Terjerat Cinta Si Culun

Terjerat Cinta Si Culun
Memaksa.


__ADS_3

Saat tiba dikamar, Zain tidak mendapati keberadaan istrinya, dan dia meyakini, kalau Ariana sedang berada diruang ganti. Dan saat tiba diruangan itu, Zain melihat Ariana tengah mengemasi pakaian-pakaiannya, kedalam tas.


"Jangan menyentuhku?! aku tidak sudi disentuh oleh pria brengsek sepertimu. kalau kau masih mencintai kakakku, aku ingin kita bercerai...?!" Teriaknya dengan deraian airmata, saat Zain ingin menyentuh tanganya.


Tertawa kecil, dengan menyunggingkan senyuman disudut bibirnya, ketika mendengar keinginan Ariana, yang ingin bercerai.


"Bagaimana, kalau aku tidak mau." Jawabnya, tegas.


"Kau laki-laki, brengsek..?!" Teriak Ariana, dengan langsung menampar keras pipi Zain.


"PLAAKK..?!" Sebuah tamparan yang cukup keras, hingga membuat wajah laki-laki tampan itu, langsung menoleh kesamping.


Raut wajah Ariana seketika berubah pucat, saat baru menyadari apa yang baru dilakukannya. Apalagi melihat raut wajah Zain yang begitu memerah, ,membuat dia dilanda rasa takut yang teramat sangat, saat mengingat bagaimana sikap kasar pria itu.


Tertawa kecil, saat melihat keberanian Ariana yang sudah menamparnya. "Kau sudah sangat berani padaku, Ariana?!" Dengan melangkahkan kaki, semakin mendekat kearah istrinya ketika Ariana melangkah mundur.


Memundurkan langkanya, saat Zain semakin mendekat kearahnya, dengan raut wajah yang terlihat begitu ketakutan.


"Aku mohon, maafkan aku?" Pintanya dengan tatapan memohon, dan airmata yang masih mengalir.


Tersenyum sinis, dan dengan segera Zain menarik tubuh Ariana, dan mengehempaskan keatas sofa panjang, yang tersedia diruangan itu.


"Apa yang akan kau lakukan, padaku?!" Dengan memundurkan tubuhnya, akibat rasa takutnya.


"Malam ini, kau akan membayar mahal untuk ini Ariana Wilson?!" Dengan langsung merobek pakaian istrinya, dan memasukkan dengan paksa benda perkasa itu, pada milik Ariana, yang tengah merontah-rontah, dan menyetubuhinya dengan begitu kasar, yang membuat wanita itu meringis kesakitan, akibat perlakuan kasar suaminya.

__ADS_1


"Sayang, aku mohon maafkan aku?! maafkan aku?!" Pintanya dengan tangisan saat Zain terus menghujamkan miliknya dengan begitu kasar, tapi rintihan itu sama sekali tidak dindahkan oleh pria itu.


Terus menghujamkan miliknya dengan, dan rintihan kesakitan Ariana sama sekali tidak berpengaruh untuk laki-laki tampan itu.


kata cerai yang dilontarkan Ariana, dan tamparan yang dia dapat, seolah sudah membutahkan mata bathinnya.


Terus memacukan gerakannya dengan sangat kasar, yang membuat Ariana hanyan bisa menangis menahan kesakitan.


Terus memacu, hingga tibahlah dia dipuncak kenikmatan.


Setelah meluapkan birahinya, yang dipenuhi amarah, Zain segera menarik diri, dan mengenakan kembali pakaiannya.


Tetesan bening menetes dari kedua sudut matanya Ariana, dan dia begitu merasa terhina dengan apa yang baru saja dilakukan Zain, padanya.


"Jangan pernah bermain-main denganku, Ariana?! karena kalau aku mau, aku bisa menghancurkan keluargamu, dan juga orang-orang kau sayang."Ucapnya, dengan nada penuh penekanan.


