kesalahan padaku. Tapi aku yang ingin mengakhiri hubungan kita ini."


Cintya masih saja tidak terima dengan keputusan yang Zain berikan. Apalagi wanita muda itu sudah menaruh harapan, pada pengusaha kaya itu, berharap dirinya bisa menjadi istri pengusaha itu kelak.


"Katakan. Apakah ini karena wanita itu?? hingga kau berani memutuskan aku."


"Wanita..?"


Tertawa kecil, dibingkai pula dengan tatapan sinisnya.


"Kau jangan berpura-pura tudak tau. Aku tau, pasti karena wanita itu, hingga kau memutuskan aku. Dan dia adalah mantan istrinmu Ariana Mahesa, perancang busana itu."


Menghembuskan napas sejenak, sebelum menjawab pertanyaan dari Cintya.


"Dengan berat hati, aku mengatakan yaa. Dan ma..af." Wajah yang dpenuhi rasa bersalah, saat Zain berucap pada gadis muda itu.


Amarah semakin saja mengusai diri Cintya, dengan apa yang baru Zain sampaikan padanya.


"Bukankah dulu kau yang menceraikannya..?? tapi kenapa sekarang kau yang ingin kembali bersamanya Zain?? apakah karena sekarang, dia adalah menjadi perancang busana ternama, jadi kau ingin kembali padanya. Ataukah karena anak, kalau memang itu iya!! aku bisa memberikan padamu, dan kau tidak perlu kembali padanya?"


Menampilkan senyuman sinisnya pada Cintya, bagaimana dia melihat kekehnya wanita itu, yang tidak ingit hubungan mereka berakhir.


"Kau setuju, atau tidak, hubungan kita telah berakhir."


"Kau laki-laki egois Zain..?!" Cintya masih saja meluapkan emosi dalam diri.


"Aku sangat mencintai Ariana, Cintya..? sekalipun diantara kami tidak ada anak, dan tetap wanita biasapun, aku pasti akan tetap berusaha untuk memilikinya kembali. Maaf. Maafkan aku, karena harus menyakitimu. Tapi cobalah untuk mengerti aku, yang begitu sangat mencintainya. Dan sekali lagi maaf, dengan berat hati aku mengatakan hubungan kita berakhir sampai disini." Ucap Zain pelan, sebab sangat berat baginya pula untuk mengucapkan itu.


Airmata semakin saja tumpa membasahi kedua pipi mulus Cintya, akan kalimat yang menyakitkan dari Zain.


"Kau laki-laki brengsek Zain..!! aku sangat membencimu.. sangat membencimu..!!" Dengan beranjak dari duduknya, dan melangkah keluar dari ruang kerja, setelah membanting pintu dengan begitu kasar.


Mengusap kasar wajahnya, dengan tatapan terus tertuju pada arah pintu. Rasa bersalah tentu saja teramat sangat Zain rasakan, karena sudah menyakiti Cintya.


"Maafkan aku Cintya... tapi kenyataannya aku begitu mencintainya. Dan maaf, karena harus menyakitimu." Gumamnya pelan dengan tatapan menerawang.


Zain mulai memikirkan hal apa saja yang terjadi pada hidupnya, dengan kedatangan kembali mantan istrinya.


"Aku kira kita tidak akan bertemu lagi Araa? ternyata Tuhan masih mengijinkan, aku untuk memperbaiki semuanya."


"Tuan...." Panggil Adam tiba-tiba, saat berada didalam ruangan dirinya mendapati Tuanmudanya tengah sibuk dengan dunianya sendiri.

__ADS_1


Menegakkan posisi duduknya, dengan raut wajah serius Zain menatap pada sekretarisnya.


"Ada apa??"


"Saya sudah menghubungi Tuan Rian tadi malam. Dan sesuai keinginanya, dia mau bertemu dengan Tuan jam sepuluh pagi direstorant XX."


Senyuman sinis diwajah tampanya, yang syarat akan banyak arti.


"Jadi sibrengsek itu mau bertemu denganku?!"


"Iya Tuan... dan namanya Rian Tuan..bukan sibrengsek!!" Adam membenarkan ucapan Tuanmudanya, yang justru membuat Zain meradang pada dirinya.


"Mau Rian, atau Rian Admaja sekalipun. Bagiku namanya, adalah Sibrengsek yang tidak tau malu..!! apakah kau mengerti..?" Zain berucap, dengan yang sudah lebih tinggi dari sebelumnya.


"Maafkan saya Tuan...maaf." Dengan raut wajah pucat pasihnya.


****


RESTORNT


Duduk berhadapan, dengan bersikap santai.Tatapan keduanya menatap dengan tatapan tidak suka, pada diri masing-masing.


Jemari pengusaha muda itu meraih segelas jus jeruk, dan meneguknya membasahi tenggorokan yang kian mengering, akibat rasa bencinya pada Zain Pratama. Menyadarkan pundak pada sandaran kursi, dengan senyuman sinisnya yang dia melemparkan pada pengusaha kaya itu.


"Katakan. Ada apa kau ingin bertemu denganku." Sepenggal kalimat pendek, dengan nada tegas.


"Jauhi Ariana." Nada tegas yang keluar dari bibi Zain.


Keningnya berkerut, dengan senyuman mencemooh pada pengusaha kaya itu.


