
Malam telah menyelimuti bumi, setelah sang mentari perlahan meredup dari muka bumi ini. Saling meligkarkan tangan, saat kedua tubuh itu bersembunyi dibalik bentangan kain panas, yang menghangat mereka dari dinginnya udara malam hari.
"Zain tanganmu," Nada itu terdengar manja, saat Ariana merasakan sensasi lain pada area dadanya.
"Aku hanya menyentuh sedikit saja Araa," Dengan tangan yang semakin menelusup kedalam sana, yang membuat Ariana tertawa kecil saat Zain memainkan jarinya dipuncaknya.
Keromantsan keduanya seketika terusik, saat datang sang pengganggu Stefanie yang memberikan suara ketukan pintu dengan begitu keras.
"Siapa...." Teriak Zain dari dalam kamar.
"Daddy! Mommy! buka pintunya..."
"Untuk apa Stefanie? lagi pula Mommy dan Daddy sudah akan tidur,"
Mendengar jawaban Ayahnya, membuat gadis kecil itu murka. Dan memberikan ketukan pada badan pintu kamar, dengan semakin keras.
"Cepat buka pintunya Daddy... kalau tidak aku akan tidur didepan kamar!"
"Zain buka pintunya. Kau taukan seperi apa anakmu itu, dia akan tetap berdiri disitu,"
Menghembuskan napas kasar, dengan mengacak-ngacak rambutnya frustasi.
"Anak itu benar-benar membuatku gila, dia begitu sangat keras kepala."
"Buah jatuh tidak jauh dari pohon Zain, bukankah kaupun seperti itu," Ariana menyimpulkan senyuman, dengan melemparkan pandangan pada suaminya yang telah berlalu menuju pintu.
Melebarkan daun pintu, dan mendapati anak perempuannya yang tengah menggendong boneka Hello Kitty seukuran tubuhnya.
"Untuk apa kau kemari Stefanie? Mommy dan Daddy sudah akan tidur," Zain menatap heran pada putrinya, yang tengah mengayunkan kaki kedalam kamar dengan wajah cemberutnya.
Tidak memperdulikan apa yang ditanyakan sang Ayah. Kedua kaki itu tetap mengayun pada arah tempat tidur. Melemparkan boneka besarnya keatas ranjang, dan merangkan naik disana.
"Jangan katakan! kalau kau akan tidur disini Stefanie,"
"Bukankah adikbayinya sudah ada? jadi malam ini aku akan tidur disini." Menjawab sekenanya, dengan melingkarkan tangan itu pada atas perut Ibunya.
Mommy, aku sangat merindukan lima adikku," Dengan senyuman, saat tangan itu membelai lembut pada perut sang Mommy.
"Tapi Stefanie! bukankah kau tidur bersama Oma,"
"Malam ini aku akan tidur disini Daddy!"
"Apaa?? kau akan tidur disini? terus Daddy tidur dimana?"
"Bukankah sebelahku masih kosong,"
__ADS_1
Menghembuskan napas kesal, berusaha meredam emosi dalam diri.
"Kalau begitu turunkan bonekanya!" Titah Zain dengan nada yang terdengar tegas.
"Tidak! aku tidak mau. Boneka ini harus tetap bersamaku." Stefanie tetap dengan keras kepalanya, saat menjawab tita Ayahnya.
Sekali lagi kesabaran seorang Zain diuji. Dan tidak mungkin dia akan menang, jika sudah beradu mulut dengan putrinya. Dan memutuskan untuk berbaring disebelah boneka Stefanie, yang semakin memberi jarar antara dia dan Ariana.
"Mommy, apakah adikbayinya sudah bisa bergerak?" Stefanie kembali mengajukan pertanyaan, akan rasa penasarannya dengan kelima calonadikbayinya.
"Belum Sayang, biasanya adikbayi akan bergerak selama delapan belas minggu, atau dua puluh minggu,"
"Apakah itu masih lama Mommy?" Stefanie menatap penuh pada Ibunya, dengan raut wajah penasarannya.
" Kau hanya perlu bersabar beberapa bulan lagi Stefanie, hanya berapa bulan." Dengan senyum kecilnya, saat jemari itu membelai lembut pada pucuk kepala sang putri.
"Baiklah Mommy, aku akan bersabar menunggu. Dan katakan pada adik-adik bayi untuk cepat bergerak," Dengan mulut yang melebar, saat rasa kantuk sudah mulai mendera.
Perlahan bolamata itu mulai meredup, dan tertutup sempurna. Celotehan yang tadi terus saja terdengar, kini menghilang dengan sendirinya saat alam mimpi mulai menjemput gadis kecil itu.
"Apakah dia sudah tidur?"