Menghembuskan napas kasar, dan memilih untuk meninggalkan Ariana, begitu saja. Tapi seketika langka itu terhenti, saat Ariana mengatakan sesuatu padanya.


"Kalau kau masih mencintai Kakakku, kembalilah padanya, Tuan? dan biarkan aku pergi, karena aku tidak mau jadi penghalang buat kalian. Dan aku tau, kau pasti ingin menemuinya, jadi aku mohon padamu, biarkan aku pergi? biarkan aku pergi, Tuan?" Pintanya, dengan airmata yang masih mengalir.


Menghela napas berat, sebelum menjawab apa yang dikatakan oleh Ariana.


"Jangan pernah berpikir untuk pergi dariku, karena itu tidak akan pernah terjadi. Dan aku bukan pergi menemuinya, melainkan pergi keruang kerja, untuk mengurus beberapa pekerjaan, yang belum beres." Jawabnya, dengan berlalu begitu saja.


Ariana kembali menumpakan tangisannya, saat Zain tidak mengabulkan keinginanya untuk bercerai. Membenahi pakaiannya yang sudah terkoyak, dengan rasa kesakitan yang teramat sangat pada area sensitifnya. Dan dengan langka tertatih-tatih Ariana memaksakan diri, untuk pergi kekamar mandi.

__ADS_1


Senyuman membingkai diwajahnya, ketika menatap dirinya didepan cermin, yang terlihat begitu menyedihkan, saat sudah berada dikamar mandi.


"Mau sampai kapan, aku bertahan dengan keadaan ini? apakah aku harus berpura-pura buta?! atau berpura-pura tuli, dan berpura-pura bahagia dengan pernikahan yang penuh kepalsuan ini. Dan apakah aku harus menganggap, seolah tidak pernah melihat kemesraan mereka, sama sekali." Gumamnya, dengan airmata yang terus mengalir.


Masuk kedalam bathube, setelah mengisi air hingga penuh. Tatapan matanya menerwang, menatap langit-langit kamarmandi, dengan kegundahan hati yang teramat sangat.


Memikirkan apa yang baru saja dilakukan Zain padanya, membuat airmata wanita berambut hitam itu, kembali menetes.


"Papa, haruskah aku bertahan untukmu? tahukah kau, kalau aku sedang menangis? aku merindukanmu, Papa? aku merindukanmu? dan hanya kau satu laki-laki didunia ini, yang tulus mencintaiku?" Gumamnya, dengan deraian airmata yang terus membasahi pipi.


****


Menjatuhkan diri pada sandaran kursi, dengan raut wajah yang terlihat frustasi. Tatapan matanya menerawang, memikirkan yang baru saja terjadi antara dirinya, dan Ariana.


"Apa yang sudah kulakukan?! ada apa denganku? kenapa aku tidak rella saat dia meminta cerai, dan ingin pergi dari rumah ini. Dan kemana cintaku, yang selama ini masih aku simpan untuk Clara?!" Bertanya pada diri sendiri, dengan kegundahan yang teramat sangat.


Terus larut dalam lamunannya, hingga malampun semakin menyambut. Dan disaat merasa sudah tenang, Zain memutuskan untuk kembali kekamarnya.


Melangkahkan kaki ditengah keheningan malam, dan langka itu terhenti saat seseorang memanggilnya.


"Zain..?"


Menghembuskan napas kasar, tanpa membalikkan badannya, saat mendapat panggilan dari Clara.


"Pergilah beristirahat, ini sudah sangat malam. Dan aku harus segera kembali kekamar." Dengan kembali melajutkan langkanya kearah tangga, tanpa memperdulikan keberadaan Clara.

__ADS_1


Clara terlihat begitu geram, seraya menghentakkan kakinya kelantai karena rasa kesalnya, yang teramat sangat pada Zain, yang tampak begitu acuh padanya.


"Aku tidak akan pernah menyerah, sebelum kau benar-benar berpisah dari anak pungut itu, Zain?!"


__ADS_2