Terjerat Cinta Si Culun

Terjerat Cinta Si Culun
Kedatangan Jason.


__ADS_3

Melewati waktu yang begitu panjang, menuju senja yang telah menenggelamkan matahari. Langkah kaki itu membawa wanita berambut hitam itu, kesebuah gedung pencakar langit.


Kesedihan kembali melanda diri, saat mengingat kembali semua perkataan mantan suaminya, tadi siang.


Pintu lift terbuka, dan Ariana sudah berada dilantai 8, dimana apartemen Rani berada.


Saat sudah berada didepan pintu, Araa langsung menekan sandi, yang kebetulan sudah diketahuinya.


Saat sudah berada didalam, Araa mendapati Rani yang tengah sibuk menyiapkan makan malam mereka.


Airmatanya menetes, saat mengingat betapa baiknya perancang busana itu pada dirinya, padahal mereka tidak begitu akrab.


Rani sibuk dengan kegiatannya. Saat mendongakkan kepala, dia mendapati keberadaan Ariana, yang tengah memandangnya dari kejauhan. Senyuman seketika mengembang diwajah cantik perancang busana itu, dan melangkah menghampiri Ariana, setelah meletakkan dua piring diatas meja makan, yang berbentuk oval itu.


Tatapannya begitu intens seketika, saat melihat mata Ariana yang nampak sembab.


"Ariana, kau kenapa? kenapa kau menangis?" Tanya Rani, dengan raut wajah penasarannya.


Airmatannya kembali menetes, saat mendapatkan pertanyaan itu dari Rani.


"Tadi tanpa sengaja aku bertemu dengannya Nona Rani, saat aku baru saja menghabiskan makan siang, direstorant. Dan dia mengataiku yang tidak-tidak."


Hembusan napas terdengar berat, berusaha meredam rasa kesalnya, saat mendengar apa yang dikatakan Ariana.


"Aku tau, ini semua tidak mudah. Tapi aku yakin, kau pasti sanggup melewati semua cobaan ini. Dan ayo kita makan, aku sudah menyiapkan makan malam yang enak buatmu, dan semoga saja bayi dalam kandunganmu ini, tidak menolaknya." Dengan memeluk Ariana, berjalan kearah meja makan.


"Terima kasih Nona Rani, karena kau sudah sangat baik padaku. Dan maaf, karena aku sudah merepotkanmu."


"Kau tidak pernah merepotkanku sama sekali, Ariana? justru aku sangat senang, karena aku tidak kesepian lagi."


****


Mentari pagi telah menampilkan senyumnya, menyapa pergantian hari, menuju hari yang baru.


Stelan jas berwarna navi, dia padukan dengan dasi berwarna marun, hingga semakin menyempurnakan penampilan pengusaha tampan ittu.

__ADS_1


Penampilannya terlihat sempurna, hingga mampu membius setiap pasang mata, yang melihat dirinya. Perawakan tinggi, ditambah memilik wajah khas eropa, membuat wajah tampan itu terlihat sempurna.


Turun dari mobil, dengan ditemani sekretaris setianya Adam.


Melangkah dengan percaya dirinya, saat memasuki gedung bertingkat miliknya. Jason yang sedari tadi sudah menunggu kedatangan sang CEO, seketika menghampiri lelaki tampan itu, tanpa memikirkan permusuhan antara dia, dan Zain.


"Tuan Zain..., Tuan Zain.." Pangglnya dengan teriakan, seraya berjalan menghampiri pengusaha berkulit eksotis itu.


Menghentikan langkahnya seketika, dan memalingkan wajahnya keasal suara. Betapa kagetnya Zain, saat melihat keberadaan Jason, lelaki yang sangat dibencinya. Tapi dalam dirinya timbul sedikit rasa penasaran, sebenarnya untuk apa mantan kekasih dari Clara itu, datang keperusahaannya.


"Aku ingin bicara denganmu, dan ini sangat penting." Ucapnya, saat sudah berada didekat Zain Pratama.


Senyuman sinis membingkai diwajah pengusaha itu, saat mendengar keinginan lelaki yang sangat dibencinya itu.


"Maaf, tapi aku tidak punya waktu, untuk bicara dengan laki-laki brengsek sepertimu!" Ucapnya dengan nada ketus, dan kembali melanjutkan langka kakinya.


Jason tidak menyerah begitu saja, mantan kekasih dari Clara itu, tetap mengikuti langkah kaki Zain, saat akan berjalan masuk kedalam perusahaan.


"Tapi ini sangat penting, Tuan Zain?" Ucapnya, dengan tatapan memohon.


Menghentikan langkahnya, menatap kesal Jason.


"Maaf aku tidak akan pernah punya waktu, bicara dengan orang brengsek sepertimu. Dan Adam, kau urus orang ini. Mengganggu saja," Ucapnya kesal, dengan kembali melanjutkan langkahnya itu.


Jason tidak menyerah, dengan penolakan dari Zain. Mantan kekasih dari Clara itu, tetap berusaha agar dapat berbicara dengan Pengusaha kayaraya itu.