"Sudah. dan apakah kau marah?" Dengan melukis senyuman diwajah, saat tatapan itu beradu dengan suaminya.
"Tentu saja aku marah! dia sangat mengganggu."
"Ayolah Zain, aku rasa kau tiadak perlu marah. Karena anakmu sangat mewarisi sifatmu. Keras kepala, dan juga sangat pembangkang. Jadi aku rasa kau jangan mengeluh, dengan sikap putrimu ini."
"Baiklah, baiklah. Aku tidak akan pernah mengeluh lagi dengan kenakalan putriku." Dan hening sesaat, saat tatapan mata itu tertuju pada boneka besar milik Stefanie.
Meraih boneka lucu itu, dan membelainya dengan senyuman.
"Boneka ini sangat lucu, dan dilihat dari model dan bahannya, aku sangat yakin kalau boneka ini sangat mahal."
"Boneka itu memang sangat mahal Zain, dan tidak dijual diIndonesia."
"Kau membelinya dimana Araa?" Zain menatap penuh pada istrinya, dengan tatapan penasaran.
Melukis senyuman kecilnya, sebelum berucap pada pria itu.
"Di Dubai, dan Rian yang membeli buat putrimu. Dia mengantarkannya keboutique milik Kak Rani."
Amarah seketika membingkai penuh diwajah tampan Zain, saat mendengar apa yang dikatakan Ariana. Dan dengan kasar dia melemparkan boneka Hello Kitty itu kelantai.
"Bonekanya sangat buruk, dan aku yakin ini pasti boneka murahan!"
__ADS_1
"Ayolah Zain, itu hanya sebuah boneka dan mau sampai kapan kau terus saja membenci Rian, bukankah sekarang ini aku adalah istrimu,"
Menyeringai diwajah tampannya, mendengar apa yang dikatakan Ariana.
"Sangat tidak penting bagiku, menghabiskan waktu untuk membenci sibrengsek itu Araa!"
"Namanya Rian Zain, bukan sibrengsek!" Dengan nada yang terdengar tegas.
"Terserah apa yang kau katakan. Tapi bagiku, namanya tetap sibrengsek!"
"Dan pasti kau akan lebih marah jika aku mengatakan ini."
Kedua bolamata seketika melemparkan tatapan penuhnya pada Ariana, dengan tatapan penasaran.
"Apa itu Araa?"
"Aku memutuskan mengudang Rian, Mama Diana, dan juga Kak Clara dalam resepsi pernikahan kita."
Pundak yang tadi bersandar pada bantal kepala, seketika duduk dengan tegak saat mendengar apa yang dikatakan istrinya.
"Apaa?? jadi kau mengundang Rian, Clara, dan Ibu angkatmu?"
"Iya Zain,"
"Tidak, aku tidak mau." Dengan nada tegas.
"Zain, aku mohon.." Ariana memberi tatapan memohonnya, pada pengusaha kaya itu.
"Baiklah untuk Rian, aku ijinkan kau untuk mengundangnya keresepsi pernikahan kita. Tapi tidak dengan Clara, dan Ibunya. Aku sama sekali tidak setuju."
"Tapi Zain, aku sama ssekali tidak enak dengan Papaku. Tidak mungkinkan kita hanya mengundang Papa saja,"
"Tapi Araa, mereka itu sangat jahat padamu! dan aku sama sekali belum bisa memaafkan kesalahan Clara, yang sudah hampir meghilangkan nyawamu. Cukuplah saja memaafkan mereka, dan tidak ingin kau menjalin hubungan dengan Ibu, dan saudara angkatmu itu."
"Tapi Zain,"
"Tidak! sekali lagi aku katakan tidak. Dan jangan membantah ucapanku. Dan maaf aku harus keruangan kerja." Zain segera beranjak dari tempat tidur, dan melangkah keluar dari kamar dengan wajah kesalnya.
Ariana melemparkan kedua matanya pada zain yang telah berlalu pergi. Tetesan bening seketika membasahi kedua pipinya, mewakili hati yang tengah gunda.
"Maafkan aku Zain, maafkan aku. Tapi seburuk apapun mereka, Mama Diana, dan Kak Clara tetap keluargaku," Gumam Ariana pelan, dengan airmata yang terus saja mengalir.
Membuka pintu ruang kerjanya, dan menutupnya dengan kasar.
Kedua kaki itu mengayun pada kursi kebesarannya, seraya menjatuhkan tubuhnya disana. Helaan napas itu terdengar berat, akibat rasa kecewanya pada sang istri.
__ADS_1
"Aku begitu mencintaimu Araa, sangat mencintaimu. Hingga membuatku takut, jika mereka akan kembali melukaimu,"