
Dia melangkahkan kaki ditengah kegundahan hati, dan matanya kembali menatap kebelakang saat sudah berada didepan rumah mewah itu.
"Dimanapun aku berada, hidupku tetap saja seperti berada dineraka. Apa ada yang salah denganku? hingga nasip baik tidak pernah berpihak padaku. Ternyata Bibi, sama keponakan sama saja, sama jahatnya. Aku tidak tau, apakah aku sanggup bertahan dirumah ini, atau tidak." Gumamnya lirih, dengan kembali melanjutkan langkahnya.
Melangkahkan kaki kesebuah halte, yang tidak jauh dari kediaman mewah itu. larut dalam lamunan, dengan memandang jauh kedepan, menatap aktifitas orang-orang dipagi hari. Setelah beberapa menit menunggu, akhirnya sebuah bus, yang ditunggupun datang.
Dengan sedikit tergesa-gesa, dia melangkahkan kaki masuk kedalam busway tersebut. Berdesak-desakan, bukan hal yang baru untuk seorang Ariana. Duduk disebuah kursi, yang terletak didekat kaca jendela, seraya kedua bolamatanya memandang keindahan kota Jakarta dipagi hari, hingga suara dentingan pesan pendek mengalihkan tatapan mata gadis polos itu. Yang ternyata dari Bella, sahabatnya.
Araa?, Apakah kau akan mncari perkerjaan, kalau kau mau, aku bisa membantumu.
Benarkah?!
Tentu saja, buat apa aku berbohong. Datanglah ketaman, kau menunggumu sekarang.
Baiklah, aku akan kesana sekarang." Balasnya, dengan rona bahagia, yang terlihat jelas diwajahnya.
Kini dia sudah berada disebuah taman, yang terletak ditengah kota Jakarta. Segera melangkahkan kaki dengan terus tersenyum, karena bahagia akan segera mendapatkan pekerjaan.
"Bella..?!" Panggil Ariana dengan teriakan, seraya melambai-lambaikan tangannya keudara, saat dari kejauhan, dia sudah mendapati keberadaan sahabat baiknya itu.
"Kau sangat cepat Araa?! bukankah aku baru saja mengirimkan pesan buatmu, dan bagaimana bisa kau keluar dari rumah, bukankah ibumu, dan kakakmu Clara, tidak pernah membiarkan untuk kau bebas bepergian?"
"Sekarang aku sudah tinggal disana lagi Bella, selama ini kaupun tau, kalau Papakukah yang selalu memberiku uang saku."
"Kenapa?! apakah kakakmu CLara, dan Ibumu mengusirmu? bukankah mereka begitu membencimu?" Bertanya dengan nada penasaran, seraya menatap sahabat baiknya dengan tatapan intens.
Tatapan matanya menerawang, dengan senyuman yang nyaris tak terlihat. Dan memikirkan kehidupan baru, yang baru saja dia jalani saat ini.
__ADS_1
"Apakah aku harus, pada jujur Bella? kalau aku sudah menikah. Dan mengatakan padanya, kalau laki-laki yang menjadi suamiku adalah, mantan kekasih dari kakakku Clara, yaitu Zain Pratama. Tapi jika aku jujur, itu hanya membuaku malu saja. Aku menganggapnya sebagai suamiku, tapi tidak dengan dia, yang mengatakan kalau aku adalah pelayannya, dan memintaku jangan pernah bermimpi untuk menjadi Nyonya Zain Pratama, karena itu tidak akan pernah terjadi." .Bathinnya, dengan kegundahan dihati.
"Tidak, mereka sama sekali tidak mengusirku. Hanya aku saja, yang ingin hidup sendiri. Dan kali ini, mereka berbaik hati membiarkan aku pergi, mungkin mereka sudah bosan melihat wajahku." jawabnya, dengan senyum yang nyaris tak terlihat.
"Benarkah? tapi kau sedang tidak berbohong padakukan?' Tatapannya begitu intens, menatap Ariana untuk memastikan apa yang dia katakan.
"Berbohong?" Dengan raut wajah, yang sudah berubah gugup.
Tentu saja aku tidak berbohong, Bella? tidak ada untungnya bagiku, untuk membohongimu.' Jawabnya, berusaha meyakinkan.
"Baiklah.kalau begitu ayo sekarang kita pergi kerestorant sepupuku. kau tau, sepupuku itu sangat tampan. Dan dia adalah, seorang pengusaha muda." Dengan menarik tangan Araa, berlalu dari taman itu.
"Kenapa harus berjalan kaki Bella? kenapa kita tidak naik taksi, atau ojek saja."
"Itu restorantanya?" Dengan menunjukan sebuah Restorant mewah, yang terletak diujung jalan.
Terus melangkahkan kaki, dan kini tibahlah kedua gadis itu, direstorant milik sepupu dari Bella.
Masuk kedalam restorant tersebut, dan menjumpai suasana tampak begitu ramai. Bella mengedarkan pandangannya, mencari keberadaan sepupunya.
"Nona pakah Bos kalian, sedang berada ditempat?" Tanya Bella, pada seorang pelayan restorant.
"Ada Nona? Bos sedang berada diruangannya."
"Ayoo, Araa? kita keruangan sepupuku." Dengan melangkan kaki, diikuti oleh Araa.
Mengetuk pintu, dan membukanya ketika ada sahutan dari dalam, untuk mereka masuk.
__ADS_1
"Hallo Ryan?"
'Bella?! ayo masuk, aku pikir kau tidak jadi datang, aku sudah menunggumu daritadi. Bahkan aku harus melepaskan pekerjaanku diperusahaan, hanya karena kau bilang akan datang menemuiku direstorant.
"Maafkan aku Ryan, aku lupa kalau sekarang kau sudah mengurus perusahaan, Papamu." Dengan senyuman tanpa dosanya, menatap lelaki tampan itu.
'Apakah, dia sahabatmu?" Bertanya, saat melihat keberadaan Ariana.
Tersenyum, saat Ryan menanyakan tentang Ariana.
"Kenalkan dia Ariana, dia sahabat baikku."
"Kenalkan Ariana, aku Ryan, sepupu dari Bella." Dengan mengulurkan tangannya, pada gadis berkacamata itu.
"Ariana, Ariana Mahesa." Jawabnya tersenyum, dengan membalas uluran tangan Ryan.
"Duduklah!" Titahnya, pada Araa, dan Bella.
"Ryan? kapan sahabatku ini bisa mulai bekerja."
"Kalau dia mau, sekarang juga bisa."
"Bagaimana Araa? kalau kau mau, hari ini kau sudah bisa bekerja."
Ariana tampak merenung, dan memikirkan. Karena bagaimanapun, dia tetap harus mengatur jadwal kerjanya, sesuai dengan keberangkatan, dan kepulangan Suaminya.
__ADS_1
"Bagaimana besok saja, baru aku bekerja. Karena bagaimanapun, aku harus mendiskusikan dulu dengan Su.."Kalimatnya terputus, saat menyadari hampir saja dia keceplosan.