"Tuan Zain..., Tuan Zain..." Panggilnya, tapi tidak dihiraukan oleh Zain yang telah berlalu pergi. Dan ketika dia akan kembali mengikuti langka kaki Zain Pratama, seketika seorang pengawal mencekalnya.


Lepaskan tanganku! lepaskan..!!" Teriak Jason, yang berusaha melepaskan tangannya, dari genggaman tangan dari anak buah Adam.


"Aku minta jangan pernah anda tampakan, batang hidung anda diperusahaan ini lagi. Kalau tidak aku sendirilah, yang akan memberi pelajaran pada anda, Tuan Jason?!" Seru Adam, dengan nada penuh penekanan.


Menghempaskan tanggannya dengan kasar, disertai senyuman mencemooh menatap Adam.


"Ternyata kau, dan Bosmu itu sama saja. Sama-sama bodoh, tidak ada yang berbeda. Dan aku tidak perduli dengan ancamanmu. Sebab aku, akan tetap datang lagi." Ucapnya, dengan berlalu dari perusahaan itu.

__ADS_1


Adam menghembuskan napas kasar, menatap Jason yang telah berlalu pergi.


"Dia mengatakan aku, dan Tuanmuda adalah pria bodoh. Justru dialah pria bodoh itu. Sebab mau saja mencintai wanita ular, seperti Nona Clara. Dan aku yakin kedatangannya kesini, pasti ingin membicarakan ular berbisa itu."


****


Raut wajahnya menampakan kekesalan yang teramat sangat, hingga dasi yang ikut menyempurnakan penampilannya, dia longgarkan akibat emosi yang memuncak, dengan kedatangan Jason tadi.


Melepaskan jas yang melekat pada tubuhya, dan menduduki kursi kebesarannya.


"Kenapa sibrengsek itu datang kesini? apa dia mau menanyakan Clara padaku?? yang jelas-jelas, bukan urusanku." Pandangannya menerawang seketika, memikirkan hidupnya akhir-akhir ini, yang terlihat kacau sejak pepisahannya, dengan mantan istrinya Ariana.


"Hidupku akhir-akhir ini sangat runyam, sejak berpisah dengannya. Tak bisa dipungkiri, aku sudah terjerat dengan cinta siculun itu. Dia betul-betul membuat semangat hidupku hilang, sejak perceraian kami. Tak bisa dipungkiri, aku sudah terbenam begitu dalam, dengan perasaan yang susah dihilangkan ini."


Zain terus larut dalam lamunannya, memikiirkan apa yang sudah terjadi. Hingga suara pintu terbuka, mengejutkan lamunan laki-laki tampan itu.


"Maaf Tuan, karena saya baru datang. Sebab saya baru bisa membuat Jason pergi, dari perusahaan ini." Ucap Adam, dengan menduduki salasatu sofa set, dalam ruang kerja Tuanmudanya.


Zain seketika menegakkan duduknya, menatap intens sekretarisnya itu.


"Menurutmu apakah dia datang mencariku, karena ingin membahas tentang Clara?" Dengan tatapan intens, dia menatap wajah Adam.


"Mungkin saja Tuan. Bukankah Jason, adalah mantan kekasih dari Nona Clara? bisa saja dia ingin mencari tau tentang Nona Clara, dan meminta bantuan Tuan, agar dia dan Nona Clara dapat kembali bersama." Jawab Adam, yang mencoba untuk menebak.


Senyuman sinis membingkai diwajah tampan Zain, saat mendengar apa yang disampaikan, Adam padanya.


"Aku sangat membenci sibrengsek itu! dia merebut Clara dariku, dan dengan mudahnya dia mencampakannya. Dan sekarang dia datang menemuiku, mungkinkah untuk itu? dan itu, bukan urusanku." Jawab, yang sedikit kesal.


"Tapi tadi Jason mengatakan, kalau dia akan datang menemui anda kembali Tuan? mungkinkah ada sesuatu, yang sangat penting?"


"Ntahlah, yang jelas aku tidak perduli. Karena itu, bukan urusanku lagi. Dan kau hubungi Rani sekarang, karena aku ingin bertemu secepatnya, dengan dia."


"Baik Tuan, saya akan menghubungi Nona Rani sekarang, agar dapat meluangkan waktunya, untuk anda. Dan kalau begitu, saya permisi dulu." Pamit Adam dengan berlalu pergi, dari ruang kerja Tuanmudanya.


Usai perginya Adam, lelaki tampan itu kembali menyandarkan pundaknya pada sandaran kursi. Dia kembali mengingat kedatangan Jason tadi, dan dalam dirinya bertanya untuk apa pria itu, mencarinya.

__ADS_1


"Hal apakah yang membuat sibrengsek itu, mencariku? apakah ini benar-benar ada kaitannya dengan Clara, atau ada hal yang lain yang ingin dia sampaikan padaku," Bergumam sendiri, dengan rasa penasarannya.


__ADS_2