"Apakah aku tidak salah dengar..?? kau memintaku menjauhi Ariana?! memang siapa dirimu berani memintaku untuk menjauhinya. Bukankah kau itu hanya mantan suaminya, jadi aku rasa kau tidak memiliki hak untuk memintaku menjahuinya."


Raut wajah memerah, dengan kepalan tangan yang begitu membungkus terlihat jelas, pada sosok Zain Pratama.


"Ingat Tuan Rian Admaja..!! aku memilik seribu cara untuk bisa mendapatkan Ariana, sekalipun kau menjalin hubungan dengannya."


"Dan aku sama sekali tidak takut dengan ancamanmu. Dan aku yakin, Ariana sama sekali sudah tidak tertarik padamu lagi. Buktinya dia sama sekali tidak perduli, walaupun kau menjalin hubungan dengan wanita lain. Justu aku yang meminta padamu, untuk melupakan dia, dan membiarkan dia bersamaku. Dan aku yakin, aku pasti bisa menjadi ayah yang baik buat putrimu." Rian menampilkan senyum penuh kemenangan, pada Zain Pratama.


Amarah semakin saja membuncah dalam diri Zain Pratama, dengan apa yang baru saja dikatakan Rian. Dan kemarahan itu dia luapkan, dengan menarik kasar kra baru pengusaha muda itu, dan melemparkan dengan tatapan membunuh.


"Kita lihat saja, siapa yang akan mendapatkan Ariana nantinya. Dan aku rasa aku harus memberirahukan pada dirimu, tentang bagaiamana Zain Pratama itu. Aku akan mendapatkan apa yang aku mau, tidak perlu cara apa yang aku pakai. Dan aku yakin, kau hanya buang-buang waktumu saja nantinya." Dengan melepaskan kembali kra baju dari Rian, dan berlalu begitu saja dari ruangan itu.


Rau wajahnya masih saja memerah , saat kendaraan roda empat itu membawa dirinya, dan Adam kembali perusahaan.

__ADS_1


Melonggarkan sedikit lingkaran dasi akibat emosi, dan kembali meluapkan kemarahan pada Rian Admaja.


"Dasar laki-laki brengsek!! dia pikir siapa dirinya." Dada itu naik turun, saat kalimat itu terucap.


'Saingan anda, kali- kali ini benar-benar berat Tuan..." Adam berucap, dengan genggaman tangan berepegang pada lingkaran setir yang terus saja melaju.


"Kita lihat saja, apa yang akan aku lakukan nanti." Seringai jahat, memenuhi wajah tampan Zain Pratama.


****


Dua hari berlalu. RESTORANT


Sebuah mobil mewah berwarna marun, memasuki area parkir restorant mewah yang berada disalahsatu kawasan elite kota Jakarta. Tanpa didampingi sang asisten Juli, Araa begitulah panggilan akrabnya, melenggangkan kakinya kedalam restorant, untuk makan saing bersama Rian. Rambut panjang yang biasa dibiarkan tergerai, kali ini sengaja dikuncir hingga leher jenjangnya, terekspos bebas.


"Maaf Tuan Rian... buatmu menunggu." Ariana berucap dengan menarik sebuah kursi, dan melabuhkan tubuhnya disana.


"Santai saja. Dan maaf jika sudah mengganggu waktumu."


Ariana menyimpulkan senyum diwajah cantiknya, yang kian menambah pesonanya perancang busana terkenal itu.


"Kau sangat cantik Ariana..?!" Tatapan dalam, saat kalimat itu terucap.


"Apaa...?!" Ariana bertanya lagi, saat dirinya mendengar tidak dengan jelas.


"Cantik...!! kau sangat cantik Ariana??" Senyuman, saat mempertegas kembali ucapannya.


"Gombal..!!" Arianapun ikut tersenyum, saat mendengar kalimat pujian itu.


Hari ini Zain Pratama memutuskan untuk mengintai disekitar area apartemen, guna mencari tau apa yang dilakukan Ariana, dan juga putrinya. Menunggu, dan menunggu hingga berjam-jam lamanya, dan mengabakan tanggungjawabnya, sebagai pimpinan perusahaan.


Mendapati putrinya pergi bersama Rani, dan dirinya meyakini Rani, pasti membawa putrinya keboutique. Dan memutuskan untuk menguntit, kegiatan Ariana hari ini.


Amarah membuncah dalam dirinya, saat mengetahui kalau Ariana ternyata bertemu Rian. Dan dirinya terus saja memperhatikan dari jauh, interaksi keduanya. Api cemburu, semakin menjadi-jadi saat melihat tawa bahagia Ariana bersama Rian.


"Kau akan kembali padaku, sekalipun kau bersama lelaki lain." Gumamnya, dengan raut wajah yang begitu memerah.


"Adam..."Panggilnya Zain tiba-tiba.


"Iya Tuan..."


"Jalankan mobilnya. Kita kebouitique sekarang, untuk mejemput putriku."


MeMILih untuk tidak bertanya lagi, bagaimana dia melihat raut wajah Tuanmudanya yang sudah dipenuhi amarah.

__ADS_1


"Baik Tuan.." Memutar haluan setir, saat kendaran roda empat itu membela jalan.


Ntar baru revisi kalau masih ada salah.


__ADS_2